PROLOG
Waktu itu aku masih kecil. Aku hanya tahu Ayah sering sakit dan aku selalu berdoa agar beliau sembuh. Aku tidak pernah tahu bahwa suatu hari, aku akan merindukan suara batuknya yang dulu begitu sering membuatku khawatir.
Seandainya aku tahu bahwa waktu bersama Ayah begitu singkat, mungkin aku akan memeluknya lebih lama.
Namaku Hitas. Ini adalah kisah tentang kehilangan yang datang terlalu dini, tentang seorang anak kecil yang belum mengerti mengapa orang yang paling disayanginya harus pergi, dan tentang perjalanan hidup yang dimulai setelah kehilangan itu.
Selamat membaca kisah perjalanan Hitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hita Nurhidayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari-Hari Tanpa Mama
Hari demi hari tanpa Mama membuat rumah ini terasa semakin berbeda. Aku mulai menyadari bahwa ternyata kehilangan seseorang bukan hanya tentang hari ketika orang itu pergi, tetapi juga tentang bagaimana kita harus menjalani hari-hari setelahnya, ketika semua kebiasaan yang selama ini terasa biasa tiba-tiba berubah. Rumah kami memang masih terlihat ramai karena keluarga dan tetangga masih sering datang untuk membantu menyelesaikan berbagai keperluan, mulai dari hari ketiga sampai hari keseratus, sesuai dengan adat yang ada di tempat kami, tetapi di tengah keramaian itu tetap ada sesuatu yang terasa hilang.
Aku melihat orang-orang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Ada yang datang membantu menyiapkan keperluan, ada yang memasak, ada yang membersihkan rumah, sementara yang lainnya hanya duduk dan berbincang dengan keluarga. Semuanya terlihat seperti berjalan seperti biasa, tetapi bagiku tidak ada yang benar-benar sama lagi sejak Mama pergi.
Setiap kali aku melewati ruangan depan, pandanganku selalu tertuju pada satu benda yang sama, yaitu bingkai foto Mama yang terpampang jelas di dinding. Foto itu memperlihatkan wajah Mama yang tersenyum begitu tenang, seolah-olah Mama masih ada di rumah dan hanya sedang menunggu kami melewati ruangan itu. Aku sering berhenti beberapa saat di depannya, bahkan ketika sebenarnya sedang terburu-buru mengerjakan sesuatu.
“Mama sangat cantik,” batinku sambil tersenyum tipis melihat foto itu.
Senyumku hanya bertahan sebentar karena setelahnya ada rasa sesak yang kembali memenuhi dada. Dulu, melihat Mama tersenyum seperti itu mungkin bukan sesuatu yang perlu kupikirkan terlalu lama. Mama ada setiap hari, sehingga aku merasa masih memiliki banyak kesempatan untuk melihat senyumnya, mendengar suaranya, bahkan mendengar marah-marahnya ketika kami melakukan kesalahan.
Sekarang, untuk melihat wajah Mama saja aku harus menatap sebuah foto yang tidak akan pernah menjawab ketika aku memanggil namanya.
Aku menghela napas panjang lalu kembali mengerjakan apa yang harus kukerjakan. Aku tahu hidup tetap harus berjalan, meskipun sebagian dari diriku masih tertinggal bersama Mama.
Setiap harinya aku dan Ucaluna mulai berusaha melakukan pekerjaan yang dahulu biasa dikerjakan Mama. Salah satunya adalah memasak untuk Bapak dan kakak-kakak yang lain. Kami memang belum bisa memasak seenak Mama, bahkan terkadang masih bingung harus memasak apa dan bagaimana membuat makanan yang rasanya bisa diterima semua orang, tetapi kami tetap berusaha. Setidaknya, kami ingin Bapak bisa makan dengan baik.
Ketika berada di dapur, aku sering teringat bagaimana dulu Mama berdiri di tempat yang sama. Tangannya sibuk menyiapkan makanan, sementara mulutnya tidak pernah berhenti mengingatkan kami tentang berbagai hal. Dulu terkadang aku merasa terganggu ketika mendengar suara Mama dari dapur, tetapi sekarang suara itu justru menjadi sesuatu yang paling ingin kudengar kembali.
