Indonesia
NovelToon NovelToon
Permata Tak Terduga Sang Mafia

Permata Tak Terduga Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Perjodohan / Mafia / Penikahan Kontrak / Dark Romance / Tamat
Popularitas:94
Nilai: 5
Nama Author: franericá

Angel Martinez dibesarkan untuk satu tujuan: menjadi istri yang sempurna dan penurut bagi pria pilihan ayahnya—seorang bos mafia Spanyol yang menganggap kekuasaan adalah segalanya. Yang ia impikan hanyalah kebebasan: sebuah perpustakaan, kuas dan kertas, dan satu perjalanan ke Italia sebelum hidupnya benar-benar bukan lagi miliknya.

Namun perjalanan itu ternyata sebuah jebakan manis. Di Roma, Angel mendapati dirinya telah dijanjikan kepada Dante Moretti—Don muda paling ditakuti di seluruh Italia. Dingin, arogan, dan terbiasa memiliki apa pun yang ia mau, Dante sama sekali tak berniat mengikat hidupnya pada seorang "putri manja". Sampai gadis bermata biru dan berambut merah api itu menatapnya tanpa gentar… dan meruntuhkan setiap tembok yang ia bangun.

Di dunia penuh darah, aliansi, dan senyum palsu, cinta adalah kelemahan paling berbahaya. Karena di balik pesta megah dan janji-janji setia, ada seseorang yang sudah lama menunggu—seseorang yang tahu persis bahwa cara termudah menghancurkan seorang Don adalah dengan merebut satu-satunya hal yang benar-benar ia cintai.

Ketika pria yang tak pernah takut pada apa pun akhirnya menemukan sesuatu yang tak sanggup ia kehilangan, ia siap membakar seluruh dunia demi mempertahankannya.

"Tak ada yang boleh menyentuh hartaku dan pergi tanpa terluka."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon franericá, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

POV Dante

Aku tiba di aula sedikit lebih awal dari jadwal.

Aku harus memastikan segalanya sempurna, dan yang terpenting, aman.

Anak buahku sudah menempati posisi masing-masing.

Semua titik buta sudah diperiksa.

Kamera tambahan sudah dipasang.

Lorenzo mendekat lebih dulu, waspada seperti biasa.

"Semua bersih, Don," katanya dengan nada mantap khas orang yang tak pernah gagal.

Aku mengangguk.

Tak lama kemudian, Alessio ikut mendekat, rapi seperti biasa, dengan senyum terkendali itu.

"Keamanan sudah diperketat. Tidak ada yang di luar dugaan," ujarnya menegaskan.

Dua sekutu.

Dua ujung yang berlawanan.

Seorang saudara yang kupilih sendiri… dan seorang pria yang, tanpa dia sadari, kupercayakan seluruh masa depanku.

Para tamu mulai berdatangan.

Aula terisi dengan cepat. Kilau lampu gantung memantul di gelas-gelas, gumaman para sekutu, udara yang sarat kekuasaan dan harapan.

Saat itulah Lorenzo mendekat diam-diam ke sisiku.

"Dia sudah datang."

Dunia di sekitarku kehilangan suara.

Aku melangkah beberapa langkah, dan ketika kulihat dia…

Rasanya seperti tertembak tepat di dada.

Angel tampak… memukau saja tidak cukup untuk menggambarkannya.

Dia mengenakan gaun yang berbeda dari semua yang pernah dipilihnya, anggun, mencolok, pas sempurna membalut tubuhnya.

Jenis gaun yang tak sekadar menarik perhatian…

Jenis yang membuat seorang pria rela membunuh demi dirinya.

Si rambut merahku.

Kehancuranku.

Kejatuhanku yang sudah diramalkan.

Aku melangkah ke arahnya, dan ketika matanya bertemu mataku, aku tahu aku takkan pernah lagi merasa tenang, dan aku tidak keberatan sama sekali.

Kusentuh pinggangnya, kutarik tubuhnya mendekat, dan kukecup bibirnya perlahan, seperti seseorang yang menandai sesuatu yang memang sudah miliknya.

"Kau memukau," bisikku, masih terhipnotis.

Wajahnya memerah.

Nerakaku sendiri.

Sekaligus surgaku.

"Kau juga sempurna…" jawabnya lirih, mengalihkan pandangan sesaat.

Aku tersenyum.

Selalu saja aku merinding ketika dia jadi seperti ini, malu-malu, manis… milikku.

"Aku punya hadiah untuk perempuan tercantik malam ini."

Matanya membelalak penasaran.

Kuambil kotak kecil biru tua dari saku dalam jasku.

Aku tahu Angel menyukai benda-benda yang halus, sederhana… yang dibuat dengan makna.

Kalung itu kupesan khusus untuknya.

Kubuka kotaknya perlahan, memperhatikan bagaimana matanya berbinar oleh keterkejutan dan haru.

