**"Bukankah setiap anak berhak mendapatkan kasih sayang yang sama?"**
Lalu, mengapa aku harus tumbuh dengan luka karena terus-menerus diperlakukan berbeda?
Aku hanya ingin membuktikan bahwa aku mampu berdiri di atas kakiku sendiri. Namun setiap kali selangkah lebih dekat pada impianku, takdir seolah selalu menemukan cara untuk menjatuhkanku. Belum sempat luka itu mengering, petaka lain kembali datang merenggut harapan yang susah payah kubangun.
Saat akhirnya aku memilih berdamai dengan kenyataan dan memberanikan diri membuka hati, hidup kembali mempermainkanku. Semua yang telah kuraih runtuh seketika, memaksaku kembali berdiri di titik awal... seorang diri.
Aku lelah mempertanyakan alasan di balik semua ini.
Apakah karena aku berbeda, maka aku tidak pantas dicintai?
Apakah semua perjuangan, air mata, dan pengorbananku akan berakhir sia-sia?
Ataukah... kehadiranmu adalah jawaban yang selama ini dikirimkan Tuhan untuk mengubah takdirku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nerissa ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penguntit?
Haselyn tidak ingin berurusan dengan pria itu. Tidak sekarang. Tidak nanti. Dan tidak akan pernah.
Namun sejak hari itu, Kevin terus datang. Hampir setiap hari ia berdiri di depan toko, menunggu Haselyn keluar atau sekadar berharap bisa bertemu dengannya. Berkali-kali ia ditolak, diabaikan, bahkan diusir. Namun semua itu tidak membuatnya menyerah.
Kevin terus mencoba. Terus memohon. Terus berharap Haselyn mau memberinya kesempatan untuk meminta maaf, biarpun itu harus ia usahakan entah sampai kapan
Dua minggu kemudian.
Haselyn dan para karyawannya sedang bersiap menutup toko. Sarah yang berdiri di sampingnya tiba-tiba menyenggol pelan lengannya. “Haselyn,” bisik Sarah.
“Hm?” Haselyn masuk sibuk dengan kegiatannya, membuat ia tidak serta merta menoleh ke arah Sarah
“Lihat ke arah parkiran.” Perintah Sarah untuk melihat ke arah parkiran toko Haselyn
Haselyn mengikuti arah pandang Sarah. Di bawah cahaya lampu sore yang mulai temaram, Kevin berdiri di dekat mobilnya, menatap ke arah toko dengan sabar.
Sarah tersenyum kecil, lalu menggoda, “Sepertinya dia benar-benar belum menyerah memperjuangkan cintamu.”
Haselyn terdiam. Dadanya justru terasa sesak. Andai Sarah tahu kebenarannya. Andai semua orang tahu bahwa pria yang mereka anggap sedang mengejar cintanya adalah pria yang telah menghancurkan hidupnya.
Haselyn sengaja menyimpan semuanya rapat-rapat. Ia tidak pernah menceritakan malam itu kepada siapa pun. Ia tidak ingin dipandang dengan rasa iba, tidak ingin menjadi bahan bisik-bisik, dan tidak ingin hidupnya didefinisikan oleh satu peristiwa yang merenggut begitu banyak hal darinya.
Karena itulah, orang-orang salah paham. Mereka mengira Kevin adalah pria yang sedang berusaha memenangkan hati Haselyn. Padahal bagi Haselyn… Kevin adalah luka yang terus hidup di dalam dirinya.
Kevin tidak pernah datang dengan tangan kosong. Hampir setiap hari ia membawa sesuatu untuk Haselyn. Kadang makanan berat atau ringan, cokelat, obat, buku, hingga bunga. Seolah hadiah-hadiah itu bisa menggantikan luka yang telah ia tinggalkan untuk Haselyn.
Sore itu, Kevin kembali berdiri di area parkir dengan seikat mawar merah di tangannya. Haselyn yang melihatnya dari dalam toko langsung mendengus kesal. “Bunga lagi,” gumamnya pelan.
