Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
~Halo! Saat ini novel ini masih dalam tahap merintis, jadi cover sementara dibuat menggunakan bantuan AI. Jika novel ini berkembang baik, penulis berkomitmen untuk menggantinya dengan karya ilustrator manusia asli. Terima kasih atas dukungannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 — Yang Hilang di Pasar
"Wick," kata penjaga kota itu akhirnya, matanya berpindah dari satu wajah ke wajah lain, tidak yakin siapa yang harus ia tatap saat mengucapkan nama itu. "Seorang pemuda kurus, rambut cokelat, membawa keranjang belanja kosong saat terakhir terlihat."
Nama itu jatuh ke ruangan seperti batu ke air tenang, riaknya menyebar ke setiap sudut sebelum siapa pun sempat bereaksi. Yuna, yang sejak tadi duduk diam di sudut ruangan, mendongak cepat, tangannya berhenti di tengah gerakan menggenggam liontinnya sendiri, matanya melebar penuh kekhawatiran yang tulus.
Ilena baru saja turun dari tangga, mendengar nama itu tepat saat kakinya menyentuh anak tangga terakhir. Tubuhnya berhenti total, satu tangan masih mencengkeram railing kayu, buku-buku jarinya memutih.
"Tidak," katanya pelan, lebih pada dirinya sendiri daripada siapa pun di ruangan itu.
Brann menutup Kodeks Verlanth cepat-cepat, menyingkirkannya ke pinggir meja tanpa berpikir dua kali. Halden sudah meraih pedangnya dari sandaran perapian. Ness berdiri kaku di ambang dapur, wajahnya masih menunjukkan raut orang yang baru saja menyadari sesuatu yang mengerikan sesaat sebelum ketukan pintu itu datang.
Corym bergerak lebih dulu, mengambil jaketnya dari sandaran kursi. "Kita bagi jadi kelompok. Tomas dan Doran lacak dari pasar. Halden dan aku periksa jalur menuju pelabuhan. Bergerak sekarang, jangan buang waktu."
"Aku ikut," kata Ilena, suaranya bergetar tapi tegas, sudah melangkah menuju pintu sebelum siapa pun sempat membantah.
"Ilena." Arden mencoba menahannya, tangannya terangkat sebentar tanpa benar-benar menyentuhnya. "Kau perlu tenang dulu, kau tidak akan berguna kalau tanganmu gemetar begini. Aku butuh kau bisa berpikir jernih di luar sana."
"Dia adikku." Ilena menatap Arden, matanya berkilat basah tapi suaranya tidak pecah. "Aku tidak akan duduk diam di sini menunggu kabar, tidak peduli apa yang kau katakan."
Arden tidak membantah lagi. Ia mengangguk sekali, singkat, meski keraguan sempat melintas cepat di matanya. "Kau bersamaku."
Mereka keluar ke jalanan kota yang sudah sepi, lentera-lentera rumah penduduk satu per satu mulai padam, hanya cahaya bulan dan obor jalan yang menerangi batu-batu jalan. Udara malam terasa lebih dingin dari yang seharusnya, atau mungkin cuma perasaan yang menular dari kepanikan yang sudah menyebar ke seluruh kelompok, meresap ke setiap langkah yang mereka ambil malam itu. Langkah kaki mereka bergema di lorong-lorong sempit yang biasanya ramai, kini kosong dan asing, seolah kota yang sudah mereka kenal bertahun-tahun tiba-tiba berubah jadi tempat yang tidak lagi bersahabat.
Pasar malam sudah tutup total ketika mereka tiba, kios-kios tertutup terpal, hanya beberapa anjing liar yang mengendus tumpukan sampah di sudut jalan. Bau sisa sayuran busuk dan ikan asin menggantung di udara, bercampur bau lembap dari batu jalan yang belum kering sejak hujan sore tadi. Tomas berjongkok memeriksa tanah dekat salah satu kios sayur, tempat pedagang terakhir mengaku melihat Wick, jarinya menyusuri jejak-jejak samar di tanah lembap dengan cahaya lentera kecil yang ia pegang rendah.
"Jejaknya bercampur dengan ratusan orang lain," gumam Tomas, frustrasi tersirat di suaranya, berdiri kembali dan mengibaskan tangan yang kotor. "Terlalu banyak yang lewat sini sepanjang hari."
