Indonesia
NovelToon NovelToon
Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Tuan Muda Dingin, Pembantu Manisnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / CEO / Pengasuh / Ibu susu
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Lianna "Lia" Souw punya satu rahasia yang tak boleh diketahui siapa pun.

Sejak kecil, tubuhnya mengeluarkan wangi manis setiap kali ia kenyang — warisan ramuan turun-temurun dari neneknya. Wangi yang membuatnya terlalu "mengundang", terlalu berbahaya. Maka Lia belajar satu hal: **menahan lapar, menyembunyikan wanginya, dan tidak menarik perhatian siapa pun.**

Kabur dari ayah yang nyaris menjualnya demi melunasi utang, Lia mendarat di rumah megah Keluarga Wijaya di PIK — jadi pembantu tinggal-dalam yang memasak masakan rumahan dan mengurus cucu kesayangan Popo. Rencananya sederhana: kerja diam-diam, kumpulkan uang, lalu pergi.

Sampai ia bertemu **Sebastian Wijaya.**

Tuan muda keluarga konglomerat itu dingin, menahan diri, tak tersentuh — seperti puncak salju yang tak pernah mencair. Semua wanita ia tolak. Sampai malam itu, saat wangi manis Lia menguar di udara… dan pertahanan diri yang selama ini jadi kebanggaannya **retak untuk pertama kalinya.**

"Mulai sekarang," bisiknya rendah, mengurung Lia di antara dirinya dan pintu, "kamu hanya boleh makan sampai kenyang… di depanku."

Lia pikir ia hanya perlu bertahan sampai cukup uang untuk pergi. Ia tidak pernah menyangka pria sedingin es itu akan menuliskan rumah dan seluruh hartanya atas namanya, melepas mahkota pewaris demi merangkak naik dari nol bersamanya, dan berkata pada seluruh dunia dengan mata paling lembut:

*"Istriku manja. Memang harus dimanja."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Rencana Rumah Rahasia

Pintu kamar mandi terbuka selebar satu telapak tangan.

Sebastian langsung menahannya dari dalam. “Lantainya masih banjir. Tunggu.”

Cornelia berhenti mendorong. “Lia ada di dalam?”

“Iya, Tante,” jawab Lia. “Saya yang menemukan kebocoran. Baju saya kena air.”

“Pakai jubah dulu. Teknisi tunggu di luar.”

Sebastian membuka pintu lebih lebar setelah Lia berdiri di balik daun pintu. Ia keluar lebih dulu dengan kemeja basah dan tang di tangan.

“Saya menutup katup utama,” katanya. “Lia sedang ganti dengan baju kering dari lemari tamu.”

Penjelasan itu benar, hanya tidak lengkap.

Cornelia menatap kemeja anaknya, lalu uap di dalam. Kecurigaan melintas, tetapi air di lantai dan katup rusak memberi alasan nyata. Ia memanggil pekerja perempuan membawa pakaian Lia, kemudian menyuruh Sebastian pergi berganti.

Rahasia mereka selamat malam itu.

Dua hari kemudian, Robby membawa Sebastian dan Lia melihat sebuah ruko kecil yang disewakan di kawasan Pluit.

Lantai bawahnya bekas toko alat tulis. Cat dinding mengelupas, rolling door berderit, dan wastafel belakang bocor setetes demi setetes. Lantai atas memiliki dua kamar sempit, satu kamar mandi, dan balkon yang menghadap deretan atap seng.

“Romantis sekali,” kata Robby. “Terutama kalau suka suara pipa bocor.”

Lia memelototinya. “Jangan bicara soal pipa.”

Robby mengangkat alis, tetapi Sebastian memberinya tatapan yang membuat ia berhenti bertanya.

“Kenapa kita melihat tempat ini?” tanya Lia.

Sebastian menyerahkan lembar informasi sewa. “Untuk pilihan.”

“Pilihan siapa?”

“Kamu bilang ingin berdiri sendiri. Lantai bawah bisa dipakai usaha kecil, lantai atas tempat tinggal.”

Lia berjalan menyusuri ruangan. Cahaya siang masuk dari jendela berdebu. Tempat itu jauh dari indah, tetapi untuk pertama kalinya ia bisa membayangkan rak barang miliknya sendiri, meja kasir, dan pintu yang kuncinya berada di tangannya.

“Sewanya mahal,” katanya setelah melihat angka.

“Masih bisa ditawar,” jawab Robby. “Pemilik sudah enam bulan tidak dapat penyewa.”

“Siapa yang bayar?”

Sebastian menjawab, “Kalau kamu mau sekarang, kita buat perjanjian pinjaman. Kalau belum, kita simpan sebagai contoh dan cari yang sesuai kemampuanmu.”

“Kita?”

“Saya ingin punya tempat yang tidak bergantung pada Rumah Wijaya.”

Lia menatapnya. “Rumah rahasia untuk menyimpan saya?”

“Bukan.”

