Serina Nirmala harus kehilangan suaminya, secara tragis tepat di hari ulang tahun putra mereka. Saat hendak membeli kue, Riki tewas tertabrak mobil Jovan Narendra, seorang pembalap muda yang saat itu kehilangan kendali akibat pengaruh obat yang diam-diam diberikan oleh seseorang yang ingin mencelakainya.
Dihantui rasa bersalah, Jovan berniat menebus kesalahannya dengan menikahi Serina, seorang wanita yang lima tahun lebih tua darinya. Awalnya Serina menolak, tetapi demi masa depan putranya dan karena Jovan bersedia bertanggung jawab atas kehidupan mereka, ia akhirnya menerima pernikahan tersebut.
Namun, pernikahan yang dimulai dari rasa bersalah perlahan berubah menjadi cinta bagi Jovan. Sementara Serina masih bergulat dengan luka kehilangan suaminya, sebuah pertanyaan terus menghantuinya.
Mampukah ia mencintai pria yang menjadi penyebab kematian suaminya, atau pernikahan ini justru menyimpan tujuan lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31
Pagi itu, suasana Mansion Narendra tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa orang terlihat berlalu-lalang mempersiapkan segala sesuatu untuk acara pernikahan Jovan Narendra dan Serina Nirmala.
Hari yang selama ini hanya menjadi angan-angan, kini benar-benar tiba.
Jovan yang biasanya selalu terlihat percaya diri, bahkan ketika harus menghadapi perlombaan besar di lintasan balap, pagi ini justru tampak gelisah. Sejak bangun tidur, ia sudah beberapa kali memeriksa penampilannya di depan cermin. Kemeja putih yang dikenakannya telah dirapikan berkali-kali, sementara rambutnya yang tertata rapi sesekali kembali ia sentuh.
Leo yang sejak tadi memperhatikannya hanya bisa menggelengkan kepala.
"Bro, lo mau nikah atau mau balapan di sirkuit?"
Jovan menoleh dengan wajah kesal.
"Apaan, sih, Leo?"
"Lo dari tadi mondar-mandir di depan cermin. Kemeja lo sudah rapi, rambut lo juga sudah oke. Bahkan dasi lo sudah gue betulkan tiga kali."
Jovan mengembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
"Gue gugup, Leo."
Leo langsung tertawa.
"Astaga! Jovan Narendra, pembalap yang nggak pernah takut menghadapi tikungan tajam, ternyata takut juga menghadapi pernikahan!"
"Berisik, lo!"
Jovan melemparkan bantal kecil ke arah Leo, tetapi sahabatnya itu justru tertawa semakin keras.
"Jujur, Bro. Gue nggak pernah menyangka lo bakal sampai di titik ini. Dulu, jangankan menikah, mendengar kata pernikahan saja lo pasti langsung kabur."
Jovan tersenyum tipis.
"Gue juga nggak pernah membayangkan bakal menikah dengan seorang wanita yang sudah punya anak."
Leo mengangkat alisnya.
"Dan sekarang?" Jovan menatap pantulan dirinya di cermin. "Justru gue nggak bisa membayangkan hidup tanpa mereka."
Senyum Leo perlahan memudar menjadi senyum tulus. "Kalau begitu, jangan gugup. Hari ini lo akan mendapatkan keluarga yang selama ini lo inginkan."
Jovan mengangguk pelan.
Namun jauh di dalam hatinya, ia tetap merasa gugup. Bukan karena takut menikah, melainkan karena ia sadar bahwa mulai hari ini ada dua orang yang harus ia jaga dan bahagiakan. Ia ingin menjadi suami yang baik bagi Serina, sekaligus seseorang yang bisa diandalkan Farel tanpa pernah mengambil tempat Riki di hati bocah itu.
Di kamar lain, Serina juga sedang bersiap.
Wanita itu berdiri di hadapan cermin dengan balutan gaun pengantin putih sederhana yang dipilihnya sendiri. Gaun tersebut memiliki potongan anggun dengan detail renda lembut di bagian lengan dan pinggang. Rambut panjangnya ditata rapi, sementara riasan tipis membuat wajahnya tampak semakin cantik dan berseri.
Meski penampilannya begitu mempesona, kedua tangan Serina sejak tadi terasa dingin.
Bu Aida yang datang untuk membantunya bersiap tersenyum melihat kegelisahan itu.
