Rendy Alamsyah tidak pernah membayangkan bahwa hari pertama kuliah akan terasa persis seperti hari pertama taman kanak-kanak dulu - canggung, ramai, dan entah kenapa Cahaya Kusuma Dewi selalu ada di tengah-tengahnya. Dua sahabat yang tumbuh bersama sejak TK itu kini menginjakkan kaki di dunia baru yang sama: kampus. Bagi Cahaya, dunia baru berarti teman-teman baru, popularitas baru, dan kehidupan sosial yang langsung bersinar. Bagi Rendy, dunia baru hanya berarti satu hal - tempat baru untuk memakai hoodie, pasang earphone, dan menghabiskan waktu dengan anime tanpa diganggu. Sayangnya, Cahaya tidak pernah benar-benar membiarkan Rendy sendirian. Tidak dulu, tidak sekarang. Di tengah kekacauan PKKMB, gosip "sepasang kekasih" yang beredar tanpa diminta, dan malam-malam nostalgia yang terasa terlalu nyaman untuk dipertanyakan - Rendy menjalani semua itu dengan satu keyakinan sederhana: ini hanya Cahaya, teman masa kecilnya. Tidak lebih. Yang tidak ia sadari adalah - keyakinan itu sendiri y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayunan yang Sama
Hari pertama liburan, aku bangun jam sepuluh pagi tanpa alarm, dan butuh waktu hampir semenit penuh berbaring di kasur sebelum otakku benar-benar sadar bahwa tidak ada kelas hari ini, tidak ada tugas yang harus dikumpul, tidak ada apa pun yang menuntut aku bangun lebih pagi dari ini.
Rasanya aneh. Bukan aneh yang buruk, cuma aneh, seperti otot yang biasa tegang selama dua minggu ujian tiba-tiba diberi izin untuk kendur, dan butuh waktu buat menyesuaikan diri dengan kekenduran itu.
Aku turun ke bawah, sarapan roti yang sudah agak dingin karena ibuku sudah berangkat kerja sejak pagi, dan menghabiskan setengah jam berikutnya cuma duduk di ruang tamu sambil scroll ponsel tanpa tujuan jelas, membaca ulang notifikasi grup PKKMB yang isinya sekarang lebih banyak meme daripada informasi penting.
Ponselku bergetar jam sebelas kurang lima belas.
"Ren, kamu udah bangun?"
"Udah dari jam sepuluh."
"WOW. Rekor baru buat liburan pertama."
"Aku enggak selalu bangun siang."
"Kamu bangun siang tiap ada kesempatan, Ren. Jangan bohong."
Aku tidak membalas itu karena, jujur, aku tidak punya bantahan yang kuat.
"Anyway," lanjutnya, "kamu inget enggak janji aku semalem? Yang aku bilang pengen kita ngapa-ngapain berdua kayak dulu?"
"Inget."
"Aku udah mikirin. Kita jalan-jalan yuk hari ini. Bukan ke mall atau apa. Ke tempat-tempat lama."
"Tempat lama yang mana?"
"Nanti juga tau. Siap-siap aja, aku jemput jam satu."
Aku menatap layar ponsel sebentar, mencoba menebak ke mana arah rencana ini, tapi seperti biasa, Cahaya tidak pernah memberi terlalu banyak detail di awal, lebih suka membiarkan segalanya jadi kejutan kecil yang baru terungkap begitu sudah terjadi.
Jam satu tepat, dia sudah berdiri di depan pagar rumahku, memakai kaos oversized warna kuning yang aku ingat pernah dia beli waktu study tour SMA kelas sebelas, sandal jepit, dan tas kecil selempang yang biasanya cuma dia pakai kalau bepergian jarak dekat.
"Kita jalan kaki atau naik motor?" tanyaku.
"Jalan kaki. Enggak jauh kok."
Kami mulai jalan, bukan ke arah kampus seperti rute yang sudah jadi kebiasaan tiga bulan terakhir, tapi ke arah berlawanan, menyusuri gang-gang yang lebih sempit, melewati rumah-rumah yang catnya sudah pudar dimakan waktu, sampai akhirnya aku sadar ke mana kami menuju bahkan sebelum dia bilang.
"Kita ke TK Melati Kecil?"
