Indonesia
NovelToon NovelToon
Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Misteri Rumah Kedelapan Di Kampung Pitu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:123
Nilai: 5
Nama Author: Siti Gemini 75

Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hilang Seminggu

Raka terhuyung jatuh berlutut di tanah yang dingin dan lembap, tepat di depan halaman rumah kedelapan. Tidak ada cahaya lampu, tidak ada suara orang, tidak ada siapa-siapa di sana. Hanya kegelapan pekat yang menyelimuti segalanya, diterangi remang cahaya bulan yang tersembunyi di balik awan tipis. Angin malam berhembus kencang, membuat dedaunan berdesir pelan di sekelilingnya.

Tangan kanannya masih menggenggam erat buku harian bersampul cokelat tua itu buku milik Ardita, yang baru saja gadis itu serahkan kepadanya sebelum ia kembali ke dunia luar. Napasnya tersengal-sengal, seakan baru saja berlari sejauh ribuan kilometer. Tubuhnya terasa lelah luar biasa, namun hatinya justru terasa lebih berat karena ia sadar, sesuatu yang besar telah berubah.

Ia berdiri perlahan, menatap pintu rumah kedelapan yang tertutup rapat di belakangnya. Sunyi. Sepi. Tidak ada tanda-tanda Laras, Dimas, atau siapa pun dari kru yang menunggu di sana. Tempat itu kosong. Sejak awal, mereka memang sudah sepakat jika lewat senja Raka belum keluar, mereka akan kembali ke penginapan, lalu melaporkan hal itu kepada warga dan pihak berwenang. Raka kira ia hanya butuh waktu sebentar. Sebentar saja untuk masuk, berbicara, dan kembali.

Tapi ternyata... tidak ada siapa-siapa.

Raka melangkah turun menyusuri jalan setapak yang curam dan berbatu. Langkahnya berat, matanya harus beradaptasi dengan kegelapan. Di sepanjang jalan, tidak ada suara orang, tidak ada cahaya lampu, tidak ada panggilan namanya. Hanya dirinya sendiri, kegelapan, dan buku harian Ardita yang ia peluk erat di dada. Semakin ia berjalan turun, semakin ia merasa ada yang tidak beres. Udara terasa berbeda. Suasana di sekitarnya terasa lebih sunyi dari biasanya, seakan waktu sendiri telah berjalan jauh lebih cepat daripada yang ia rasakan di atas sana. Pohon-pohon yang dulu ia lewati terasa lebih rimbun, rumput di tepi jalan terasa lebih tinggi seakan berhari-hari telah berlalu tanpa ia sadari.

Butuh waktu cukup lama sampai ia akhirnya melihat cahaya lampu dari kejauhan cahaya rumah warga di kawasan bawah Kampung Pitu, tempat mereka menyewa penginapan. Namun saat ia mendekat, jantungnya berdegup kencang bukan kepalang. Lampu di penginapan masih menyala, tapi suasana di halaman depan terasa berbeda. Ada mobil yang sudah siap berangkat, barang-barang dimuat ke dalam bagasi, dan orang-orang berjalan dengan langkah berat seakan sedang bersiap meninggalkan tempat itu untuk selamanya.

Saat Raka muncul di ambang pintu halaman, semua orang berhenti bergerak seketika. Tangan yang sedang memegang koper terhenti di udara. Suasana hening seketika, seakan waktu sendiri ikut berhenti. Mata mereka yang semula tampak kosong, lelah, dan penuh keputusasaan tiba-tiba melebar tak percaya.

"Raka..." bisik Laras pelan, suaranya pecah. Ia berdiri kaku di tempatnya, tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya pucat, matanya bengkak dan merah, seakan ia sudah berhari-hari tidak berhenti menangis.

Dimas yang sedang berdiri di dekat mobil langsung berlari mendekat, wajahnya kusut, janggutnya mulai tumbuh, matanya cekung dan tampak sangat lelah. "Kau... kau hidup? Kau benar-benar kembali?"

Semua anggota kru yang ada di sana segera mengerumuninya bukan dengan sorak-sorai, melainkan dengan tangis dan pelukan yang penuh rasa syukur yang tak terlukiskan. Beberapa orang jatuh berlutut, menangis sejadi-jadinya, tak percaya melihatnya berdiri di sana, utuh dan bernapas.

"Sudah SATU MINGGU, Kak Raka!" seru salah satu kru dengan suara parau dan penuh isak tangis. "Tujuh hari! Tujuh malam kau hilang tanpa kabar! Kami mencarimu setiap inci hutan ini, sampai ke lereng Gunung Api Purba, sampai ke Telaga Guyangan tidak ada jejak! Hari demi hari kami menunggu, berharap kau muncul. Tapi setiap hari berlalu tanpa kabar... kami hampir menyerah. Besok pagi... kami sudah bersiap pergi meninggalkan tempat ini untuk selamanya."