"Dante… ini indah sekali," bisiknya, menyentuh perhiasan itu dengan hati-hati.

"Kau tidak perlu repot-repot…"

"Kau pantas mendapatkannya, amore mio," jawabku, mengambil kalung itu dan memasangkannya di lehernya dengan pengabdian seorang pria yang tahu persis apa yang sedang dilakukannya.

Lalu, kudekatkan wajahku ke wajahnya, dan kuselesaikan dengan senyum yang hanya dia yang mengenalnya.

"Ayo, sayang. Malam ini kita resmikan ikatan kita… dan semua orang akan tahu siapa yang akan menjadi istri sang Don."

Pandangannya berbinar, campuran antara cinta, gugup, dan keyakinan.

Dan di saat itu, aku benar-benar yakin:

Aku akan menggerakkan langit, neraka, dan segala yang ada di antaranya demi melindunginya.

POV Angel

Begitu Dante memasang kalung itu di leherku, kurasakan kakiku hampir lemas. Bobot perhiasan itu ringan… tapi maknanya terasa begitu besar. Nyaris lebih besar daripada udara yang kuhirup.

Dia menatapku seolah tengah memandang sesuatu yang suci. Dan aku… aku jatuh cinta sedikit lebih dalam.

Aku menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri, tapi mustahil berada di sampingnya tanpa kehilangan keseimbangan di dalam.

Dante mengulurkan tangannya kepadaku, mantap dan hangat.

"Ayo, sayang. Malam ini kita resmikan ikatan kita… dan semua orang akan tahu siapa yang akan menjadi istri sang Don."

Jantungku berdetak begitu keras sampai terasa sakit.

Istri sang Don.

Istri Dante.

Andai beberapa bulan lalu ada yang mengatakan aku akan menjalani ini, aku pasti tertawa. Aku terlalu keras kepala, terlalu penakut, terlalu tertutup untuk percaya bahwa seseorang seperti dia… dia… bisa mencintaiku sedalam ini.

Tapi di sinilah aku. Dengan kalung yang berkilau seakan dibuat dari bintang-bintang. Dengan tangannya menggenggam tanganku. Dan dengan tatapan seorang pria yang sanggup mengguncang dunia jika aku memintanya.

"Dante…" suaraku sedikit tersendat, tapi aku tersenyum. "Aku bahagia sekali…"

Dia mendekatkan wajahnya dan mengecup keningku, seolah itu hal paling wajar di dunia.

"Aku juga, Angel. Jauh lebih bahagia daripada yang bisa kaubayangkan."

Dadaku terasa sesak, hangat, penuh, nyaris menyakitkan.

Kami memasuki aula bersama-sama.

Dan tiba-tiba semuanya terasa berbeda. Bukan hanya cahaya lampunya, bukan musik lembutnya, bukan pula para tamu berbusana rapi yang menoleh menatap kami. Melainkan sensasi itu, aneh, kuat, bahwa sesuatu yang besar hampir terjadi.

Orang-orang tersenyum, bersulang, berbisik tentang hal-hal yang tak bisa kudengar.

Tapi semua itu tak penting.

Yang kulihat hanyalah Dante di sisiku.

Dia tampak sempurna. Kuat, anggun, berwibawa. Pria yang membangkitkan rasa takut pada banyak orang dan, pada diriku… membangkitkan cinta yang masih kupelajari cara menghadapinya.

"Gugup?" tanyanya, sedikit memiringkan kepala untuk menatap ke dalam mataku.

"Sedikit," akuku sambil tertawa kecil. "Ini… banyak sekali."

"Aku di sini," jawabnya seketika, tanpa ragu. "Aku takkan melepaskan tanganmu apa pun yang terjadi."

Dan dia benar-benar tak melepaskannya.

Kami berjalan di antara para tamu sementara aku berusaha meresapi semua di sekitarku: kilau meja-meja, harum bunga, suara langkah kaki, salam-salam, senyuman… tapi ada sesuatu yang lain.

Sebuah perasaan mengganjal, jauh di dasar dada.

Seakan seseorang… tengah mengawasi.

Aku mengerjap beberapa kali, mencoba mengusir pikiran itu. Mungkin cuma gugup. Mungkin hanya karena betapa pentingnya hari ini. Mungkin… mungkin itu rasa takut.

Tapi kemudian Dante meremas tanganku pelan, seolah dia merasakan aku goyah. Dan itu cukup untuk mengembalikanku.

"Semua baik-baik saja," bisiknya. "Bersamaku, kau akan selalu aman."

Aku menatapnya dan, sesaat, semua kekhawatiranku lenyap.

Karena ketika Dante berbicara seperti itu… aku percaya.

Aku selalu percaya.

Andai dunia hampir runtuh, aku akan menghadapi segalanya, asalkan Dante bersamaku.

Tapi perasaan diawasi itu…

tusukan dingin di tengkuk itu… Tak juga hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!