Bagaimana tidak membuat salah paham jika Kevin sering membawakan bunga biarpun kadang tidak hanya bunga dan ada beberapa barang lain
Ia menoleh ke arah para karyawannya yang masih merapikan toko. “Aku pulang dulu, ya. Kalau tokonya sudah dikunci, kalian juga langsung pulang saja.” Kalau dia terus di toko yang ada Kevin akan terus menunggu biarpun sampai malam sekalipun
“Baik, Hasel,” jawab Sarah.
Haselyn melangkah cepat menuju pintu keluar, berharap bisa segera meninggalkan tempat itu. Namun Kevin yang melihatnya langsung menghampiri dengan wajah yang seketika dipenuhi harapan.
“Sore, Haselyn.” Ia mengulurkan seikat mawar merah itu dengan hati-hati. “Ini untukmu.”
Haselyn menatap bunga itu beberapa detik tanpa ekspresi. Lalu, tanpa mengucapkan terima kasih atau menolak secara halus, ia mengambilnya.
Kevin sempat mengira Haselyn akhirnya mau menerima pemberiannya. Namun harapan itu hancur dalam hitungan detik.
Haselyn berjalan ke arah tong sampah yang berada di dekat pintu masuk, lalu melemparkan bunga mawar itu ke dalamnya. Bunga-bunga merah itu jatuh begitu saja di antara tumpukan sampah.
“Aku sama sekali tidak membutuhkan bungamu.” Suaranya dingin. Setajam tatapannya.
Kevin memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras, tetapi bukan karena marah. Ia hanya merasa semakin sadar bahwa jalan untuk mendapatkan maaf Haselyn jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Ia mengembuskan napas panjang. “Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan maafmu, Haselyn?” Suaranya terdengar lirih, nyaris putus asa. “Tolong beri tahu aku. Apa pun akan kulakukan.”
Haselyn menatap Kevin tanpa sedikit pun rasa iba. “Tidak ada caranya.” Jawabannya singkat. Tegas. Dan menghancurkan seluruh harapan Kevin.
“Karena ada kesalahan yang tidak bisa ditebus dengan bunga, hadiah, atau permintaan maaf.” Mata Haselyn berkaca-kaca, tetapi kebenciannya tidak berkurang sedikit pun.
“Kamu datang setiap hari bukan membuat lukaku sembuh.” Ia menatap Kevin lurus-lurus.
“Kamu justru membuatku terus mengingat malam itu.” Kalimat itu membuat Kevin membeku. Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa setiap kedatangannya bukan sedang mendekatkan diri kepada Haselyn. Melainkan sedang membuka kembali luka yang belum pernah benar-benar sembuh.
Pemandangan Kevin yang terus berjuang mendekati Haselyn, lalu kembali pulang dengan penolakan yang sama, perlahan menjadi rutinitas yang akrab bagi para karyawan toko.
Sudah dua minggu hal itu berlangsung. Hampir setiap hari Kevin datang, menunggu di depan toko, membawa berbagai macam hadiah, dan mencoba mengajak Haselyn berbicara. Dan hampir setiap hari pula ia pulang dengan tangan hampa.
Awalnya para karyawan masih sering saling bertukar pandang, merasa heran dengan sikap Haselyn yang begitu dingin terhadap pria setampan dan sesopan Kevin. Namun seiring berjalannya waktu, pemandangan itu menjadi sesuatu yang biasa.
Mereka tidak lagi terkejut melihat Haselyn mengabaikan Kevin. Tidak lagi terkejut melihat bunga-bunga yang berakhir di tong sampah. Dan tidak lagi terkejut melihat Kevin tetap datang keesokan harinya.
Bagi orang-orang di sekitar mereka, Kevin adalah pria yang nyaris sempurna. Penampilannya rapi, pembawaannya tenang, wajahnya tampan, dan cara bicaranya sopan. Tidak sedikit perempuan yang diam-diam mengaguminya.
