[Update Setiap Hari Jam 7 WIB]
Yuno tidak tahu apakah ia harus bersyukur karena diberikan kesempatan untuk hidup kembali sebagai sendok perak dalam sebuah novel romantis-tragedi. Yuno menjadi Carl Vermelion seorang NPC bajingan yang hanya tahu cara membuat masalah.
Mungkin mengubah takdir dan menghindari bendera kematian dengan memanfaatkan informasi dari cerita aslinya adalah ide yang bagus. Ia berjuang untuk mengubah cerita asli dan menghentikan kehancuran dunia agar ia tidak terbunuh seperti dalam cerita aslinya.
Namun, semua jalan yang dipilihnya selalu berakhir membawa sebuah kehancuran dan membuatnya kembali ke cerita utama di mana dalam ending cerita dunia akan mengalami kehancuran.
"Kenapa orang-orang di dunia ini sangat senang berperang?!"
Lantas bagaimana apa yang harus Carl lakukan selanjutnya?
Apakah duduk dengan tenang menunggu kematian dan kehancuran dunia atau berjuang menyelamatkan dunia meskipun itu merepotkan?
ig: polacirius
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon polacirius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran Kerja Sama
Carl berdiri di hadapan makan Duke dan Duchess. Ia memakai setelan hitam layaknya para tamu yang ikut menghadiri pemakaman tersebut.
Rakyat di wilayah Varmelion berduka atas kepergiaan pemimpin mereka. Kesedihan atas kehilangan juga rasa cemas akan kemungkinan serangan monster yang akan terjadi melukiskan kegelisahan mereka secara nyata.
Carl tidak bisa menyalahkan hal tersebut, bagaimanapun insiden yang telah menewaskan banyak penduduk di kota juga desa yang masih termasuk wilayah Varmelion telah membuat mereka panik dan ketakutan.
“Saya turut berduka cita.” Ron menghampiri Carl dan meletakkan satu tangkai bunga putih di atas makan Duke dan Duches.
Carl tenggelam dalam pikirannya sendiri. Seumur hidupnya, Carl tidak pernah tahu apa itu orang tua. Ia telah hidup sendirian sebagai Yuno sejak kecil tanpa mengenal dan mengetahui siapa orang tuanya.
Dan ketika ia masuk ke dalam Novel. Ia menjadi Carl yang memiliki semua yang tidak Yuno dapatkan di masa lalu. Termasuk itu orang tua.
Ia tidak mengenal dua orang asing itu, ia juga tidak terlalu dekat. Lalu kenapa ia merasa ada sesuatu yang menghilang di dalam hatinya.
“Aku tidak pernah berharap akan berakhir seperti ini,” ujarnya.
“Tidak ada yang mengharapkan hal ini terjadi,” balas Ron. Lelaki itu berdiri di sebelah Carl. Matanya terpaku ke arah makan.
Carl hanya ingin menyelamatkan duchy dan semua orang di wilayah ini selamat dengan mengambil elang kabut yang harusnya menjadi milik Dante.
Ia tidak pernah mengira bahwa hal yang mengerikan akan datang begitu cepat tanpa sebuah peringatan. Kalau saja Carl tidak mengambil Kifa dan Ufa, apakah Duke dan Duchess akan baik-baik saja.
Apakah dewa sedang memperingatinya karena telah merusak alur cerita sesungguhnya?
Carl diliputi oleh rasa bersalah. Tidak seharusnya ia melakukan hal itu dan seharusnya ia tidak membiarkan Silviana yang pergi ke perjamuan itu.
“Permisi,” seorang gadis tiba-tiba berseru. Ron dan Carl mengalihkan pandangannya kepada gadis tersebut.
Gadis itu memiliki rambut silver dengan mata emas yang indah. Gaun putih yang dikenakannya terlihat begitu mencolok di antara semua orang. Karena gadis itulah satu-satunya yang mengenakan pakaian putih di sini.
“Anda pasti adalah tuan muda Carl Varmelion. Saya adalah Saintes Azure. Kerajaan mengirim saya untuk menyelidiki sesuatu di duchy.”
Carl terdiam.
Secepat itu Dante ingin menghancurkannya?
“Apakah Anda tidak keberatan kalau saya bertemu dengan adik perempuan Anda?” tanya Azure lagi.
Ron tersenyum dan mengambil langkah ke depan. “Nona Saintes, saya mengerti bahwa Anda dikirimkan karena perintah kekaisaran, tetapi bukankah harusnya Anda melihat kondisi saat ini?” sarkas Ron.
Azure melihat ke sekitar di mana semua orang menatapnya dengan aneh.
Ia lantas menghela napas. “Anda mungkin berpikir saya tidak sopan, tetapi hal ini sangat mendesak. Saya harus segera bertemu dengan adik tuan muda Carl dan mensucikannya sebelum Iblis mengambil alih dirinya.”
Perkataan Azure membuat semua orang termasuk Ron tersentak. Apa yang gadis bersurai perak itu katakan benar-benar mengubah suasana di pemakaman.
