Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEJUTAN MANIS
Terkadang, kejutan itu tidak selalu tentang hal yang tidak menyenangkan, namun juga yang bisa terasa manis dirasakan. Dan hal itulah yang dirasakan oleh Naya pada suatu Senin pagi setelah upacara selesai.
“Naya, setelah ini ke ruang kepala sekolah, ya,” kata wali kelasnya.
Naya yang sedang memasukkan buku ke dalam tas langsung menoleh kearah Kimi kemudian kearah wali kelasnya. “Ada apakah Bu?”
“Nanti juga tahu.” Wali kelasnya hanya tersenyum. Jawaban seperti itu justru membuatnya semakin gugup. Sepanjang perjalanan menuju ruang kepala sekolah, ia mencoba mengingat apakah dirinya pernah melakukan kesalahan. Terlambat? Tidak. Tidak mengumpulkan tugas? Tidak juga. Masalah jadwal pelatihan sebagai perenang yang baru dimenangkan? Sepertinya tidak.
Ketika tiba di depan ruangan, Naya mengetuk pintu.
“Masuk.”
Di dalam sudah ada kepala sekolah, wakil kepala sekolah bidang akademis, dan guru Bahasa Inggris. Situasi itu justru membuat Naya semakin yakin bahwa ada sesuatu yang serius sedang terjadi.
“Silakan duduk, Naya.”
Naya duduk perlahan.
Kepala sekolah mengambil sebuah dokumen. “Kami memanggilmu karena sekolah menerima undangan untuk mengirimkan beberapa siswa mengikuti program pertukaran pelajar internasional.”
Naya hanya mendengarkan.
“Program ini berlangsung selama satu semester.”
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
“Dan berdasarkan nilai akademis, kemampuan Bahasa Inggris, aktivitas sekolah, kemampuan ekonomi serta rekomendasi beberapa guru, kamu termasuk salah satu siswa yang kami nominasikan.”
Naya menatap mereka.
“Saya?”
Guru Bahasa Inggrisnya tertawa kecil.
“Iya, kamu.”
Naya masih belum benar-benar mengerti.
“Ke mana, Bu?”
Wakil kepala sekolah membuka dokumen berikutnya.
“Amerika Serikat.”
Untuk satu detik, seluruh ruangan terasa hening. Amerika Serikat. Dua kata itu langsung membawa satu nama ke dalam pikirannya. Nara.
Namun kepala sekolah belum selesai. “Kalau kamu lolos seleksi tahap akhir, sekolah mitra yang kemungkinan besar menerima kamu berada di California.”
California. Naya tidak langsung menjawab. Tangannya yang berada di pangkuan perlahan mengepal. Ia tidak tahu apakah harus tertawa, menangis, atau menanyakan apakah semua ini hanya kebetulan yang terlalu sempurna.
California. Negara bagian yang sama dengan Stanford. Tempat Nara berada. Tempat yang selama berbulan-bulan hanya bisa ia lihat dari foto dan layar ponsel. Kepala sekolah menyerahkan amplop putih berisi dokumen mengenai program yang telah dijelaskan tadi.
“Ini informasi lengkapnya. Kamu tidak harus memberikan jawaban hari ini. Bicarakan dulu dengan orang tuamu.”
Naya menerima amplop itu dengan kedua tangan. “Baik, Pak.”
“Kesempatan seperti ini bagus untuk pengalamanmu,” kata guru Bahasa Inggrisnya. “Tapi keputusan tetap harus dipikirkan baik-baik.”
Naya mengangguk dan izin keluar ruangan. Saat keluar dari ruangan, ia berdiri cukup lama di koridor. Kimi yang sejak tadi menunggu langsung menghampiri.
“Kenapa?”
Naya tidak menjawab pikirannya blank tak tahu lagi harus apa. Ia hanya menyerahkan amplop. Kimi mengambilnya. Membaca. Matanya langsung membesar.
“NAY—”
Naya buru-buru menutup mulutnya. “Jangan teriak!”
Kimi menurunkan suara. “Kamu bisa ke Amerika?”
“Belum tentu.”
“California?”
“Iya.”
Kimi menatap Naya beberapa detik. Kemudian ekspresinya berubah menjadi senyum yang terlalu lebar. “Oh, aku paham sekarang.”
Naya langsung tahu arah pikirannya.
“Jangan.”
“Aku belum ngomong.”
“Aku tahu kamu mau ngomong apa.”
Kimi mengembalikan amplop tersebut.
“Kak Nara.”
Naya memejamkan mata. “Kimi.”
“Apa? Aku cuma menyebut nama.”
Naya berjalan menjauh. Kimi mengikutinya.