Cahaya menoleh, sedikit kaget aku sudah menebak. "Kamu inget jalannya?"
"Kaki aku yang inget, bukan aku."
Dia tertawa, dan kami melanjutkan jalan, melewati tikungan yang dulu selalu jadi titik di mana kami berdua, waktu masih kecil, mulai lari-lari kecil karena sudah tidak sabar sampai di sekolah, atau sebaliknya, sudah tidak sabar pulang.
TK Melati Kecil sekarang terlihat lebih kecil dari yang aku ingat.
Ini fenomena yang aneh tapi umum terjadi, katanya, tempat-tempat yang kita kunjungi waktu kecil selalu terasa mengecil begitu kita kembali sebagai orang yang sudah lebih besar, dan berdiri di depan gerbang TK yang catnya sekarang warna hijau muda, padahal aku ingat dulu warnanya biru, aku benar-benar merasakan fenomena itu secara langsung.
Gerbangnya terkunci, karena memang bukan jam sekolah, tapi pagarnya cukup rendah untuk kami bisa melihat ke dalam, ke halaman bermain yang masih punya perosotan yang sama, meski warnanya sudah pudar jadi abu-abu kusam dari yang dulu merah cerah.
"Ayunan itu masih ada," kata Cahaya, menunjuk ke sudut halaman.
Aku mengikuti arah tunjukannya. Dua ayunan besi berkarat, rantainya berbunyi kalau angin cukup kencang, berdiri di bawah pohon yang jauh lebih besar sekarang dibanding yang aku ingat dari foto-foto lama.
"Kamu inget kenapa aku dulu takut ayunan?" tanyanya.
"Karena kamu pernah jatuh."
"Bukan cuma jatuh, Ren. Aku kepental sampe nabrak pager." Dia menunjuk ke pagar besi di sisi kiri halaman. "Itu pager. Sampe sekarang aku masih inget suaranya. DANG."
"Kamu nangis tiga puluh menit."
"Kamu ngitung?"
"Bu Reni yang ngitung. Dia bilang ke mamamu itu rekor tangisan terlama sepanjang tahun ajaran."
Cahaya tertawa, suaranya cukup keras sampai menggema sedikit di gang sepi itu. "Aku lupa detail itu. Tapi aku inget kamu yang gendong aku ke UKS."
"Aku enggak gendong. Aku cuma bantu jalan."
"Kamu bilang ke Bu Reni kamu yang gendong."
"Itu karena aku pengen keliatan keren di depan Bu Reni."
"BOHONG BANGET." Dia memukul lenganku pelan, tertawa lebih keras lagi. "Umur lima tahun udah mikirin keliatan keren."
Aku tidak membantah itu, karena sejujurnya aku juga tidak sepenuhnya ingat detail motivasiku waktu umur lima tahun, cuma ingat versi cerita yang sudah diceritakan berulang kali oleh orang tua kami di berbagai acara keluarga, sampai aku sendiri tidak yakin lagi mana yang benar-benar ingatan asli dan mana yang cuma hasil dengar cerita berkali-kali.
Kami duduk di trotoar seberang TK, punggung bersandar ke pagar rumah orang yang untungnya tidak keberatan (atau mungkin tidak ada orangnya di rumah), menatap ke dalam halaman TK yang kosong.
"Kamu inget enggak," kata Cahaya, "hari pertama kita ketemu?"
"Inget. Sebagian."
"Sebagian gimana maksudnya?"
Aku mencoba mengurai ingatan itu, yang sebenarnya sudah bercampur antara ingatan asli dan cerita yang diulang-ulang oleh mama. "Aku inget kamu nangis karena enggak mau ditinggal mamamu. Terus aku... aku enggak yakin ini beneran ingatanku atau cerita mama, tapi katanya aku ngasih kamu permen."
"Iya, itu bener. Permen kopiko."
"Kamu masih inget rasanya spesifik?"
"Itu momen penting, Ren. Tentu aku inget detailnya." Dia menatap ke arah gerbang TK lagi. "Kamu nyodorin permen itu tanpa ngomong apa-apa. Cuma diem, ngasih, terus duduk di sebelahku. Enggak coba nenangin dengan kata-kata kayak orang dewasa biasanya, cuma... duduk aja."
