Indonesia
NovelToon NovelToon
Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Dua Tahun Jadi Janda Bersuami, Kini Aku Istri Sang Mayor

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Penyesalan Suami / Menikahi tentara / Mandul
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Vyrkon

Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Cara Membangun Kandang Tahan Badai

Foto yang sedang dipotong Bu Yuni belum tersebar. Selama beberapa hari, perhatian warga masih tertuju pada kandang yang selamat.

Seminggu setelah badai, lebih dari tiga puluh peternak berkumpul di peternakan koperasi. Pak Amir datang dari desa utara, Pak Bahar membawa dua pekerja dari kandang sapi perah, dan beberapa pemilik kecil berdiri di belakang sambil membawa buku catatan.

Mereka ingin melihat mengapa atap koperasi tetap utuh saat kandang lain rusak.

Laras tidak menjual rahasia. Ia membawa semua orang ke sisi barat dan menunjukkan saluran yang penuh bekas lumpur.

"Kesalahan pertama adalah hanya memperkuat atap," katanya. "Kalau air tidak punya jalan keluar, kandang tetap menjadi perangkap. Lihat kemiringan ini. Air diarahkan menjauh dari gudang dan kandang induk."

Pak Amir berjongkok mengukur kedalaman. "Kalau tanah saya lebih rendah?"

"Buat parit bertahap dan tempat penampungan sementara. Jangan langsung membuang arus ke lahan tetangga. Kalian harus menyepakati jalur bersama."

Di bagian atap, Pak Yohanes memperagakan kawat silang yang mengikat beberapa titik rangka. Laras menjelaskan bahwa satu simpul kuat tidak cukup. Jika tiang tempat simpul itu patah, seluruh lembar seng terangkat sekaligus.

"Terpal juga bukan pengganti rangka," tambahnya. "Terpal melindungi pakan dari percikan. Untuk atap, periksa kayu, paku, dan sambungan. Jangan naik ketika angin sudah datang."

Wati menunjukkan tanda warna pada pintu. Kelompok ternak rentan ditempatkan paling dekat dengan bangunan aman. Lampu darurat digantung di lokasi yang bisa dijangkau tanpa kunci. Pakan disusun di atas palet dengan lorong pemeriksaan, sedangkan air minum diberi tutup dan label terpisah dari air pembersih.

Pak Bahar bertanya, "Berapa banyak air yang harus disimpan?"

"Hitung jumlah ternak, suhu, jenis produksi, dan kemungkinan listrik mati. Jangan memakai satu angka untuk semua. Sapi menyusui berbeda dari kambing jantan sehat. Simpan bertahap dan rotasi agar tidak menjadi air lama yang tercemar."

Beberapa peternak meminta salinan rancangan. Laras memberikan lembar sederhana berisi pemeriksaan atap, jalur evakuasi, pakan, air, dan nomor darurat. Ia bahkan mengizinkan mereka memotret gudang.

Kemudian ia meminta peserta membentuk kelompok dan menilai sebuah kandang lama di sisi utara. Pak Amir menemukan paku berkarat, tetapi melewatkan tiang yang mulai lapuk di bagian bawah. Pak Bahar memperhatikan atap, namun menaruh jalur evakuasi tepat di bawah pohon tua.

"Tidak ada rancangan yang bisa disalin mentah," kata Laras. "Arah angin, kemiringan tanah, jenis ternak, dan bahan bangunan berbeda. Daftar ini membantu kalian bertanya, bukan menggantikan pemeriksaan."

Ia memperagakan cara mengetuk kayu untuk mendengar bagian yang keropos dan cara menguji saluran dengan volume air kecil. Peserta juga diminta menghitung berapa orang yang diperlukan untuk memindahkan ternak tanpa saling bertabrakan. Ketika Pak Amir mengusulkan mengikat semua sapi pada satu tali panjang, Laras langsung menolak.

"Kalau satu panik, seluruh baris jatuh. Gunakan kelompok kecil dan titik lepas cepat. Dalam keadaan darurat, keselamatan pekerja tetap lebih penting daripada memaksa hewan bergerak."

Menjelang akhir latihan, setiap kelompok harus menyebut satu kegagalan yang mungkin terjadi dan satu cadangan jika rencana utama tidak bekerja. Cara itu membuat mereka memahami alasan di balik setiap kawat dan parit, bukan sekadar meniru bentuk kandang koperasi.

"Mengapa tidak dibuat pelatihan berbayar?" bisik Wati saat peserta beristirahat.

"Pengetahuan keselamatan dasar harus menyebar dulu. Kalau nanti mereka meminta pendampingan membangun atau menghitung ransum, itu layanan berbeda."

Pak Sutrisno mendengar dan mengangguk puas. Ia mengumumkan koperasi akan mengadakan pemeriksaan kandang bergilir dengan biaya terjangkau. Peternak yang tidak mampu dapat membayar melalui jam kerja gotong royong.

