Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Tusuk Sate

Rumah Tusuk Sate

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Slice of Life / Rumah Tangga
Popularitas:790
Nilai: 5
Nama Author: PqxxyZ

Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.

Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.

Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...

Benarkah rumah itu membawa kutukan?

Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 - Sebuah Permintaan Maaf

​Suasana kamar masih dipenuhi isak tangis Hanifah yang memilukan. Arkana berdiri pasang badan di depan istrinya seolah menjadi tameng, sementara Bibi Ratna masih menatap mereka dengan dada kempas-kempis menahan amarah.

​"Justru karena Bibi peduli!" bentak Bibi Ratna tak mau kalah. "Kalau tidak peduli, dari dulu Bibi diam saja! Kalian ini susah diberi tahu! Dikasih nasihat selalu merasa paling benar, kalian—"

​"Cukup, Bu Ratna!"

​Suara lantang yang memotong omongan Bibi Ratna berasal dari arah luar. Semua orang spontan menoleh ke pintu.

​Bu Sulastri berdiri di ambang pintu disusul oleh Pak Hadi yang masih menggenggam ponsel di telinganya. Wajah Bu Sulastri yang biasanya dipenuhi senyum hangat kini tampak teramat serius dan tegas.

​"Bukankah Ibu ini tetangga sebelah yang suka ikut campur?" sindir Bibi Ratna sinis. "Kenapa ikut campur urusan keluarga di dalam rumah ini? Sudah tiap hari datang ke sini, belum puas mengganggu, ya?!"

​Bu Sulastri melangkah masuk tanpa sedikit pun gentar. "Benar. Saya memang hanya tetangga, dan benar, saya yang membantu Hanifah tanpa pernah mengharapkan balasan apa pun."

​"Lalu untuk apa ikut campur?!" cerkas Bibi Ratna.

​"Karena saya juga seorang perempuan dan seorang ibu!" tegast Bu Sulastri dengan mata menyala. "Saya tidak sanggup melihat seorang ibu yang baru kehilangan tiga anaknya masih harus mendengar tuduhan kejam seperti itu! Apalagi suara Bu Ratna terdengar sampai keluar. Apa tanggapan tetangga yang lewat dari pasar malam?!"

​Bibi Ratna mendengus pelan, memalingkan wajah. "Saya tidak menuduh. Saya hanya mengingatkan."

​"Mengingatkan apa?!" potong Bu Sulastri cepat.

​"Dari awal saya sudah bilang, jangan beli perlengkapan bayi sebelum waktunya! Jangan menerima barang bekas! Dan ini... Mereka malah beli rumah tusuk sate. Sudah tahu lagi hamil, tapi tidak pernah mau mendengar!" kilah Bibi Ratna bergeming.

​Bu Sulastri menggelengkan kepala perlahan. "Kalau begitu, saya ingin bertanya. Ibu yakin semua itu penyebab Hanifah kehilangan bayinya?"

​"Sangat yakin!" jawab Bibi Ratna mantap. "Itu sudah diajarkan orang tua kami sejak dulu!"

​Bu Sulastri menatapnya tenang namun menusuk. "Kalau membeli baju bayi menjadi penyebab keguguran... bagaimana dengan ibu-ibu yang belum sempat membeli apa pun tetapi tetap kehilangan anaknya?"

​Bibi Ratna terdiam sejenak, sedikit gugup. "Itu... itu berbeda!"

​"Rumah ini juga rumah tusuk sate," lanjut Bibi Ratna cepat menutup kegugupannya. "Dari awal saya sudah bilang rumah seperti ini tidak baik! Apalagi istrinya sedang hamil malah cari rumah begini. Mentang-mentang murah! Makanya jangan sok-sokan mau beli rumah yang ujungnya membawa petaka sendiri!"

​Bu Sulastri menghela napas panjang. "Saya menghormati kepercayaan Ibu. Awalnya saya juga percaya takhayul itu. Tapi setelah mendengar penjelasan Arkana waktu pertama kali membeli rumah ini, saya sadar itu hanya takhayul yang tidak mendasar. Dan satu hal lagi... saya lebih percaya bahwa hidup dan mati ada di tangan Allah."

​"Maksudmu apa?!" sergah Bibi Ratna.

​"Kalau rumah bisa menentukan musibah seseorang, berarti kita sedang menggantungkan keyakinan kepada bangunan, bukan kepada Tuhan," tegast Bu Sulastri lurus. "Ibu tahu? Itu jatuhnya musyrik, Bu!"

​Bibi Ratna langsung meninggikan suaranya. "Jangan memutarbalikkan ucapan saya! Saya hanya menyampaikan pengalaman orang-orang terdahulu!"

​"Dan pengalaman itu belum tentu menjadi kebenaran bagi semua orang!" balas Bu Sulastri tak mau kalah. "Yang membuat saya sedih bukan karena Ibu memiliki kepercayaan itu. Tapi karena Ibu memilih mengatakannya di depan seorang ibu yang baru saja kehilangan anak-anaknya!"