"Aku enggak tau harus ngomong apa. Umur empat tahun aku enggak punya banyak kosakata buat nenangin orang."
"Tapi itu justru yang bikin aku berhenti nangis. Karena kamu enggak maksa aku ngomong atau berhenti nangis. Kamu cuma ada di situ."
Aku tidak tahu harus merespons apa untuk itu, karena aku sendiri tidak pernah benar-benar memikirkan momen itu dari sudut pandang seperti yang baru saja dia jelaskan. Bagiku, selama ini, cerita itu cuma anekdot lucu yang diulang di kumpul keluarga, bukan sesuatu yang punya bobot emosional tertentu.
"Kamu masih simpen bungkus permennya?" candaku, mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba terasa sedikit lebih berat dari yang aku antisipasi.
"Enggak segitunya juga, Ren." Dia menyikut lenganku, tapi tersenyum. "Tapi aku inget rasanya. Kopiko coklat."
"Itu rasa yang paling murah di antara semua rasa kopiko."
"Tetep aja jadi permen paling berkesan sepanjang hidupku."
Aku tertawa, dan dia ikut tertawa, dan untuk sesaat suasana kembali ringan seperti sebelumnya, meski ada sesuatu di dadaku yang masih terasa hangat dari cara dia menjelaskan momen itu tadi, sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa aku uraikan jadi kata-kata.
Dari TK, kami jalan lagi ke arah SD Nusantara 03, sekolah dasar kami dulu, yang jaraknya cuma sepuluh menit jalan kaki dari TK Melati Kecil, karena memang zona sekolah dulu memang berdekatan sengaja supaya orang tua tidak perlu bolak-balik jauh.
SD-nya masih beroperasi, dan karena ini hari libur nasional bertepatan dengan liburan semester kami, sekolahnya sepi, cuma ada penjaga sekolah yang duduk di pos kecil dekat gerbang, memainkan ponsel.
"Pak Slamet masih kerja di sini?" tanya Cahaya, ke penjaga itu.
Bapak itu mendongak, mengamati kami sebentar sebelum wajahnya berubah jadi mengenali. "Loh, ini si Cahaya sama Rendy kan? Yang dulu sering berantem soal siapa yang piket duluan?"
"KITA ENGGAK PERNAH BERANTEM SOAL PIKET," protes Cahaya, meski aku ingat itu memang pernah terjadi, sekitar kelas tiga SD, perdebatan panjang soal jadwal piket yang berakhir dengan kami berdua dihukum berdiri di depan kelas karena ributnya kelewatan.
"Berantem terus soal itu tiap minggu," lanjut Pak Slamet, tertawa, mengingat sesuatu yang jelas lebih detail dari yang aku ingat. "Sampe wali kelas kalian nyerah, bikin jadwal piket khusus biar kalian enggak sekelompok."
"Itu enggak pernah kejadian," bantah Cahaya, meski nadanya sudah mulai ragu.
"Kejadian kok, Cahaya," kataku, mengingat detail itu perlahan kembali. "Bu Wati yang bikin jadwal. Kita dipisah karena piket kamu selalu telat."
"BUKAN TELAT. Aku cuma... prioritasin hal lain dulu."
"Kamu main sama anak kelas sebelah dulu baru piket."
"Itu namanya multitasking."
Pak Slamet tertawa lagi, jelas menikmati perdebatan kecil yang muncul di depannya seperti déjà vu dari belasan tahun lalu. "Kalian masih sama aja ternyata. Enggak berubah."
Kalimat itu, sesederhana apa pun kedengarannya, entah kenapa menempel sedikit di kepalaku setelah kami pamit dan lanjut jalan ke arah lapangan sekolah yang boleh kami masuki karena Pak Slamet bilang tidak masalah selama tidak macam-macam.
Lapangan SD itu masih punya pohon beringin besar di sudutnya, tempat yang dulu jadi lokasi favorit kami waktu istirahat, karena naungannya paling luas dan tanahnya paling sejuk dibanding sudut lapangan lain.
"Kamu inget kita pernah gali lubang di sini?" tanya Cahaya, berjalan ke arah akar besar pohon itu.
"Buat apa?"
"Buat kubur time capsule. Kamu beneran lupa?"