“Kamu sudah kasih tahu?”
“Belum.”
“Kenapa?”
“Aku juga baru tahu lima menit lalu.”
“Telepon sekarang.”
“Di sana malam.”
“Terus?”
“Nanti.”
Kimi menatap sahabatnya. “Kamu senang, kan?”
Naya berhenti.
Pertanyaan itu ternyata jauh lebih sulit dijawab daripada yang ia kira.
“Aku... enggak tahu.”
***
Sepulang sekolah, Naya berjalan menuju meja makan dimana Papa dan Mamanya sudah menunggu disana. Jika bertanya tentang Reksa, Kakak lelakinya itu pun sedang melanjutkan kuliahnya di luar negeri, tepatnya Jepang. Amplop berisi surat tentang program pertukaran pelajar itu diletakkan Naya di atas meja makan kearah Papanya. Latihan renangnya hari ini sama sekali tidak membantu menjernihkan pikirannya sejak menerima amplop tersebut.
Sang Papa membaca perlahan. Mamanya pun yang duduk disebelah Papanya pun ikut membaca kemudian berkomentar, “Enam bulan?”
“Satu semester, Ma.”
“Berangkat kapan?”
“Kalau lolos final, sekitar tiga bulan lagi.”
Papanya membaca bagian biaya.
“Program sekolah yang tanggung sebagian?”
Naya mengangguk. “Ada beasiswa program. Tapi tetap ada biaya pribadi.”
Papanya terus membaca. Tidak ada ekspresi yang mudah ditebak keluar darinya membuat Naya mulai merasa gelisah.
“Papa… enggak setuju?”
Papanya mengangkat wajah. “Papa belum bilang apa-apa.”
“Tapi wajah Papa sangat serius. Lebih serius ketika aku mengajukan permintaan untuk mendaftar ke SMA Perguruan TA.”
“Memangnya Papa harus tertawa membaca formulir ini?”
Naya meresponnya dengan tersenyum keki.
“Kamu sendiri mau?” Mamanya bertanya,
Pertanyaan itu kembali muncul. Kali ini Naya tidak bisa menghindar.
“Mau.” Ia berhenti sebentar. “Tapi takut.”
“Takut apa?”
Naya berpikir. Banyak hal. Tinggal jauh dari rumah. Sekolah baru. Bahasa. Lingkungan asing. Host family. Kehilangan satu semester bersama teman-temannya. Dan di balik semua itu, ada sesuatu yang bahkan tidak ingin ia akui terlalu cepat. Ia takut alasannya ingin pergi terlalu dipengaruhi oleh Nara.
“Aku belum pernah tinggal jauh.”
Mamanya mengangguk. “Itu alasan yang masuk akal.”
Papanya meletakkan dokumen dan menatap Naya yang sejak tadi duduk di hadapannya. “Kalau Nara tidak ada di Amerika, kamu masih mau ikut?”
Pertanyaan itu membuat Naya terdiam. Kedua orang tuanya memang sudah lama tahu bahwa laki-laki itu sekarang berkuliah di Stanford dan Naya menjalani hubungan jarak jauh dengannya.
Naya tidak langsung menjawab.
“Papa bukan melarang. Tapi Papa ingin kamu jawab itu dulu.”
Naya menunduk. Jika Nara tidak ada di Amerika, apakah ia masih ingin pergi? Setelah beberapa detik, Naya akhirnya mengangguk. “Iya.”
“Kenapa?”
“Karena... aku ingin tahu rasanya hidup di tempat lain.” Naya mulai menemukan jawabannya sendiri. “Aku mau belajar mandiri. Mau tahu sekolah di sana seperti apa. Mau mencoba sesuatu yang selama ini hanya aku lihat di internet. Mau seperti Kak Reksa dan Kak Nara yang berani melangkahkan kaki ke luar negeri mengejar mimpi.” Ia sejenak berhenti. “Dan iya, Karena Kak Nara juga ada di sana. Aku senang kalau nanti bisa bertemu kembali dengannya secara langsung.”
Naya menatap lekat kearah Papanya. “Tapi aku enggak mau pergi hanya karena Nara.”
Papanya tidak mengatakan apa pun selama beberapa detik. Kemudian mengangguk.
“Nah. Itu jawaban yang Papa mau dengar.”
Naya sedikit lega. “Jadi boleh?”
“Belum.”
Wajah Naya langsung turun dan tubuhnya melemah lesu.
Papanya tertawa kecil. “Kita pelajari dulu programnya.”
“Papa...” Rengek Naya. “Ayolah beri kesempatan anak bungsumu ini belajar mandiri setelah selama ini selalu dilindungi…”
“Ini keputusan enam bulan Naya, bukan enam jam.”
