Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bau yang tak pernah hilang
Saat sampai ditengah kampung, Arga meminta ayahnya berhenti.
"Disini saja Yah. Nggak usah ikut mobil kopi didepan lagi."
Ayah Arga pun segera mencari tempat parkir yang paling mungkin agar tidak menghalagi jalan bagi warga maupun kendaraan yang lain. Mesin mobil masih menyala ketika beberapa warga mulai mendekat. Sebagian hanya berdiri di depan rumah, memperhatikan rombongan yang baru saja datang setelah menempuh perjalanan panjang dari balik hutan.
Arga turun setelah mobil sempurna berhenti. Begitu kedua kakinya menyentuh tanah, terdengar suara anak-anak dari arah jalan kecil.
"Kak Arga!"
Arga langsung menoleh. Beberapa anak berlari dari kejauhan.
"Arga datang!"
"Arga!"
Wajah Arga yang sejak tadi tegang mendadak berubah. Ia tertawa.
"Eh!"
Anak-anak itu berlari semakin dekat. Beberapa bahkan hampir menabrak Arga karena terlalu bersemangat.
"Kak Arga!"
"Kak Arga kembali!"
Arga jongkok agar sejajar dengan mereka.
"Iya. Kak Arga datang lagi."
Seorang anak laki-laki memegang tangan Arga.
"Kak Arga bawa oleh-oleh?"
Arga tertawa. Tangan nya merogoh kantong di tas kecilnya. Ada banyak permen yang memang sengaja dia persiapkan untuk menemani perjalan nya. Dia benar-benar tidak terfikir untuk membawa oleh-oleh untuk warga disini.
"Kakak nggak bawa banyak. Ini bagi-bagi aja buat kalian ya. Jangan berebut." Arga memberikan semua permen yang ada dalam tas kecilnya itu.
"Siap kak." Mereka menjawab kompak.
Lalu tiba-tiba seorang anak bertanya.
"Ini siapa?"
Ia menunjuk Bima. Arga menoleh kepada Bima.
"Kenalkan. Ini Mas Bima."
Anak-anak itu memperhatikan Bima dengan rasa penasaran.
Bima tersenyum.
"Halo."
"Halo, Mas!" Beberapa anak langsung menjawab bersamaan.
"Yang itu ayahnya kak Arga. Kalau itu kakaknya mas Bima namanya kang Dedi." Arga kembali melanjutkan kalimatnya sambil menunjuk ke arah ayahnya yang masih memeriksa bagasi dan menunjuk kang Dedi yang masih memeriksa salah satu carrier.
Dedi yang melihat pemandangan itu tersenyum kecil. Arga ternyata memang sudah cukup dekat dengan warga Ciburial. Bahkan anak-anak masih mengingatnya meskipun ia hanya tinggal beberapa waktu.
Seorang anak perempuan tiba-tiba menarik tangan Arga.
"Kak, mau tinggal di rumah bawah lagi? Kalau iya, nanti aku minta ibu kirim singkong kesana."
Arga mengangguk.
"Iya. sepertinya. Tapi kakak mau ke rumah pak Rahman dulu."
"Kak Arga mau ke sana?"
"Iya."
"Aku ikut!"
"Jangan. Sudah mau Maghrib."
Anak itu cemberut.
"Nanti besok main lagi."
Arga mengusap kepalanya.
"Siap, Janji."
Anak-anak itu akhirnya berlari kembali ke arah rumah mereka sambil sesekali menoleh.
"Kak Arga!"
"Iya..."
"Terimakasih permennya enak."
Arga terdiam. Kemudian tersenyum.
"Iya."
Namun setelah anak-anak itu pergi, senyum Arga perlahan memudar.
Dedi memperhatikannya.
"Kenapa?"
Arga menggeleng.
"Nggak apa-apa. Aku agak nyesel, kenapa nggak terfikir bawa oleh-oleh buat mereka."
