"Kau itu cuma babu pembersih luka yang dibeli oleh Kakekku. Jangan pernah bermimpi bisa menjadi nyonya di rumah ini!"
Bagi Jiro, Senjani tak lebih hanya seorang wanita oportunis yang memanfaatkan kelumpuhannya demi uang. Menikahi Tuan Muda lumpuh dengan keterpaksaan karena utang, Senjani harus menelan mentah-mentah semua hinaan dan perlakuan kasar dari Tuan Muda berhati es itu.
Sebagai seorang fisioterapis, tugas Senjani hanya satu, yaitu menyembuhkan kaki Jiro yang lumpuh akibat kecelakaan tragis di masa lalu. Namun, saat jemari tangannya mulai menuntun Jiro untuk kembali berdiri, sebuah rahasia berdarah justru terkuak. Masa lalu kelam di antara keluarga mereka merobek sisa-sisa profesionalisme Senjani.
Saat Senjani memilih pergi dengan luka yang bersimbah air mata, Jiro baru menyadari bahwa sentuhan wanita itu adalah satu-satunya penyembuh bagi jiwanya yang telah lama mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghost_Writer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Sebuah Awal
Tiga tahun berlalu sejak malam resepsi pernikahan akbar di JCC Senayan yang megah itu mengguncang halaman depan media nasional. Waktu laksana aliran air jernih yang menyapu bersih seluruh sisa-sisa jelaga penderitaan, menyisakan fondasi kebahagiaan sejati yang kian mengakar kokoh dari hari ke hari.
Pagi itu, langit di atas kota Jakarta tampak begitu bersih dan biru, memancarkan kehangatan sinar matahari yang menembus celah rimbunnya pepohonan di halaman belakang kediaman utama keluarga Nandotomo. Taman rumput hijau yang luas itu kini tidak lagi terasa sunyi dan mencekam seperti empat tahun lalu saat Jiro masih mengurung diri di atas kursi rodanya. Tempat itu telah menjelma menjadi sebuah surga kecil yang dipenuhi oleh gema gelak tawa yang renyah dan tulus.
Senjani duduk bersimpuh di atas sebuah tikar piknik beludru berwarna krem di bawah rindangnya pohon kantil. Dia mengenakan gaun rumah kasual berbahan katun lembut berwarna pastel yang membuatnya memancarkan keanggunan alami seorang ibu muda yang teduh. Di sampingnya, Pak Baskoro duduk di atas kursi taman dengan senyuman yang tak pernah lepas dari wajah tuanya yang kini tampak jauh lebih sehat dan bahagia.
"Ayo, Jagoan Kecil... kejar Papa! Langkahnya yang tegak, Sayang!" seru Senjani dengan nada suara yang jernih dan penuh semangat, melambaikan tangan kanan lentiknya yang kini dilingkari oleh cincin pernikahan emas murni yang tak pernah dia lepaskan lagi.
Di tengah lapangan rumput, seorang balita laki-laki tampan berusia tiga tahun bernama Arsenio Nandotomo sedang tertawa riang. Wajah balita itu merupakan perpaduan sempurna antara mata jernih Senjani dan sepasang alis serta rahang tegas milik ayahnya. Arsenio melangkah kecil secara terburu-buru dengan mengulurkan kedua tangan mungilnya ke depan, berusaha mengejar sosok pria tegap yang berjalan mundur beberapa langkah di hadapannya.
Pria tegap itu adalah Jiro Nandotomo.
Jiro mengenakan kaus polo kasual hitam dengan celana kain santai abu-abu yang memperlihatkan postur tubuh atletisnya yang prima. Kedua kaki kokohnya menumpu di atas tanah rumput dengan pijakan yang luar biasa stabil, kuat, dan tanpa ada cacat atau getaran saraf sedikit pun seumur hidupnya. Sisi kejam dan dingin sang CEO tertinggi Nandotomo Group yang biasanya ditakuti oleh ribuan kolega bisnisnya sudah lenyap tak bersisa malam ini. Jiro tertawa lepas, sebuah tawa bariton yang sangat hangat dan renyah sembari merentangkan kedua lengan kekarnya lebar-lebar untuk menyambut pelukan putranya.
Gubrak!
"Hahaha! Tangkap papa, Jagoan!" Jiro menangkap tubuh mungil Arsenio yang menubruk dadanya, lalu langsung mengangkat balita itu ke dalam gendongannya, memutarnya di udara hingga suara tawa Arsenio kian melengking memenuhi taman.
