Indonesia
NovelToon NovelToon
ALENSKY

ALENSKY

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi / Action
Popularitas:52.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sinho

Kembali dengan kisah keluarga Nugraha, kali ini adalah generasi termuda, ALENSKY yang berpindah tempat kuliah untuk sebuah ketenangan, namun pada akhirnya kembali pada pertarungan antara Cinta, Persahabatan dan Kekuasaan.

Perpaduan kisah yang menyeret kita untuk menggunakan emosi dan hati saat membacanya, ada kalanya ketidak Adilan yang lama membelenggu akhirnya harus terlepas oleh seseorang yang punya keberanian.

Persembahan sebuah Novel dari Author Sinho, semoga memberikan kesenangan dan manfaat bagi para pembaca.

Salam, sehat, semangat dan jangan lupa bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sinho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Alen 31

Membuka matanya perlahan, Alensky merasakan hawa lain dalam kamarnya, dan ada sesuatu yang berat kini menindih perutnya.

"Akh!"

Teriaknya nyaring dan segera mendorong kuat siapa yang ada di belakangnya.

BRUG

"Shit!"

Tranaka meringis kesakitan saat tangan dan punggungnya mendarat kasar di atas lantai kamar.

"Naka?"

Alensky mengedipkan matanya berkali-kali, takut salah melihat siapa yang sudah terjatuh dari tempat tidur karena dirinya.

"Kau ini_!" Seru Naka, setelah bangun dan menggosok siku nya yang lumayan sakit sesaat tadi.

"Sorry, aku tidak tau kalau itu_?" Alensky nampak berdiam sesaat, memikirkan sesuatu dan_

"Kau meniduri ku?!" Teriaknya kencang,

Lalu memeriksa semua baju yang dipakai nya, dan akhirnya menghela nafas lega, Aman!, batinnya.

"Aku hanya tidur di samping mu, bukan meniduri mu, itu dua suku kata yang berbeda maknanya" Tranaka lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya, mungkin juga untuk menenangkan jantungnya yang sesaat tadi seolah mau melompat dari tempatnya.

"Sorry" ucap Alensky, entah bisa di dengar oleh Tranaka atau tidak.

Beranjak dari tempatnya, Alensky kini duduk di sofa yang tak jauh dari kamarnya, mengambil air minum yang tersedia disana,. kemudian mengambil ponsel dan melangkah keluar menuju balkon kamar untuk menghirup udara yang masih segar.

"Murni" gumam nya pelan, memeriksa ponselnya yang masih sepi, tak ada sama sekali pesan masuk untuk nya, baik itu dari Draja.

Teringat kejadian semalam, mata Alensky terpejam, masih terdengar jelas di telinganya, bagaimana Murni menjerit histeris penuh luka dan menyalahkannya.

Tangan Alensky menggenggam erat, seolah ikut merasakan sakit karena kata-kata Murni yang terasa melumat hatinya.

Namun di saat yang sama, dirinya tersentak, sesuatu yang dingin menjalar dari sebuah genggaman, Alensky segera membuka mata dan mendapati seseorang sudah ada di sampingnya.

"Sedang apa?" Tanya Tranaka.

Alensky hanya memberikan senyuman, sebentar saja karena selanjutnya tertutupi oleh kesedihan nya.

"Galen dan Vito juga mencari informasi tentang masalah ibu Murni" ucap Tranaka.

"Hem, aku benar-benar tak percaya jika ini kasus bunuh diri" jawab Alensky.

"Kita perlu bukti jika ingin mengungkap semuanya, dan mereka keluarga Mawardi, jadi tidak semudah itu"

"Aku tidak peduli" jawab Alensky yang kini berbalik dan duduk di sebuah kursi yang tadinya ada di belakangnya.

Tranaka mengerti apa yang dirasakan Alensky saat ini, menatapnya sesaat dan menyusulnya.

"Sebaiknya kamu mandi, untuk saat ini ada yang perlu kita pikirkan, pemakaman di lakukan hari ini, aku sudah meminta ijin pihak kampus, dan kita bisa beristirahat satu hari"

Alensky tersadar, dan menatap Tranaka.