Aku mencoba mengingat, dan perlahan potongan memori itu kembali. Kelas lima SD, ide itu muncul dari salah satu buku cerita yang kami baca bareng, tentang anak-anak yang mengubur barang-barang mereka untuk dibuka sepuluh tahun kemudian.
"Kita kubur apa waktu itu?" tanyaku.
"Aku kubur foto kita berdua, yang diambil pas acara 17 Agustusan. Kamu kubur..." Dia berhenti, mencoba mengingat. "Kamu kubur apa ya? Aku lupa."
"Aku kubur kartu Pokemon langka. Charizard holographic."
"OH IYA. Kamu ngeluh berminggu-minggu abis itu karena nyesel ngubur kartu paling mahal di koleksimu."
"Aku enggak nyesel. Aku cuma... mikir ulang keputusan itu."
"Itu namanya nyesel, Ren."
Aku tidak membantah, karena memang benar aku sempat menyesal, tapi pada saat itu sudah terlambat karena kami sudah menutup lubangnya dengan tanah dan janji untuk tidak menggalinya lagi sampai waktu yang disepakati.
"Kita janji buka lagi kapan?" tanyaku.
Cahaya diam sebentar, menghitung dalam kepala. "Sepuluh tahun dari waktu itu. Berarti... tahun depan? Atau tahun ini? Aku lupa persis tanggalnya."
"Kita harus cari tau."
"Buat apa?"
"Buat gali lagi. Kalau memang udah waktunya."
Cahaya menatapku, ekspresinya berubah jadi sesuatu yang lebih serius dari obrolan santai sebelumnya. "Kamu beneran mau gali?"
"Kenapa enggak?"
"Karena... enggak tau. Rasanya kalau digali sekarang, jadi kayak ngerusak sesuatu yang harusnya nunggu waktu yang tepat."
Aku memikirkan itu sebentar, dan meski aku tidak sepenuhnya paham apa yang dia maksud, ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatku memutuskan untuk tidak mendesak lebih jauh soal kapan persisnya kami akan menggali kembali time capsule itu.
"Ya udah," kataku. "Kita cari tau dulu tanggalnya. Baru mikir kapan galinya."
Cahaya mengangguk, tapi matanya masih menatap ke arah akar pohon itu lebih lama dari yang perlu, seolah sedang membayangkan sesuatu yang tidak dia bagikan denganku.
Kami duduk di lapangan itu cukup lama, mengobrol soal guru-guru lama, teman sekelas yang sekarang entah di mana, dan berbagai insiden kecil masa SD yang satu per satu muncul kembali begitu dipancing oleh lokasi dan suasana yang sama.
"Kamu inget Pak Yanto?" tanya Cahaya, tiba-tiba.
"Guru olahraga yang suka niup peluit kekencengan?"
"Itu dia. Kamu inget kejadian lomba lari kelas enam?"
Aku mengingat, dan tawa langsung pecah dari mulutku sebelum aku sempat menjawab. "Aku kalah gara-gara sepatu aku copot."
"BUKAN COPOT, REN. Kamu lari sambil megangin sepatu di tangan karena kamu terlalu panik buat berhenti dan makein ulang."
"Itu strategi."
"Itu bukan strategi. Itu kepanikan yang disamarkan jadi strategi."
"Aku tetep dapet juara tiga."
"Karena setengah dari kelas kita jatuh di tikungan. Kamu bukan menang karena cepet, kamu menang karena yang lain lebih parah."
Aku tidak bisa membantah itu, dan kami berdua tertawa cukup lama, sampai seorang anak SD yang kebetulan lewat, mungkin sedang latihan ekskul sore, menatap kami dengan ekspresi bingung, jelas mempertanyakan kenapa ada dua orang dewasa duduk di lapangan sekolahnya sambil tertawa keras tanpa alasan jelas yang bisa dia lihat.
Setelah tawa mereda, ada jeda diam yang cukup panjang, bukan diam canggung, tapi diam yang biasa terjadi setelah tertawa lama, ketika keduanya butuh waktu untuk kembali ke ritme normal.
"Ren," kata Cahaya, memecah keheningan itu.
"Hm?"
"Menurut kamu, kenapa kita masih deket sampe sekarang? Padahal banyak temen SD kita yang udah enggak kontak lagi."
