Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 — Pertemuan Pertama yang Dicuri
Surel itu dicetak di atas kertas putih biasa.
Dokumen itu tidak memuat cap rahasia, kode buku kata kerja, ataupun tanda tangan Ibu, Ayah, atau anggota keluarga Kalyana lain yang dapat dipakai Rendra sebagai alasan bahwa dirinya hanya meneruskan sistem lama.
Alamat pengirimnya milik Rendra.
Tanggalnya tiga hari sebelum seminar.
Instruksi itu berdiri sendiri di tengah rangkaian surel.
Aku membacanya di kantor Damar bersama Sari, Tara, dan Banyu. Rendra tidak hadir. Ia sudah menyetujui agar seluruh korespondensi seminar diserahkan tanpa meminta kesempatan menjelaskan lebih dulu.
Dulu, mungkin aku akan menganggap itu bukti ia sedang menghormatiku.
Sekarang aku tahu itu hanya kewajiban yang terlambat dilakukan.
“Apakah Ibu tahu permintaan ini?” tanyaku kepada Sari.
“Tidak sebelum seminar selesai,” jawabnya. “Panitia mengatakan perubahan kursi berasal dari sponsor.”
“Siapa yang memindahkan sesi?”
“Koordinator acara. Ia menerima perintah agar panelmu ditempatkan sebelum jam istirahat, lalu area duduk tamu sponsor diubah.”
“Kenapa Ibu menyimpan surelnya?”
“Karena setelah acara saya melihat Rendra mendatangimu seolah kebetulan. Saya meminta salinan perubahan kepada seorang panitia yang saya kenal.”
Tara menatap halaman tersebut. “Waktu itu aku enggak ikut masuk ruangan.”
“Kamu menungguku di luar,” kataku.
“Aku ingat kamu keluar sambil marah soal kopi.”
Banyu mengangkat alis. “Kencan pertama kalian dimulai dari kopi buruk?”
“Bukan kencan.”
“Ya, ya. Biasanya begitu. Kalimat yang sama diulang terus.”
Damar memberi tatapan agar ia berhenti. Banyu mengangkat kedua tangan dan kembali diam.
Aku memejamkan mata, membiarkan ruangan sekarang memudar sampai yang tersisa adalah gedung seminar enam tahun lalu.
Waktu itu Ruang Tengah baru mulai dikenal. Aku datang membawa laptop yang baterainya tidak penuh, sepatu yang terlalu keras di tumit, dan materi presentasi yang kuubah sampai pukul dua pagi. Aku lebih takut lupa data daripada bertemu siapa pun.
Sari menyambut di pintu dan mengatakan panelku dipindahkan satu jam lebih awal. Aku kesal, tetapi mengira panitia hanya tidak teratur.
Rendra duduk di baris kedua.
Aku menyadarinya ketika menjawab pertanyaan peserta tentang pasangan yang menyembunyikan aset. Ia memakai jas abu-abu tanpa dasi. Tangannya berada di atas buku catatan, tetapi tidak menulis. Ketika orang lain melihat layar, ia memperhatikanku.
Dulu aku menganggap tatapan itu sebagai tanda bahwa ia benar-benar memperhatikanku.
Sekarang aku tahu ia sudah membaca berkas tentang diriku sebelum datang.
Setelah sesi, seorang panitia mengarahkanku ke ruang tunggu sponsor karena ruang pembicara penuh. Kursi kosong hanya tersisa satu, tepat di samping Rendra.
Di atas meja ada dua cangkir kopi.
Aku menyesap satu tanpa bertanya, lalu langsung mengernyit.
“Ini rasanya seperti air bekas mencuci sendok,” kataku.
Rendra menoleh. “Itu milik saya.”
Aku menatap cangkir di tangan, lalu cangkir lain di depannya. “Kenapa ada dua?”
“Yang satu juga milik saya.”
“Berarti selera kopi Anda buruk dua kali.”
Ia tidak tersenyum. “Anda selalu minum milik orang tanpa izin?”
“Anda selalu membeli dua kopi yang sama buruknya?”
“Saya sedang menunggu seseorang.”
