Dinikahi Roylando yang hobi bermain judi dan berselingkuh, membuat hidup Tara penuh dengan penderitaan.
Tara terpaksa berjuang sendiri untuk menafkahi anak nya dan menghidupi keutuhan rumah tangga nya.
Dibalik kegelapan hidup Roylando ternyata masih banyak rahasia yang ia sembunyikan dari Tara.
Perlahan rahasia itu pun terungkap bersama kehadiran seorang pria misterius yang mengaku sebagai pengagum rahasia Tara.
Kehadiran pria itu dalam hidup Tara, mampu membangkit kan semangat hidup Tara yang nyaris putus asa.
Tara pun berhasil menguak seluruh tabir rahasia keluarga Roylando yang selama ini di tutupi.
Siapakah sebenar nya pria misterius itu? Bagaimana ia bisa tahu semua hal tentang Tara? Apa hubungan Roylando dengan pria itu?
Bagaimana cerita hidup Tara yang penuh tantangan dan dipenuhi intrik kejahatan dari seorang perempuan jahat bernama Karla dan seorang pria jahat bernama Dika?
Apakah Tara bisa selamat dari rencana pembunuhan yang di rangkai mereka berdua?
Cuss Baca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Afriyeni Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana jahat Karla.
Karla...!!!
Lagi-lagi teriakan Arya menggema di seluruh ruangan memanggil nama Karla. Tatkala Karla berusaha untuk kembali mendekati Tara dengan wajahnya yang terlihat beringas.
Sepertinya Karla sudah tak bisa mengendalikan emosinya. Tara pun segera berdiri dari duduknya dan mundur ke balik sofa agar Karla kesulitan untuk mendekati dirinya.
Karla berusaha mengejar Tara. Tapi tangannya keburu di tarik Arya sehingga ia menjauh dari Tara.
"Lepaskan! Biarkan aku menghajar mulut perempuan sund*l itu. Perempuan murahan! Perempuan Brengs*k. Tukang selingkuh! Pelac*r!" teriak Karla histeris.
Arya terlihat gusar mendengar perkataan Karla yang menghina Tara habis-habisan.
"Cukup...! Hentikan hinaanmu! Perempuan yang kamu hina itu adalah wanita yang sangat ku cintai Karla! Aku tak terima kamu menghinanya sedemikan rupa!" bentak Arya dengan geram.
Arya mendorong Karla ke arah pintu rumah dengan keras. Membuat Karla jatuh bersimpuh di depan pintu.
"Aku tak menyangka, rupanya selama ini kamu cuma berpura-pura baik padaku dan Tara. Kamu menyimpan maksud tersendiri dengan tetap menjadi sahabatku. Apa kamu pikir dengan caramu yang begini aku akan kembali padamu, jangan bodoh Karla! Aku tak pernah mencintaimu dan tak akan pernah jatuh cinta padamu!" ucap Arya tegas.
Wajah Karla seketika pucat pasi.
"Arya, maafkan aku. Aku terlalu emosi. Aku memang tak akan pernah bisa menjadi sahabatmu dengan terus menyimpan perasaan cinta di hatiku. Aku hanya ingin menyadarkanmu. Aku takut kamu terlalu larut dalam perselingkuhanmu dengan Tara yang suatu saat bisa menghancurkan kehidupan kalian semua. Termasuk Sania anaknya Tara dan Roy. Apa kalian tak pernah terpikirkan itu semua?" Karla menatap Arya sendu.
Ucapan Karla seketika membuat Tara dan Arya terdiam. Perlahan Arya merunduk di hadapan Karla. Sorot Mata Arya yang tajam tanpa berkedip seakan membuat Karla berhenti bernafas.
"Apapun yang kamu takutkan itu tak'kan terjadi. Dan urusanku dengan Tara, kamu tak perlu ikut campur. Aku masih memandang kebaikanmu padaku selama ini. Kuharap pergilah dari rumah ini. Dan jangan datang lagi. Ikhlaskan aku pergi dari hidupmu Karla." Ucap Arya setengah berbisik dihadapannya.
Sejenak Karla terpaku mendengar perkataan Arya. Hatinya teramat sakit. Kalimat Arya teramat tajam bagaikan pisau yang menggores hatinya.
Perlahan Karla mencoba bangkit dari duduknya yang bersimpuh sedari tadi di lantai. Tubuhnya gemetaran menahan perasaan terluka. Karla sangat terhina dengan sikap dan perlakuan Arya padanya.
"Semua gara-gara Tara! Perempuan itu tak'kan ku biarkan hidup lama. Ia harus mati. Tara harus mati!" ucap Karla dalam hati.
Karla memandang Tara dari kejauhan dengan pandangan penuh kebencian. Kemudian Ia mengalihkan pandangan nya ke arah Arya yang berdiri dihadapannya dengan tatapan tajam menatap Karla.
Karla seketika tertunduk sedih. Tanpa bicara sepatah katapun Karla pun perlahan membalikkan badannya dan melangkah keluar dari rumah dokter Adrian dengan langkah gontai.
Tak lama terdengar suara pagar berderit di buka oleh Mbok Sri. Disusul suara mobil yang melaju pelan meninggalkan rumah Dokter Adrian.
Sepeninggal Karla.
Arya menarik nafas dalam dan berjalan pelan menghampiri Tara.
"Kamu tak apa-apa 'kan?" tanya Arya lembut pada Tara.
Tara menggeleng pelan.
Arya merengkuh bahunya dan memeluk tubuh Tara dalam dekapannya dengan erat.