Raka terbelalak, tak percaya mendengar itu. Ia menatap mereka satu per satu wajah-wajah yang kusut, pakaian yang kotor dan belum diganti selama berhari-hari, mata yang bengkak dan merah karena kurang tidur dan menangis, koper-koper yang sudah tertutup rapat. Semua tanda bahwa mereka telah mencari dan menunggunya selama tujuh hari penuh.

"Satu minggu?" tanyanya pelan, suaranya serak dan berat, seakan ada batu besar yang menekan dadanya. "Tidak mungkin... aku masuk ke rumah itu sore hari, kira-kira jam empat. Aku berbicara dengan mereka sebentar, menerima buku ini, lalu kembali keluar. Kurasa hanya satu jam... paling lama dua jam. Tidak mungkin tujuh hari."

"Itulah yang kami tidak bisa pahami," kata Dimas sambil menghela napas panjang, tangannya masih menahan bahu Raka seakan takut ia hilang lagi. "Hari pertama kami menunggumu sampai malam. Hari kedua kami naik mencari rumah itu kosong, tidak ada siapa-siapa. Hari ketiga sampai ketujuh... kami mencari ke mana-mana, setiap sudut, setiap jalan setapak. Tidak ada jejak. Tidak ada satu orang pun yang melihatmu. Sejak sore itu... kau hilang begitu saja. Seakan bumi menelammu."

"Sekarang hari apa?" tanya Raka dengan suara bergetar, rasa dingin menjalar di sekujur tubuhnya.

"Hari Sabtu malam, Kak. Kau hilang sejak hari Sabtu sore, tepat satu minggu yang lalu."

Raka terdiam kaku. Tujuh hari. Tujuh hari penuh di dunia nyata, padahal di dalam sana ia merasa hanya berjarak hitungan jam. Ia menatap buku harian Ardita di tangannya benda kecil ini, yang terasa begitu ringan, ternyata membawa kisah yang terjebak dalam waktu yang berbeda, dalam tempat yang waktu sendiri berjalan dengan aturan yang tak mereka pahami.

"Mari masuk dulu," kata Laras pelan, tangannya gemetar menyentuh lengan Raka. "Kau butuh makan, butuh mandi, butuh istirahat. Tujuh hari... kau pasti butuh banyak hal. Kami semua butuh tenang dulu."

Mereka masuk ke dalam rumah penginapan yang sederhana itu. Meja makan masih penuh dengan piring-piring yang sudah dingin sisa makanan yang disiapkan setiap hari untuk Raka, berharap suatu hari ia akan kembali dan memakannya. Di sudut ruangan terlihat peta kawasan itu yang sudah ditandai dengan puluhan lingkaran merah tempat-tempat yang sudah mereka cari selama tujuh hari ini. Di dinding masih terpasang foto-foto Raka yang sempat mereka siapkan untuk laporan orang hilang. Semua itu terlihat begitu menyedihkan, namun juga begitu penuh kasih sayang bukti betapa mereka merindukannya, betapa mereka tidak pernah benar-benar berhenti berharap.

Setelah Raka selesai membersihkan diri dan makan sedikit makanan hangat pertama yang ia makan selama tujuh hari mereka semua berkumpul kembali di ruang tengah. Tidak ada yang mau tidur dulu. Semua ingin tahu di mana Raka selama tujuh hari itu, apa yang ia lihat, dan apa arti buku kecil yang ia bawa keluar dari rumah kedelapan itu.

Raka meletakkan buku itu perlahan di tengah meja kayu. Cahaya lampu pijar yang temaram menyinari sampul cokelat tua yang sudah agak usang itu. Tertulis jelas di sana dengan tulisan tangan yang rapi dan lembut: Ardita Iriyani Wijaya Catatan Harianku.

"Ini bukan milikku," kata Raka pelan namun jelas, suaranya terdengar berat di keheningan ruangan itu. "Ini milik Ardita. Putri dari keluarga Candra Wijaya. Dia yang menulis semuanya, sejak hari pertama mereka datang ke sini. Dan dia sendiri yang memberikannya kepadaku, sebelum aku meninggalkan rumah itu. Dia berpesan agar orang lain tahu apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini."

"Kau... bertemu mereka?" tanya salah satu kru dengan suara bergetar. "Keluarga itu... masih ada di dalam sana selama puluhan tahun lebih? Dan kau... kau berada di sana selama tujuh hari penuh?"

"Bagi aku, rasanya hanya sebentar," jawab Raka pelan, matanya tak lepas dari buku itu. "Tapi ternyata... waktu di sana berjalan dengan cara yang berbeda. Bagi mereka, mungkin sejak hari pertama mereka pindah ke sini, rasanya baru kemarin. Padahal di dunia ini, puluhan tahun telah berlalu. Dan bagiku... aku hanya masuk sebentar. Padahal di sini, tujuh hari penuh telah berlalu. Tujuh hari di mana kalian mencemaskan aku, mencariku, hampir menyerah."

