Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Bab 31: Penyatuan Jiwa di Bawah Rembulan, Gejolak Semifinal, dan Topeng yang Terbelah
Malam terakhir sebelum pertempuran semifinal menyelimuti kota perbatasan Aethelgard dengan udara dingin yang menusuk tulang. Di dalam gubuk kayu rahasia milik Hephaestus, hening yang pekat perlahan merayap. Cahaya temaram dari lentera minyak tanah memantul lembut pada pilar-pilar kayu tua, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menari pelan di atas dinding.
Hephaestus mengikat sabuk kulitnya dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat. Sang Dewa Pengrajin menyapu pandangannya ke arah Ren dan Nona Kitsune yang berdiri bersebelahan di dekat meja tempaan. Senyuman jahil dan penuh arti terukir lebar di balik janggut tuanya yang lebat.
"Yah, malam ini sepertinya udara di luar sangat cocok untuk meneguk anggur gandum ganda," ujar Hephaestus seraya menepuk bahu raksasanya sendiri. "Para pengrajin besi dari distrik selatan mengajakku menghadiri pesta minum-minum tahunan mereka. Aku tidak mungkin menolak undangan berharga seperti itu, bukan?"
Kitsune memiringkan kepalanya, sepasang telinga peraknya bergetar pelan. "Pesta minum-minum? Di saat besok Ren harus menjalani babak semifinal?"
Hephaestus terkekeh keras, melangkah menuju pintu gubuk sebelum berbalik dan mengedipkan sebelah matanya yang tua.
"Justru karena besok Ren harus bertarung mati-matian, dia membutuhkan 'persiapan jiwa' yang utuh malam ini," goda Hephaestus dengan nada suara yang sengaja dipanjangkan. Tangan kekarnya menunjuk ke arah Ren, lalu beralih ke Kitsune.
"Ingat pesanku, Nak. Jangan terlalu keras memperlakukan Kitsune malam ini, Ren. Dan kau, Kitsune... jangan terlalu berlebihan memanjakannya. Ingat, besok dia harus mengayunkan pedangnya di atas pasir arena!"
BOOM!
Mendengar sindiran yang teramat sangat telanjang dan tak terduga itu, darah seketika berdesir hebat ke wajah Ren! Seluruh mukanya hingga ke ujung telinga berubah warna menjadi merah padam bagaikan kepiting rebus!
"H-Hephaestus! Bicara apa kau tua bangkai?! Cepat pergi sana!" bentak Ren dengan suara yang meninggi, mencoba menutupi rasa canggung luar biasa yang meledak di dadanya.
Hephaestus tertawa terbahak-bahak, tawanya memecah keheningan malam saat ia melangkah keluar gubuk dan menutup pintu kayu rapat-rapat. "BHAHAHAHA! Selamat menikmati malam kalian, Anak Muda!"
CREAK... SLAM!
Suara pintu yang tertutup menandai kepergian sang Dewa Pengrajin. Seketika itu juga, keheningan yang teramat sangat pekat dan canggung merayap masuk, menyelimuti seluruh ruangan bawah tanah. Suara detak jarum jam dinding tua terdengar begitu keras bersahutan dengan degup jantung Ren yang berpacu kencang.
Ren berdiri membeku di tempatnya, menatap lurus ke arah lantai batu tanpa berani memalingkan wajahnya ke arah Kitsune.
Namun, langkah kaki bertelanjang yang sangat halus terdengar mendekat. Nona Kitsune melangkah pelan, mengikis jarak di antara mereka. Jemari lentiknya yang selembut sutra terulur, meraih pergelangan tangan Ren dengan lembut namun penuh ketegasan.
Tanpa menguapkan sepatah kata pun, Kitsune menarik tubuh tegap Ren, membimbingnya melangkah menyusuri lorong menuju kamar tidur bawah tanah.
Di dalam kamar yang hanya diterangi oleh pendar redup kristal sihir perak, wajah Ren masih memerah padam. Ia berdiri kaku di samping ranjang kayu, bingung harus berbuat apa.
