Valencia Florence mengira penderitaannya telah usai setelah palu hakim meresmikan perceraiannya dengan Julian Edgar. Namun, sebuah fenomena misterius justru melempar jiwanya melakukan time travel kembali ke tiga tahun lalu—tepat di tahun kedua pernikahan mereka yang dingin.
Kembali menjadi Nyonya Edgar berarti Valencia harus mengulang fajar pernikahan tanpa cinta. Dia kembali menghadapi Julian, suami sedingin es yang menguburnya dalam kemewahan finansial dan fasilitas jet pribadi, namun memperlakukannya tak lebih dari sekadar pajangan rumah. Valencia sadar diri, dia hanyalah pengantin pengganti untuk mendiang saudara kembarnya, Gracia Florence, yang tewas menjelang pernikahan. Di kesempatan kedua ini, Valencia bersumpah tidak akan lagi mengemis cinta yang tidak pernah ada. Dia akan menjalani sisa waktu pernikahan ini dengan caranya sendiri, bersiap untuk pergi sebelum hatinya hancur untuk kedua kalinya.
#by_Parkha
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Park ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENGULANG LUKA Bab 31: Sinyal yang Salah
...MENGULANG LUKA...
...Bab 31: Sinyal yang Salah...
Valencia menghela napas panjang di balik selimut sutranya. Keheningan kamar kembali menyergap, membuat detak jantungnya sendiri terdengar begitu lantang di dalam dada. Di sampingnya, Julian masih membeku dengan tangan yang menempel kaku di sakelar nakas.
"Tuan Edgar?" panggil Valencia lagi, memecah kecanggungan yang makin merayap panas. "Kenapa lampunya belum dimatikan?"
Julian tersentak kecil, seolah baru saja dipaksa bangun dari lamunan panjang. Pria bertubuh tegap itu mengedipkan matanya beberapa kali. Otaknya yang biasa dipakai menyusun strategi bisnis miliaran rupiah mendadak mengalami error parah hanya karena memproses tanggapan istrinya.
Jadi... dia memintaku mematikan lampu memang cuma untuk tidur? Bukan karena malu atau ingin suasana gelap? batin Julian merutuki jalan pikirannya sendiri. Rasa malu dan canggung yang luar biasa mendadak membakar wajah tampannya di balik bayang-bayang temaram.
"Ah... iya," sahut Julian cepat dengan suara yang diusahakan selantang mungkin demi menutupi rasa salah tingkahnya yang luar biasa.
Tek.
Dengan satu sentuhan, lampu tidur utama mati. Kamar berukuran luas itu seketika tenggelam dalam kegelapan, hanya disinari oleh sedikit pendar cahaya bulan yang menerobos di sela-sela tirai jendela yang tersingkap tipis.
Dalam kegelapan itu, suara kain bergeser terdengar samar. Julian perlahan membaringkan tubuhnya di sisi tempat tidur yang lain. Meski kasur king-size mereka sangat luas, posisi tidur Julian terasa jauh lebih dekat dari biasanya. Bau harum sabun dari tubuh tegap pria itu berhembus makin jelas, memagari indra penciuman Valencia dan merusak konsentrasinya.
Valencia memiringkan tubuhnya membelakangi Julian, memeluk selimut erat-erat ke arah dada. Baguslah kalau lampunya sudah mati, gumamnya dalam hati, menutupi rasa gugupnya. Aku harus tidur dan tidak boleh memikirkan perlakuan aneh pria ini lagi. Ini cuma manuver sementara karena gengsinya terluka.
Namun, memejamkan mata nyatanya tak sesederhana itu. Hawa panas dan tegang di antara mereka masih terasa begitu nyata di udara, seolah menembus kain selimut tebal yang melapisi tubuh mereka.
"Valencia..." suara bariton Julian kembali terdengar di dalam kegelapan. Kali ini suaranya berada tepat di belakang punggung Valencia, begitu dalam, hangat, dan tanpa keraguan yang menyelimuti seperti sebelumnya.
"Tidur, Julian," potong Valencia cepat, suaranya terdengar datar namun tegas, menolak pembicaraan lebih lanjut. "Aku lelah."
Keheningan sempat mengudara selama beberapa detik. Valencia mengira Julian akan menyerah, mendengus dingin, lalu berbalik membelakanginya seperti malam-malam biasanya selama dua tahun terakhir.
Namun, tebakannya salah besar.
Sebuah lengan tegap yang hangat mendadak terulur di atas pinggang Valencia. Tanpa aba-aba, Julian menarik tubuh Valencia perlahan hingga punggung wanita itu menempel sempurna pada dada bidang suaminya. Dekapan itu tidak kasar atau memaksakan kekuatan, melainkan sebuah pelukan yang penuh kehati-hatian—seolah Julian sedang menggenggam barang kaca yang paling mahal dan rentan pecah.
Valencia tersentak hebat, matanya terbuka lebar di dalam kegelapan. Napasnya tertahan sewaktu merasakan ketebalan dada Julian dan detak jantung pria itu yang berdegup kencang di punggungnya.
"Julian, apa yang kamu—"
"Biarkan seperti ini sebentar saja," bisik Julian tepat di samping telinga Valencia, menyalurkan napas hangatnya yang teratur di ceruk leher wanita itu. "Selamat malam, istriku."
Jantung Valencia mendadak melompat liar. Sejenak, Valencia ingin memberontak dan mendorong tangan kekar itu jauh-jauh. Niat awal untuk menjaga jarak meronta-ronta di dalam kepalanya. Namun, kehangatan tubuh Julian dan detak jantungnya yang sejujur ini mendadak melumpuhkan seluruh sel saraf di tubuh Valencia. Pelukan hangat itu perlahan merobohkan dinginnya malam, membiarkan dua insan yang terjebak gengsi dan kesalahpahaman itu akhirnya tenggelam dalam lelap bersama detak dada yang saling bersahutan.