Aku memikirkan pertanyaan itu, karena terasa lebih serius dari nada obrolan kami sepanjang sore. "Enggak tau. Mungkin karena rumah kita deket."
"Itu doang?"
"Sama karena... kamu enggak pernah bener-bener ninggalin aku, kayaknya. Meskipun banyak kesempatan buat itu."
Cahaya menatapku, ekspresinya sulit dibaca, campuran antara ingin bilang sesuatu dan menahan diri. "Kesempatan apa maksudnya?"
"Kamu kan orangnya gampang deket sama siapa aja. Dari dulu. Harusnya kamu bisa punya circle pertemanan yang lebih... enggak tau, lebih sesuai sama kamu. Bukan malah tetep sama aku yang cuma bisa diajak ngomongin anime."
Dia diam sebentar, menatap ke arah lapangan yang mulai diisi bayangan panjang dari pohon beringin karena matahari mulai condong ke barat.
"Kamu enggak pernah cuma bisa diajak ngomongin anime, Ren," katanya akhirnya, pelan. "Dan aku enggak pernah ninggalin kamu karena aku enggak pernah nganggep itu sesuatu yang perlu dipertimbangkan. Kamu bukan... kamu bukan pilihan yang aku bikin tiap hari. Kamu udah kayak bagian dari gimana hari-hariku jalan."
Aku tidak tahu harus menjawab apa untuk kalimat itu, karena terasa lebih dalam dari yang biasa kami bicarakan, dan aku merasa kalau aku salah merespons, momen ini bisa jadi canggung dengan cara yang tidak perlu.
"Itu... aku juga ngerasa gitu," jawabku akhirnya, sesederhana yang aku bisa, karena memang itu yang paling jujur bisa aku ucapkan saat itu.
Cahaya tersenyum, senyum kecil yang tenang, dan dia tidak melanjutkan topik itu lebih jauh, malah berdiri dan mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri juga, meski aku sebenarnya tidak butuh bantuan itu.
"Udah sore," katanya. "Kita ke satu tempat lagi, terus pulang."
Tempat terakhir yang dia maksud ternyata warung kecil dekat SD, milik seorang ibu yang dulu sering kami panggil Bu Tini, tempat kami biasa jajan sepulang sekolah karena harganya paling murah di antara warung-warung lain di sekitar situ.
Warungnya masih ada, meski sekarang sudah dijalankan oleh anaknya, seorang perempuan usia sekitar tiga puluhan yang aku tidak kenali, karena Bu Tini sendiri, katanya, sudah pindah ke rumah anaknya yang lain di luar kota sejak dua tahun lalu.
"Masih jual es potong?" tanya Cahaya, ke penjaga warung yang baru itu.
"Masih. Rasa apa?"
"Dua. Satu coklat, satu kacang hijau."
Kami duduk di bangku kayu kecil di depan warung, memakan es potong yang rasanya persis seperti yang aku ingat dari masa SD, manis sederhana tanpa embel-embel apa pun, dan entah kenapa rasa itu langsung membawa kembali sensasi sore-sore sepulang sekolah yang sudah lama tidak aku rasakan.
"Ini enak banget ternyata," kataku, agak kaget rasanya masih sama seperti dulu.
"Kan aku bilang." Cahaya menggigit es potongnya, matanya menyipit menikmati rasa manis dingin itu. "Dulu kita abisin duit jajan buat ini tiap hari."
"Sampe kita ketauan sama orang tua kita karena uang jajan cepet abis."
"Terus dihukum enggak boleh jajan es potong seminggu."
"Kamu diem-diem tetep beli, terus makan sembunyi-sembunyi di belakang rumah aku."
"Kamu ikut makan juga kok, jangan sok innocent."
Aku tertawa, tidak membantah itu, karena memang benar aku juga ikut dalam skema pelanggaran hukuman itu waktu kecil, meski sekarang terdengar konyol mengingat betapa seriusnya kami menganggap masalah "dilarang beli es potong" waktu itu.
Sore mulai turun, langit berubah warna oranye lembut, dan kami duduk di bangku kayu itu cukup lama, menghabiskan es potong sambil sesekali mengobrol, sesekali diam, dalam suasana yang terasa jauh lebih tenang dari hiruk pikuk kampus yang sudah jadi rutinitas kami selama tiga bulan terakhir.