Bima menatapnya.
"Kamu seperti berat meninggalkan mereka."
Arga tersenyum kecil.
"Karena mereka orang-orang pertama yang membuatku merasa aman waktu aku tersesat."
Bima mengangguk.
"Berarti memang tempat ini penting buatmu."
"Iya."
Arga kemudian mengambil tasnya.
"Ayo. Rumah Pak Rahman tidak terlalu jauh."
Mereka mulai berjalan. Arga berada paling depan. Dibelakangnya ayahnya berjalan hampir mensejajarinya. Ia menjadi pemandu. Jalan kampung itu sempit, hanya berupa tanah padat yang di beberapa bagian telah diperkeras dengan batu. Rumah-rumah berdiri tidak terlalu jauh satu sama lain. Ada yang berdinding kayu, ada yang menggunakan papan, dan beberapa sudah memakai tembok.
Suara ayam terdengar dari halaman. Asap tipis keluar dari dapur beberapa rumah. Beberapa warga yang sedang duduk di teras menyapa Arga.
"Arga!"
Arga membalas.
"Pak!"
"Sudah balik lagi?"
"Iya, Pak."
"Sehat?"
"Alhamdulillah."
Ada pula seorang ibu yang keluar dari rumah.
"Arga!"
"Ibu!" Arga berhenti sebentar.
Ibu itu tersenyum lebar.
"Sudah makan?"
"Belum."
"Kalau nanti ke rumah Pak Rahman, makan dulu."
"Iya, Bu."
Ayah Arga memperhatikan semuanya. Arga benar-benar seperti orang yang kembali ke rumah sendiri. Ada rasa haru dan syukur mengetahui anaknya diterima ditempat ini.
Namun baru beberapa langkah setelah mereka meninggalkan rumah terakhir, langkah Arga tiba-tiba melambat.
Ayah Arga yang berjalan di belakangnya menyadari perubahan itu.
"Ga?"
Arga tidak menjawab. Ia berhenti. Kepalanya sedikit terangkat. Hidungnya mengendus udara. Dedi dan Bima ikut berhenti.
"Ada apa?"
Arga memandang ke arah belakang rumah-rumah warga. Wajahnya perlahan berubah.
Bima melihat ekspresi itu.
"Kamu kenapa?"
Arga menelan ludah.
"Bau..."
"Apa?"
Arga tidak menjawab. Ia menarik napas sedikit lebih dalam. Dan seketika wajahnya berubah pucat. Bau itu. Bau yang sangat menyengat. Bau air yang lama menggenang. Bau tanah basah yang bercampur sesuatu yang busuk. Bau yang seperti menempel di udara. Bau yang langsung menyerang tenggorokan.
Arga menutup hidung dan mulutnya.
"Rawa..." Suaranya pelan.
Dedi langsung memahami.
"Rawa?"
Arga mengangguk.
"Bau ini..." Ia menelan ludah.
"Ini bau rawa."
Bima ikut mencium udara. Awalnya tidak terlalu terasa baginya. Namun beberapa detik kemudian angin berembus dari arah belakang kampung. Bau itu ikut terbawa. Pekat. Menusuk.
Bima langsung mengernyit.
"Astaghfirullah..."
Dedi menutup hidung.
"Baunya memang kuat."
Namun Arga tidak menjawab. Tubuhnya justru semakin tegang. Tangannya perlahan memegang perut.
Ayahnya melihatnya.
"Ga?"
Arga mencoba melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Kemudian berhenti lagi. Perutnya bergejolak. Bukan sekadar rasa tidak nyaman. Gelombang mual datang begitu cepat. Wajah Arga memucat.
"Sebentar..." Ia membungkuk sedikit.
Dedi segera mendekat.
"Arga?"
"Aku..." Arga menarik napas pendek.
"Perutku..." Tangannya menekan bagian atas perut. Mual itu semakin kuat. Bau rawa kembali datang bersama angin.