​Ruangan kembali sunyi seketika. Hanifah menangis semakin pelan di atas ranjang, sementara Arkana menggenggam erat jemari istrinya.

​Namun, Bibi Ratna masih belum mau mengalah. "Hanifah juga terlalu dimanja! Sedikit-sedikit istirahat, sedikit-sedikit dilarang bekerja! Dulu perempuan hamil tetap bekerja dan kuat! Mertuanya Ibu Arkana saja dulu tetap berjualan di kantin kantor sambil masak katering malamnya saat hamil Arkana! Tapi lihat, dia tidak mengeluh dan hidup enak sekarang!"

​Bu Sulastri menggeleng heran. "Ibu tahu tidak..."

​"Apa?!" potong Bibi Ratna ketus.

​"Waktu Hanifah keluar flek kemarin, dia masih memikirkan teh yang Ibu minta," bisik Bu Sulastri dengan suara gemetar.

​Bibi Ratna tertegun.

​"Ibu tahu tidak..." lanjut Bu Sulastri, matanya mulai berkaca-kaca. "Dia tetap mencuci pakaian karena tidak enak menolak permintaan Ibu! Dia terus merasa bersalah setiap kali bidan menyuruhnya bed rest karena takut merepotkan Arkana!"

​Bibi Ratna terdiam mematung.

​"Saya melihat semuanya, Bu Ratna!" jerit Bu Sulastri menahan tangis. "Saya menjadi saksi bagaimana anak itu berusaha menghormati Ibu! Lalu hari ini... saat dia kehilangan tiga anaknya... yang dia dapat justru tuduhan!"

​Bibi Ratna menggertakkan giginya tajam. "Saya hanya ingin mereka belajar!"

​"Belajar?!" ulang Bu Sulastri tertawa sinis. "Dengan menyalahkan seorang ibu yang sedang berduka?! Apakah begitu cara Ibu mengajarkan kehidupan?!"

​Bibi Ratna melangkah maju mendekati Bu Sulastri. "Kamu tidak berhak mengajariku!"

​"Saya memang tidak berhak mengajari Ibu," balat Bu Sulastri tanpa bergeming sedikit pun. "Tapi saya berhak menghentikan siapa pun yang terus melukai hati orang lain! Hanifah dan Arkana sudah saya anggap anak sendiri! Jangan Ibu tuduh hal seperti itu, itu fitnah! Fitnah lebih kejam dari pembunuhan! Ibu sudah membunuh karakter seorang ibu dalam diri Hanifah dan seorang keponakan dalam diri Arkana!"

​Suasana di dalam kamar semakin memanas. Arkana yang sejak tadi menahan diri akhirnya memegang lengan Bu Sulastri.

​"Bu Sulastri... sudahlah, Bu..." bisik Arkana pasrah.

​Namun Bu Sulastri menggeleng tegas. "Tidak, Nak! Kalau hari ini Saya diam, Hanifah akan terus menganggap semua ini salahnya! Dia akan mengurung dirinya akibat orang yang tidak tahu diri ini!"

​"Siapa yang kau sebut tidak tahu diri itu?!" bentak Bibi Ratna membelalakkan mata.

​Tiba-tiba terdengar suara rem mobil berhenti mendadak di depan rumah, disusul derap langkah kaki tergesa-gesa memasuki ruang tamu.

​Ayah dan Ibu Arkana menerobos masuk ke dalam kamar dengan wajah penuh kecemasan. Begitu melihat suasana di dalam kamar, keduanya mendadak membeku. Jari Bibi Ratna sedang menunjuk-nunjuk tepat ke arah wajah Bu Sulastri dengan mata memerah.

​Ayah Arkana memandang Arkana, lalu beralih menatap Hanifah yang bersimbah air mata, dan Bu Sulastri. Tatapan matanya akhirnya berhenti tepat pada Bibi Ratna.

​"Ratna..." panggil Ayah Arkana pelan namun dingin.

​"Ratna!" panggilnya lagi, kali ini dengan nada yang begitu dalam dan menekan.

​Bibi Ratna yang sejak tadi begitu berani mendadak menurunkan tangannya perlahan. Tubuhnya gemetar melihat adiknya—Ayah Arkana—menatapnya dengan amarah terbesar yang pernah ia lihat.

​"Adik... Aku hanya..." gagap Bibi Ratna kehilangan kata-kata.

​Ayah Arkana mengangkat telapak tangannya pelan, memberi isyarat agar Bibi Ratna berhenti bersuara.

​Tidak ada bentakan melengking. Tidak ada caci maki. Hanya keheningan panjang yang teramat menekan dada.

