Indonesia
NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bayang bayang , dan Pagi yang cerah

Davina berdiri diam di ambang pintu lama setelah mobil Adit tak terlihat lagi, jari‑jemarinya masih menekan lembut tas bekal hangat itu seakan masih merasakan kehangatan tangannya. Pertanyaan yang baru saja meluncur pelan dari bibirnya bergema berulang kali di dalam dada, tidak lagi ia tolak atau sembunyikan: Davina, apa aku mulai mencintainya kembali?

Ia tidak tahu persis kapan perasaan itu mulai tumbuh,bukan tiba‑tiba, melainkan tetes demi tetes perlahan, seperti air yang melubangi batu keras: setiap kali ia berdiri teguh melindunginya, setiap kali ia diam mendengarkan tanpa menghakimi, setiap kali ia memilih tetap tinggal walau pintu hatinya sempat tertutup rapat. Ia tahu jalan ini belum lurus masih ada Rio, ikatan yang sah, masa lalu yang kusut dan tak mudah terurai. Namun hati tak pernah meminta izin untuk merasa, dan hari ini Davina akhirnya mengakui kebenaran kecil namun nyata yang selama ini ia tolak: ia tidak lagi sekadar berterima kasih,ia merindukan kehadirannya, suara lembutnya, dan rasa aman yang hanya Adit berikan.

“Mama?” panggil Zahra pelan sambil menarik ujung bajunya. “Mama kenapa senyum sambil nangis?”

Davina tersentak, segera berjongkok dan memeluk putrinya erat sekali sambil menyeka pipinya. “Tidak apa‑apa sayang… Mama cuma bahagia. Bahagia kita ada satu sama lain, bahagia ada orang baik yang ingat kita pagi‑pagi begini. Ayo kita sarapan ya,kita harus kuat dan ceria hari ini!”

Di kejauhan, mobil Adit melaju tenang menyusuri jalanan kota yang perlahan mulai ramai. Ia tidak menoleh ke belakang lagi,ia tahu Davina butuh ruang, butuh waktu untuk meluruskan perasaannya sendiri, dan ia sudah puas hanya dengan tahu mereka aman, hangat, dan memulai hari dengan perut kenyang. Namun di balik ketenangan itu, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya ketika tatapan mata mereka bertemu tadi sesaat, ia merasakan sesuatu yang berubah, keraguan yang dulu masih samar kini mulai tergantikan oleh kepercayaan yang tumbuh perlahan, seolah hatinya juga menjawab tanpa kata.

Aku menunggumu Davina, selama yang kau butuhkan,aku tidak akan pergi ke mana‑mana.

 

Sementara itu di Kota A, gedung pencakar langit markas besar Rio Group berdiri gagah menembus langit pagi yang jernih, namun di dalamnya suasana terasa berat dan penuh ketegangan. Di ruang kerja yang luas berbalut kayu mahoni gelap, Rio berdiri membelakangi pintu, menatap keluar jendela raksasa tanpa benar‑benar melihat apa pun.

Wajahnya masih kaku,bekas malam panjang yang tak tidur, penyesalan yang menusuk tajam, dan perasaan bercampur benci serta tak terima yang tak kunjung reda. Adit… nama itu bergema terus di kepalanya bagaikan gema yang tak mau hilang setiap kali teringat tatapan tenang namun tegas pria itu, setiap kali terbayang wajah Davina yang kini terlihat lebih tenang dan aman di dekat orang lain, hatinya terbakar rasa cemburu sekaligus kesadaran pahit,aku sendirian yang merusak semuanya sendiri.

“Tuan Rio?” suara pelan terdengar dari ambang pintu. “Rapat sebentar lagi dimulai. Semua sudah menunggu.”

Rio berbalik perlahan, menarik napas panjang lalu menghembuskannya sekuat tenaga—berusaha menyembunyikan kekacauan batinnya di balik topang kekuasaan yang biasa ia kenakan tiap pagi. “Baik. Aku segera datang.”

Langkah kakinya berat melangkah menuju ruang rapat besar di lantai teratas. Saat ia membuka pintu, ratusan pasang mata beralih menatapnya penuh hormat, penuh rasa segan, namun tak satu pun yang tahu betapa rapuhnya pria di balik meja utama itu hari ini. Dan tepat saat ia hendak duduk, pandangannya tertumbuk pada satu sosok yang berdiri di samping layar proyektor sosok yang membuat napasnya seketika tertahan.