Ilena berdiri di dekatnya, matanya menyapu setiap sudut gelap di sekitar pasar, memanggil nama adiknya sekali, dua kali, suaranya menggema lalu hilang ditelan kesunyian jalanan kosong. Doran melepas Ashe untuk terbang rendah di atas atap-atap pasar, matanya yang tajam mungkin bisa menangkap sesuatu yang terlewat dari bawah.
Petra berlari mendekat dari arah lain, napasnya tersengal, wajahnya basah keringat meski malam dingin, rambutnya lepas dari ikatan karena berlari terlalu cepat. "Tidak ada apa-apa di gang timur. Aku sudah periksa semua toko yang masih buka."
"Terus cari," kata Arden.
"Kita sudah cari sejak setengah jam lalu," balas Petra, suaranya naik satu oktaf, frustrasinya mulai pecah keluar. "Kita perlu lebih dari sekadar berjalan mengelilingi blok yang sama berulang-ulang."
"Apa maumu, Petra?"
"Aku mau kita benar-benar bertindak seperti keadaan darurat. Kerahkan semua orang sekaligus, bukan berjalan pelan-pelan seolah kita masih punya waktu banyak."
Ilena berdiri di antara mereka, matanya berpindah dari Arden ke Petra, tapi tidak berkata apa-apa, tubuhnya masih gemetar halus meski ia berusaha menahannya, tangannya mencengkeram kain roknya sendiri erat-erat.
"Kita sudah mengerahkan semua orang," kata Arden, nadanya tetap terkendali meski rahangnya mengencang. "Berteriak dan berlari tanpa arah tidak akan membuat kita menemukannya lebih cepat."
"Kau selalu bilang begitu," kata Petra, suaranya sekarang gemetar karena marah, bukan lagi karena lelah. "Selalu hati-hati, selalu terkendali. Tapi ini bukan misi di Menara. Ini Wick. Kalau ini terjadi padamu, apa kau masih akan bicara soal terkendali?"
Kalimat itu menggantung di udara dingin malam, tajam dan tidak bisa ditarik kembali.
Arden menatap Petra lama, dadanya naik turun sekali sebelum ia menjawab, suaranya lebih pelan dari sebelumnya. "Aku tahu kau takut. Aku juga. Tapi kepanikan tidak akan membawa Wick pulang lebih cepat."
Petra membuka mulut untuk membalas, tapi tidak ada kata yang keluar, hanya rahangnya yang gemetar menahan sesuatu yang lebih besar dari kemarahan semata. Ia mengingat pertengkaran kecilnya dengan Wick beberapa hari lalu, hal sepele soal jadwal masak yang kini terasa begitu tidak penting, begitu memalukan untuk pernah dipikirkan sebagai masalah.
Ilena akhirnya bergerak, berjalan lebih jauh ke dalam gang, matanya menyapu setiap sudut gelap dengan putus asa, memanggil nama adiknya sekali lagi, suaranya kali ini nyaris berbisik, seolah tenaganya sudah habis untuk berteriak lebih keras.
Corym muncul dari sudut jalan sebelum Arden sempat menjawab, wajahnya tegang, napasnya terengah dari berlari. "Kalian perlu lihat ini."
Mereka mengikutinya menuju gang sempit di dekat pelabuhan, tempat bau air sungai bercampur bau ikan busuk menyengat lebih kuat dari bagian kota lain. Batu-batu jalan di gang itu licin oleh lumut, dan dinding-dindingnya menjulang tinggi di kedua sisi, menutup hampir seluruh cahaya bulan. Doran sudah berjongkok di sana, Ashe berdiri gelisah di sampingnya, sayapnya sedikit terbuka seperti siap terbang kapan saja, kepalanya menoleh cepat ke setiap arah seolah merasakan sesuatu yang tidak bisa dilihat manusia.
"Aku menemukan ini tersangkut di paku," kata Doran, mengangkat sepotong kain wol biru tua, ujungnya robek kasar, benangnya masih menjuntai dari tepian yang koyak paksa, jelas bukan robekan yang terjadi karena kecelakaan biasa.