"Aku akan menghubungi Draja"

"Dia sudah tau, kita akan bertemu di pemakaman" jawab Tranaka.

"Hem" Alensky mengangguk dan segera masuk ke dalam.

*

*

Tranaka sudah duduk sambil memegang ponselnya, dari tadi tak berhenti menghubungi Galen dan Vito untuk mengetahui informasi terkini soal kasus Kematian ibu Murni.

"Tidak ada bukti, tidak ada hal apapun yang mencurigakan, kepolisian kesulitan mencari penyebab lain, semua mengarah pada kasus bunuh diri" ucap Vito.

"Pihak Rumah sakit juga mengatakan hal yang sama, tak menemukan apapun dari kejadian kematian ibu nya Murni" sahut Galen yang saling bertukar informasi sebelumnya.

Tranaka hanya menghembuskan nafas pelan, kali ini sepertinya belum menemukan celah yang bisa di curigai.

"Sangat sulit untuk membuktikan" ucapnya pelan.

Sementara itu, Alensky yang sudah bersiap untuk berangkat mencari keberadaan Tranaka.

Merasa tak ada di dalam kamarnya, Alensky segera membuka pintu.

"Dimana Tranaka?" Ucapnya mulai berjalan ke arah luar kamar.

Namun saat matanya mulai memindai semua ruangan, terlihat Tranaka yang masih dalam panggilan ponselnya.

"Alen!?" Tranaka akhirnya berlari kecil menuju ke arahnya.

"Sudah siap?" Tanya Tranaka nampak mencemaskan.

Ada anggukan yang di berikan, dan Tranaka segera menutup ponsel yang masih terhubung dengan Vito dan Galen di sana.

Duduk dengan tenang, Alensky masih terdiam di dalam perjalanan, hingga Tranaka mulai mengajaknya bicara.

"Nanti kita akan ketemu Murni, dan mungkin dia akan bersikap sama seperti sebelumnya, aku harap kamu bisa mengendalikan emosi" ucap Tranaka.

"Hem"

"Vito dan Galen sudah memberikan kabar, tapi sayang nya masih belum ada titik terang akan kasusnya, jadi semua pihak menyatakan itu kasus yang sama"

"Bunuh diri?"

Kali ini, Tranaka yang mengangguk pelan, sambil sesekali melirik ke arah Alensky yang kini sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya.

"Siapa?" Tanya Tranaka.

"Apa?" Tanya Alensky.

"Yang kau hubungi"

"Draja, mengirim pesan kalau dia sudah ada di pemakaman, kita akan bertemu di sana, dan _" Alensky tak melanjutkan kata-katanya.

Tranaka seperti nya mengerti apa yang tidak bisa di selesaikan oleh Alensky, satu tangannya perlahan menggenggam tangan Alensky.

"Ada keluarga Mawardi?"

"Breng-sek!" Ucap Lirih Alensky sambil mengangguk.

"Okey, aku akan selalu mengingatkan mu untuk menahan diri, aku tau bagaimana keluarga mereka, jangan sampai terprovokasi, tetap tenang saat di pemakaman nanti Alen"

"Aku tidak bisa janji"

"Alen?"

"Please Naka, mereka sudah membunuh ibu Murni, menurut mu aku bisa berpura-pura?!"

Tranaka segera menepikan mobilnya, kemudian menarik nafas dalam dan menatap Alensky yang terlihat tengah menahan emosi nya.

"Menahan diri bukan berarti berpura-pura, disana banyak orang yang akan melihat, jika sampai terjadi pertengkaran yang kita awali, kamu pikir pihak mana yang paling di curigai?, aku yakin disana ada pihak kepolisian yang datang"

"Aku tidak peduli!"

"Aku yang peduli, aku yang punya kewajiban menjaga mu saat ini Alensky, aku tidak ingin terjadi hal buruk yang akan berdampak pada kuliah mu, ingat pesan Oma, kamu harus menyelesaikan kuliah mu dengan baik, apalagi belum ada dua Minggu Alen"

"Lalu aku harus apa?, membiarkan mereka tertawa?!"