Setelah makan siang, pembicaraan bergeser pada kondisi ternak pascabadai. Banyak sapi kehilangan bobot. Kambing yang sempat kekurangan air membutuhkan waktu pulih, sementara hijauan segar makin sulit ditemukan.

Laras meletakkan tiga mangkuk bahan di meja: dedak, ampas kedelai yang telah ditiriskan, dan daun lokal kering yang aman bagi ternak.

"Kita bisa membuat pakan tambahan berbiaya rendah," katanya. "Tetapi bahannya harus dianalisis. Ampas terlalu basah cepat rusak. Daun yang disebut obat belum tentu aman dalam jumlah besar."

Pak Bahar mengendus campuran percobaan. "Kalau bisa menaikkan bobot tanpa membuat sapi sakit, saya mau mencoba."

"Mulai dari kelompok kecil. Timbang sebelum dan sesudah, catat konsumsi, feses, dan nafsu makan. Kita tidak menguji pada seluruh kawanan."

Wati menulis komposisi awal. Laras belum menyebutnya resep. Mereka masih perlu mengeringkan bahan, menghitung protein dan serat, serta memastikan tidak ada residu berbahaya. Namun gagasan usaha kecil mulai terlihat.

Rina yang datang membawa buku kas menyarankan semua percobaan memiliki nomor kelompok. Biaya bahan, tenaga pengeringan, dan berat akhir harus dicatat sejak awal. Jika hasilnya baik tetapi biaya produksinya terlalu tinggi, racikan itu tidak akan membantu peternak kecil.

"Saya bisa membuat tabel sederhana," katanya. "Jangan sampai kita merasa untung hanya karena lupa menghitung kayu bakar dan ongkos angkut."

Laras setuju. Ia menambahkan satu syarat lagi: tidak ada klaim menambah bobot sebelum data penimbangan selesai. Mereka boleh menjual pakan yang komposisinya aman, tetapi tidak boleh menjanjikan hasil ajaib.

Sore hari, Pak Bahar membawa pulang sampel untuk dua ekor sapi dengan syarat mengikuti pencatatan. Pak Amir memesan pemeriksaan kandang. Nama Laras kini bukan hanya dikaitkan dengan menyelamatkan hewan, tetapi mengajari pemilik mencegah kerugian.

Malamnya, tubuh Laras akhirnya menuntut istirahat. Ia tertidur sebelum sempat menutup buku.

Dalam mimpi, suara anak perempuan menangis terdengar di balik kandang. Laras berjalan menuju suara itu, tetapi kakinya seperti terbenam lumpur. Bau daun pahit dan asap memenuhi udara. Sesosok tubuh kecil duduk meringkuk, kedua matanya tertutup putih.

Ketika Laras mendekat, anak itu berbisik, "Jangan biarkan Pak datang."

Laras tersentak bangun. Punggung bawahnya sakit dan napasnya terburu. Ia ternyata mengucapkan sesuatu dalam tidur.

Bram sudah duduk di sisi ranjang. "Mimpi lagi?"

"Aku akhir-akhir ini sering mengigau," jawab Laras. "Mungkin terlalu lelah. Kalau terus begini, aku bisa meminta dr. Johan memeriksa tidurku."

Bram tidak bertanya apa yang dilihatnya. Ia hanya memberikan air dan menunggu sampai napas Laras teratur.

"Kamu tidak penasaran?"

"Aku penasaran." Bram meletakkan gelas. "Tapi kamu akan cerita kalau sudah siap."

Jawaban itu justru membuat Laras merasa lebih bersalah. Bram mungkin telah melihat pola antara mimpi dan firasatnya. Namun ia memilih tidak memaksa.

Saat Laras kembali berbaring, Bram menarik selimut sampai bahunya dan menggeser tubuh sedikit lebih dekat.

"Tidur," katanya. "Ada aku."

Kehangatan di sampingnya membuat ketegangan Laras perlahan turun. Bram tertidur lebih dahulu, tetapi Laras kembali membuka mata dalam kegelapan.

Tangisan kecil dalam mimpi masih menempel di telinganya. Begitu pula bau ramuan yang terasa asing, tetapi entah mengapa seperti pernah ia kenal.

Di suatu tempat, seorang anak sedang menunggu ditemukan.

1
Nadia Zalfa
lanjut kak
aku
lanjutkan melangkah menuju kehancuran total van. aku mendukungmu!!! /Determined//Determined//Facepalm//Facepalm/
aku
hitung ras!!! smpe tuntas pokoknya!! 🌹
aku
jgn di tolongin. biarin2.
aku
mamvuss!! pecat sekalian pecat!! yess /Curse/
aku
duh pengen kuikat tuh pegawai di kursi baru mulutnya sumpal pke kaos kaki /Scream//Curse/
aku
bagus laras, tegas!!
aku
modelan vania sm rendra n emaknya tuh manusia yg halal disantet 🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!