Ilena maju cepat, mengambil kain itu dari tangan Doran, jarinya gemetar hebat saat menyentuhnya, seolah takut kain itu akan hancur kalau dipegang terlalu erat.
"Ini syal Wick," katanya, suaranya nyaris hilang. "Aku yang menjahitnya sendiri musim dingin lalu. Ada bercak kecil di ujungnya, di sini, lihat, dari saat aku salah mencelup benangnya."
Tomas sudah berjongkok lebih jauh ke dalam gang, memeriksa tanah lembap dengan cahaya lentera kecil. Wajahnya berubah serius, jarinya berhenti di atas alur panjang yang tergores di tanah becek.
"Ada jejak seretan di sini," katanya. "Bukan jejak orang berjalan sendiri. Sesuatu ditarik, atau seseorang, dan dari beratnya alur ini, ia tidak berjalan sendiri secara sadar."
Jejak itu memanjang menuju sebuah lubang besi tua di dinding gang, setengah tertutup lumut dan sampah, salah satu pintu masuk kanal bawah tanah kota yang sudah lama tidak digunakan untuk lalu lintas resmi, terlupakan oleh sebagian besar penduduk kota yang bahkan tidak tahu jalur ini masih ada. Karat menutupi hampir seluruh permukaan gerbang besi itu, kecuali di bagian engselnya, yang tampak baru saja digerakkan, mengelupas karat lama hingga memperlihatkan logam yang lebih terang di baliknya.
Arden berjongkok di samping jejak itu, menelusurinya dengan mata, mengikuti arah seretan sampai berhenti tepat di depan gerbang besi kanal yang sedikit terbuka, cukup lebar untuk satu tubuh melewatinya.
Petra berhenti di belakangnya, tangannya perlahan lepas dari gagang pedang, matanya terpaku pada gerbang gelap itu, kemarahannya beberapa menit lalu tiba-tiba terasa sangat jauh dibanding rasa takut yang kini menggantikannya.
Ilena berlutut di tanah, masih menggenggam syal itu erat-erat ke dadanya, air mata akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan lagi, bahunya berguncang pelan meski ia berusaha menahan suaranya sendiri.
"Mereka membawanya ke bawah sana," katanya, suaranya pecah. "Ordo membawanya ke bawah sana."
Corym berjongkok di samping Ilena, tangannya ragu sesaat sebelum akhirnya menepuk bahunya pelan, tidak tahu kata-kata apa yang bisa cukup untuk situasi seperti ini. Di sampingnya, Doran menahan Ashe yang gelisah, familiarnya terus mendengus ke arah gerbang besi, seolah merasakan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan lewat kata-kata manusia.
Petra menatap gerbang besi gelap itu, rahangnya mengeras, tangannya sudah mencengkeram gagang pedang, tapi tidak ada yang bergerak maju. Ia melirik Arden sekilas, ekspresi di wajahnya sudah jauh berbeda dari kemarahan yang meledak beberapa menit lalu, kini lebih dekat pada rasa bersalah yang tidak terucap.
Halden berdiri di ambang gang, matanya menyapu sekitar mereka, memastikan tidak ada yang mengintai dari balik bayangan sebelum akhirnya berkata, suaranya berat dan tenang seperti biasa, satu-satunya suara yang tidak ikut gemetar di antara mereka semua. "Kita tidak bisa masuk sembarangan. Bukan karena aku takut, tapi karena kalau kita salah langkah di bawah sana, kita bukan cuma kehilangan Wick."
Tidak ada yang membantah itu, meski tidak ada yang benar-benar ingin mendengarnya juga.
Arden berdiri, menatap lubang gelap di depan mereka, kegelapan yang seolah menelan cahaya lentera begitu masuk beberapa langkah saja. Ia merasakan sesuatu yang dingin dan berat menetap di dadanya, jauh berbeda dari kekhawatiran biasa yang selama ini bisa ia kendalikan dengan tenang.
Tidak ada yang berkata apa-apa untuk beberapa saat, hanya suara air kanal yang menetes pelan dari kegelapan di baliknya, dan jejak seretan yang berhenti tepat di ambang gerbang besi itu, seolah kota mereka sendiri baru saja menelan salah satu dari mereka tanpa suara.