Kitsune membelakangi Ren sejenak. Dengan gerakan yang penuh rasa malu dan keraguan yang teramat sangat manis, tangan halus sang keturunan Dewi Rubah menyentuh tali ikatan kimono ungunya. Tali kain itu terlepas pelan, membiarkan kimono sutra itu meluncur turun melintasi bahunya yang mulus, menyingkap keindahan kurva tubuhnya yang begitu sempurna tanpa celah.
Kitsune memutarkan tubuhnya kembali menghadap Ren. Pipi cantiknya merona merah keemasan, matanya memancarkan pendar ketulusan dan kerentanan jiwa yang belum pernah ia perlihatkan pada siapa pun di dunia ini.
"Ren..." bisik Kitsune dengan suara merdu yang bergetar halus, sepasang telinga peraknya terkulai malu-malu di atas kepalanya. "...apakah menurutmu... aku cantik?"
Ren menatap sosok wanita di hadapannya. Rasa canggung dan malu di dalam dirinya seketika lebur, tergantikan oleh gelombang rasa kagum dan kehangatan yang teramat dalam. Tatapan mata kelabu Ren menyatu dengan mata emas kemerahan Kitsune.
"Kau..." jawab Ren dengan suara pelan namun sarat akan kejujuran murni dari dasar jiwanya, "...kau adalah salah satu eksistensi terindah yang pernah kutemui di alam semesta ini, Kitsune."
Mendengar jawaban jujur itu, senyuman paling manis terukir di bibir merah ranum Kitsune.
Ren melangkah maju satu tapak. Tangannya terulur mengusap pipi mulus Kitsune yang hangat, menyatukan jemarinya di tengkuk leher sang wanita, lalu memiringkan kepalanya dan mencium bibir Kitsune dengan teramat sangat lembut.
HUG.
Sentuhan dua pasang bibir itu seketika memicu getaran kehangatan kosmik di dalam kamar! Kitsune memejamkan matanya, membalas ciuman Ren dengan ketulusan jiwa yang telah menanti selama ribuan tahun. Ketujuh ekor perak Kitsune mekar raksasa, meliuk indah di udara sebelum akhirnya memeluk dan melingkupi tubuh mereka berdua rapat-rapat dalam kepompong bulu perak yang hangat.
Ciuman itu berlangsung begitu lama, dalam, dan dipenuhi oleh pasrahnya dua jiwa yang saling menemukan.
Ren melepaskan jubah dan baju penutup dadanya, membiarkan fisiknya yang tegap bersentuhan langsung dengan kehangatan kulit Kitsune. Dengan gerakan yang teramat sangat lembut dan protektif, Ren menuntun tubuh molek Kitsune untuk berbaring di atas ranjang kayu bermiras kapuk yang empuk.
Di atas ranjang, Ren kembali mendaratkan ciuman hangat di bibir dan leher Kitsune. Tatapan Ren terkunci pada raut wajah Kitsune yang memancar kebahagiaan murni di bawah siraman pendar perak.
Ren menggenggam erat jemari tangan Kitsune, menyatukan sela-sela jari mereka.
"Kitsune..." janji Ren dengan nada suara yang teramat sangat dalam, tegas, dan tak tergoyahkan. "...aku berjanji padamu demi jiwa dan kehormatanku... Aku akan melindungi dirimu. Aku akan menjadi pendampingmu yang sah... Dan mulai malam ini, sampai kapan pun... kau tidak akan pernah sendirian lagi di dunia yang dingin ini."
Air mata kebahagiaan menetes dari sudut mata Kitsune mendengar sumpah suci tersebut.
"Ren..." bisik Kitsune seraya melingkarkan kedua tangannya di leher Ren, menarik tubuh pria itu masuk ke dalam pelukannya. "Milikilah aku sepenuhnya..."