Siska.

Ia berdiri tegak, seragam rapi, rambut diikat cantik namun pipinya kemerahan, matanya berbinar campur aduk antara gugup dan harapan yang tak bisa ia sembunyikan sepenuhnya. Tangan yang memegang berkas laporan sedikit gemetar. Sudah lama sekali… begitu lama sampai aku hampir lupa betapa dalamnya tatapan matanya saat melihatku sama seperti dulu.

Rio berhenti sejenak, lalu mengangguk pelan sangat pelan, hampir tak terlihat namun bagi Siska itu sudah cukup untuk membuat seluruh dunia di sekelilingnya terasa berhenti berputar sejenak. “Mari kita mulai,” ucap Rio singkat, suaranya tetap berwibawa namun ada nada lembut yang tak terhindarkan saat matanya masih tak beralih dari wajah gadis itu.

Rapat berjalan berjam‑jam angka, proyek, laporan laba rugi, rencana ekspansi… Rio mendengarkan dan menjawab pertanyaan dengan tajam seperti biasa, namun pikirannya terbelah dua, separuhnya masih di ruangan ini, separuhnya melayang kembali ke Davina, ke kata‑kata tajam Adit, ke Zahra yang bertanya polos apakah ia nakal… sementara separuh lain lagi tanpa sadar memperhatikan setiap gerak‑gerik Siska cara ia menunduk saat bicara, cara ia tersenyum malu‑malu saat dipuji, caranya tetap berdiri teguh meski gugup luar biasa. Ia tahu perasaannya selalu tahu, bahkan sejak dulu dan rasa bersalah tiba‑tiba menyerang hatinya.

Aku tidak pantas mendapatkannya. Aku tak mampu menjaga satu hati dengan baik, apalagi dua. Namun melihat Siska yang begitu setia, begitu tulus menunggunya tanpa banyak tuntutan… membuat ego Rio yang terluka perlahan mencari pelarian, mencari seseorang yang tak akan pergi, yang tak akan menilai kesalahannya dengan tajam.

Saat rapat selesai, semua orang berhamburan keluar namun Siska tetap tinggal, membereskan berkas perlahan seakan berharap Rio akan berbicara padanya. Dan benar saja saat pintu terakhir tertutup, Rio berjalan mendekat perlahan hingga berdiri tepat di hadapannya.

“Kau masih sama,” ucap Rio pelan, suaranya penuh kerinduan yang tak disembunyikan lagi. “Selalu rajin, selalu ada… bahkan saat aku tak pantas kau tunggu.”

Siska menatapnya lekat, matanya berkaca‑kaca namun ia berusaha tersenyum tegar. “Rio… kau selalu layak ditunggu. Bagiku tidak pernah berubah, apa pun yang terjadi.”

Kata‑kata itu seolah memecahkan pertahanan terakhir Rio. Ia mundur selangkah, menepuk dahi dengan tangan gemetar. “Kau tak tahu apa yang kau katakan, Siska… Aku orang yang penuh kekacauan, penuh kesalahan, penuh luka yang kubuat sendiri dan orang lain. Kau pantas mendapat seseorang yang utuh bukan aku yang terbelah seperti ini, yang hatinya masih terikat kuat pada masa lalu sekaligus berusaha menyangkal kenyataan.”

“Biarkan aku yang menentukan itu!” potong Siska tiba‑tiba, suaranya meninggi namun tetap lembut, berani dan rapuh bersamaan. “Aku tahu kau mencintainya,aku tahu sejak dulu dan aku tak berharap kau melupakannya dalam semalam. Tapi aku juga tahu hatimu punya ruang meski sedikit, meski tersembunyi,untuk seseorang yang siap berjalan bersamamu, mendengarkanmu, bahkan saat kau diam dan tak mau bicara! Aku tak menuntut tempat pertamamu,cukup beri aku kesempatan berdiri di sampingmu, menjadi teman saat kau sepi, menjadi pendengar saat kau tak tahu pada siapa harus bercerita. Itu saja Rio,aku tak minta lebih!”