"Kenapa, Nak? Dari tadi tanganmu dingin sekali."
Serina tersenyum canggung.
"Aku gugup, Bu."
"Memangnya kamu sedang menghadapi ujian?"
Serina terkekeh kecil.
"Bukan, Bu. Hari ini aku akan menikah."
Bu Aida mengangguk penuh pengertian.
"Tentu saja kamu gugup. Apalagi setelah semua yang sudah kamu lalui."
Serina menunduk, menatap cincin sederhana yang terletak di atas meja rias.
Ia masih mengingat Riki. Pria yang pernah menjadi suaminya, ayah dari anaknya, dan seseorang yang telah menemaninya melewati berbagai masa dalam hidup.
Namun ia juga mengingat Jovan. Pria yang awalnya begitu ia benci, tetapi perlahan hadir membawa kehangatan untuk dirinya dan Farel.
Jovan tidak pernah memaksanya melupakan Riki. Bahkan ia menerima syarat Serina untuk tidak melakukan sentuhan fisik maupun hubungan intim sebelum Serina benar-benar siap.
Kepercayaan itulah yang akhirnya membuat Serina berani mengambil langkah baru.
"Bu Aida..." Serina menatap wanita yang selama ini banyak membantunya. "Apa aku sudah melakukan keputusan yang benar?"
Bu Aida menggenggam kedua tangan Serina.
"Keputusan ini adalah milikmu, Nak. Ibu tidak bisa menjamin bahwa kehidupan rumah tangga akan selalu mudah. Tapi Ibu melihat sendiri bagaimana Jovan memperlakukanmu dan Farel."
Serina mengangguk perlahan.
"Dia sangat menyayangi Farel."
"Dan kamu juga berhak bahagia, Serina. Menikah lagi bukan berarti kamu mengkhianati kenangan tentang Riki."
Mata Serina mulai berkaca-kaca.
"Terima kasih, Bu."
Bu Aida mengusap lembut pipi Serina.
"Jangan menangis dulu. Nanti riasanmu rusak."
Keduanya tertawa kecil, meskipun air mata bahagia mulai menggenang di sudut mata Serina.
Tiba-tiba, Farel masuk dengan mengenakan setelan jas kecil berwarna putih. Rambutnya disisir rapi, membuat bocah itu terlihat begitu menggemaskan.
"Bunda!"
Serina langsung berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
"Sayang!"
Farel berlari memeluk ibunya.
"Bunda cantik sekali!"
Serina tersenyum haru.
"Benarkah?"
Farel mengangguk penuh semangat.
"Iya! Bunda seperti putri di dalam dongeng!"
Bu Aida tertawa melihat tingkah polos Farel.
"Kalau begitu, Farel hari ini jadi pangeran kecil, ya?"
Farel mengangguk bangga.
"Iya! Farel mau mengantar Bunda menikah sama Om Jovan!"
Serina memeluk putranya semakin erat.
"Iya, Sayang. Hari ini Bunda dan Om Jovan akan menikah."
Farel tersenyum lebar.
"Berarti nanti Om Jovan jadi keluarga kita?"
Serina mengangguk.
"Iya."
Farel kembali memeluk ibunya.
"Farel senang sekali, Bunda!"
Serina mengecup kening putranya. Di dalam hati, ia berjanji akan terus menjaga kebahagiaan kecil yang kini tumbuh kembali dalam kehidupan mereka.
Awalnya, keluarga Narendra telah merencanakan sebuah pernikahan yang megah. Tamu-tamu penting, rekan bisnis, para pembalap, hingga sejumlah tokoh publik sudah masuk dalam daftar undangan.
Namun Serina meminta agar pernikahan itu dirayakan secara sederhana.
Ia tidak ingin hari bahagianya berubah menjadi tontonan media. Ia juga tidak ingin Farel merasa kewalahan dengan banyaknya orang asing dan sorotan kamera.
Ketika permintaan itu disampaikan, Marcella sempat menunjukkan ketidaksetujuannya.
"Jovan, kamu benar-benar akan mengadakan pernikahan sesederhana ini?" tanyanya dengan nada tidak percaya. "Kamu adalah pembalap terkenal. Pernikahanmu seharusnya dirayakan dengan pesta yang pantas."
Jovan menatap ibu tirinya dengan tenang.
"Ini juga pernikahan Serina, Mom. Aku ingin dia merasa nyaman."