Aku dan Ucaluna saling membantu sebisa kami. Kalau salah satu sedang memasak, yang lainnya membantu menyiapkan bahan atau membersihkan peralatan. Hasil masakan kami mungkin belum sempurna dan jelas tidak akan pernah sama dengan masakan Mama, tetapi kami tetap berusaha mengerjakannya dengan sungguh-sungguh karena kami tahu sekarang tidak ada lagi Mama yang akan menyiapkan semuanya untuk kami.
Pekerjaan rumah yang dahulu dikerjakan Mama juga perlahan kami pelajari. Kami mencoba mengerjakannya satu per satu, walaupun terkadang masih merasa kewalahan karena begitu banyak hal yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kami pikirkan. Baru setelah Mama tidak ada, aku mulai menyadari betapa banyak pekerjaan yang selama ini dilakukan Mama tanpa pernah mengeluh kepada kami.
Ternyata menjadi seorang ibu bukanlah pekerjaan yang sederhana.
Bapak pun mulai menjalani kehidupan yang berbeda. Ia bukan hanya harus tetap menjadi seorang ayah bagi kami, tetapi juga berusaha menjalankan peran seorang ibu yang mungkin sangat sulit bagi beliau. Aku bisa melihat Bapak berusaha melakukan banyak hal yang sebelumnya lebih sering dilakukan Mama. Mungkin bagi Bapak semua itu terasa berat, apalagi ia sendiri masih berusaha menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini menemaninya telah pergi.
Suatu hari, ketika aku dan Ucaluna sedang berada di rumah, Bapak menghampiri kami dan bertanya dengan lembut,
“Nak, apa yang kurang? Apa yang kalian butuhkan? Nanti Bapak beli. Kalian catat saja keperluan kalian.”
Aku dan Ucaluna saling memandang sebentar. Perkataan Bapak terdengar sederhana, tetapi entah kenapa membuatku kembali teringat kepada Mama.
Dulu, Mama tidak perlu menunggu kami meminta sesuatu. Terkadang sebelum kami menyadari ada barang yang habis, Mama sudah lebih dahulu mengetahuinya. Mama tahu apa yang kami butuhkan, apa yang kurang di rumah, bahkan hal-hal kecil yang tidak pernah kami ceritakan kepadanya. Sekarang, Bapaklah yang berusaha melakukan semua itu.
Ada rasa sedih ketika menyadari bahwa Bapak sedang berusaha menggantikan begitu banyak hal yang dahulu dilakukan Mama, padahal aku tahu tidak mungkin seseorang bisa benar-benar menggantikan posisi Mama.
“Iya, Pak,” jawabku pelan.
Aku dan Ucaluna kemudian mulai mencatat beberapa keperluan yang kami butuhkan. Kami memikirkan apa saja yang sudah habis dan apa yang harus dibeli untuk kebutuhan rumah, lalu setelah selesai mencatat, aku membawa kertas itu kepada Bapak.
“Ini, Pak, catatannya.”
Bapak menerima kertas tersebut dan melihat satu per satu tulisan yang ada di dalamnya. Aku memperhatikan wajahnya tanpa berkata apa-apa. Ada sesuatu dalam tatapannya yang membuatku kembali teringat kepada Mama.
Dulu, ketika kami memberikan daftar keperluan kepada Mama, semuanya terasa begitu biasa. Kami tidak pernah berpikir bahwa suatu hari nanti kami akan merindukan hal sesederhana itu. Sekarang, setiap kali Bapak bertanya apa yang kami perlukan, aku justru semakin sadar bahwa rumah ini sedang belajar menjalani kehidupan baru tanpa Mama.
Aku kembali melihat bingkai foto Mama di dinding. Senyumnya masih sama seperti sebelumnya, seolah-olah Mama sedang mengatakan kepada kami bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Namun, aku tahu perjalanan untuk benar-benar terbiasa dengan kehidupan tanpa Mama tidak akan semudah itu.
Kami masih harus belajar memasak, belajar mengurus rumah, belajar menjaga Bapak, dan belajar menjalani hari-hari yang sebelumnya selalu ditemani Mama. Mungkin kami belum mampu melakukannya dengan sempurna, tetapi aku dan Ucaluna akan terus berusaha, karena itulah satu-satunya hal yang sekarang bisa kami lakukan untuk rumah ini.
Aku menatap kembali foto Mama sambil tersenyum tipis.
“Ma, kami sedang belajar,” batinku. “Walaupun tidak bisa seperti Mama, kami akan tetap berusaha.”
...***...