Kitsune mencium bibir Ren kembali dengan gairah dan cinta yang meluap-luap. Bulu-bulu lembut ketujuh ekor peraknya memeluk tubuh mereka berdua dengan teramat sangat erat, menyegel kamar dari segala gangguan luar.
Ren dan Kitsune menyatukan tubuh dan jiwa mereka dalam ikatan suci yang abadi. Penyatuan dua darah purba—Hati Iblis dan Keturunan Dewi Rubah—meledakkan gelombang energi kehangatan yang menyelaraskan aliran sihir di dalam tubuh mereka sepanjang malam.
Malam bergulir tanpa terasa, dipenuhi oleh alunan napas kehangatan dan bisikan cinta yang jujur.
Hingga akhirnya, sinar keemasan matahari pagi menerobos masuk dari celah kisi-kisi jendela kamar.
Suasana kamar terasa begitu tenang, sejuk, dan damai. Di atas ranjang kayu, Nona Kitsune duduk bersandar pada kepala ranjang. Tubuh indahnya terselimuti kain wol tebal hingga ke dada. Wajah cantiknya memancarkan Pendar kebahagiaan yang sempurna, dan jemari lentiknya tanpa henti mengusap lembut rambut kelabu Ren.
Ren tertidur lelap dengan teramat sangat damai, kepalanya bersandar nyaman di atas paha empuk dan mulus milik Kitsune. Telinga rubah perak di atas kepala Ren bergetar pelan setiap kali jemari Kitsune mengusapnya.
Momen kedamaian yang teramat indah itu mendadak terpecah saat—
CREAK... BANG!
Pintu kamar mendadak terdorong terbuka lebar tanpa ketukan sedikit pun!
"OOI! ANAK MUDA! MATAHARI SUDAH TINGGI! WAKTU PERTANDINGAN SEMIFINAL SUDAH DEKAT—OBAAAAH!"
Hephaestus yang baru kembali dari pesta minum-minum melangkah masuk dengan senyuman lebar seraya mengangkat botol anggurnya. Namun, langkah kakinya seketika terhenti kaku saat matanya menyapu pemandangan di dalam kamar!
Ia melihat Ren tertidur lelap di atas paha empuk Kitsune, dan Kitsune yang hanya terbungkus selimut wol tipis! Keadaan mereka berdua terbilang telanjang bulat di balik selimut tersebut!
Hephaestus membelalakkan matanya yang tua, mulutnya menganga lebar!
"O-OOH... DEMI TAKHTA ZEUS! KALIAN BERDUA BENAR-BENAR MELAKUKANNYA SEMALAMAN?!" teriak Hephaestus tanpa menyaring kata-katanya!
FLASH!
Seketika itu juga, raut wajah Kitsune yang semula lembut dan bahagia berubah menjadi sangat dingin dan penuh amarah yang menyala-nyala!
"TUA BANGKAI PENGACAU KETIGA KALINYA!" jerit Kitsune berang.
SWOOSH!
Salah satu ekor perak raksasa Kitsune mekar menggelegar dan mengibas cepat bagaikan pukulan gada kosmik!
BAMMMMMMM!
"GWAHKAHAHAHA!"
Hephaestus meledak terlempar keluar dari kamar untuk kedua kalinya, melayang membentur dinding batu luar gubuk hingga batu-batu dinding melesak runtuh!
Setelah insiden keributan pagi yang menggelikan itu mereda, Ren terbangun dan merapikan pakaiannya. Mereka bertiga duduk bersama di meja makan, menikmati sarapan sup daging hangat yang disiapkan oleh Kitsune.
Seusai sarapan, Ren mengikat pedang Pandora’s Eclipse di pinggangnya, memasang kain pembungkus jubah hitamnya, dan meletakkan Topeng Bertanduk Iblis di wajahnya.
"Aku berangkat sekarang," pamit Ren seraya menatap Kitsune dan Hephaestus di ambang pintu gubuk.
