Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.
Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.
Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.
Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.
Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 : Dokumen Apa?
Miranda akhirnya mengalihkan pandangannya dari Adrian. “Kalau begitu, kami masuk dulu, Pak Gunawan,” ucapnya dengan senyum tipis.
“Silahkan, Nyonya Miranda.”
Miranda kemudian berbalik dan berjalan menuju pintu utama gedung. Dimas mengikuti di belakangnya. Beberapa wartawan masih sibuk mengambil gambar, sementara para tamu lainnya mulai bergerak memasuki gedung.
Gunawan pun memberi isyarat kepada kedua pengawalnya. “Ayo.”
Adrian langsung mengikuti langkah Gunawan. Seperti seorang pengawal profesional, ia berjalan beberapa langkah di belakang atasannya.
Punggungnya tegap, kedua tangannya berada di sisi tubuh, sementara wajahnya tetap tersembunyi di balik kacamata hitam. Tidak ada sedikit pun gerakan yang menunjukkan bahwa dirinya mengenal Miranda ataupun Dimas.
Namun di balik sikap dinginnya, mata Adrian terus mengamati. Gerakan Miranda, cara Dimas berbicara, orang-orang yang mereka temui. Bahkan siapa saja yang mendekati mereka. Semuanya masuk ke dalam perhatiannya.
Nadira berjalan di samping Gunawan sambil sesekali melirik ke belakang. Ia tahu betul Adrian sedang berusaha keras menahan emosinya.
“Jangan sampai ketahuan,” bisik Nadira pelan.
Adrian hanya mengangguk kecil. Mereka akhirnya memasuki lobi gedung yang jauh lebih ramai. Lampu-lampu kristal menggantung di langit-langit.
Para tamu dari kalangan pengusaha, pejabat, dan orang-orang penting terlihat saling berbincang. Musik lembut terdengar mengiringi suasana malam yang penuh kemewahan. Miranda dan Dimas segera dikerumuni beberapa orang.
“Nyonya Miranda, selamat atas keberhasilan Mahendra Group.”
“Tuan Dimas, kabarnya Anda akan memimpin proyek baru?”
Dimas tersenyum percaya diri. “Tentu. Kami sudah menyiapkan beberapa proyek besar.”
Miranda berdiri di samping putranya dengan wajah penuh kebanggaan. Adrian memperhatikan dari kejauhan. Dimas... dulu pria itu bahkan tidak mengerti apa-apa tentang perusahaan.
Namun sekarang ia berdiri seolah-olah seluruh Mahendra Group adalah miliknya. Rahang Adrian mengeras, tangannya sempat mengepal.
Tetapi beberapa detik kemudian ia kembali merilekskan jemarinya. Tidak sekarang, ia tidak boleh kehilangan kendali. Bukan di tempat seperti ini, bukan di hadapan semua orang.
Gunawan tiba-tiba berhenti. “Adrian.”
Adrian langsung menoleh. “Ya, Pak.”
“Pastikan tidak ada yang terlalu dekat dengan saya dan Nadira.”
“Baik.” Jawaban Adrian terdengar datar dan profesional.
Gunawan mengangguk lalu kembali berbicara dengan beberapa pengusaha yang menghampirinya.
Sementara itu, Miranda perlahan bergerak menuju salah satu meja di sisi lobi. Namun sebelum duduk, wanita itu kembali menoleh ke belakang.
Tatapannya langsung mencari sosok Adrian. Pria itu masih berdiri di belakang Gunawan. Tegap, diam, dan kaku. Pria itu benar-benar seperti pengawal yang sudah terlatih.
Miranda mengerutkan kening. “Kenapa aku terus merasa pernah melihatnya?”
Dimas yang menyadari ibunya berhenti segera bertanya, “kenapa, Ma?”
Miranda tidak langsung menjawab, ia terus menatap Adrian. “Pengawal Pak Gunawan itu...”
Dimas ikut melihat ke arah Adrian. “Memangnya kenapa?”
“Entahlah. Ada sesuatu yang terasa aneh.”
Dimas memperhatikan Adrian beberapa saat, kemudian tertawa kecil. “Ma, mungkin Mama terlalu banyak berpikir. Dia hanya pengawal.”
Miranda masih belum yakin. “Entah kenapa Mama merasa mengenal cara berdirinya.”
Dimas mengangkat bahu. “Banyak pengawal yang berdiri seperti itu, Ma.”
Miranda akhirnya mengalihkan pandangan. Namun perasaan aneh itu tidak ikut menghilang.
Sementara dari kejauhan, Adrian memperhatikan percakapan mereka. Ia tidak mendengar seluruh pembicaraan itu, tetapi dari ekspresi Miranda, ia tahu wanita itu mulai curiga.
Adrian menarik napas perlahan. “Jangan melihatnya terlalu lama,” batinnya.
Ia kemudian mengalihkan pandangan dan berpura-pura memperhatikan keadaan sekitar.
Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali bergerak. Kali ini menuju Dimas.
Adrian memperhatikan pria muda itu ketika seseorang menyerahkan sebuah map kepadanya. Dimas membukanya sebentar, kemudian ekspresinya berubah... hanya sesaat. Tetapi Adrian melihatnya, Dimas segera menutup map tersebut dan memasukkannya ke dalam tas.
