Cerita ini hanya fiksi semata, hanya halu author.
Cerita ini, terispirasi dari curhatan-curhatan seorang ibu yang merasa lukanya terabaikan, lelahnya tak terlihat, dan sakitnya yang dianggap sepele, diselingkuhin pula.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Illana Clr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Flashback Tiara dan Rafa Part 1
Rafa dan Tiara bertemu dikantor Ayahnya, saat itu Rafa baru menyelesaikan kuliahnya di luar negeri dan kembali ke Indonesia untuk meneruskan tanggung jawab Pak Dirga.
Saat itu, Tiara bekerja sebagai sekertaris Pak Dirga. Rafa dibantu oleh Tiara dan dalam segala urusan perusahaannya.
Awalnya hubungan Rafa dan Tiara hanya sebatas karyawan dan bos, namun seiring berjalannya waktu, Rafa mempunyai perasaan terhadap Tiara dan mencoba mendekatinya.
Pada siang itu Tiara makan siang beraama Rafa setelah meeting diluar yang cukup melelahkan.
Kesempatan itu Rafa pakai untuk menyatakan perasaannya.
"Tiara.... Kamu punya pacar?"
Tiara tersentak dengan pertanyaan Rafa lalu menggeleng. "Ng-nggak ada pak" jawabnya jujur.
"Saya suka sama kamu, bagaimana jika kita berpacaran?"
Rafa menunggu jawaban Tiara, dengan wajah pasrah namun penuh harapan disana.
"Pak, kita satu kantor. Dan bapak adalah bos saya. Saya takut pak memicu pro kontra nantinya" jelas Tiara.
"Tidak usah pedulikan orang lain. Atau, kita bisa berpacaran secara sembunyi-sembunyi
Rafa tersenyum menatap Tiara yang mulai tersipu dengannya.
"Kamu mau? Saya gak main-main. Jika perlu kita menikah secepatnya" Ucap Rafa lagi.
Tiara yang saat itu memang mencari pasangan untuk ke jenjang serius akhirnya menerima pengakuan dari Rafa.
Tiara dan Rafa melangsungkan pernikahan setelah satu tahun berpacaran, pernikahan megah dan mewah dengan dihadiri dua ribu undangan.
Kebahagiaan menyelimuti mereka, Tiara berhenti bekerja demi berbakti pada suaminya. Setiap hari Tiara menjalani rutinitas sebagai ibu rumah tangga yang bahagia. Meski ada ART namun ia selalu menyiapkan makanan untuk Rafa.
Selang empat bulan Tiara mendadak tak enak badan mual dan sering muntah, setelah cek ke dokter kabar bahagia menghampiri mereka Tiara tengah mengandung anak pertama mereka usia kandungannya 8 minggu.
"Mas, aku hamil ternyata" Ucapnya penuh rasa syukur.
"Iya sayang, kamu jangan capek-capek ya. Gak usah masak, gak usah ngapa-ngapain ya dirumah aja. Jaga anak kita sayang" Balas Rafa penun syukur dan haru.
Selama kehamilan Tiara selalu merasa menjadi satu-satunya perempuan beruntung didunia. Di dijaga oleh Rafa, Pak Dirga selaku mertuanya dan juga ayah ibunya yakni Pak Dimas dan Ibu Hana yang sangat peduli.
Namun kehidupan yang terlihat sempurna itu, ternyata menyimpan duri tajam yang siap merenggut nyawanya kapan saja. Kehamilannya yang rentan dan juga kesehatannya yang menurun, bayi didalam kandungan pun ikut merasakan dampak dari kesehatan yang buruk pada Tiara.
Singkat cerita, Tiara kontraksi jadwal operasi caesar terpaksa dibatalkan karna bayi memilih jalannya sendiri. Bayi mereka lahir sebelum waktunya tiba, dengan berat badan kurang dafi dua kilogram dengan paru-parunya yang belum siap. Bayi itu harus dirawat di NICU, saat bayi mendapat perawatan Tiara mengalami pendarahan hebat yang membuatnya kritis.
