Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:101.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Hubungan Rahasia

Dan saat itulah ponselnya berdering. Calista segera meraihnya. Nama yang muncul di layar membuat tatapannya berubah. Dokter Doni, orang yang selama ini ia bayar untuk mengubah hasil tes DNA Sion dan kedua anak kembar tersebut.

Calista langsung mengangkat panggilan itu.

“Bagaimana?”

Suara di seberang terdengar lebih dulu. “Hasilnya sudah keluar. Dan semuanya sudah berhasil saya tukar seperti yang Anda minta.”

Untuk pertama kalinya sejak beberapa jam terakhir, sudut bibir Calista perlahan terangkat. “Benarkah?”

“Ya. Tidak ada yang akan menemukan perubahan itu. Hasil yang akan muncul nantinya sudah sesuai dengan apa yang Anda inginkan.”

Calista menutup matanya sejenak. Rasa lega yang begitu besar menjalar ke seluruh tubuhnya. Akhirnya, satu-satunya kartu yang bisa membalikan keadaan masih berada di tangannya. Ia menoleh ke arah pintu mansion yang baru saja dilewati Sion dan yang lainnya.

Senyumnya semakin lebar. “Bagus.” Suaranya jauh lebih tenang sekarang. “Pastikan tidak ada satu pun kesalahan.”

“Tenang saja. Semuanya sudah beres.” Panggilan berakhir.

Calista menurunkan ponselnya perlahan. Kekacauan di ruangan itu masih sama. Pecahan kaca berserakan di lantai. Beberapa perabot rusak. Napasnya pun masih belum sepenuhnya teratur. Namun, amarah yang sebelumnya membakar dadanya mulai tergantikan oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Calista tersenyum tipis. Raina mungkin telah memenangkan pertarungan pertama. Wanita itu mungkin telah membuatnya kehilangan aset, kartu, dan hampir seluruh kekuasaannya. Tetapi Raina tidak tahu bahwa Calista masih menyimpan satu senjata terakhir.

Sebuah hasil tes DNA palsu. Dan jika semuanya berjalan sesuai rencana, hasil itu akan menjadi alasan yang cukup untuk menghancurkan Raina dan kedua anak kembarnya sekaligus. Mengusir ketiganya sejauh mungkin dari pandangan matanya. Calista melangkah melewati pecahan kaca tanpa memedulikannya.

“Sebentar lagi...” bisiknya.Tatapannya berubah dingin. “Kalian yang akan pergi dari sini.”

Senyumnya semakin jelas. “Raina kau tidak akan bisa menang dariku, apalagi menyingkirkanku dari tempat ini.”

Di dalam mansion yang mulai sunyi, Calista berdiri seorang diri dengan keyakinan baru. Ia tidak tahu bahwa permainan yang baru saja dimulainya mungkin jauh lebih berbahaya daripada yang pernah ia bayangkan.

...****************...

Sebuah restoran privat yang terletak jauh dari pusat kota, seorang pria duduk sendirian di sudut ruangan. Arlan, putra sulung Calista itu sejak awal memang sengaja menjaga jarak dari pertikaian yang melibatkan ibunya, Sion, dan Raina.

Ketika dihadapan keluarga, ia memilih bersikap seolah-olah tidak peduli. Seolah semua yang terjadi bukan urusannya. Namun, sikap tenang itu hanyalah topeng. Arlan justru menjadi salah satu orang yang paling berkepentingan dengan apa yang terjadi di keluarga Maximillian.

Pintu ruangan terbuka. Seorang wanita melangkah masuk dengan wajah tegang. Laura, mantan calon pengantin Sion. Begitu melihat Arlan, Laura segera menutup pintu dan memastikan tidak ada seorang pun yang mengikutinya.

“Kau terlambat,” ujar Arlan dingin.

“Aku harus memastikan tidak ada yang melihatku.”

Laura duduk di hadapannya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling menatap. Tidak ada kecanggungan, tidak ada jarak karena hubungan mereka jauh lebih dalam daripada yang diketahui siapa pun. Bahkan detik berikutnya Laura langsung berpindah ke pangkuan Arlan dan berciuman dengan panas.

Sejak awal, Laura dan Arlan telah menjalin hubungan secara diam-diam. Bahkan ketika Laura bertunangan dengan Sion, hubungan itu masih terus berjalan karena itu salah satu jalan untuk melancarkan rencana besar mereka.

Sebuah permainan yang mereka rancang dengan sangat hati-hati. Laura seharusnya menikah dengan Sion. Kemudian, melalui pernikahan itu, ia akan mendapatkan posisi di dalam keluarga Maximillian. Arlan akan menjadi orang yang mengendalikan semuanya dari belakang.

Jika Sion berhasil disingkirkan, maka mereka berdua akan memiliki kesempatan untuk menguasai keluarga sekaligus seluruh kekayaan Maximillian. Rencana itu hampir sempurna, setidaknya… sampai tiba-tiba Raina kembali dengan membawa sepasang anak kembarnya dan menggagalkan pernikahan itu.

“Seharusnya dia tidak pernah kembali,” kata Laura begitu melepas ciuman mereka.

Arlan menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Raina bukan masalah terbesar kita.”

Laura mengangkat wajah. “Lalu siapa?”

“Sion.”

