Indonesia
NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:429
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DOKUMEN YANG MENGUBAH TAKDIR

Taman Paviliun Han Mei mendadak dipenuhi ketegangan.

Yuán Zhēn memegang dokumen bersampul kuning itu. Tanda tangan ayahnya tertera dengan jelas di bagian bawah, disertai cap kerajaan yang tidak mungkin dipalsukan dengan mudah.

Namun, semakin lama ia membaca tulisan pada halaman pertama, semakin dingin tatapannya.

Paman Agung Zhāng berdiri beberapa langkah di hadapannya, menunggu reaksi sang Kaisar.

“Yang Mulia,” katanya, “dokumen itu ditulis atas perintah mendiang Kaisar. Tidak seorang pun berhak mengabaikannya.”

Yuán Zhēn mengangkat wajah.

“Sejak kapan Anda menyimpan dokumen kerajaan?”

“Sejak sebelum Anda naik takhta.”

“Dan mengapa baru sekarang Anda menunjukkannya?”

Paman Agung Zhāng tersenyum tipis.

“Karena kebenaran akhirnya tiba pada waktunya.”

Yuán Zhēn tidak membalas senyumnya.

Ia kembali membaca dokumen tersebut.

Di dalamnya tercatat bahwa pada malam ketika dua anak dilahirkan, Dewan Istana mengadakan pertemuan rahasia. Kedua bayi itu memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan, tetapi catatan tentang salah satunya diperintahkan untuk dipisahkan dari arsip utama.

Pada halaman terakhir, terdapat kalimat yang membuat Yuán Zhēn berhenti membaca.

Demi menjaga kestabilan kerajaan, identitas salah satu anak harus dirahasiakan sampai pewaris takhta mampu menentukan sendiri siapa yang layak dipercaya.

Yuán Zhēn mengerutkan kening.

“Dokumen ini tidak menyebutkan bahwa Liān Huā harus kehilangan identitasnya.”

Paman Agung Zhāng menjawab dengan tenang, “Dokumen itu memang tidak menyebutkan nama Liān Huā. Tetapi kita semua mengetahui siapa anak perempuan yang dimaksud.”

“Tidak,” kata Yuán Zhēn tegas. “Kita belum mengetahui semuanya.”

Paman Agung Zhāng tidak menjawab.

Tatapannya beralih kepada Putri Ning.

“Sudah lama sekali, Putri. Saya kira Anda tidak akan pernah kembali.”

Putri Ning berdiri di samping Liān Huā.

“Seandainya orang-orang di istana berhenti memburu masa lalu, mungkin aku tidak perlu kembali.”

“Justru karena Anda kembali, masa lalu akan kembali mengganggu kerajaan.”

Putri Ning menatapnya dingin.

“Kerajaan tidak akan hancur hanya karena kebenaran diketahui. Yang takut terhadap kebenaran hanyalah mereka yang membangun kekuasaan di atas kebohongan.”

Untuk sesaat, senyum Paman Agung Zhāng menghilang.

Namun, ia segera kembali memasang wajah tenang.

“Perkataan yang berani dari seseorang yang pernah meninggalkan tanggung jawabnya.”

Liān Huā hendak melangkah maju, tetapi ibunya menahan tangannya.

“Jangan terpancing,” bisik Putri Ning.

Liān Huā mengangguk, meskipun amarah mulai memenuhi hatinya.

Selama bertahun-tahun, orang-orang telah menggunakan masa lalunya sebagai alasan untuk menentukan jalan hidupnya.

Kini, ia tidak ingin membiarkan siapa pun melakukannya lagi.

---

“Yang Mulia,” ujar Paman Agung Zhāng, “atas nama Dewan Istana, saya meminta agar Putri Ning dibawa ke kediaman kerajaan untuk diperiksa. Sementara itu, Liān Huā harus dipisahkan sampai identitasnya dipastikan.”

Yuán Zhēn melipat dokumen tersebut.

“Ditolak.”

Wajah pejabat yang berdiri di belakang Paman Agung Zhāng berubah.

“Yang Mulia, perintah Dewan Istana—”

“Aku adalah Kaisar.”

Suaranya tidak keras, tetapi membuat semua orang terdiam.

“Tidak ada seorang pun yang berhak memisahkan seorang ibu dari putrinya tanpa alasan yang sah. Terlebih lagi, dokumen yang Anda bawa tidak memberikan kewenangan seperti yang Anda tuntut.”

Paman Agung Zhāng menatapnya.

“Apakah Yang Mulia bersedia mempertaruhkan kestabilan kerajaan demi seorang perempuan yang bahkan tidak diketahui asal-usulnya?”

Yuán Zhēn berdiri di hadapan Liān Huā.

