Ini bukan sekadar cerita tentang cinta beda kasta. Ini adalah perjalanan tentang sebuah nama besar...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kanji Wara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pekerjaan rico
Langkah kaki Mita dan Vani terdengar pelan saat mereka melangkah masuk melewati pintu depan rumah sederhana milik Rico. Dibandingkan dengan terik matahari siang luar kota yang membakar kulit dan debu lapangan proyek yang menyesakkan, suasana di dalam ruang tamu kecil ini terasa jauh lebih teduh. Sebuah sofa kain tua dan kipas angin dinding yang berputar lambat menyambut kedatangan kedua wanita kota tersebut.
"Silakan duduk, Ibu Mita, Mbak Vani. Anggap saja rumah sendiri," ucap Rico dengan nada suara yang terdengar sangat ramah dan penuh kesopanan, menyembunyikan getaran aneh di dalam dadanya.
"Terima kasih, Rico," sahut Vani sambil mengusap keringat di lehernya dengan selembar tisu, lalu membantu Mita meletakkan tas jinjingnya di atas meja kayu. Rasa penat setelah memutari pondasi proyek selama berjam-jam membuat tubuh kedua wanita itu benar-benar terasa lemas dan sangat haus.
"Pasti haus sekali ya setelah dari lapangan.
Tunggu sebentar, saya buatkan es teh manis dingin dulu di dapur untuk meredakan dahaga,"
kata Rico menawarkan dengan senyuman tulus buatan yang sangat meyakinkan.
"Boleh, Rico. Tolong ya, tenggorokanku rasanya kering sekali," balas Vani, sementara Mita hanya mengangguk pelan sembari menyandarkan punggungnya ke sofa, memejamkan matanya sejenak untuk memulihkan energi.
Rico pun berbalik dan melangkah cepat menuju ke arah dapur rumahnya yang sepi. Begitu tubuhnya melewati sekat pembatas ruangan dan tersembunyi dari pandangan kedua atasannya, raut wajah ramah Rico seketika lenyap. Napasnya mendadak memburu, dan jantungnya berdegup kencang berkejaran dengan adrenalin yang memuncak hebat ke ubun-ubunnya.
Obsesi liar yang selama ini menggerogoti akal sehatnya kini telah mengambil alih seluruh kesadarannya. Kesempatan emas seperti ini tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya dalam hidupnya.
Rico membuka lemari penyimpanan di sudut dapur dengan tangan yang sedikit gemetar. Dari balik tumpukan botol bumbu, dia mengeluarkan sebuah botol obat kecil tanpa label yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat. Itu adalah obat tidur cair dosis tinggi yang tidak berbau dan tidak memiliki rasa jika dicampurkan ke dalam minuman.
Logika kriminalnya bekerja dengan sangat taktis di kepala. Dia tahu betul jika dia hanya membius Ibu Mita sendirian, maka Vani yang masih sadar pasti akan langsung menyadarinya dan menghancurkan seluruh rencananya. Biar aman dan tidak ada saksi mata, dia harus melenyapkan kesadaran keduanya sekaligus siang ini.
Dengan gerakan yang cepat namun sangat hati-hati, Rico menyiapkan dua buah gelas kaca besar. Dia memasukkan es batu, menyeduh teh yang pekat, dan menambahkan gula dalam jumlah yang cukup banyak untuk memastikan rasa manisnya menyamarkan apa pun.
Setelah itu, dengan tangan yang dingin karena gugup, Rico meneteskan cairan obat tidur dosis tinggi tersebut ke dalam kedua gelas es teh manis milik Mita dan Vani.
Rico mengaduk minuman tersebut perlahan hingga larut sempurna. Setelah memastikan tidak ada perubahan warna atau busa yang mencurigakan pada permukaan es teh buatannya,
Rico menarik napas panjang sedalam-dalamnya.
Dia memukul dadanya pelan untuk menenangkan debaran jantungnya yang kian menggila, lalu memasang kembali topeng wajah pelayan barunya yang polos dan penurut.
Dengan memegang sebuah nampan berisi dua gelas es teh manis maut tersebut, Rico mulai melangkah keluar dari dapur menuju kembali ke ruang tamu tempat Mita dan Vani sedang menunggu, siap mengunci takdir kedua wanita berkuasa itu ke dalam tempat tergelap dalam hidup mereka.