Kisah Pendekar Pedang Langitan, merupakan petualangan Bagaga di Jawa Dwipa bersama Ngo Cian, gadis cantik yang mungil dari negeri Champa.
Bagaga di Jawa Dwipa lebih dikenal dengan Pendekar Pedang Langitan, karena itulah senjata yang selalu dia gunakan.
Bagaga dan Ngo Cian terlibat dalam upaya menyelamatkan kelahiran bayi suci yang membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa dan Nusantara.
Semua berawal dari Bagaga mengalami peristiwa barasihan dan menerima wangsit dari Maharesi Pawitra alias Maharesi Semeru Anakan.
Banjir darah melanda Jawa Dwipa bagian timur karena perbedaan cara pandang para Maharesi dan juga para Penguasa.
Mari nikmati kisah Pendekar Pedang Langitan Bagaga dan Dewi Pengendali Api Ngo Cian menjelang kelahiran Ken Arok, bayi suci yang akan membawa takdir langit atas tanah Jawa Dwipa.
Seperti biasa. Pendekar Pedang Langitan adalah sekelumit kisah fiksi dengan latar belakang sejarah.
Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heryando Palar Vinkoert, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Kematian Rajungan Setan
Sore turun semakin jauh. Angin yang berhembus terasa sangat dingin di kulit. Bagaga Alam masih duduk dengan tenang dipunggung kudanya. Rajungan Setan beberapa kali melihat kearah Bagaga Alam.
Rajungan Setan mencoba merasakan tingkatan Bagaga Alam. Namun dia sama sekali tidak merasakan apa-apa. Dia benar benar kosong. Mestinya dua anak muda itu sangat melindungi pemuda itu.
Rajungan Setan tersenyum dengan niat jahatnya. Dia berfikir akan menangkap Bagaga Alam dan menjadikan nya sebagai sandera untuk melemahkan Danang Wesi dan Ni Kirana.
Enam orang anggota sekte sesat Rawa Tak Bertepi mengurung Ni Kirana. Gadis cantik dengan tubuh bohay itu tidak bergeming. Dia sengaja tidak memprovokasi atau apapun. Namun niat membunuh memancar makin kuat keluar dari dirinya.
Danang Wesi heran melihat empat orang meninggalkan dirinya. Dia melirik kearah pertarungan Ni Kirana. Danang Wesi tidak mengira Ni Kirana telah membunuh dua orang lawannya. Pemuda itu segera menyiapkan jurus tempeleng Wesi. Kedua lengannya berubah warna menghitam seperti besi.
Enam orang yang mengurung Ni Kirana mulai bergerak. Tiga orang melakukan serangan. Dua lainnya menjaga posisi terbuka dari tiga orang yang melakukan serangan. Sedangkan orang terakhir bersiaga memberi serangan kejutan. Yang juga menjadi serangan pamungkas.
Disinilah jurus dua belas langkah ajaib memperlihatkan kehebatan nya.
Ni Kirana yang baru menguasai tingkat dasar dari jurus dua belas langkah ajaib. Mampu mengatasi keroyokan dari enam orang anggota sekte Rawa Tak Bertepi.
Setelah beberapa waktu kemudian. Ni Kirana mulai balas menyerang. Tidak berapa lama, baru dalam empat gerakan baru. Satu orang lagi anggota sekte Rawa Tak Bertepi roboh dengan jantung di tembus pedang.
Tidak berbeda jauh dengan Ni Kirana. Danang Wesi juga mulai membunuh lawan nya. Melihat itu, Rajungan Setan menjadi sangat marah. Dia melesat menerjang kearah Bagaga Alam. Niat membunuh yang besar memancar dari tubuh Rajungan Setan. Ni Kirana tersenyum manis.
Melihat serangan mematikan dari Rajungan Setan kearahnya. Bagaga Alam menggerakkan tangan seperti memukul udara kosong.
Pukulan tanpa ujud....
Bagaga Alam mendesis tajam. Tidak ada apa apa. Tapi tiba-tiba tubuh Rajungan Setan terhenti dan
Blaaaaarrr....!!
Tubuh tetua sekte Rawa Tak Bertepi itu tiba-tiba meledak. Darah dan potongan daging memencar berserakan kemarin mana.
Pertarungan Danang Wesi dan Ni Kirana melawan anggota sekte Rawa Tak Bertepi terhenti. Semua orang melihat kearah pecahan tubuh Rajungan Setan yang tersebar kemana-mana. Kemudian melihat kearah Bagaga Alam yang masih duduk dengan tenang di punggung kudanya.
Berbeda dengan Danang Wesi dan Ni Kirana yang menatap Bagaga Alam dengan pandangan penuh kekaguman. Anggota sekte Rawa Tak Bertepi melihat kepada Bagaga Alam dengan kengerian. Rasa takut dan ngeri membuat kulit kepala mereka terasa tebal. Tanpa banyak bicara lagi, semua anggota sekte Rawa Tak Bertepi berbalik dan langsung melarikan diri.
Bagaga Alam mengajak Danang Wesi dan Ni Kirana mengubur semua mayat anggota sekte Rawa Tak Bertepi yang tewas.
"Tuan, apakah tidak sebaiknya kita beban mayat-mayat mereka di rawa saja ?"
"Begitu juga boleh Danang. Kalau begitu lempar mayat mayat itu ketengah rawa sana." Ucap Bagaga.