Suasana menjadi hening seketika. Hanya terdengar napas berat dan suara jangkrik dari luar.

"Mari kita baca," kata Laras pelan, menatap buku itu dengan tatapan penuh rasa hormat. "Mari kita tahu dari awal. Siapa mereka, dari mana mereka datang, dan mengapa semuanya bisa berakhir seperti itu."

Raka mengangguk pelan, lalu membuka halaman pertama. Tinta biru yang digunakan Ardita masih terlihat jelas, meski sudah puluhan tahun berlalu. Dan saat Raka mulai membaca dengan suara rendah namun terdengar jelas, setiap kata yang keluar dari mulutnya seakan membawa mereka kembali ke tahun 1996 ke hari di mana semuanya bermula.

 

Halaman 1 — 15 Juli 1996

Hari ini kami tiba di tempat baru. Ayah bilang ini adalah awal yang baru untuk keluarga kita. Kami meninggalkan Jakarta kota yang penuh gedung tinggi, suara bising, dan orang-orang yang selalu terburu-buru. Ayah bilang ia sudah lelah dengan kehidupan di sana. Ia ingin mencari tempat yang tenang, tempat yang damai, tempat di mana kami bisa hidup dekat dengan alam, jauh dari polusi dan keramaian.

Perjalanan kami memakan waktu seharian penuh. Ibu duduk di sebelah Ayah, sesekali menatap ke luar jendela sambil tersenyum. Kak Arlan tidur di kursi belakang, sesekali terbangun lalu kembali tidur. Aku duduk di dekat jendela, melihat pemandangan yang berubah dari gedung-gedung menjadi sawah yang hijau, lalu bukit-bukit yang ditumbuhi pohon rindang. Semakin jauh dari kota, semakin sejuk udaranya. Aku merasa senang, seakan kami sedang menuju tempat yang lebih indah.

Saat tiba di sini... tempat itu indah sekali. Dikelilingi bukit batu yang menjulang, pepohonan hijau di mana-mana, udaranya bersih dan sejuk. Ayah bilang tempat ini bernama Nglanggeran, dan kami akan tinggal di bagian yang disebut warga sebagai Kampung Pitu.

Tapi sebelum kami bisa mulai membangun rumah, ada hal yang membuatku sedikit takut. Seorang bapak tua mendatangi Ayah saat kami sedang melihat tanah yang akan dibangun rumah. Beliau menatap Ayah dengan tatapan serius, lalu berkata:

"Bapak, di sini hanya boleh ada tujuh rumah. Tujuh keluarga, sudah sejak zaman dahulu. Jangan bangun rumah yang kedelapan. Tidak boleh. Alam ini tidak menerima lebih dari tujuh."

Ayah tertawa mendengar itu. Katanya itu hanya takhayul orang zaman dulu. Katanya kami manusia modern, tidak perlu takut pada hal seperti itu. Ayah berterima kasih pada bapak tua itu, tapi tetap bersikeras membangun rumah di tanah itu. Bapak tua itu menggeleng pelan, lalu pergi dengan wajah sedih.

Ibu sempat bertanya pada Ayah, apakah tidak sebaiknya mencari tempat lain. Tapi Ayah bilang tanah ini sudah dibeli, dan ia menyukainya. "Kita tidak perlu takut," kata Ayah. "Kita manusia biasa. Kita punya hak untuk hidup di mana saja."

Kak Arlan hanya diam, tapi aku melihatnya menatap ke arah tujuh rumah yang berdiri berjauhan di lereng bukit itu. Dia tidak berkata apa-apa, tapi aku tahu dia juga merasakan sesuatu yang aneh.

Tapi aku tetap berharap yang terbaik. Ayah bilang ini rumah impian kami. Rumah yang besar, dengan dua lantai, agar kami punya ruang yang luas. Ayah bilang rumah itu akan menjadi rumah terindah di seluruh daerah ini.

Aku berharap... semoga Ayah benar. Semoga kami benar-benar menemukan kedamaian di sini.

Ardita

 

Raka menutup buku itu perlahan. Ruangan itu sunyi. Tujuh hari kecemasan, tujuh hari pencarian, tujuh hari harapan yang perlahan runtuh dan kini mereka baru menyadari bahwa kisah ini jauh lebih tua, jauh lebih dalam, dan jauh lebih berat dari yang pernah mereka bayangkan.

"Besok pagi," kata Dimas memecah keheningan, suaranya mantap namun penuh perasaan. "Kita menemui Pak Tua Suryo. Beliau adalah bapak tua yang memperingatkan Ayah Ardita dulu. Beliau tahu semuanya. Dan dari beliau... kita harus mendengar sisi cerita yang lain."

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!