Rafa yang saat itu hancur dengan kondisi anaknya, kini ia diremukan lagi oleh keadaan istrinya yang sama parahnya. Tiara tak terselamatkan akibat kehilangan banyak darah.
Didetik yang sama, bayi mereka menghembuskan nafas terakhirnya di ruang NiCu
"Pak, mohon maaf Bayi beserta ibunya tidak tertolong. Saya minta maaf Pak"
Rafa terhuyung mundur, kakinya gemetar Ayah Dirga menahan tubuh anaknya yang kini tak berdaya.
"Rafa....." Pak Dirga memeluk anaknya,
"Tiara.... Ayah, mereka pergi...." Lirihnya ditengah isak tangis.
"Iya, Nak. Ayah disini buat kamu" Pak Dirga mengusap punggung anaknya.
Tangis Rafa semakin pecah dipelukan Ayahnya.
Ayah ibu Tiara juga merasakan kehancuran yang sama dalamnya seperti Rafa.
"Anak dan cucu kita pergi ayah" Tangis ibunya Tiara pecah dipelukan Ayahnya Tiara.
"Tiara sayang dengan anaknya, kita harus ikhlas ya bu" Ayah Tiara mengusap punggung ibu Tiara.
Jenazah Tiara dan Anaknya segera diurus untuk dikebumikan.
Rafa beserta Ayah Dirga dan juga mertuanya mengantarkan Jenazah anak istrinya ke pengistirahatan terakhir.
Saat pemakaman selesai Ibunya Tiara menjerit histeris melihat jenazah anaknya dikubur.
"Semuanya gara-gara kamu" Teriak Ibu Hana kepada Rafa.
"Kalo saja Tiara tidak hamil anak kamu, Tiara harusnya masih hidup" Teriaknya semakin histeris.
"Ibu, sudah.. Ini sudah takdir. Kita pulang saja" Pak Dimaa membawa istrinya itu secara paksa masuk kedalam mobil.
"Ibu... Tenang, Rafa juga sama seperti kita. Jbu minum dulu ya" Pak Dimas berusaha menenangkan Ibu Hana.
"Tiara, ayah... Tiara sakit-sakitan karna hamil. Rafa tega ayan" tangisnya semakin jadi.
Sementara dipemakaman Ayah Dirga tetap memeluk anaknya, menguatkan Rafa yang sama hancurnya dengan Ibu Hana.
Singkat cerita Rafa pulang diantar Ayah Dirga kerumahnya, dan Bu Hana dengan Pak Dimas.
Dirumah, Rafa melihat foto-foto pernikahan, maternity Rafa dan Tiara.
"Ibunya Tiara benar Ayah. Seandainya Tiara tak mengandung anakku, dia pasti masih hidup"
Suaranya serak menahan tangis, sambil menatap foto-foto itu dengan tatapan sendu.
"Rafa, kamu tidak boleh bicara begitu. Mungkin ini yang terbaik untuk mereka".
Pak Dirga menarik nafas sesak sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Rafa... Saat bunda kamu pergi, Ayah juga sama sepertimu. Ayah sempat berfikir ink semua salah Ayah". Pak Dirga merasa sesak Dadanya.
"Tapi Ayah lupa, Ada kamu dihidup Ayah".
Pak Dirga mencengkram bahu Rafa lembut, menatap Rafa yang menahan tangis.
"Kamu satu-satunya orang yang membuat Ayah bertahan, Bunda pergi mungkin itu jalan terbaik. Sama seperti Tiara dan Anak kamu, mungkin ini yang terbaik buat mereka" Pak Dirga menguatkan Rafa dan dirinya.
"Ayah tahu ini berat Nak" Tambahnya lagi.
"Ayah.... Bantu Rafa untuk ikhlas. Temani Rafa, Ayah" Tangis Rafa kembali pecah dipelukan Ayahnya.
"Bersedihlah secukupnya, Nak. Ayah selalu disini buat kamu"
___
Tiara dan Anaknya yang diberi nama Adrian Putra Rafa sudah empat puluh hari meninggalkan Rafa.
