Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke Tempat Kenangan
Perjalanan menuju villa keluarga Chen berlangsung cukup tenang.
Mobil yang membawa Gavin dan Tiffany meninggalkan kawasan kota, kemudian perlahan memasuki jalanan yang lebih sepi. Gedung-gedung tinggi berganti menjadi deretan pepohonan, sementara jalanan mulai berkelok mengikuti kontur perbukitan.
Gavin duduk santai di kursi belakang sambil sesekali melihat keluar jendela.
"Sayang."
Tiffany yang sedang menikmati pemandangan menoleh.
"Hm?"
"Masih jauh?"
"Kurang lebih empat puluh menit."
Gavin mengangguk pelan, kemudian kembali bersandar.
"Berarti masih cukup waktu untuk tidur."
Tiffany melirik.
"Kalau mau tidur, tidur saja."
"Iya tolong bangunkan aku kalau sudah sampai ."
Tiffany hanya mengangguk pelan.
"Ya?"
Tiffany kembali menghadap jendela.
Perjalanan pun dilanjutkan tanpa banyak percakapan.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil mulai memasuki kawasan yang jauh lebih hijau dan tenang.
Pepohonan tinggi berdiri di sepanjang jalan. Udara terasa lebih sejuk, sementara di kejauhan terlihat lembah luas yang diselimuti kabut tipis.
Tidak lama kemudian, mobil berhenti di depan sebuah gerbang besi besar dengan lambang keluarga Chen di bagian tengahnya.
Gerbang itu perlahan terbuka.
Gavin hanya melirik sebentar sebelum kembali menyandarkan tubuhnya.
Ia sudah terbiasa melihat rumah-rumah besar dan properti keluarga dengan fasilitas semacam ini sejak kecil. Villa mewah bukan sesuatu yang baru baginya.
Namun, saat mobil mulai memasuki area villa, tatapannya justru beralih kepada Tiffany.
Wanita itu sejak tadi tidak banyak bicara.
Matanya terus mengikuti pemandangan di luar jendela.
Seolah-olah tempat ini bukan sekadar sebuah villa.
Melainkan sesuatu yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Mobil berhenti tepat di depan bangunan utama.
Villa keluarga Chen berdiri megah di atas lahan yang luas. Arsitekturnya klasik dan elegan, dengan dinding berwarna terang, jendela-jendela tinggi, serta atap gelap yang memberikan kesan hangat meski ukurannya sangat besar.
Taman luas terbentang di sisi bangunan. Jalan setapak membelah rerumputan hijau menuju sebuah gazebo kayu di tepi danau.
Beberapa pelayan di villa sudah berdiri menunggu di depan tangga utama.
Begitu Gavin dan Tiffany turun dari mobil, seorang pria paruh baya segera maju.
"Selamat datang kembali, Nona Tiffany."
Tiffany mengangguk.
"Paman Liu."
"Sudah lama sekali Nona tidak datang ke sini."
Tiffany tersenyum tipis.
"Iya. Sepertinya sudah beberapa tahun."
"Villa sudah kami rawat seperti biasa. Semua kebutuhan Nona dan Tuan Gavin juga sudah dipersiapkan."
Gavin menyerahkan salah satu barang bawaannya kepada staf lain.
"Terima kasih."
Paman Liu kemudian memperkenalkan beberapa pelayan yang bertugas selama mereka berada di villa.
Salah satunya adalah seorang wanita muda yang berdiri sedikit di belakang.
"Dan ini Mei. Dia baru bekerja untuk keluarga Chen dan untuk sementara ditugaskan membantu di villa ini."
Mei maju selangkah.
Ia membungkukkan tubuh dengan sopan.
"Perkenalkan, Nona. Nama saya Mei. Saya baru ditugaskan di villa ini dan akan membantu selama Nona dan Tuan berada di sini."
Gavin yang berdiri di samping Tiffany memperhatikan wanita itu sejenak.
Kemudian senyum khasnya muncul.
"Oh..."
Mei mengangkat wajah.
Gavin mengangguk pelan.
"Manis juga."
Tiffany yang sejak tadi diam langsung menoleh.
Tatapannya tertuju pada Gavin.
"..."
Gavin masih terlihat santai seolah baru saja menyampaikan komentar paling biasa di dunia.
Tiffany menarik napas pendek.
"Kamu tidak usah merayu atau menggoda pelayan di sini."
Gavin menoleh.
"Hm?"
"Dasar kamu. Semua wanita selalu saja kamu goda."
Gavin justru kembali melihat Mei, lalu mengangkat bahu.
"Tapi memang manis."
"..."
Tiffany langsung memasang wajah kesal.
Sementara Mei tampak sedikit kikuk dan buru-buru menundukkan kepala.
"Terima kasih, Tuan."
Tiffany tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia hanya berbalik dan berjalan lebih dulu menuju ruang utama.
Dasar pria sialan.
Langkahnya sedikit lebih cepat.
Dia selalu saja menggoda wanita lain.
Tiffany melirik sekilas ke belakang.
Gavin masih berjalan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Wanita lain dipanggil manis, cantik, dan macam-macam.
Ia mengatupkan bibir.
Sedangkan aku yang istrinya...
Tiffany berhenti sejenak.
Pikiran itu terasa sedikit mengganggunya.
Walaupun statusnya cuma kontrak...
Ia segera menggelengkan kepala.
...selalu saja dipanggil Tante.
Dasar pria sialan.
"Sayang."
Suara Gavin terdengar dari belakang.
Tiffany langsung berhenti.
Ia perlahan menoleh.
Gavin sudah berdiri beberapa langkah di belakangnya sambil membawa salah satu tas.
"Apa?"
"Kok jalannya cepat sekali?"
Tiffany menatapnya datar.