"Kendalikan emosi mu Alensky"

"Aku tidak peduli!"

"Kalau begitu kita tidak akan kesana"

"Aku akan keluar dari mobil ini"

"Jangan berani melakukannya" Tranaka segera mengaktifkan kunci otomatisnya.

Alensky berusaha untuk membuka, lalu kakinya menendang pintu itu berkali-kali, Tranaka hanya membiarkan saja.

"Buka Naka!" Teriaknya.

"Tidak"

"Naka, buka!"

Tranaka tidak melakukan apa yang di teriakan Alensky, hanya diam dan memperhatikan saja, sampai akhirnya Alensky menangis karena begitu kesal dan ingin melampiaskan amarahnya.

"Aku ingin semua baik-baik saja, aku tidak bermaksud membuat ibu Murni meninggal dunia, aku ingin semua kejahatan ada balasannya, aku ingin melakukan apapun untuk membalas mereka, aku ingin Murni mendapat keadilan!" Teriak Alensky.

"Alen_"

Tranaka langsung menarik tangannya dan merengkuh nya, usapan lembut di berikan berkali-kali di rambut dan punggungnya, Tranaka berharap bisa segera menenangkan nya.

Namun sesuatu mengejutkan Tranaka, satu sentuhan tangan Alensky mampu membuka pintu mobilnya dengan paksa.

Alensky mendorong Tranaka, dan lari begitu saja.

"Alensky!"

Teriak Tranaka dan segera mengejarnya.

Sebuah taksi berhasil di hentikan, dan Alensky masuk kedalam sana dengan cepat, Tranaka tak bisa mencegahnya, nafasnya masih terengah sambil meneriakkan nama Alensky yang sudah pergi.

"SIAL!"

Yuk komen, apa tangan akan terjadi?, jangan lupa LIKE VOTE dan HADIAH nya.

1
Mundri Astuti
namanya juga bertarung ale...
Dwi Diana
harus selamat naka nya thor
Titik Subekti
pertempuran yg dahsyat
jgn ada yg meninggalkan ya thor
Mety Haula
oma cpt yolong tanaka jgn sampai ale menyedalinya
Dwi Setyaningrum
duh kirain didetik2 krusial kyk td Oma Alena muncul ternyata tdk dan untungnya kekuatan Alen malah dahsyat..gmn ya tranaka kira2 bisa disembuhkan ga ya🤔
Siti Aisah
thor naka bakal selamat kan, ada keluarga nugraha yg bisa menyembuhkan walaupun terluka seberat apapun..
Susy Ariyani
seru Kak
Kaa
meskipun Alen bisa selesaikan pertarungan itu tapi ko aku ikutan cemas dengan ke adaan tranaka apalagi Alen lanjut Thor yaah jangan lama deg degkan ini
Mundri Astuti
Alhamdulillah Ale bisa ngatasin sendiri...
Kaylaa
oma Alina datang gak ya🤔
Nurhartiningsih
kalau sudah bener2 terdesak ortunya Ale pasti bantuin.
Titik Subekti
.makin deg deg an
lanjut...
Mundri Astuti
tuh kan ..keturunan Rudolf juga punya...tapi klo ngadepin ketuanya mah kudu ada bantuan juga ngga si berdua
Arw
ini baru awal kekuatan Tranaka....saat nanti puncaknya tiba wooowww....seperti apa kekuatan itu.....d tunggu up-nya kak....
Siti Aisah: kekuatan naka dan alensky pasti bisa mengalahkan klan hitam Valencia... lanjut di tunggu besok thor😜
total 1 replies
Rita Susanti
Wiiih seru banget ini thor
Dwi Setyaningrum
tambah deg degan deh seru seru..
ismi
dari kemaren cuma satu bab kak thor upnya,,terus digantung pas lagi seru serunya
Susy Ariyani
lanjut
Kaa
bacanya jadi ikut tegang Thor lanjut thor
Siti Aisah
menegangkan untung kekuatan naka sudah muncul thor jdi seimbang😁
Susy Ariyani: semangat 💪💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!