“Kasihan orangnya.”
Percakapan itu terus bergerak tanpa arah. Ia bertanya mengapa aku memakai istilah pilihan bebas ketika sebagian pihak datang ke mediasi karena tidak punya uang untuk berperkara. Aku membalas bahwa orang kaya juga sering tidak punya pilihan, hanya punya lebih banyak cara menyembunyikannya.
Ia mengatakan mediasi terlalu bergantung pada kejujuran.
Aku mengatakan perusahaan terlalu bergantung pada orang yang mengira kontrak dapat menggantikan kejujuran.
Tidak ada satu pun kalimat romantis.
Tidak ada pujian atas penampilanku.
Yang membuatku terus bicara adalah cara Rendra tidak mencoba menjelaskan pekerjaanku kepadaku. Ia menyanggah, mendengar, lalu mengubah pertanyaannya ketika jawabanku membuatnya berpikir ulang.
“Berapa lama percakapan itu?” tanya Damar.
“Hampir empat puluh menit.”
“Apakah panitia menyela?”
“Dua kali. Aku memilih tetap duduk.”
Aku membuka catatan acara. Sesi berikutnya dimulai tiga puluh menit setelah kami berpisah. Tidak ada bukti Rendra memerintahkan siapa pun mengunci pintu, menahan jadwalku, atau memaksaku berbicara.
Ia menciptakan kesempatan.
Aku sendiri yang memilih mengisinya.
Fakta itu tidak menghapus rekayasa. Aku juga tidak mau membiarkan satu surel mengubah seluruh kenanganku tentang hari itu.
“Dia tahu aku akan bicara soal kopi?” tanyaku.
Sari menggeleng. “Tidak ada naskah percakapan.”
“Apakah ia meminta panitia memberi dua cangkir?”
“Menurut kuitansi, kopi dipesan untuk seluruh tamu sponsor. Tidak ada pesanan khusus atas namamu.”
Tara menatapku. “Jadi kamu tetap salah minum kopi orang.”
“Terima kasih atas kesimpulan pentingnya.”
“Dalam audit, detail kecil juga dihitung.”
Bibirku hampir bergerak menjadi senyum. Aku membiarkannya. Tara pernah dibayar, tapi bukan berarti setiap candanya sekarang harus terasa seperti pengkhianatan.
Damar membuka lampiran berikutnya. Rendra meminta data mengenai topik panel, riwayat kantor, dan jadwal kedatanganku. Panitia mengirim profil publik, artikel wawancara, serta waktu registrasi. Tidak ada catatan terapi atau informasi pribadi.
“Pada tahap ini, aksesnya masih terbatas pada data acara,” kata Damar.
“Dia tetap sengaja mendekat,” jawabku.
“Iya.”
“Dan membuatnya terlihat kebetulan.”
“Iya.”
Aku membaca kalimat terlihat wajar berulang kali.
Hal yang menyakitkan bukan hanya bahwa Rendra mengatur kursi. Ia membuatku mempertanyakan kenangan yang selama ini kuanggap sebagai bukti bahwa ada sesuatu di antara kami yang terjadi tanpa rencana.
Aku sering menceritakan pertemuan pertama kami kepada klien yang takut hubungan mereka kehilangan spontanitas setelah bertahun-tahun menikah. Aku berkata cinta tidak selalu dimulai dengan momen indah. Kadang hanya dari kopi buruk dan dua orang yang sama-sama tidak mau mengakhiri perdebatan.
Sekarang bagian kopi tetap nyata.
Perdebatannya tetap nyata.
Kursi kosong itu sudah menungguku.
“Apa yang dilakukan Rendra setelah percakapan?” tanya Banyu.
Aku mengingatnya tanpa perlu melihat dokumen. “Dia meminta kartu nama.”
“Lalu?”
“Aku tidak punya. Baru habis.”
Tara tertawa kecil. “Kamu punya. Tertinggal di tasku.”
“Aku tidak tahu.”
“Makanya dia terlihat kecewa.”
Aku mengingat wajah Rendra ketika aku hanya menuliskan alamat situs Ruang Tengah pada kertas agenda. Ia melipatnya sekali dan memasukkannya ke saku dalam jas.