Jiro berjalan tegap membawa Arsenio dalam gendongannya mendekati tempat Senjani duduk bersimpuh. Pria itu menurunkan tubuhnya, ikut duduk selonjoran di atas tikar piknik di samping istrinya. Dia menyerahkan Arsenio ke atas pangkuan Senjani, lalu melingkarkan lengan kirinya yang kokoh di bahu ramping istrinya dengan gerakan yang sangat protektif, posesif, dan penuh kelembutan yang teramat sangat.
"Dia Punya koordinasi motorik kasar yang sangat baik untuk anak seusianya, Mas," ucap Senjani dengan senyuman manis yang selalu berhasil membuat debaran di dada Jiri berpacu cepat. Dia menyeka bulir keringat di dahi Arsenio menggunakan saputangan kecil. "Jemari kakinya mencengkeram tanah dengan sempurna saat melangkah tadi. Tampaknya genetik seorang terapis fisik menurun kuat pada dirinya."
Jiro terkekeh pelan, menundukkan kepalanya untuk mengecup pelipis Senjani dengan penuh kehangatan yang menyalurkan seluruh rasa cinta dan syukurnya yang teramat dalam kepada Tuhan. "Itu bukan karena genetikmu, Sayang... tapi karena dia memiliki seorang ibu yang merupakan terapis terbaik di dunia. Jika ibunya saja bisa membimbing seorang monster lumpuh sepertiku untuk kembali berlari, maka membimbing anak kita untuk melangkah tentu hal yang sangat mudah bagimu."
Senjani menoleh sedikit, menatap langsung ke dalam sepasang netra elang Jiro yang kini telah sepenuhnya mencair, dipenuhi oleh kabut asmara dan pemujaan yang mutlak untuknya. Dia menyandarkan kepalanya di bahu bidang kokoh suaminya, merasakan kehangatan yang menjalar dari ulu hatinya menuju ke seluruh tubuhnya.
"Makasih ya, Mas... karena bersedia berjuang bersamaku dan menepati semua janjimu di altar dulu," bisik Senjani lirih, matanya berkaca-kaca menahan haru bahagia sejati.
"Setahun yang lalu, pernikahan kita berawal dari sebuah keterpaksaan utang dan penderitaan yang pekat. Aku mengutuk takdirku dan memperlakukanmu dengan kejam. Namun, sentuhan jemari tanganmu, kesabaran batinmu, dan ketulusan jiwamu yang telah meruntuhkan seluruh dinding es di hatiku. Kamu tidak hanya menyembuhkan fisikku, Senjani... tapi kamu bahkan menyembuhkan jiwaku yang hancur dan membimbingku pulang ke dalam kebahagiaan yang sesungguhnya."
Jiro memajukan wajah tampannya, mengikis jarak di antara mereka hingga embusan napas hangat mereka menyatu di udara pagi yang sejuk. Di atas pangkuan mereka, Arsenio kecil tampak sibuk memainkan kancing baju kaus polo ayahnya dengan riang, di bawah tatapan teduh dari Kakek Baskoro yang tersenyum bahagia dari kejauhan.
"Tugasmu sebagai terapis fisiku mungkin sudah selesai sejak lama, Nona Terapis," bisik Jiro dengan seringai tipis yang sangat memikat tepat di depan bibir manis istrinya. "Tapi tugasmu untuk menjadi ratu di sampingku, menjadi ibu dari anak-anakku, dan mendekap jiwaku dalam kehangatan abadi seumur hidup kita... tidak akan pernah berakhir hingga ajal menjemput kita kelak."
Senjani tersenyum sangat manis, sebuah senyuman tulus yang menutup seluruh rangkaian lembaran hitam masa lalu mereka dalam kebahagiaan yang mutlak. "Aku akan menerima tugas itu dengan segenap jiwa dan ragaku, Suamiku tercinta."
Jiro memajukan kepalanya, menyatukan bibir mereka dalam sebuah kecupan yang sangat mendalam, manis, dan penuh gairah kepemilikan yang sah seumur hidup mereka di bawah cerahnya langit pagi kota Jakarta. Lembaran kisah asmara mereka yang semula berawal dari nikah paksa, air mata, dan dilema etika profesi kini telah resmi berakhir dalam balutan kesempurnaan takdir cinta sejati yang abadi, meninggalkan jejak-jejak pelangi kebahagiaan yang takkan pernah bisa terhapus oleh badai fana mana pun di masa depan.