“Kedengarannya begitu. Anak orang kaya menyewa tempat untuk pacar pembantunya, lalu datang diam-diam.”

Robby berdeham. “Gue cek bagian belakang.”

Ia pergi, memberi mereka ruang.

Sebastian tidak tersinggung. “Kamu benar kalau cara ini membuatmu merasa begitu.”

“Saya tidak mau menjadi perempuan simpanan.”

“Kamu bukan.”

“Kalau sewa dibayar Sebas, nama saya disembunyikan, dan keluarga tidak tahu, apa bedanya di mata orang?”

Sebastian melihat kembali lembar sewa. Rencana yang menurutnya memberi jalan keluar ternyata masih bisa menciptakan jenis kandang baru.

“Kalau tempat ini disewa, kontrak atas namamu atau usaha yang kamu bangun. Pembayaran harus sesuai kemampuanmu, bukan pemberian saya. Saya tidak punya kunci tanpa izin.”

“Dan Sebas tidak tinggal di sini diam-diam.”

“Tidak sebelum kita menikah.”

Lia mengembuskan napas lega.

“Saya mau tempat seperti ini,” katanya. “Tapi bukan sekarang. Saya belum punya usaha, bahkan belum tahu mau jual apa.”

“Kita bisa belajar.”

“Saya yang belajar. Sebas boleh memberi saran.”

“Baik.”

Robby kembali membawa pemilik ruko, seorang perempuan paruh baya bernama Bu Ratna. Lia yang mengajukan pertanyaan, sementara Sebastian sengaja berdiri di belakang.

Ia menanyakan masa sewa minimum, deposit, tagihan listrik, izin penggunaan lantai bawah untuk usaha, serta siapa yang menanggung perbaikan atap dan pipa. Beberapa istilah kontrak belum Lia pahami, tetapi ia mencatatnya alih-alih berpura-pura mengerti.

“Kalau Nona mau jualan daring, lantai bawah boleh jadi gudang kecil,” kata Bu Ratna. “Asal tidak menyimpan bahan berbahaya dan tidak mengganggu tetangga.”

“Kontrak bisa atas nama saya sendiri?”

“Bisa, dengan KTP dan deposit.”

Bu Ratna awalnya lebih sering menjawab kepada Sebastian. Lia mengulangi pertanyaan sampai perempuan itu memandang langsung kepadanya.

Setelah pemilik pergi, Sebastian berkata, “Kamu cepat belajar.”

“Saya bahkan tidak tahu beda biaya layanan dan uang lingkungan.”

“Sekarang tahu karena kamu bertanya.”

Robby menunjukkan foto meteran listrik serta retak di dinding. “Kalau nanti serius, semua kerusakan harus masuk berita serah terima. Jangan cuma percaya kata pemilik.”

Lia menulis itu di bawah catatan. “Robby boleh membantu periksa. Tapi negosiasi tetap saya.”

“Siap, Bos Lia.”

Sebastian tersenyum mendengar panggilan itu. Untuk sesaat, Lia bisa melihat dirinya bukan sebagai pembantu yang dipindahkan ke rumah kecil, melainkan perempuan yang memeriksa properti untuk masa depan usahanya.

“Mungkin pakaian,” kata Lia sambil melihat ruang toko. “Saya suka memperbaiki potongan baju. Gaun ungu itu ternyata tidak sulit.”

“Fenny juga suka jualan daring,” ujar Robby. “Kalian bisa bicara.”

“Saya akan tanya dia. Bukan berarti langsung menyewa.”

“Tidak ada yang memaksa,” kata Sebastian.

Mereka naik ke balkon. Udara membawa bau gorengan dari warung sebelah. Di bawah, seorang ibu menawar sayur sambil anak-anak bermain sepeda.

Lia tersenyum melihat kehidupan biasa itu.

Ia membayangkan bangun pagi tanpa harus menunggu bel rumah majikan, membuka rolling door sendiri, lalu menghitung hasil penjualan pada meja kecil. Bayangan itu belum memiliki merek atau modal, tetapi sudah cukup membuat dadanya penuh.

“Suatu hari saya ingin pulang ke tempat yang namanya benar-benar rumah saya,” katanya.

Sebastian berdiri di sampingnya, tidak menyentuh karena Robby bisa kembali kapan saja.

“Kalau hari itu datang, saya ingin mengetuk pintu, bukan memegang kunci diam-diam.”

Lia menoleh. “Kalau saya izinkan masuk?”

“Baru saya masuk.”

Robby muncul membawa foto pipa bocor dan daftar perbaikan. “Jadi, diambil?”

Lia menggeleng. “Belum. Tapi simpan kontak pemiliknya.”

Ia memandang ruko sekali lagi sebelum turun.

Tempat itu belum menjadi rumah rahasia mereka. Untuk saat ini, ia menjadi gambar pertama dari masa depan yang ingin Lia bangun dengan namanya sendiri.

1
Rian Moontero
mpiiirrr👍😍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!