Marcella mengerutkan keningnya. "Tapi keluarga Narendra memiliki nama besar. Apa kata orang-orang nanti?"
Jovan menarik napas. "Biarkan mereka berkata apa pun. Aku tidak menikah untuk memuaskan orang lain."
Tuan Marcell yang mendengar percakapan itu kemudian angkat bicara.
"Sudahlah, Marcella. Kalau itu yang diinginkan Jovan dan Serina, kita hormati."
Marcella terpaksa tersenyum.
"Baiklah. Kalau memang itu keputusan kalian."
Meskipun demikian, jauh di dalam hatinya, ia tetap memandang Serina sebagai perempuan yang tidak sepadan dengan keluarga Narendra. Namun ia memilih menahan diri. Ia tidak ingin tindakannya menimbulkan kecurigaan, terlebih Jovan masih belum mengetahui bahwa dirinya berada di balik penyebaran foto dan rumor yang sempat menggemparkan media, pikirnya...padahal Jovan sudah tahu kebusukannya.
Akhirnya, pernikahan itu digelar secara sederhana di taman mansion Narendra yang telah dihias dengan rangkaian bunga putih dan dedaunan hijau. Kursi-kursi tertata rapi, sementara altar kecil dihiasi bunga-bunga segar. Cahaya matahari pagi menyinari taman dengan lembut, menciptakan suasana yang hangat dan penuh kedamaian.
Tidak banyak tamu yang hadir. Hanya keluarga dekat dan beberapa sahabat yang benar-benar berarti bagi Jovan dan Serina.
Namun bagi keduanya, kesederhanaan itu justru terasa begitu istimewa.
Di sisi lain, Darren berdiri di antara para tamu dengan setelan jas gelap yang membuat penampilannya terlihat gagah dan berwibawa.
Sebagai seorang AKBP, ia terbiasa menghadapi berbagai situasi sulit. Ia pernah menyaksikan banyak orang menangis karena kehilangan, ketakutan, maupun penyesalan. Namun hari ini, ia justru harus berjuang menahan air matanya sendiri.
Matanya tertuju kepada Serina yang mulai berjalan menuju altar.
Wanita itu terlihat begitu cantik dalam gaun putihnya.
Senyum kecil menghiasi wajah Serina, sementara Farel berjalan di sampingnya dengan langkah mungil yang penuh semangat.
Darren menelan ludah.
Dadanya terasa sesak.
Ia masih mengingat Serina ketika mereka masih bersekolah. Gadis yang pernah membuatnya jatuh cinta dalam diam itu kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa yang akan memulai kehidupan baru bersama adiknya sendiri.
Darren mencoba tersenyum.
Namun ketika melihat Serina menatap Jovan dengan mata berkaca-kaca, setetes air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Ia buru-buru menyusutnya dengan punggung tangannya, kemudian menarik napas dalam-dalam.
"Selamat bahagia, Serina.Jika memang Jovan yang ditakdirkan berada di sisimu, aku akan belajar menerima semuanya." batinnya ikhlas
Darren kembali menegakkan tubuhnya. Ia tidak ingin seorang pun melihat kesedihan yang sedang berusaha ia sembunyikan.
Sementara itu, Jovan berdiri di depan altar dengan jantung berdebar kencang.
Ketika melihat Serina berjalan mendekat, ia seolah lupa bagaimana caranya bernapas.
Wanita itu benar-benar terlihat cantik.
Begitu Serina tiba di hadapannya, Jovan mengulurkan tangan. Serina menyambutnya dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Kamu cantik sekali," bisik Jovan.
Serina tersenyum malu.
"Kamu juga terlihat tampan."
Jovan terkekeh pelan.
"Terima kasih, calon istriku."
Serina menunduk, menyembunyikan rona merah di pipinya.
Farel yang berdiri tidak jauh dari mereka justru tersenyum lebar.
"Om Jovan! Bunda cantik, kan?"
Jovan tertawa kecil.
"Cantik sekali, Jagoan."
Farel mengangguk puas.
"Kalau begitu, Om harus menjaga Bunda baik-baik!"
Jovan menatap bocah itu dengan penuh kasih.
"Om janji."
Prosesi pernikahan pun dimulai.
Di hadapan penghulu dan para saksi, Jovan mengucapkan ijab kabul dengan suara tegas meskipun hatinya dipenuhi kegugupan.