Mamanya tersenyum. “Beri orang tua kamu waktu juga.”
Naya akhirnya mengangguk dan izin pergi naik ke lantai dua menuju kamarnya. Malam itu, begitu masuk kamar, orang pertama yang ingin ia hubungi tetaplah Nara.
***
California sudah hampir tengah malam ketika ponsel Nara bergetar. Naya. Ia sedang duduk di meja belajar. Laptopnya terbuka. Beberapa halaman tugas belum selesai. Nara menerima video call. Wajah Naya langsung memenuhi layar.
“Kok belum tidur?” tanya Naya.
“Kok kamu telepon jam segini?”
“Aku punya berita.”
Nara bersandar. “Nilai jelek?”
“Kak Nara...”
“Bercanda.”
Naya terlihat menahan sesuatu. Nara langsung menjadi penasaran.
“Apa?”
Naya mengangkat sebuah amplop ke kamera. “Sekolah saat ini ada program pertukaran pelajar.”
Nara mengangguk. “Terus?”
“Aku dinominasikan.”
Wajah Nara langsung berubah. “Serius?”
Naya mengangguk.
“Serius.”
Senyum mulai muncul di wajah Nara.
“Itu bagus banget.”
“Belum selesai.”
“Apa?”
“Negaranya Amerika.”
Nara terdiam.
Senyumnya perlahan melebar.
“Amerika?”
Naya mengangguk.
“Dan... kalau lolos, sekolahnya kemungkinan di California.”
Nara membeku. Benar-benar membeku. Naya hampir tertawa melihat ekspresinya.
“Kak?” Tidak ada jawaban. “Kak Nara…”
“Kamu serius?”
“Serius.”
“California?”
“Iya.”
“California yang sama?”
Naya akhirnya tertawa. “Memangnya ada berapa California?”
Nara berdiri dari kursinya. “Naya!”
“Kenapa malah teriak Kak?”
“Kamu ke California?”
“Belum tentu lolos.”
“Tapi bisa.”
“Iya.”
Nara berjalan mondar-mandir di kamar. Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, jarak yang selama ini terasa seperti sesuatu yang permanen tiba-tiba memiliki celah.
“Kapan?”
“Tiga bulan lagi kalau semua proses lancar.”
“Tiga bulan?”
“Iya.”
Nara berhenti.
Tiga bulan. Setelah semua malam panjang. Setelah video call. Setelah pertengkaran. Setelah tragedi foto membuat kesalahpahaman. Setelah berkali-kali menghitung perbedaan waktu. Tiga bulan terdengar hampir tidak masuk akal.
“Aku bisa ketemu kamu.”
Naya tersenyum. “Kalau sekolahku enggak terlalu jauh.”
“California nggak kecil, Nay.”
“Aku tahu.”
“Tapi tetap saja.”
Nara duduk kembali. “Kita satu zona waktu.”
Naya tersenyum lebih lebar. Untuk beberapa detik, kalimat itu terasa lebih romantis daripada apa pun. Satu zona waktu. Bukan lagi selamat pagi dibalas selamat malam. Bukan lagi menghitung tiga belas jam. Bukan lagi menunggu akhir pekan untuk mencari satu celah kosong.
Namun Naya segera berkata, “Tapi jangan senang dulu.”
Nara mengangkat alis.
“Kenapa?”
“Aku belum final.”
“Oke.”
“Papa Mama juga belum kasih izin penuh.”
“Oke.”
“Dan aku enggak mau ikut cuma karena Kak Nara.”
Senyum Nara perlahan berubah menjadi ekspresi serius. “Bagus.”
Naya sedikit terkejut.
“Bagus?”
“Iya.”
“Kok bagus?”
“Karena aku juga enggak mau kamu datang cuma karena aku.”
Naya terdiam.
Nara melanjutkan. “Kalau kamu datang, datang buat pengalaman kamu. Buat sekolah. Buat diri kamu sendiri.” Ia tersenyum. “Kalau bonusnya bisa ketemu aku... ya aku enggak akan protes.”
Naya tertawa. “Seperti biasanya, terlalu percaya diri.”
“Fakta.”
Namun setelah percakapan selesai, Nara tetap tidak bisa tidur. Ia membuka peta. Stanford. California. Lalu mencoba mencari beberapa sekolah yang mungkin menjadi mitra program Naya. Katakanlah ia tahu itu terlalu dini dan berlebihan. Namun hanya dengan mengetahui bahwa Naya mungkin berada di negara bagian yang sama sudah membuat jarak ribuan kilometer itu terasa sedikit lebih ringan.
***