"Jangan pikirkan apa yang di ucapkan Karla tadi. Lupakan dan hilangkan rasa cemasmu akan Sania. Meskipun hubungan kita akan menghancurkan kehidupan seseorang. Yang pastinya, itu bukan kehancuran untuk kita bertiga." Ujar Arya membujuk Tara untuk tetap tenang tak termakan ucapan Karla tadi.
"Bukankah kita terlalu egois Arya?" ucap Tara seraya memandang wajah lelaki tampan itu dengan rasa cemas.
"Apakah salah? Jika sesekali kita egois demi kebahagiaan bersama?" Arya menanyakan pendapat perempuan yang dicintainya itu.
Tara bingung tak tahu harus menjawab apa.
"Ah, sudahlah. Lebih baik kamu mandi. Dandan yang cantik kita jalan-jalan ke luar kota. Mumpung masih pagi." Ajak Arya mengagetkan Tara.
Tara mengangguk menyetujui ajakannya. Sepertinya liburan bersama Arya lebih menyenangkan daripada duduk santai di rumah.
"Baiklah, aku akan segera mandi dan berdandan untukmu." Ucap Tara tersenyum riang.
Arya balas tersenyum dengan manis dan melepaskan pelukannya dari Tara.
"Jangan lama-lama oke," katanya setengah berbisik.
Tara tersenyum genit sambil mengedipkan matanya pada Arya membuat lelaki tampan itu jadi gregetan.
Sementara itu di suatu tempat yang sunyi senyap.
Karla terlihat sedang berbicara dengan seorang pria yang mengenakan jaket kulit dan topi berwarna hitam. Wajahnya tidak terlalu jelas karna di tutupi masker.
"Kesabaranku sudah habis. Arya sudah sangat keterlaluan. Bukan cuma melukai hatiku, Ia sekarang mulai main fisik denganku." Ucap Karla dengan geram.
Kedua tangannya terkepal menahan amarah.
"Sepertinya, kita harus mempercepat rencana kita. Aku tak mau Arya semakin lama semakin menjauh dariku. Aku ingin Tara mati. Habisi Tara segera! Lakukan semuanya dengan sempurna seolah itu adalah kecelakaan murni." Karla memandang pria disampingnya dengan mata nyalang.
Api kebencian dan dendamnya pada Arya dan Tara tersirat di wajahnya yang cantik.
Lelaki disamping Karla sejenak menghela nafas panjang. Ia hanya menunduk, tak sanggup menatap wajah Karla yang memancarkan kemarahan dan kebencian yang mendalam.
"Itu bukan hal yang mudah." Lelaki itu mendesah pelan.
Karla menarik krah jaket lelaki itu dengan kedua tangannya.
"Apa kau tak mau membantuku heh?!" nada kecewa terdengar dari mulut Karla.
Lelaki itu seketika tersenyum menyeringai dan memegang kedua tangan Karla dengan kuat.
"Tentu saja aku mau, tapi ada syaratnya." Jawab lelaki itu dengan setengah berbisik.
Tiba-tiba saja lelaki itu menarik tubuh Karla kuat hingga berada dalam pelukannya. Karla sangat terkejut. Ia coba meronta dan memukul dada lelaki itu berulang-ulang.
"Lepaskan, lepaskan aku Dika!" jerit Karla tertahan.
Lelaki yang di panggil Dika itu tertawa terkekeh-kekeh membiarkan Karla memukuli tubuhnya berulang kali. Hingga Karla kehabisan tenaga dan tak berdaya untuk melawan.
"Hehehe..., penuhi syaratku yang pertama. Setelah itu aku akan meminta syarat yang kedua di saat aku akan menghabisi Tara untukmu."
Karla menatap Dika dengan wajah tegang.
"Apa lagi yang kau inginkan dariku? Bukankah kemarin kau cuma minta 100jt dariku?"
Wajah Karla berubah pucat pasi saat Dika menyentuh bibir Karla dengan ujung jarinya.
"Itu tidak cukup Karla sayang, tahu kah kau, berapa tahun waktu yang akan ku habiskan dalam penjara karna kasus pembunuhan berencana? Setidaknya kau harus memberiku 500jt. Agar kelak aku tidak menyesal karna di penjara puluhan tahun." Ucap Dika dengan nada halus penuh kecaman.
Dika menarik kedua garis bibirnya mengukir senyuman seringai yang membuat Karla muak.
"Baiklah, lepaskan aku. Aku akan memberimu 500jt. Tapi ingat, Aku tak ingin berurusan dengan hukum. Kau tak boleh melibatkanku apalagi menyebut namaku jika kau tertangkap pihak berwajib." Dengus Karla kesal.
Dika tertawa terbahak-bahak lalu melepaskan pelukannya dari Karla.
"Oke, kita sepakat. Jangan lupa, ini syarat yang pertama. Belum syarat yang kedua." Ucapnya lagi.
Dika mengerling ke arah Karla dengan senyumannya yang terlihat licik.
"Apa? Apa syaratmu yang kedua?" tanya Karla cemas.
Karla mulai merasa terjebak oleh Dika.
Dika mengedipkan matanya pada Karla.
"Aku akan memberitahumu, saat aku mengantar Tara ke neraka." Pria itu tersenyum licik.
Lembaran-lembaran uang kertas seolah menari-nari di pelupuk matanya. Bayangan-bayangan perempuan cantik yang menemaninya di setiap hari membuat Dika makin meneteskan air liurnya.
Tapi Karla lebih menggoda. Sejenak mata Dika terpaku pada bentuk tubuh Karla yang aduhai. Hasrat Dika bergejolak memandang perempuan cantik yang ada dihadapannya. Ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini.
.
.
.
BERSAMBUNG