Ketika pernyataan sah akhirnya terdengar, suasana taman dipenuhi ucapan syukur dan tepuk tangan dari para tamu.
Jovan kini resmi menjadi suami Serina Nirmala.
Ia menatap wanita yang duduk di sampingnya dengan mata berbinar.
"Serina..."
Serina menoleh.
"Iya?"
"Mulai hari ini, izinkan aku menjadi tempatmu bersandar. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa menggantikan Riki, dan aku tidak akan pernah memintamu melupakannya."
Jovan menggenggam tangan Serina dengan lembut, tetap menghormati batasan yang telah mereka sepakati.
"Aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa membuatmu dan Farel merasa aman. Aku akan belajar menjadi suami yang baik untukmu, dan seseorang yang bisa Farel percaya."
Air mata Serina mulai mengalir.
"Jovan..."
"Aku tidak berjanji bahwa hidup kita akan selalu mudah. Tapi aku berjanji tidak akan meninggalkan kalian ketika keadaan menjadi sulit."
Serina tersenyum di sela air matanya.
"Terima kasih sudah menerima aku dan Farel apa adanya."
Jovan menggeleng pelan.
"Justru aku yang berterima kasih karena kamu sudah memberiku kesempatan untuk menjadi bagian dari hidup kalian."
Di dekat mereka, Farel menyaksikan kedua orang yang sangat disayanginya itu dengan senyum lebar. Namun perlahan, matanya mulai berkaca-kaca.
Bocah itu kemudian menoleh ke arah foto Riki yang diletakkan di sebuah meja kecil di dekat altar, sebagai penghormatan kepada ayah kandungnya.
Farel melangkah mendekati foto tersebut.
Ia menatap wajah Riki cukup lama, lalu mengusap matanya yang mulai basah.
"Ayah..."
Suara kecil itu membuat Serina menoleh.
Farel tersenyum sambil menangis bahagia.
"Ayah, akhirnya Bunda tidak kesepian lagi. Ada yang jagain dan lindungi Bunda!"
Air mata Serina langsung tumpah.
Jovan pun terdiam, hatinya terasa begitu tersentuh mendengar ucapan polos bocah itu.
Farel kembali menatap foto ayahnya.
"Farel janji akan tetap sayang sama Ayah. Tapi sekarang Om Jovan juga akan jagain Farel dan Bunda."
Serina segera menghampiri putranya, lalu berjongkok dan memeluknya erat.
"Sayang..."
Farel membenamkan wajahnya di bahu sang ibu.
"Bunda jangan sedih, ya. Hari ini Bunda bahagia."
Serina mengangguk sambil mengecup rambut putranya berkali-kali.
"Iya, Sayang. Bunda bahagia."
Jovan ikut berjongkok di hadapan mereka. Ia tidak langsung memeluk Serina atau Farel, melainkan menunggu hingga Serina menatapnya dan memberikan isyarat kecil bahwa ia boleh mendekat.
Jovan kemudian merangkul keduanya dengan lembut.
"Terima kasih, Farel," bisiknya. "Kamu sudah menerima Om menjadi bagian dari keluarga kalian."
Farel tersenyum di tengah air matanya.
"Om Jovan sekarang suami Bunda!"
Jovan tertawa kecil.
"Iya, Jagoan."
"Berarti Farel boleh tetap memanggil Om Jovan?"
"Tentu saja. Kamu boleh memanggil Om Jovan seperti biasanya."
Farel mengangguk puas, lalu memeluk Jovan.
Dari kejauhan, Tuan Marcell menyaksikan pemandangan itu dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa haru sekaligus lega yang memenuhi dadanya. Ia tahu putranya sedang memulai kehidupan baru, dan kali ini ia ingin benar-benar hadir untuk mendukungnya.
Sementara Darren berdiri dengan senyum tipis. Ia kembali menyusut air matanya, lalu bertepuk tangan bersama para tamu.
Ia mungkin tidak bisa menjadi pria yang berdiri di samping Serina hari ini.
Namun setidaknya, ia bisa melihat wanita yang dicintainya mendapatkan kesempatan untuk bahagia.
Dan di bawah langit pagi yang cerah, Jovan dan Serina memulai perjalanan baru sebagai pasangan suami istri.
Bukan untuk menghapus masa lalu.
Melainkan untuk membangun masa depan, dengan cinta, kesabaran, dan penghormatan terhadap semua kenangan yang telah membentuk mereka.
Bersambung....