Kitsune melangkah mendekat, merapikan kerah jubah Ren, lalu mencium pipi topeng Ren dengan lembut. "Bertarunglah dengan seluruh jiwamu, Ren. Aku akan selalu bersamamu."
Ren mengangguk tegas, lalu berbalik dan melangkah melintasi jalan setapak menuju Koloseum Aethelgard.
Namun, yang tidak diketahui oleh Ren adalah... begitu sosoknya menghilang di balik belokan jalan, Nona Kitsune menyunggingkan senyuman penuh keagungan penguasa sejati.
"Kael," panggil Kitsune pelan.
SWOOSH!
Empat prajurit bayangan berzirah hitam tingkat tinggi seketika berlutut di belakang Kitsune.
"Siapkan kereta kebesaran Istana Es," perintah Kitsune dengan suara dingin yang dipenuhi wibawa Ranah Mythic. "Aku akan menonton pertandingan semifinal suami sahku secara langsung di tribun utama Koloseum."
Satu jam kemudian, Koloseum Aethelgard meledak dalam riuh gemuruh puluhan ribu penonton! Tribun raksasa terisi penuh oleh berbagai suku Beastkin, penyihir benua, bangsawan, hingga para penaruh kelas atas. Udara di sekitar arena bergetar oleh tegangan tinggi mengantisipasi pertempuran empat besar!
Mendadak, terompet emas kerajaan bergema nyaring dari arah pintu masuk kehormatan!
TOOOOOT—!
Seluruh penonton mendongak terkejut saat melihat iring-iringan pengawal bayangan berzirah perak melangkah masuk, memandu sebuah kereta kencana mengapung yang ditarik oleh empat ekor Serigala Kristal.
Dari dalam kereta kencana tersebut, melangkah keluar sesosok wanita dengan keindahan paras dan keagungan yang teramat sangat absolut—Nona Kitsune! Tujuh ekor peraknya mengembang anggun, dan aura Ranah Mythic Tingkat ke-13 memancar halus dari tubuhnya, membuat seluruh penonton di tribun seketika membungkuk hormat penuh ketakutan dan rasa kagum!
"Itu... Nona Kitsune dari Gunung Seribu Kabut!"
"Penguasa tertinggi Ras Kitsune datang ke Koloseum kita?!"
"Luar biasa! Siapa yang sangka eksistensi Mythic akan sudi menonton pertarungan ini?!"
Panitia tertinggi Koloseum berlari-lari kecil dengan peluh dingin membasahi dahi, membungkuk dalam-dalam dan langsung memberikan Tempat Duduk Istimewa (VIP Royal Box) yang paling mewah di bagian paling atas arena untuk Kitsune!
Di sebelah Kitsune, melangkah masuk seorang kakek tua berjanggut lebat yang memegang botol anggur—Hephaestus. Penonton dan para bangsawan yang mengenali Hephaestus langsung menyapa dengan rasa hormat yang tak kalah besar, sebab semua orang di benua itu tahu bahwa kakek tua itu adalah Sang Dewa Pengrajin Terhebat yang menempa senjata-senjata tingkat mitos.
Kitsune duduk di atas kursi kebesarannya, menyandarkan dagunya pada jemari lentiknya, memandangi pintu lorong pertarungan dengan binar mata kehangatan.
Di dalam lorong persiapan petarung, suasana terasa sangat mencekam.
Ren melangkah keluar dari kegelapan lorong, berdiri di pasir arena. Namun, begitu langkah kaki Ren terhenti, tiga kontestan lain yang berada di dalam arena seketika terbelalak kaget!
Bukan hanya para kontestan, panitia dan penonton di tribun pun berseru gempar!
"Tunggu! Lihat aura Darkness!"
"B-Bagaimana mungkin?! Beberapa hari lalu dia hanya berada di Level 17 murni!"
"Pendar energi itu... Tekanan sihir yang memancar dari tubuhnya... Dia telah melompati batas mortal dan menembus ke Ranah High Mage?!"