“Dia menghubungi kantor?” tanya Damar.
“Tidak.”
“Sama sekali?”
“Tidak selama enam bulan.”
Semua orang di ruangan menoleh kepadaku.
Aku membuka arsip surel lama. Setelah seminar, memang tidak ada pesan dari Rendra. Tidak ada bunga. Tidak ada undangan makan. Tidak ada sponsor baru yang menghubungiku atas namanya. Kami bertemu lagi enam bulan kemudian dalam acara bantuan hukum.
Pertemuan kedua juga telah disiapkan sebagian. Rendra mengubah jadwal agar hadir dan meminta duduk di meja yang sama.
Selama enam bulan di antaranya, ia tidak mendekat.
“Aku pernah menganggap dia lupa,” kataku. “Lalu ketika bertemu lagi, dia bilang tidak ingin membuatku merasa diburu.”
“Apakah itu benar?” tanya Tara.
“Sekarang kita sedang memeriksa buktinya.”
Sari membuka rantai surel lengkap. Pesan pertama dari Rendra berisi permintaan tentang pemindahan sesi, denah ruangan, kursi, dan kesempatan bicara. Balasan panitia mengonfirmasi semua permintaan.
Pesan berikutnya dikirim pagi setelah seminar.
Rendra meminta seluruh dokumentasi pertemuan tidak dipakai dalam materi promosi. Ia juga meminta panitia tidak mengirimkan nomor telepon atau alamat pribadiku kepadanya.
Banyu membaca cepat. “Aneh. Dia mengatur pertemuan, tapi menolak data kontak.”
“Bukan aneh,” kata Sari. “Orang bisa menjaga satu batas, lalu melanggar batas yang lain.”
Kalimat itu merangkum pernikahan kami.
Aku membuka pesan berikutnya. Rendra menulis bahwa percakapan telah terjadi, tetapi ia tidak dapat menilai apakah aku menikmatinya atau hanya bersikap sopan sebagai pembicara acara.
Aku tertawa tak percaya. “Empat puluh menit berdebat dianggap sopan?”
Tara mengangkat bahu. “Kamu pernah mengoreksi petugas bank lama sekali cuma gara-gara satu kata di formulir.”
“Itu memang salah.”
“Dan kamu melakukannya sambil tersenyum.”
Damar berdeham sebelum perdebatan baru dimulai.
Dalam surel, koordinator acara menawarkan mengirim nomor teleponku. Rendra menolak. Koordinator kemudian menawarkan membuat undangan makan malam dengan alasan evaluasi seminar.
Rendra juga menolak.
Aku membaca jawaban tersebut dua kali.
Pada awal hubungan, ia menciptakan satu kesempatan tanpa izin. Setelah pertemuan itu selesai, ia tidak mencoba menciptakan pertemuan berikutnya. Ia berhenti.
Bukan karena tidak mampu mencari nomorku. Dengan sumber daya yang dimilikinya, mencari alamat rumah atau jadwal kantorku bukan hal sulit.
Ia memilih tidak melakukannya.
Aku tetap harus mengakui kebenaran itu, meski setelahnya aku tidak bisa lagi marah dengan cara sesederhana sebelumnya.
“Kenapa enam bulan kemudian ia mendekat lagi?” tanyaku.
Sari mengambil satu halaman terakhir. “Karena kalian diundang secara terpisah ke acara bantuan hukum. Nama Rendra sudah ada di daftar sponsor sebelum namamu masuk sebagai pembicara.”
“Jadi pertemuan kedua benar-benar kebetulan?”
“Datang ke acara yang sama, iya. Duduk semeja, itu diatur.”
Aku menghela napas. Bahkan kebetulan dalam hidup kami tampaknya selalu hanya bertahan beberapa menit sebelum Rendra ikut mengaturnya.
Pada surel terakhir setelah seminar pertama, Rendra memberi instruksi kepada koordinator acara. Kalimatnya lebih pendek daripada semua permintaan sebelumnya.
Aku membacanya pelan.
Jika dia menolak berbicara, jangan dekati lagi.