Satu kata itu membuat suasana mendadak berat. Arlan mengambil gelas di atas meja, tetapi tidak meminumnya. “Selama Sion masih berdiri, tidak peduli siapa yang berada di sisinya, kita tidak akan pernah bisa mengambil alih kekuasaan dan kekayaan keluarga Maximillian.”

Laura mengepalkan tangannya. “Dan sekarang dia membatalkan pernikahannya denganku.”

“Aku tahu.”

“Semua yang kita rencanakan selama bertahun-tahun hancur hanya karena perempuan itu kembali membawa dua anak.” Nada suara Laura meninggi.

Arlan menatapnya tajam. “Jangan menyalahkan Raina.”

“Lalu siapa yang harus kusalahkan?”

“Sion.” Laura terdiam.

Arlan tersenyum tipis. “Pembatalan pernikahan itu justru menunjukkan bahwa Sion mulai kehilangan kendali dan mulai menyadari sesuatu.”

Ia meletakkan gelasnya. “Dulu kita membutuhkanmu untuk masuk ke dalam keluarga Maximillian melalui pernikahan. Sekarang jalur itu sudah tertutup.”

“Jadi apa rencanamu selanjutnya?”

Arlan tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela. “Kita ganti caranya.”

Laura berdiri dan mengikutinya. “Bagaimana caranya?”

“Kita tidak perlu masuk melalui pintu depan.” Arlan menoleh. “Kita hancurkan pintunya.”

Tatapan Laura berubah. Untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata Arlan yaitu sebuah ambisi yang sangat besar. Bukan sekadar keinginan untuk mendapatkan harta. Arlan menginginkan semuanya, baik nama Maximillian, kekuasaan, perusahaan, Aset dan posisi yang selama ini hanya bisa ia lihat dari kejauhan bahkan termasuk nyawa Sion.

“Kalau begitu...” Laura menarik napas panjang. “Apa yang akan kita lakukan?”

Arlan terdiam beberapa detik. Kemudian sebuah nama keluar dari mulutnya. “Klan Dark Red.”

Wajah Laura seketika berubah. “Klan musuh utama Sion?”

Arlan mengangguk. “Justru karena itulah… kita membutuhkan tangan mereka untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.”

“Tidak mungkin. Mereka sangat membenci Sion lebih daripada siapa pun. Mereka juga membenci keluarga Maximillian. Dan kau berencana bekerjasama dengannya?”

“Benar.” Arlan kembali tersenyum. “Dan karena itu membuat mereka menjadi sekutu yang sempurna bagi kita.”

Laura memandangnya tidak percaya. “Kau sadar siapa yang sedang kau ajak bermain api?”

“Tentu.”

“Kalau mereka berbalik menyerang kita?”

“Risiko selalu ada.” Arlan mendekat. “Tapi saat ini, kita tidak punya banyak pilihan.”

Laura terdiam. Arlan sudah tahu persis apa yang sedang dipertaruhkannya. Bekerja sama dengan Klan Dark Red berarti memasuki wilayah yang selama ini menjadi pantangan bagi keluarga Maximillian. Namun, jika berhasil, mereka bukan hanya dapat menjatuhkan Sion. Mereka dapat membuat keluarga Maximillian hancur tak tersisa.

“Raina membawa dua anak itu dan menghancurkan rencana kita,” ujar Arlan perlahan. “Tapi aku tidak akan membiarkan kemunculan mereka menjadi akhir dari semuanya.”

Ia menatap Laura lekat-lekat. “Justru sekarang permainan ini menjadi lebih menarik. Berkat keberadaan Raina dan kedua anak itu, Sion yang sekarang jadi memiliki kelemahan.”

Bersambung….

1
Budhe Satryo
Sion baik hati jg 😊😊
Fahmi Ardiansyah
ya pasti mau lah mereka.
Fahmi Ardiansyah
kasihan juga ni calista
Fahmi Ardiansyah
ya semua Krn kmu Calista
Fahmi Ardiansyah
iya Krn mereka serakah n gak mau bersyukur jadi mereka memilih kematian.lalu gimana dgn nasib ibunya ya.
Fahmi Ardiansyah
ya kok sepi belum ada yg komentar ni pada kemana semua ya
Fahmi Ardiansyah
iya menghadapi seorang wanita memang menakutkan klu pihak laki laki bersalah.
Budhe Satryo
Sion tugas baru dimulai 🤣
Fahmi Ardiansyah
iya emang si kembar pergi dgn suka rela supaya bisa menangkap sarga n ketiga org itu
Fahmi Ardiansyah
buang aja ke dalam hutan biar di makan binatang buas n di cabik cabik tubuhnya sampai tinggal tengkoraknya.
Sri Yatun
habis itu buang ke laut,biar d makan hiu biar mati
Fahmi Ardiansyah
Waaah hukuman yg sangat menyakitkan tu
🇦 🇵 🇷 🇾👎
mntp
Budhe Satryo
yesss rayna hukuman yg cocok tuk Laura
Budhe Satryo
wah hukuman yg tepat 👍👍👍👍
Budhe Satryo
menang keluar mafia yg keren top ❤️❤️❤️❤️
Budhe Satryo
bner" keluarga mafia keren 👍👍👍👍
Budhe Satryo
ditunggu khncuranmu sarga 😄😄😄😄
Budhe Satryo
menggila dimulai yg selalu ditunggu
Budhe Satryo
duo kembar bertarung jg yok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!