Rio terdiam lama, menatap gadis itu,melihat ketulusan yang begitu murni, kesetiaan yang tak tergoyahkan, dan di saat itu ia sadar betapa beruntungnya ia meski ia tak pantas menerimanya. Namun bayangan Davina melintas kembali tatapan terluka, ketakutan, dan kata‑kata Adit yang terus menghantui cinta yang tak dihargai hanyalah rantai berat.

“Aku takut menyakitimu, Siska,” akui Rio pelan dan jujur. “Aku takut menjadi seperti yang kau takutkan menyakitimu tanpa sadar, hanya karena aku belum selesai dengan diriku sendiri.”

“Kalau begitu biarkan aku yang berani mengambil risiko itu!” jawab Siska mantap sambil melangkah maju sedikit, suaranya penuh keyakinan yang menenangkan sekaligus menggetarkan hati Rio. “Kita tidak perlu terburu‑buru. Kita tidak perlu menentukan apa kita ini hari ini. Biarkan waktu yang menjawab,seperti kata seseorang yang bijak. Yang penting… kau tahu kau tidak sendirian lagi, Rio. Saat kau capek, saat kau bingung, saat kau tak tahu harus ke mana,ingatlah ada aku di sini, menunggumu, tanpa menuntut apa pun selain kebahagiaanmu juga.”

Rio menatapnya lama,lalu lama sampai napas mereka berdua terasa satu frekuensi yang sama. Perlahan, sangat perlahan, ia mengulurkan tangan dan menyentuh lembut punggung tangan Siska yang tergeletak di meja,sentuhan ringan namun penuh arti, penuh terima kasih dan keraguan yang berperang hebat di dadanya.

“Terima kasih,” bisiknya parau. “Kau benar‑benar… luar biasa, Siska.”

Siska tersenyum bahagia,senyum yang membuat seluruh penantiannya terasa sepadan, senyum yang menyadarkan Rio bahwa meski ia tak bisa memberikan segalanya sekarang setidaknya ia bisa menerima kehadiran seseorang yang tulus mencintainya apa adanya. Namun jauh di sudut terdalam hatinya, Rio tahu satu hal yang menyakitkan menerima kebaikan Siska berarti semakin menjauhkan dirinya dari Davina.Dan semakin membuatnya sadar betapa tak tergapai lagi wanita yang dicintainya itu kini sedang perlahan‑lahan menemukan cahayanya sendiri… tanpa dirinya.

Sementara itu, jauh dari hiruk‑puk kantor itu, Davina sedang duduk di teras rumah sambil memandangi sarapan yang masih tersisa sedikit bersama Zahra yang sibuk bermain dengan mainan baru yang tadi ternyata ikut terselip di tas bekal itu juga. Dia ingat segalanya… hal‑hal kecil yang bahkan aku sendiri kadang lupa. Davina tersenyum lembut, menyentuh mainan itu perlahan dan kali ini ia tak lagi menahan rasa syukur yang meluap di dadanya.

“Ya Zahra… mungkin memang benar kata Adit cinta tak harus menunggu sempurna untuk ada. Kadang ia datang diam‑diam, membawa sarapan hangat di pagi hari, kesabaran tanpa keluhan, dan kehadiran yang tak pernah menuntut balas.”

Dan pagi itu, di dua tempat yang berbeda, tiga hati sedang berjuang Rio yang perlahan menyadari keberadaan Siska namun masih terikat bayang masa lalu, Siska yang memilih tetap berdiri teguh meski tahu jalan masih panjang dan berliku, dan Davina yang akhirnya mulai berani mengakui perasaannya sendiri,menyadari bahwa di tengah kekacauan hidupnya, cahaya tak pernah benar‑benar padam.

Bahwa setiap orang berhak bahagia, berhak dicintai tanpa syarat, dan berhak memilih jalan yang membawa mereka pulang,baik ke masa lalu yang diperbaiki maupun ke masa depan yang baru terang dan tak terduga.

Langkah kaki mereka belum tentu sejajar, tujuannya belum tentu sama persis,namun satu hal pasti tak ada yang akan tetap sama setelah pagi ini. Semua telah berubah perlahan, diam‑diam, bagaikan benih yang tumbuh di tanah yang gersang menanti hujan atau cahaya yang tepat untuk mekar sepenuhnya.

 

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!