"Evolusi macam apa ini?! Hanya dalam waktu satu minggu dia berkembang se-fantastis ini?!"
Lawan Ren di babak semifinal ini melangkah maju ke tengah pasir arena.
Ia adalah seorang petarung veteran dari Ras Ksatria Iblis Tanduk Merah bernama Vorgath. Tubuhnya setinggi tiga meter, berzirah baja hitam tebal, dan memegang sepasang kapak raksasa yang dialiri sihir kegelapan pekat. Vorgath berada di Ranah ke-8: Archmage Tingkat Awal!
Vorgath menatap Ren dengan raut wajah terkejut yang cepat berubah menjadi seringai kejam.
"Pertumbuhan yang sangat luar biasa, Manusia bertopeng!" seru Vorgath dengan suara bagaikan guruh. "Di usiamu yang masih muda kau berhasil menyentuh Ranah High Mage! Tapi sayangnya... perbedaan antara High Mage dan Archmage adalah jurang takdir yang tidak bisa kau seberangi dengan nekat!"
GONGGGGG—!
Lonceng tanda dimulainya pertandingan semifinal bergema keras!
BOOM!
Vorgath tidak membuang waktu sedetik pun! Tanpa peringatan, ia melemparkan Konsepsi Diri Ranah Archmage-nya: Domain Penghancur Karang (Crushing Rock Domain)!
HUMMMMM—!
Sekejap mata, gravitasi dan tekanan sihir di sekitar pasir arena melonjak sepuluh kali lipat! Pasir arena melesak turun, dan udara di sekeliling Ren terasa bagaikan batuan padat yang menjepit seluruh fisiknya!
"Mati kau, Darkness!" teriak Vorgath seraya memicu langkah kilatnya, melompat ke udara dan mengayunkan sepasang kapak raksasanya lurus ke kepala Ren!
SWOOSH-BANG!
Ren bertindak cepat! Meskipun tubuhnya tertekan oleh Domain Archmage musuh, Ren menarik pedang Pandora’s Eclipse dari sarungnya! Pedang itu kini telah ikut berevolusi bersama tubuh Ren—bilahnya berkilat dengan pendar Ungu-Perak Keemasan yang memancarkan pendar ketajaman kosmik!
Ren menahan tebasan kapak Vorgath dengan menyilangkan bilah pedangnya di atas kepala!
BANGGGGGGG!
Ledakan gelombang kejut energi meletus hebat di tengah arena! Pasir terbanting membumbung tinggi!
"GHAHK!"
Ren terdorong mundur menyeret kakinya sejauh belasan meter di atas pasir! Otot-otot lengannya gemetar hebat, dan pembuluh darah di dadanya bergetar menahan beban benturan keras tersebut!
Meskipun pedang Pandora’s Eclipse milik Ren telah berevolusi menjadi jauh lebih kuat, perbedaan satu tingkat penuh antara High Mage dan Archmage sangatlah jelas dan mengerikan! Kuantitas sihir, bobot fisik, dan manipulasi hukum alam milik Vorgath berada di tingkatan yang jauh lebih tinggi!
"Hahaha! Lihat?! Kau hanya bisa menangkis seranganku, Darkness!" gelak Vorgath seraya kembali melompat menerjang secara membabi buta!
BAM! BAM! BAM! BAM!
Pertarungan epik dan berat terjadi di atas pasir arena!
Ren terpojok secara brutal! Ia dipaksa bertahan sepenuhnya, meliukkan tubuhnya, menangkis, dan membenturkan tebasan Pandora’s Eclipse hanya untuk mengalihkan arah tebasan kapak raksasa Vorgath. Setiap kali benturan senjata terjadi, gelombang kejut sihir melukai organ dalam Ren, membuatnya berturut-turut terbatuk menyemburkan darah segar di dalam topengnya!