"Karena aku tidak suka membuang waktu."
Gavin mengangguk.
"Oh."
Kemudian senyum jahilnya muncul.
"Kirain cemburu."
Wajah Tiffany seketika berubah.
"Apa?!"
Gavin langsung tertawa.
"Jangan marah."
"Aku tidak cemburu!"
"Aku tidak bilang kamu cemburu."
"Tadi kamu bilang—"
"Berarti kamu memang memikirkannya."
Tiffany terdiam.
"..."
Gavin langsung mempercepat langkah masuk ke villa.
"Tunggu!"
Tiffany mengejarnya.
"Berani sekali kamu!"
Suara tawa Gavin terdengar dari dalam.
Sementara para pelayan yang berada di belakang hanya saling berpandangan sambil tersenyum kecil.
Paman Liu bahkan terlihat sedikit lega.
Sudah lama ia tidak melihat Nona Tiffany bercanda seperti itu.
Setelah keributan kecil itu mereda, Tiffany akhirnya berjalan lebih pelan memasuki ruang utama.
Bagian dalam villa ternyata hampir tidak banyak berubah.
Ruang tamunya luas dengan jendela-jendela tinggi yang menghadap langsung ke taman. Perabotan lama masih tertata rapi, termasuk sebuah piano hitam di sudut ruangan.
Namun, perhatian Tiffany justru tertuju pada pemandangan di luar.
Dari balik kaca besar, ia bisa melihat gazebo di tepi danau.
Tatapannya berubah lembut.
Gavin yang baru saja meletakkan barang melihat perubahan itu.
"Kamu ingat sesuatu?"
Tiffany mengangguk.
"Tempat ini..."
Ia berjalan mendekati jendela.
"Sudah lama aku tidak kesini."
Gavin berdiri di sampingnya.
"Dulu sering ke sini?"
"Waktu kecil."
Tiffany tersenyum kecil.
"Dulu aku sering berlari-lari di taman."
"Sendirian?"
"Kadang bersama Ibu. Kadang Ayah juga ikut."
Tiffany menunjuk ke arah gazebo.
"Aku sering bersembunyi di sana kalau habis membuat kesalahan."
Gavin tertawa kecil.
"Jadi waktu kecil kamu suka kabur?"
Tiffany melirik.
"Aku tidak kabur."
"Terus?"
"Strategi menghindari hukuman."
Gavin mengangguk serius.
"Hebat. Ternyata bakat membuat strategimu sudah terlihat sejak kecil."
Tiffany langsung menyikut lengannya.
"Diam."
Mereka kemudian keluar menuju taman.
Udara sejuk langsung menyambut begitu pintu terbuka.
Tiffany berjalan lebih dulu menuju sebuah pohon besar di sisi halaman.
Ia berhenti di sana.
"Ini masih ada."
Gavin melihat pohon itu.
"Sepertinya pohon ini spesial bagimu?"
Tiffany mengangguk.
"Dulu aku pernah mencoba memanjatnya."
Gavin menatapnya.
Kemudian menatap pohon itu.
Lalu kembali menatap Tiffany.
"Kamu?"
Tiffany langsung mengerutkan kening.
"Kenapa?"
"Entahlah. Aku cuma susah membayangkan."
"Kenapa memangnya?"
Gavin menahan senyum.
"CEO Chen Corp memanjat pohon."
"Di sini aku bukan CEO."
Tiffany menyentuh batang pohon itu pelan.
"Dulu aku cuma anak kecil yang suka bermain."
Kalimat itu membuat Gavin terdiam.
Tiffany menatap taman di hadapannya.
"Dulu tempat ini terasa sangat besar."
Ia tersenyum.
"Aku bisa berlari ke mana saja tanpa memikirkan rapat atau perusahaan."
Gavin tidak menyela.
Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, Tiffany tampak benar-benar santai.
Ia kemudian berjalan menuju gazebo.
Begitu sampai, ia duduk di bangku kayu yang menghadap danau.
"Dulu aku sering membaca buku di sini."
Gavin ikut duduk di sebelahnya.
"Sendirian?"
Tiffany mengangguk.
"Kadang."
"Jadi dari kecil kamu suka baca buku terus?"
"Aku juga bermain."
"Dengan siapa?"
Tiffany berpikir sebentar.
"Dengan Ayah. Dengan Ibu. Kadang dengan pelayan villa."
Gavin menatap permukaan danau.
"Berarti banyak kenanganmu di sini."
Tiffany tersenyum.
"Iya."
Angin berembus perlahan.
Untuk beberapa saat, keduanya hanya duduk diam.
Tidak ada pembicaraan mengenai perusahaan.
Tidak ada laporan.
Tidak ada kontrak.
Hanya suara dedaunan dan air danau yang bergerak pelan.
Gavin menoleh.
Tiffany sedang tersenyum kecil sambil menatap tempat yang pernah menjadi bagian dari masa kecilnya.
Entah kenapa, kali ini ia tidak menggodanya.
Ia hanya memperhatikan.
Hmm...
Kalau tersenyum begini...
...Tante ini cantik juga.
Gavin segera mengalihkan pandangan.
Kenapa aku malah mikir begitu?
Tiffany yang tidak menyadari isi pikirannya tetap menikmati suasana.
Sudah lama sekali ia tidak duduk di tempat ini.
Dan tanpa disadarinya...
Liburan yang awalnya hanya dianggap sebagai permintaan ibunya mulai terasa seperti sesuatu yang memang ia butuhkan.
Di sisi lain, Gavin hanya bersandar santai.
Ia tidak peduli dengan kemewahan villa.
Baginya, tempat ini hanyalah tempat untuk beristirahat.
Tetapi melihat Tiffany tersenyum seperti itu...
Mungkin perjalanan mereka ke sini memang tidak sia-sia.