Moiro Asahi, seorang anak laki-laki yang tiba-tiba berubah menjadi dingin di sekolah setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan.
Ditambah lagi, orang tuanya meninggalkan utang yang amat besar pada dirinya.
Dengan utang besar itu, ia tak punya pilihan lain selain bekerja sepulang sekolah. Sayangnya, setiap lamaran selalu ditolak karena satu alasan: ia masih pelajar.
Hingga suatu hari, ia memutuskan untuk hanya bekerja part-time, dan akhirnya sebuah kafe mewah menerimanya sebagai seorang maid.
Tunggu... Maid?! APA APAAN INI?!
Seberapa lama Moiro harus menjalani hidup absurd itu demi melunasi hutangnya? Apakah ia harus terus mengenakan seragam imut untuk bertahan hidup? Dan yang paling menakutkan... Apakah ia akan kehilangan jati dirinya di tengah semuanya?!
Penasaran sama ceritanya? Ikuti terus kisah absurd hasil gabut ini dan silakan nikmati alur kocaknya!
Novelnya ada beberapa kejadian gak logis, jadi maklumi aja, hehe.
(ada beberapa gambar bikinan AI, bukan ceritanya)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mujahid Al Fattih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28.5 AWAS KAU!!!
Moiro perlahan berdiri dari kursi dan mendekat lalu memegang pundak Ryuji. Tangannya terasa bergetar di pundaknya.
Moiro menatap tajam, wajahnya tampak suram, suaranya terdengar bergetar.
"Cewek rambut pink itu...?" tanyanya memastikan.
"Benar..." jawab Ryuji bingung karena melihat ekspresi Moiro yang seperti itu, "Memangnya ada apa?"
"Apa kau tidak salah pilih...?" lanjut Moiro bertanya. Suaranya terdengar makin bergetar dan sedikit lebih nyaring, seolah ingin memastikan tapi lebih condong ke arah penolakan.
Ryuji jadi kesal, "Serius, dah. Ada apa?!"
Moiro menunduk. Satu tangannya semakin bergetar di pundak Ryuji, dan menggenggamnya makin erat. Wajahnya tertutup oleh rambutnya, tampak teramat panik, "Apa yang harus kukatakan...?!"
Langsung jujur. Joss!
Ryuji tersadar saat melihat rambut merah mudanya Moiro dan mendapatkan suatu jawaban. Ekspresi wajahnya berubah terkejut.
"Moiro, kau..." ucapnya, satu tangannya terangkat menunjuk Moiro yang menunduk, "Apa yang tadi itu saudarimu?!"
"Eh?" Moiro mendongak heran, menatap ke arah wajah setan di depannya.
Yuka juga tak kalah bingung dan terkejutnya, meski ujung bibirnya sedikit terangkat karena ikut senang Ryuji tidak memikirkan yang aneh-aneh.
Mata Moiro melotot karena terkejut, "Aku hampir lupa, dia orang yang bodoh!"
"Saudari?" sahut Mika bingung, kepalanya sedikit miring.
"Pantas saja aku merasa tidak asing," lanjutnya sambil meletakkan satu telunjuknya di bawah sebelah pipi.
Yuka di sampingnya menghela napas. Meski penampilan Moiro terlihat berbeda di gambar itu, tapi dia mengetahui kalau itu adalah Moiro.
Moiro menatap pada Mika, kembali menatap Ryuji, lalu menunduk dengan mata terpejam dan perasaan yang lebih tenang, "Terima kasih atas kebodohanmu, Yamaguchi!"
Harus banget ya berterima kasih?
"Begitu, ya...?" ucap Ryuji kemudian. Mengambil kesimpulan seenaknya.
Moiro kembali mendongak, menatap Ryuji di depannya.
Ryuji menyatukan kedua tangannya cepat, kepalanya sedikit menunduk, "Aku mohon, restui dan bantu aku mendekatinya, Moiro!"
Moiro membatu, "Yakali aku mau!"
Yuka ternganga mendengarnya. Kacamatanya mulai retak serentak pikiran dan hatinya.
"Untuk itu..." balas Moiro pelan, wajahnya kembali suram.
Ryuji mengangkat pandangannya, menatap penuh harap.
Rahang Moiro sedikit mengeras, kepalanya kembali menunduk, "Aku... tidak bisa membantu."
"Kenapa begitu?! Kita ini kan teman?!" mohon Ryuji yang masih berharap.
"Sadar diri lah!" seru Moiro dalam benaknya, "Yakali aku mau dengan sesama cowok?!"
Saye pun tak terima kalo ada joemoek.
Moiro melepaskan tangannya lalu berdiri tegak, "Sudah kubilang, aku tidak—"
"Ayolah...!" potong Ryuji sambil memelas.
Moiro menatapnya sebal, lalu mengembalikan ekspresi datarnya, "Ngomong-ngomong..."
Ryuji sontak bingung, menunggu lanjutannya.
Moiro menatap tajam padanya, "Kenapa kau bisa ketemu gambar itu?"
Ryuji tersenyum seperti biasa, santai, seolah sebelumnya tidak terjadi apa-apa, "Oh, itu? Itu karena aku ingin memperlihatkan sebuah foto yang lain."
"Saat mencari foto itu, aku jadi teringat dengan perempuan tadi," lanjutnya yang kembali memainkan layar ponselnya—mencari sesuatu.
"Foto yang lain?" tanya Moiro heran.
"Benar. Nah!" Ryuji menemukan yang dia cari lalu segera mengarahkan layar ponselnya, "Aku ingin memperlihatkan ini!"
Moiro, Mika, dan Yuka menatap layar ponselnya itu.
Ketiganya terkejut—terlebih lagi Moiro dan Mika.
Di layar ponsel Ryuji, terdapat foto Moiro dan Mika yang saling berbalas senyum di Taman Hiburan sebelumnya.
Atmosfer tiba-tiba berubah mencekam, membuat suasana terasa mencekik.
Moiro meretakkan jemarinya dengan pose tinju. Matanya melotot tajam, seolah telah mengunci target, "Ternyata dugaanku benar. Pantas saja aku merasa diawasi."
Sementara di sampingnya, Mika tak kalah mengerikannya. Meski di wajahnya terlihat senyuman, tapi suasana yang diberikan bukan kehangatan, melainkan kengerian seperti hewan yang mendapat buruan.
Yuka di sampingnya hanya diam dan kesal menepuk jidatnya sendiri sambil mengerutkan alis, menahan malu atas kelakuan Ruji yang dengan bodohnya malah membongkarkan kelakuannya sendiri.
Moiro mendekat, lalu berucap pelan tapi berat, "Yamaguchi...!"
Ryuji seketika menciut melihatnya, tubuhnya mulai bergetar. Wajahnya yang tertutup bayangan Moiro mulai berkeringat dingin.
Ia tersenyum paksa dan tertawa kecil, terdengar kaku.
...***...
"Maaf, toilet sedang penuh," ucap Ryuji dari dalam.
Moiro menggedor pintu toilet dengan amarah, "Keluar kau, Yamaguchi!"
"Aku minta maaf! Aku cuma kepengen iseng, bercanda. Suer!" serunya dari dalam toilet yang tertutup rapat.
"Bodo amat!" sahut Moiro nyaring sambil terus menggedor pintu toilet.
"Tolong akuu!"
"Gak ada yang mau nolong setan kayak kau itu!"
Tiba-tiba banget ke toilet?! Adegan kejar-kejarannya di skip nih pasti!