Karena itulah, banyak yang tidak mengerti mengapa Haselyn selalu menolaknya dengan begitu tegas. Penolakan itu bukan sekadar sikap acuh. Ada kemarahan. Ada kebencian. Bahkan ada ketakutan yang sesekali tampak di mata Haselyn ketika Kevin terlalu dekat dengannya.
Namun tidak ada seorang pun yang mengetahui alasan di balik semua itu. Dan tidak ada yang berani bertanya. Mereka hanya bisa menyaksikan dua orang yang seolah diikat oleh masa lalu yang kelam. Satu terus mengejar, sementara yang lain terus berusaha menjauh.
Tanpa menyadari bahwa di balik penolakan Haselyn, tersimpan luka yang belum pernah benar-benar sembuh.
*
*
*
Seperti hari-hari sebelumnya, Kevin kembali menunggu hingga toko Haselyn tutup. Ia tidak lagi memaksa untuk berbicara. Ia hanya berjalan beberapa meter di belakang Haselyn, mengikuti langkahnya dalam diam. Bagi Kevin, itu adalah caranya memastikan Haselyn sampai di rumah dengan selamat.
Namun bagi Haselyn, itu terasa seperti teror. Sudah dua minggu penuh Kevin terus mengikutinya pulang. Akhirnya, Haselyn menghentikan langkahnya. Ia berbalik dengan wajah penuh amarah, menatap Kevin tajam.
“Pergi!” Suaranya terdengar dingin dan tegas. “Atau aku akan berteriak.”
Kevin langsung berhenti. Jarak di antara mereka hanya beberapa meter. “Aku cuma ingin memastikan kamu pulang dengan selamat,” ucapnya pelan.
Haselyn tertawa sinis. “Siapa yang memintamu melakukan itu?” Kevin terdiam.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Haselyn kembali melangkah menuju rumahnya. Rumah sederhana yang baru tiga minggu lalu berhasil ia beli secara tunai. Rumah dengan dua kamar dan halaman yang cukup luas itu menjadi simbol dari semua kerja kerasnya selama bertahun-tahun.
Namun hari itu, rumah yang seharusnya menjadi tempat paling aman justru terasa jauh karena seseorang terus berjalan di belakangnya.
Haselyn menggerutu kesal. Rahangnya mengeras, sementara amarah yang ia tahan selama dua minggu terakhir semakin memuncak.
Saat melewati pos ronda, ia melihat beberapa warga sedang duduk mengobrol. Tatapannya sekilas beralih kepada Kevin. Lalu sebuah ide tiba-tiba muncul di kepalanya. Haselyn menghentikan langkah, menarik napas dalam-dalam, dan berteriak sekuat tenaga.
“Tolong!”
“Tolong!”
“Tolong!”
Suara Haselyn memecah suasana sore yang mulai lengang. Kevin membeku di tempat. “Apa yang dia lakukan?” batinnya panik.
Dalam hitungan detik, beberapa warga yang berada di pos ronda langsung berlari menghampiri mereka. “Ada apa, Mbak?” tanya salah seorang pria paruh baya.
Haselyn mundur beberapa langkah, lalu menunjuk Kevin dengan tangan gemetar. Wajahnya tampak pucat, napasnya memburu, dan matanya dipenuhi ketakutan. “Dia terus mengikuti saya dari tadi,” ucap Haselyn dengan suara bergetar. “Saya takut.”
Semua tatapan langsung tertuju pada Kevin. Sementara Kevin hanya bisa berdiri mematung, kebingungan menghadapi situasi yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
“Bukan… bukan seperti itu,” ucap Kevin cepat.
Namun sebelum ia sempat menjelaskan, beberapa pria sudah melangkah maju dan berdiri di depan Haselyn, seolah membentuk tembok pelindung di hadapannya.