Arga langsung menutup hidungnya.
"Ya Allah..." Ia mencoba menahan. Namun tubuhnya seperti memiliki ingatan sendiri. Bau itu pernah menjadi bagian dari hari-hari terburuknya di Ciburial. Bau yang sempat membuatnya muntah berkali-kali. Bau yang bahkan setelah ia meninggalkan desa itu masih sering terbayang.
Dan sekarang, bau itu kembali. Tepat di hadapannya. Setelah beberapa hari ia meninggalkan Ciburial.
Arga mundur satu langkah. Ayah memegang bahunya.
"Duduk dulu."
"Nggak..." Arga menggeleng.
"Aku bisa."
Namun baru saja ia hendak berdiri tegak, rasa mual kembali menghantam. Ia segera berbalik dan berjalan beberapa langkah menjauh dari arah angin.
Bima mengikuti.
"Ga, jangan dipaksakan."
Arga berhenti di dekat sebuah pohon. Ia bersandar. Matanya terpejam. Napasnya terdengar berat. Ayah membuka botol air.
"Minum."
Arga menerima botol itu. Ia berkumur sedikit lalu meneguk beberapa teguk. Beberapa saat kemudian napasnya mulai membaik.
Bima berdiri di depannya.
"Kamu pernah merasakan seperti ini waktu tinggal di sini?"
Arga mengangguk.
"Setiap kali bau rawa itu terbawa angin."
"Seberapa parah?"
Arga membuka mata.
"Kadang sampai muntah."
Bima dan Dedi saling pandang. Arga mengusap wajah.
"Aku kira setelah pulang, tubuhku sudah lupa." Ia tertawa kecil, tetapi terdengar hambar.
"Ternyata belum."
Bima melihat ke arah belakang kampung. Di sana, di balik deretan rumah warga, tampak pepohonan yang lebih rapat. Dan dari arah itulah angin membawa bau tersebut.
Rawa.
Tempat yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita Arga. Tempat yang pernah menyimpan benda-benda milik para pendaki. Tempat yang mungkin menjadi salah satu bagian dari misteri hilangnya mereka.
Dedi menatap Arga.
"Rumah Pak Rahman masih jauh?"
Arga menggeleng.
"Tidak." Ia menarik napas panjang.
"Sebentar lagi."
Dedi mengangguk.
"Kita jalan pelan-pelan."
Arga berdiri. Namun sebelum melangkah, ia kembali menatap ke arah pepohonan di belakang kampung. Wajahnya berubah serius.
"Ada satu hal yang aneh."
"Apa?" tanya Bima.
Arga menunjuk ke arah sana.
"Setahuku..." Ia menelan ludah.
"...bau rawa itu tidak pernah sampai sekuat ini."
Bima mengerutkan kening.
"Maksudmu?"
Arga memandang mereka.
"Dulu aku harus cukup dekat dengan rawa untuk mencium bau seperti ini." Ia kembali mencium udara. Sekilas wajahnya kembali pucat.
"Tapi sekarang..." Arga menatap jalan yang baru saja mereka lewati.
"Bau itu sampai ke tengah kampung."
Tidak ada yang menjawab. Angin kembali berembus. Dan kali ini bau rawa itu datang lebih kuat. Bima menatap ke arah pepohonan. Entah mengapa, bersamaan dengan bau tersebut, sebuah bayangan samar kembali muncul di kepalanya.
"Bim?"
Bima tidak menjawab. Matanya masih tertuju ke arah rawa. Di tempat itu, sesuatu seakan sedang menunggunya.
banyak orang klw mau baca, mereka lihat dulu ini cerita tamat atau tidak. klw tidak mereka jadi malas membacanya.
masukan buat author, tamatin aja ceritanya. saya tahu di luar sana banyak yg mengintip cerita ini tapi Krn menggantung mrk JD malas..😍