Mereka segera melanjutkan perjalanan yang terganggu. Ini perjalanan yang tidak akan mudah. Ucap Bagaga Alam dalam hati. Lalu menggeber lari kudanya.
Ketika malam telah jatuh, mereka bertiga baru berhasil melewati jalur rawa tak bertepi. Dekat sebuah sungai yang mengalir ke rawa. Mereka menemukan pondok singgah yang kosong. Setelah menambatkan kuda mereka. Bagaga Alam, Danang Wesi dan Ni Kirana memasuki pondok singgah.
Pondok singgah ini lebih besar dari pondok singgah sebelumnya. Tapi dinding sekeliling pondok singgah di tempat ini hanya ada seperti tinggi dinding.
Danang Wesi segera menyalakan tempat bakaran. Dipinggir liar dinding pondok singgah. Dikiri dan kanan pintu masuk, banyak tersedia kayu kering untuk kayu bakar. Begitu bakaran menyala, pondok singgah terasa lebih hidup.
Bagaga berjalan ke belakang pondok singgah. Dibelakang pondok singgah itu ada aliran sungai kecil yang airnya jernih dan segar. Setelah membersihkan diri seadanya. Bagaga kembali dengan membawa tiga tusukan daging. Ada tiga potong daging masing-masing sebesar kepalan disetiap tusukan.
"Kang mas Bagaga, biar aku yang membakar daging itu." Ucap Ni Kirana ketika Bagaga Alam memasuki pondok singgah sambil menenteng tiga tusukan berisi potongan daging.
"Biar aku saja Kirana. Bagaimana kalau kamu masak air panas dan menyeduhkan kopi ?"
Ucap Bagaga sambil mengeluarkan belanga dan satu bumbung air bersih.
"Baiklah, apa kang mas punya kopi bubuk nya ?"
"Bagaga mengeluarkan sebuah kotak kayu berisi kopi bubuk. Dia juga mengeluarkan kotak berisikan gula aren bubuk.
Bagaga Alam mulai membakar daging diatas bara api. Sedangkan Ni Kirana menjerang air yang sudah dimasukkan kopi bubuk.
Gadis cantik yang bertubuh bohay itu menyiapkan gelas tembikar untuk tempat kopi.
Harum aroma daging bakar mulai tercium ditingkahi dengan harum aroma kopi. Danang Wesi muncul dengan rambut basang.
"Kakang Danang mandi ?"
"Tidak, aku hanya cuci muka dan membasahi kepala ku. Biar terasa lebih segar." Jawab Danang Wesi sambil cengengesan ketika.
"Mmm... Hmm... Aroma kopi dan daging bakar nya nikmat sekali." Ucap Danang Wesi diikuti dengan suara meronta dari perutnya.
Memang sejak berangkat tadi pagi, mereka belum makan apapun.
Tidak lama kemudian, mereka menikmati makan malam sambil ngobrol. "Mmm..., mmm..., daging bakar ini enak sekali." Ucap Danang dengan suara bahagia.
"Iya kang Danang benar. Ternyata kang mas Bagaga sangat pintar membuat daging bakar." Ucap Ni Kirana menyetujui ucapan Danang.
"Tuan... Jurus apa yang tadi Tuan gunakan untuk membunuh Rajungan Setan ?" Danang Wesi menatap Bagaga Alam dengan tatapan penuh kekaguman.
"Betul Kang mas Bagaga. Jurus itu sangat mengerikan. Tapi jurus pedang yang kakang mainkan saat menghadapi ular hitam raksasa itu juga sangat hebat dan indah.
Oh iya. Itu pedang pusaka apa Kang mas. Kenapa ada aura kematian yang sangat kental saat kang mas mengeluarkan pedang hitam itu ?"
Ni Kirana ikut bertanya. Gadis cantik bertubuh bohay itu ikut bertanya banyak hal.
"Hei hei hei... Pertanyaan kalian begitu banyak. Mana yang harus aku jawab ?" Bagaga Alam balik bertanya sambil tertawa. Dia merasa Danang Wesi dan Ni Kirana seperti dua orang anak kecil.
"Baiklah aku akan menjawab pertanyaan Danang lebih dulu.
Jurus itu namanya pukulan tanpa ujud. Apakah kau puas ?" Bagaga berkata kepada Danang Wesi.
"Pukulan tanpa ujud ?? Bukankah jurus itu sudah ratusan tahun hil yang Tuan ?"
"Apakah begitu beritanya ? Terus terang aku tidak begitu tahu." Ucap Bagaga Alam.
"Untuk mu Ni Kirana. Itu adalah ilmu pedang awan bararak. Sedangkan pedang hitam itu di namakan orang dengan Pedang Penakluk Iblis atau juga disebut Pusaka Pedang Langitan. Mungkin karena pedang itu mengeluarkan aura kematian yang sangat kental. Makanya dinamakan dengan Pedang Penakluk Iblis.
Oh iya, kalau kalian mau. Aku akan bantu mengembangkan jurus jurus andalan kalian agar menjadi lebih kuat."
"Terimakasih Tuan. Aku sangat mengharapkan bimbingan dan petunjuk dari Tuan." Danang Wesi langsung memberikan sembah sujud sebagai perwujudan rasa suka citanya.
\=\=\=\=\=***\=©