SEKUEL CERITA NYCTOPHILIA!
Memasuki tahap kedewasaan, kehidupan Spica yang lurus semakin lebih berliku.
Bara, masa lalu yang terlupakan. Yang kembali membawa sesuatu yang tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Perasaan
Menjadi seorang Istri sama sekali tidak pernah terlintas dipikiran Spica. Gadis yang mendeklarasikan dirinya sebagai perempuan mandiri itu amat sangat terkejut dengan segala perhatian yang diberikan Bara. Memang bukan perhatian yang besar. Hal-hal kecil yang sebelumnya belum pernah didapat, kini Spica merasakan itu. Di elus kepalanya, di gendong saat sudah besar, disuapi, dicium bahkan dipeluk saat tidur.
Spica masih kaget menerimanya sebab ini adalah pengalaman pertama untuknya. Beruntunglah Bara mendapat Spica yang masih murni, namun harus sabar-sabar juga menghadapi sifat Spica yang keras dan kaku itu.
Belum genap seminggu mereka menikah, Spica terus saja seperti di dalam ilusi. Kehidupannya benar-benar berbanding balik. Mengambang dalam kesadaran, hiruk pikuk sebelum menikah masih berputar. Lingkungan dimana dirinya tinggal dan tempat kerjanya dulu, suara-suara kehidupan itu terdengar samar ditengah sepinya apartemen Bara.
"Ada apa dengan tatapan itu?" tanya Bara karena merasa diperhatikan. Namun Spica menggeleng.
"Kenapa?"
Bara enggan menyerah, cowok itu kini beranjak dari sofa. Meninggalkan pekerjaannya pada laptop demi menghampiri Spica yang sedang duduk bersandar di ranjang. Bara duduk di depan Spica sembari menatap manik matanya, tatapan itu menuntut penjelasan.
"Sampai saat ini aku masih belum mengerti, masih merasa semua ini bagian dari mimpi. Mimpi yang terlampau nyata." Spica bercerita secara tidak sadar, gadis itu mulai terbuka dan Bara masih setia menjadi pendengar.
"Sikapmu dulu dan sekarang. Lantas kejadian yang menimpa kita berdua, sangat aneh."
"Biasa saja, semua bisa berubah dan dunia pusat kemungkinan... Jangan dipikir terlalu keras, nikmati saja alurnya. Bukankah enak hidup seperti ini?"
Baru saja belajar sabar, seperti nasehat Samudra tadi malam. Kalimat terakhir Bara malah terkesan menjelekkan kehidupan Spica sebelum mereka menikah. Bara langsung sadar dengan kebodohannya, dan untungnya Spica tidak terusik dengan kalimat itu.
Spica tidak merasa dijelekkan. Dirinya yang punya pikiran juga setuju. Kehidupan keluarga yang kaya raya memang enak karena harta mereka banyak. Segalanya di dunia ini memerlukan uang, dan Bara sudah memilikinya, lima puluh persen hidupnya sudah bahagia. Seharusnya memang Spica merasa enak. Namun bukan itu yang dipikirkannya. Bukan sepenuhnya tentang uang dan hidup enak tinggal leha-leha. Tapi bagaimana cara menikmati hidup, cara mengisi hidup yang baik. Tentunya sesuai dengan keinginan diri, kepuasan.
"Aku sudah punya rencana hidupku sendiri, tapi semua malah gagal. Seharusnya kita enggak ketemu, Bara. Ya, kan?" Ekspresi Spica begitu polos saat menatap Bara.
"Oh shit, terlalu menusuk." Batin Bara.
"Itu hanya pikiranmu, Tapi sayangnya Tuhan menghendaki kita bersatu." Bara menyeringai, puas dengan jawaban yang menurutnya keren.
"Walau dengan cara yang salah?"
Bara hanya mengangguk, cowok itu kemudian memeluk Spica. Membawanya berbaring di ranjang yang masih hangat. Hari ini Bara merasa lebih bahagia setelah berbincang singkat dengan istrinya. Bukan tanpa sebab, nada bicara Spica berangsur-angsur membaik. Dalan artian santai, tidak seperti sedang mengobrol dengan orang asing. Bara merasa lebih diterima.
Dalan kehangatan itu, Bara terus mengusapkan wajahnya pada tubuh Spica. Gemas, greget semua jadi satu. Rasanya ingin memeluk Spica sampai remuk, tapi tidak mungkin. Sedangkan Spica yang diperlakukan seperti itu hanya merespon dengan memeluk kembali tubuh Bara. Membiarkan saja cowok itu berbuat sesuka hati.