"Hari ini seru," kataku, di sela diam.
"Iya kan?" Cahaya tersenyum, menatap ke arah jalanan yang mulai ramai orang pulang kerja. "Aku emang pengen kita balik ke tempat-tempat ini. Kadang aku kangen, tapi enggak tau caranya bilang tanpa keliatan aneh."
"Kenapa aneh?"
"Karena... enggak tau, kayak kedengeran terlalu sentimental buat sekadar ngajak jalan-jalan."
"Enggak aneh kok."
Dia menoleh ke arahku, menatap cukup lama, dan aku menatap balik, tidak sepenuhnya yakin apa yang sedang terjadi di momen itu, tapi merasakan sesuatu yang berbeda dari suasana canda biasa kami.
"Ren," katanya, pelan.
"Hm?"
Dia membuka mulut, seperti mau mengatakan sesuatu, tapi kemudian tersenyum kecil dan menggeleng. "Enggak jadi. Makasih ya udah nemenin hari ini."
"Sama-sama."
Kami menghabiskan sisa es potong dalam diam yang nyaman, dan setelah itu berjalan pulang, melewati rute yang sama seperti tadi siang tapi dengan langit yang sekarang jauh lebih gelap, lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Sampai di persimpangan gang, tempat kami biasa berpisah, Cahaya berhenti seperti biasa.
"Makasih beneran, Ren," katanya. "Ini persis kayak yang aku pengen."
"Kapan-kapan kita gali time capsule-nya?"
"Nanti. Kalo udah waktunya." Dia tersenyum, tapi ada sesuatu di senyumnya yang terasa sedikit berbeda dari senyum biasa, lebih dalam, meski aku tidak bisa menjelaskan persis apa bedanya. "Malem ini chat kayak biasa ya."
"Kayak biasa."
Dia berjalan menjauh ke arah rumahnya, dan aku berdiri sebentar di persimpangan itu, menatap punggungnya yang menghilang di balik tikungan, sebelum akhirnya berjalan ke arah rumahku sendiri.
Malam itu, di kamar, aku berbaring menatap langit-langit, memikirkan kembali hari yang baru saja berlalu, TK Melati Kecil dengan ayunan berkaratnya, SD Nusantara 03 dengan Pak Slamet dan pohon beringin, warung Bu Tini dengan es potongnya yang rasanya masih sama.
Ada sesuatu dalam hari ini yang terasa berbeda dari sekadar nostalgia biasa. Bukan cuma soal mengunjungi tempat-tempat lama, tapi soal cara Cahaya menjelaskan berbagai momen itu, dengan detail yang jauh lebih dalam dari yang aku ingat, seolah dia menyimpan versi kenangan yang sama tapi dengan lapisan makna yang tidak pernah dia bagikan sepenuhnya.
Permen kopiko yang jadi "momen penting". Time capsule yang dia enggan gali karena takut "ngerusak sesuatu yang harusnya nunggu waktu yang tepat". Kalimat yang dia mulai lalu berhenti di depan warung Bu Tini, "Ren," lalu senyum kecil dan gelengan kepala.
Aku tidak tahu apa yang ada di balik semua itu. Tapi untuk pertama kalinya, aku benar-benar mengakui pada diri sendiri bahwa mungkin ada sesuatu, sesuatu yang belum sepenuhnya aku pahami, tersimpan di balik kebiasaan-kebiasaan kecil kami yang selama ini aku anggap biasa saja.
Ponselku bergetar. Pesan dari Cahaya, seperti janjinya tadi.
"Ren, makasih lagi ya buat hari ini."
"Kamu udah bilang itu tadi."
"Aku pengen bilang lagi."
Aku menatap layar itu cukup lama sebelum membalas.
"Sama-sama. Aku juga seneng."
"Beneran?"
"Beneran."
Tidak ada balasan lain setelah itu selain satu stiker, karakter kucing yang tersenyum tenang, dan aku menyimpan ponsel, menatap langit-langit lagi, dengan perasaan yang sulit dijelaskan tapi cukup nyaman untuk membuatku akhirnya tertidur lebih cepat dari malam-malam sebelumnya.