Di tribun VIP, wajah Nona Kitsune berubah menjadi teramat sangat cemas dan khawatir. Tangannya mencengkeram erat sandaran kursi hingga kayu pualamnya retak! Tangannya yang halus gemetar melihat pria yang dicintainya dihantam bertubi-tubi di atas arena.
Hephaestus di sampingnya meneguk anggurnya dengan raut wajah yang sangat berat. "Anak itu sedang menahan beban benturan hukum Archmage... Jika dia tidak melepaskan Konsepsi Diri barunya, fisiknya akan hancur!"
Di tengah arena yang berdebu, Vorgath melepaskan tebasan berputar raksasa yang dilapisi sihir pembantai!
CRACK-SWOOSH!
Ren terlambat memiringkan badannya! Ujung kapak raksasa Vorgath berhasil menerobos pertahanan Ren, menyambar dada kanan Ren dan menghantam bagian samping Topeng Bertanduk Iblis Ren secara telak!
CRACKKKKKKK—BANG!
Topeng Bertanduk Iblis yang telah menemani perjalanan Ren di Koloseum seketika hancur terbelah menjadi dua bagian dan terlempar jatuh ke atas pasir!
Darah segar menyembur keluar dari luka menyilang di dada kanan Ren! Ren terlempar menghantam dinding batu arena dengan keras hingga dinding batu pecah berhamburan!
"KHAAAHK!" Ren jatuh berlutut di pasir, memegang dadanya yang terluka parah dengan darah yang menetes deras membasahi jubah hitamnya.
Suasana di seluruh Koloseum Aethelgard seketika mendadak hening tanpa suara!
Asap debu perlahan memudar, memperlihatkan wajah asli di balik topeng yang terbelah itu.
Untuk pertama kalinya sejak berlaga di Koloseum Aethelgard... wajah asli Ren (William Pendragon) terekspos sepenuhnya di hadapan puluhan ribu penonton!
Parasnya teramat sangat tampan, berkulit bersih dengan garis rahang yang tegas, rambut kelabu yang terurai berantakan tertiup angin, serta sepasang mata kelabu yang dipenuhi oleh keteguhan jiwa yang tak tergoyahkan.
Ribuan penonton wanita di seluruh tribun seketika terperangah terpana! Suara bisikan dan jeritan kagum meletus di mana-mana!
"T-Tampan sekali...!"
"Siapa pemuda itu?! Wajahnya seperti seorang pangeran dari legenda!"
"Dia begitu tampan di balik topeng menakutkan itu?!"
Namun... di tribun VIP utama...
Seketika itu juga, suasana udara di seluruh Koloseum mendadak berubah menjadi teramat sangat dingin dan mencekam!
Nona Kitsune berdiri dari kursi kebesarannya. Sepasang mata emas kemerahannya berkilat tajam memancarkan aura kecemburuan dan amarah yang teramat sangat pekat! Ketujuh ekor peraknya mengembang raksasa, memancarkan pendar sihir Mythic yang membuat udara di sekitar tribun membeku menjadi es!
Kitsune menatap dingin ke arah penonton wanita yang menjerit memuji ketampanan suaminya, lalu menatap tajam ke arah Vorgath yang telah melukai dan merusak pakaian Ren!
"Tikus tak tahu diri..." bisik Kitsune dengan suara yang sanggup membekukan jiwa siapa pun yang mendengarnya. "Kau berani menggores wajah dan dada suamiku...?"
Di tengah pasir arena, Ren meremas pasir dengan jemari tangannya yang berdarah. Meskipun tubuhnya dipenuhi luka-luka fatal yang menusuk dan napasnya tersengal parah, pendar mata kelabu Ren tidak padam sedikit pun.
Ren perlahan berdiri tegap kembali di atas kaki fisiknya. Ia menyapu darah di bibirnya, menatap Vorgath dengan senyuman tegar yang menyala-nyala.
"Pertarungan ini..." bisik Ren dengan suara berat yang mulai mengaktifkan Konsepsi Diri: Tekad Pelindung Kosmik-nya, "...baru saja dimulai!"