“Tuan muda Carl, apa benar yang dikatakan oleh Saintess bahwa nona Silviana itu telah dirasuki Iblis?” Seorang bangsawan dengan rambut klimis menghampiri Carl dan mengguncang tubuhnya dengan keras.
Bisik-bisikan tidak mengenakan mulai terdengar mengusik pendengarannya.
Carl melepaskan cengkraman pria itu dengan sopan. “Count Ferim tenanglah,” pintanya.
“Kalau benar adik saya sedang dirasuki oleh Iblis bukankah saat ini kita sudah mati diserangnya. Terlebih lagi, tidak ada bukti mengenai hal tersebut. Adikku juga adalah korban dan kalau Anda sangat yakin kalau adik saya dirasuki oleh Iblis? Kenapa tidak Anda selidiki dulu orang yang mengirim Anda kemari, Saintes,” sambung Carl.
Ia hampir tersulut emosi dan tidak bisa mengendalikan dirinya, karena itu Carl putuskan untuk segera meninggalkan tempat itu.
Carl tidak sengaja bertemu Laneige saat hendak menuju kamarnya. Laneige melaporkan kalau pihak kuil datang atas perintah raja untuk mengecek Silviana yang diduga telah dirasuki oleh Iblis.
“Tidak bisakah kita menolaknya?”
Laneige menggeleng. “Posisi kepala keluarga sedang kosong dan saat ini yang memiliki wewenang atas itu adalah paman Anda dan beliau sudah menyetujui hal ini,” jelas Laneige.
Carl berdecih.
Rupanya babi bau itu sudah tidak sabar untuk menjawab sebagai seorang Duke. Carl mencibir pamannya dalam hati.
Silviana mungkin adalah kandidat untuk menjadi kepala keluarga Varmelion selanjutnya, tetapi karena hal itu belum sah ditambah kondisinya yang tidak sehat. Paman Carl dari pihak ayahlah yang punya hak atas itu.
Carl mengusap lehernya seraya memikirkan sesuatu yang gila. “Dua jam.”
“Apa?”
“Setelah dua jam, aku mengizinkan orang dari kuil untuk menemui Silviana. Mereka bisa mulai memeriksa keadaannya dan kalau Silviana benar-benar tidak dirasuki Iblis. Usir mereka termasuk Babi bau itu dari rumahku,” kata Carl dengan dingin.
Ia segera menuju kamar Silviana tanpa menunggu tanggapan dari Laneige lagi.
Di kamarnya, Silviana terlihat begitu menyedihkan. Mata gadis itu sembab dan cahaya di matanya redup.
“Sejak kapan?” Carl mendekat dan berdiri di samping adik perempuannya yang tertunduk. Lelaki itu bahkan tidak repot-repot menyakan kabar adiknya.
“Aku tidak ingat begitu jelas, tapi saat aku melawan monster serigala. Tiba-tiba aku sudah menjadi monster. Itu menakutkan. Mereka terus menghantuiku dan aku bahkan tidak bisa berhenti melakukannya. Aku membunuh ksatria yang melindungiku, aku membunuh rakyat yang meminta perlindunganku … aku … aku membunuh ayah … ibu … sahabatku ….” Silviana meremas rambutnya. Isak tangisnya yang pilu begitu menyayat hati Carl.
“Aku … aku monster, Kak,” lirihnya.
“Aku terus ingin membunuh orang-orang meskipun aku tidak menyukainya. Aku sangat takut … aku takut kau akan membenciku, aku takut kau akan menjauh dariku … tapi aku juga takut aku akan membunuhmu.”
Pola-pola hitam mulai bermunculan di tubuh Silviana. Iris matanya perlahan berubah menjadi merah cerah. Bergetar seiring dengan air matanya yang luruh.
Carl dengan lembut mendekat. Menyeka air mata gadis itu. “Percaya padaku. Aku tidak akan meninggalkamu sendiri dan aku akan menyelamatkanmu,” ucapnya dengan suara lembut.
“Bodohnya dirimu yang datang kemari untuk mati,” Senyum lebar Silviana yang harusnya indah, sekarang begitu menyeramkan di mata Carl.
“Kau pasti datang untuk mati,” sambung Zero.
Carl menarik tangannya. Lelaki itu terlihat tidak getar sama sekali meskipun tekanan di sekitarnya benar-benar membuatnya kesulitan untuk tetap berdiri.
“Tidak. Aku datang ke sini untuk membuat sebuah kesepakatan. Tinggalkan tubuh adikku dan gunakan tubuhku. Aku ingin menawarkan kerja sama dengamu. Bukankah sekarang kita sedang berhadapan dengan musuh yang sama, Zero De Lust. Sang Iblis Hawa Nafsu.”
Zero yang menggunakan tubuh Silviana tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Carl. “Ho … Ini pertama kalinya aku dihadapkan oleh manusia menarik sepertimu. Bekerja sama dengan Iblis? Memangnya apa keuntungan yang akan kudapatkan jika terlibat denganmu sedangkan aku hampir mendapatkan tubuh ini seutuhnya.”
“Bekerja sama denganku dan aku akan memberitahumu tentang masa depan dunia ini.”