Adrian menyipitkan mata. “Apa itu?”
Rasa penasaran muncul di dalam pikirannya. Ia mengenal ekspresi itu. Ekspresi seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak ingin diketahui orang lain.
Adrian mulai memperhatikan Dimas dengan lebih saksama. Tak lama kemudian, Dimas meminta izin kepada Miranda.
“Ma, aku ke belakang sebentar.”
“Untuk apa?”
“Ada urusan yang harus aku selesaikan.”
Miranda mengangguk. “Jangan terlalu lama.”
Dimas kemudian berjalan menuju koridor di sisi gedung. Adrian melihatnya pergi, seketika instingnya bekerja. Ada sesuatu yang tidak beres, ia melirik Gunawan. Pria itu masih sibuk berbicara dengan tamu lain.
Kemudian Adrian melihat Nadira. Wanita itu juga menyadari perubahan tatapan Adrian.
Nadira mendekat sedikit. “Kenapa?”
Adrian menjawab sangat pelan. “Dimas membawa sesuatu.”
“Membawa apa?”
“Aku belum tahu.” Adrian kembali melihat koridor tempat Dimas menghilang. “Aku akan mencari tahu.”
Nadira langsung menatapnya khawatir. “Adrian, jangan sampai penyamaranmu terbongkar.”
Adrian tersenyum tipis. “Kamu tenang saja.”
Ia kemudian melangkah perlahan. Namun kali ini, langkahnya bukan lagi sekadar menjaga Gunawan. Adrian juga ingin tahu apa yang sebenarnya disembunyikan oleh adik sambungnya.
Adrian berjalan meninggalkan area lobi dengan langkah tenang. Ia tetap menjaga jarak dari Dimas agar tidak terlihat seperti sedang membuntuti.
Sesekali Adrian berhenti dan berpura-pura memperhatikan keadaan sekitar. Ketika beberapa tamu lewat, ia bahkan sedikit menundukkan kepala, menunjukkan sikap seorang pengawal yang sedang menjalankan tugas.
Namun matanya tidak pernah benar-benar kehilangan jejak Dimas. Pria itu sudah menghilang di ujung koridor. Adrian mempercepat langkahnya sedikit. Saat sampai di persimpangan koridor, ia berhenti.
Tidak ada siapa pun, Adrian mengamati ke kanan dan kiri.
Kemudian terdengar suara samar dari sebuah ruangan di sebelah kanan. Suara Dimas terdengar pelan. Adrian langsung mendekat. Pintu ruangan itu tidak tertutup rapat. Ia berdiri beberapa langkah dari sana, lalu memasang posisi seperti sedang berjaga. Dari celah pintu, suara Dimas terdengar cukup jelas.
“Bagaimana bisa dokumen ini muncul lagi?”
Adrian langsung mengernyit. Dokumen?
Suara seorang pria lain terdengar dari dalam. “Karena seseorang sudah menemukannya.”
“Siapa?”
“Aku tidak tahu.”
Dimas terdengar kesal. “Bukankah aku sudah membayar kalian untuk memastikan semua dokumen lama itu hilang?”
Adrian membeku, dokumen lama? Tangannya perlahan mengepal. Apa yang sedang mereka bicarakan?
Pria di dalam kembali berkata, “kami sudah melakukan semuanya. Tapi ada satu salinan yang tidak pernah kami temukan.”
“Salinan apa?” tanya Dimas mulai panik.
“Dokumen asli mengenai malam kejadian itu.”
Jantung Adrian seketika berdegup lebih cepat. Malam kejadian? Pikirannya langsung dipenuhi berbagai kemungkinan. Adrian menempelkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke dinding agar bisa mendengar percakapan dengan jelas.
Dimas terdiam beberapa detik. “Jangan bilang...”
“Ya.”
“Dokumen itu masih ada?”tanya Dimas lagi.
“Sepertinya begitu.”
Adrian menyipitkan mata. “Apa yang mereka sembunyikan?” pikirnya.
Kemudian suara Dimas kembali terdengar. “Kalau dokumen itu sampai jatuh ke tangan orang yang tepat, semuanya bisa terbongkar.”
Adrian menahan napas. Semuanya? Apa maksudnya?
Dimas terdengar semakin panik. “Cari dokumen itu sebelum orang lain menemukannya.”
“Kami sedang mencarinya, Tuan.”
"Cari sampai ketemu, gimana pun caranya. Aku tidak peduli berapa pun biayanya. Temukan sebelum...”
Dimas tiba-tiba berhenti berbicara, suasana di dalam ruangan mendadak hening.
Adrian mengerutkan kening, kemudian terdengar suara langkah mendekati pintu. Seseorang akan keluar, Adrian segera menjauh. Ia berjalan beberapa langkah ke arah koridor dan berdiri tegap seolah-olah memang sedang berjaga di sana.
Pintu terbuka.
Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun keluar dari ruangan. Tatapannya sempat bertemu dengan Adrian.
Pria itu berhenti. “Kau sedang apa?”
Adrian tidak langsung menjawab.