"Tentang hatimu ... Bagaimana?" tanya Bara sesaat kemudian. Matanya terus menatap wajah Spica, memindai perubahan ekspresi atau apapun itu. Tatapan mereka saling bertemu.
"Tidak tahu."
"Baiklah, biar aku sendiri yang mencari tahu." Bara tidak menyerah.
Pagi itu keduanya kembali tertidur sebab Bara terus mengungkung Spica. Baru bangun saat menjelang siang hari. Pun karena Spica merasa lapar.
Bara memutuskan untuk membawa Spica keluar. Sebagai cowok yang baik terhadap istrinya, Bara tahu betul dikehidupan sebelumnya Spica sangat terobsesi dengan masa depan indah. Bara akan mewujudkan hal itu.
Keduanya pergi ke mall untuk mencari makan dan pilihan Bara jatuh pada restoran jepang. Dirinya sudah bosan, tapi demi Spica Bara akan mencoba lagi berbagai tempat makan enak yang pernah dikunjunginya agar Spica juga dapat merasakan makanan itu.
Sedangkan Spica menurut saja, gadis itu berubah menjadi penurut. Lagipula ingin menolak atau sekedar mengungkapkan ketidaksukaannya pun seperti tidak tahu diri. Spica sadar sekarang dirinya ikut bersama siapa. Bara yang bertanggungjawab, jadi Spica hanya bersikap lebih supportif.
"Bagaimana rasanya?" tanya Bara.
Spica mengangguk. "Enak." Tentu saja rasanya enak. Selain pertama kali mencobanya, makanan gratis siapa yang tidak suka?
"Kenapa tidak bersemangat?"
"Aku hanya sedang menikmati rasanya, mungkin bisa membuat ini, di rumah nanti." Spica beralasan, sejujurnya gadis itu malah teringat dengan Ibunya di desa. Entah kenapa makan makanan mahal dan enak seperti ini malah membuat Spica bersalah. Dirinya bahkan belum sempat mengajak Mira jalan-jalan dan membelikan sesuatu yang belum pernah Mira dapatkan. Membeli baju atau sekedar makanan. Tapi dirinya malah enak-enakan sendiri.
"Bagus, aku menunggu moment itu."
"Bar, kamu tidak bekerja?" Tanya Spica setelah menimbang-nimbang.
"Aku bekerja daring." Bara menghabiskan sisa ramen sebelum menjawab pertanyaan Spica. Cowok itu kemudian menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi, mengamati Spica yang tengah menikmati ramen. Spica makan cukup cepat dari kebanyakan gadis lain. Gadis itu juga sebentar lagi menyusul Bara.
"Ohh... Bagaimana jika aku ingin bekerja?" Spica mengelap mulutnya dengan tisu, gadis itu kemudian menggeser mangkok ramen menjauh darinya. Tatapan keduanya kini bertemu.
"Kerja apa?"
Spica diam. Benar juga, gadis itu belum memikirkan pekerjaan yang ingin dilakukannya. "Aku kan ingin berkebun. Tapi malah dia menggagalkan rencanaku." batinnya.
Pada akhirnya Spica hanya menggeleng. Bara mengerti, Spica pasti merasa bosan di apartemen tanpa kegiatan apapun. Gadis yang terbiasa bergerak dan melakukan banyak aktivitas itu pasti kaget begitu menikah dengannya.
"Pikirkan saja dulu ingin bekerja apa, tapi jika ingin saran. Aku lebih senang jika kamu bekerja sebagai ibu rumah tangga saja. Atau ingin menjadi pengasuh?" Bara melipat tangannya diperut.
"Pengasuh apa? Bayi?"
Bara tersenyum. "Iya, jika kamu setuju aku akan membuatkannya untukmu."
"Stress." Maki Spica. Gadis itu malu dengan kalimat Bara barusan. "Aku ingin pulang saja."
Karena tidak ingin melihat wajah Bara yang terus menggodanya, Spica beranjak dari restoran. Gadis itu meninggalkan Bara yang kemudian ikut menyusulnya.
Bara tertawa lirih melihat tingkah Spica. Gadis itu harus lebih sering berhadapan dengan pembicaraan seperti tadi agar hidupnya penuh warna. Bara bahkan dapat melihat Spica yang berusaha menahan respon alaminya. Gadis itu terlalu sungkan, tidak terbiasa dengan kebebasan.
"Tunggu sayang!" seru Bara ketika jarak mereka semakin dekat. Bara kemudian meraih tangan Spica agar mereka berjalan beriringan. "Bagaimana, kamu setuju tidak? Jika iya malam nanti aku akan mulai membuatnya."
Rupanya Bara belum puas menggoda Spica.