Namun keadaan Rafa masih seperti mayat hidup, ia hanya mengurung diri di kamar menangisi Almarhum istri dan anaknya.
Ayah Dirga memberi waktu untuk Rafa bersedih, meluapkan emosinya. Hingga suatu hari badan Rafa drop, badannya kurus kering dan batuk yang tak kunjung sembuh.
Rafa dirawat dirumah sakit, dan saat itu Ibu Hana dan Pak Dimas berkunjung menjenguk Rafa yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit.
"Rafa... Ayah dan Ibu minta maaf, kami baru menyadari orang yang paling menderita adalah kamu. Kamu harus sembuh, lanjutkan hidup kamu. Ikhlaskan Tiara dan Adrian, Nak".
Kalimat Pak Dimas membuat Rafa kembali menitikan air mata.
"Aku yang salah Ayah" Suara Rafa pecah diujung kalimat.
"Nggak Nak. Ini bukan salah kamu, ini takdir. Takdir yang tidak bisa kita hindari". Pak Dimas mengusap bahu Rafa yang kembali menangis.
"Dia bahkan gak datang ke mimpi ku Ayah, dia pasti sangat marah pada Rafa". Ucapnya penuh kepedihan.
"Rafa, kamu pernah dengar orang yang sudah tiada lalu tidak pernah muncul ke mimpi, itu tandanya mereka sudah tenang. Ikhlaskan pelan-pelan kepergian Tiara". Sahut ibu Hana menguatkan.
Rafa menatap mertuanya itu dengan air mata yang membasahi pipinya.
__
Ditaman Rafa duduk dikarpet piknik, melihat Tiara yang kini tersenyum menggendong Adrian. Tiara begitu cantik, dengan dress putih selutut dan Adrian dengan baju putih celana berwarna coklat. Disana bundanya juga ikut bermain mengambil Adrian dari gendongan Tiara.
Rafa tersenyum melihat pemandangan itu, Bundanya begitu akrab dengan Tiara. Tawa kecil dari bibir Adrian membuat siapapun yang melihat akan ikut gemas dengan anak itu.
"Mas, aku main disinu sama bunda sama Adrian. Mas pulang aja, kita nyaman disini jangan khawatir. Aku sama Adrian dan Bunda disini". Tutur kata Tiara begitu lembut seperti biasa
"Aku juga masih betah disini, anak kita lucu ya sayang". Ucap Rafa penuh syukur.
Tiara menatap Rafa dengan tatapan sangat manis dan dan lembut.
"Pulang Mas, kami aman disini".
Tiara masih dengan suara lembutnya menenangkan.
"Rafa, biarkan bunda bermain dengan anak istrimu. Kamu pulang saja, mereka aman sama bunda".
Bunda yang ikut bersuara membuat Rafa bingung
"Kenapa aku harus pulang tanpa kalian?" Tanya Rafa.
"Karna kami sudah nyaman disini" Ucap Tiara sambil tersenyum begitupun bunda dan Adrian dengan tawa gemasnya.
Dari kejauhan terdengar suara Ayah Dirga memanggil Rafa.
"Rafa.... Rafa..." Ayah Dirga berteriak memanggil namanya.
"Rafa.... Rafa..."
Rafa terperanjat saat suara itu semakin dekat, dan ia terbangun dari tidurnya.
"Ayah.." lirih Rafa saat melihat Ayah Dirga didepannya.
"Rafa, kamu belum makan Nak". Sahut Ayah Dirga.
"Ayah.. Tiara... Bunda... Ayah, mereka berkumpul mereka bertemu. Mereka menggendong Adrian Ayah". Suara Rafa pecah di akhir kalimat
Ayah Dirga tersentak dengan kalimat Rafa yang ternyata sedang memimpikan Almarhum Bunda dan juga anak, istrinya.
"Rafa... Mereka sudah tenang, Nak. Kamu juga harus lanjutkan hidup. Iklaskan mereka Rafa. Kamu masih ada Ayah". Sahut Pak Dirga kini tangis pak Dirga ikut pecah.