​Beberapa detik berlalu dalam kecekaman. Bibi Ratna menelan ludah, mencoba membela diri lagi. "Aku cuma... Kamu tahu, aku ini yang paling tua di antara mereka. Jadi aku cuma ingin mereka mendengar nasihatku..."

​Ayah Arkana memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang. "Sudah selesai?"

​Bibi Ratna menelan ludahnya yang terasa pahit. "...Sudah."

​Ayah Arkana mengangguk pelan. "Kalau begitu... sekarang dengarkan aku."

​Ia melangkah maju satu pukulan jarak. "Kamu sudah aku peringatkan sebelum tinggal di sini, bukan?! Jaga sikap! Karena dia... wanita yang kau sebut tukang manja yang tidak bisa apa-apa itu adalah menantuku! Dialah yang mengizinkanmu tinggal di rumah ini!"

​"Adik, bukan begitu—"

​"Apa aku harus menjelaskan janjimu kepadaku sebelum tinggal di sini?!" potong Ayah Arkana dengan suara yang membikin merinding. "Aku pikir kamu sudah berubah! Mulut pisau yang kau anggap nasihat manis itu ternyata jauh lebih parah! Dan... lebih parah lagi, ternyata kaulah yang membunuh anak-anak Arkana! Cucu-cucumu sendiri! Secara tidak langsung kamu yang membunuhnya!"

​Bibi Ratna tersentak mundur, wajahnya pucat pasi.

​Ayah Arkana berjalan melewati Bibi Ratna tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya berhenti tepat di depan tempat tidur Hanifah. Semua orang menduga ia akan merangkul atau menenangkan menantunya.

​Namun... perlahan-lahan Ayah Arkana berlutut di lantai dingin.

​"Yah... jangan, Yah..." jerit Hanifah panik, berusaha bangkit dari ranjangnya.

​Ayah Arkana menggeleng pelan, air matanya runtuh menetes ke lantai. "Hari ini... Saya tidak datang sebagai ayahnya Arkana. Saya juga tidak datang sebagai mertuamu."

​Ia menatap Hanifah dengan mata berair. "Saya datang... sebagai adik dari perempuan yang telah menyakiti hatimu. Perempuan yang telah menghancurkan mimpi seorang ibu. Saya meminta maaf kepada Hanifah, bukan sebagai menantu di dalam keluarga ini, melainkan sebagai seorang ibu yang telah hancur kehilangan anak-anaknya."

​Ayah Arkana menarik napas tersengal. "Bukan karena saya membenarkan apa yang terjadi... tetapi karena saya gagal menghentikan kakak saya sebelum ucapannya melukai seorang ibu yang sedang berduka hingga kehilangan buah cintanya."

​Hanifah langsung bergeser turun dari ranjang dan ikut berlutut di lantai sambil menangis histeris. "Jangan begitu, Yah... Hanifah tidak pernah marah kepada Ayah..."

​Ayah Arkana memegang kedua bahu menantunya itu. "Kamu sudah kehilangan tiga anak. Seharusnya rumah ini menjadi tempatmu menenangkan hati... bukan tempat yang menambah lukamu."

​Ruangan itu kembali diselimuti tangis haru dan duka. Ibu Arkana berlutut dan ikut memeluk tubuh Hanifah erat-erat.

​"Maafkan Ibu ya, Nak..." tangis Ibu Arkana pecah. "Ibu seharusnya menasihati Ayah untuk tidak mengizinkan kakak ipar tinggal di sini. Dugaan Ibu benar-benar terjadi..."

​Arkana mengusap kasar wajahnya yang basah oleh air mata, berlutut memeluk istri dan kedua orang tuanya.

​Sementara itu di sudut kamar, Bibi Ratna hanya berdiri mematung. Wajahnya pucat bagai mayat. Untuk pertama kalinya sejak menapakkan kaki di rumah itu... ia kehilangan seluruh kata-katanya.

1
Anime aikō-kā
4
Ris Ris.25
wah menantang sekali nih
Mustafa
resmi rumah sendiri
Putri Ayu/PqxxyZ: iya, beli rumah demi Hanifah nih
total 1 replies
Mustafa
Mitos pasti sihn
Putri Ayu/PqxxyZ: betul banget nih kak
total 1 replies
Mustafa
yeaay udah sah
Putri Ayu/PqxxyZ: iya nih... syukur banget🤭
total 1 replies
Ris Ris.25
syukurlah diterima dengan baik😊
Putri Ayu/PqxxyZ: betul sekali😊
total 1 replies
Mustafa
Ayo kamu pasti bisa Arkana
Putri Ayu/PqxxyZ: yuk bisa yuk
total 1 replies
Mustafa
Berani melakukan, berani bertanggungjawab💪
Putri Ayu/PqxxyZ: wajib sih itu
total 1 replies
Ris Ris.25
cerita baru🤭😊😊
Putri Ayu/PqxxyZ: Iya nih.. mampir ya dan dukung kek kemarin lagi ya🙏😊🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!