“Aku tidak sedang mempertaruhkan kerajaan demi dirinya. Aku sedang memastikan bahwa hukum tidak digunakan sebagai alat untuk menutupi kejahatan.”

Lù Shān memberikan isyarat kepada para pengawal Kaisar.

Mereka segera membentuk barisan di sekitar Yuán Zhēn, Liān Huā, dan Putri Ning.

Paman Agung Zhāng menyadari bahwa ia tidak dapat memaksakan kehendaknya tanpa menimbulkan konflik terbuka.

Ia akhirnya mundur selangkah.

“Baiklah, Yang Mulia. Saya akan menunggu keputusan Dewan Istana.”

Sebelum pergi, ia menatap Liān Huā.

“Namun, ingatlah perkataanku. Tidak semua orang yang mengaku sebagai keluargamu benar-benar menginginkan keselamatanmu.”

Liān Huā membalas tatapannya.

“Dan tidak semua orang yang mengaku melindungi kerajaan benar-benar menginginkan kebaikannya.”

Paman Agung Zhāng terdiam sesaat.

Kemudian ia berbalik dan meninggalkan taman.

Akan tetapi, sebelum melewati gerbang, ia memberikan isyarat kecil kepada salah satu pengawalnya.

Tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Kecuali Lù Shān.

---

Setelah rombongan Paman Agung Zhāng pergi, Yuán Zhēn membawa Liān Huā dan Putri Ning kembali ke istana melalui jalan khusus.

Sepanjang perjalanan, Liān Huā tidak banyak berbicara.

Ia masih memikirkan dokumen yang baru saja mereka lihat.

“Yang Mulia,” katanya akhirnya, “apakah Anda sudah mengetahui tentang dua bayi itu sebelum hari ini?”

Yuán Zhēn menatapnya.

“Aku pernah mendengar cerita tentang dua bayi yang lahir pada malam yang sama. Namun, aku tidak pernah mengetahui bahwa salah satunya mungkin adalah dirimu.”

“Lalu mengapa nama Anda tertulis di bagian yang berkaitan dengan kelahiran itu?”

“Karena aku adalah salah satu bayi yang lahir pada malam tersebut.”

Liān Huā terdiam.

Yuán Zhēn melanjutkan, “Aku tidak mengetahui apakah gelang yang kita temukan benar-benar berkaitan dengan kelahiranku. Kita membutuhkan catatan yang lebih lengkap.”

Putri Ning yang duduk di hadapan mereka akhirnya berbicara.

“Gelang itu memang dibuat untuk kedua bayi tersebut.”

Yuán Zhēn menoleh kepadanya.

“Kalau begitu, siapa anak kedua yang dimaksud?”

Putri Ning memandang Liān Huā sebelum menjawab.

“Anak kedua adalah putriku.”

Liān Huā menggenggam tangan ibunya.

“Berarti aku dan Yang Mulia benar-benar lahir pada malam yang sama?”

“Ya.”

Keheningan memenuhi kereta.

Liān Huā memandang Yuán Zhēn dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Mereka tumbuh di dunia yang berbeda. Yuán Zhēn dibesarkan sebagai pewaris takhta, sementara Liān Huā menjalani hidup dengan identitas yang tidak lengkap.

Namun, mungkin sejak awal, takdir mereka telah dihubungkan oleh sebuah rahasia.

“Apakah itu berarti aku memiliki hak atas takhta?” tanya Liān Huā.

Putri Ning menghela napas.

“Secara garis keturunan, kau memiliki hubungan dengan pewaris utama kerajaan. Namun, hak atas takhta tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan satu dokumen atau gelang bayi. Ada hukum, keputusan kerajaan, dan fakta sejarah yang harus diperiksa.”

Yuán Zhēn mengangguk.

“Karena itulah aku tidak akan membiarkan siapa pun membuat keputusan terburu-buru.”

Liān Huā menatap keduanya.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mengetahui identitasnya tidak serta-merta memberinya semua jawaban.

Bahkan mungkin, jawaban itu akan membuat hidupnya jauh lebih rumit.

---

Malam itu, Yuán Zhēn memerintahkan agar Putri Ning ditempatkan di sebuah kediaman khusus yang aman.

Liān Huā meminta izin untuk tinggal bersamanya.

Yuán Zhēn menyetujuinya, tetapi ia juga menempatkan penjaga di sekitar kediaman tersebut.

Sementara itu, Lù Shān dipanggil ke ruang kerja Kaisar.

“Apa yang kau lihat di taman tadi?” tanya Yuán Zhēn.

Lù Shān menunduk.

“Saya melihat salah satu pengawal Paman Agung Zhāng memberi isyarat kepada seseorang di luar gerbang.”

“Apakah kau mengenali orang itu?”

“Tidak. Namun, orang tersebut tidak mengenakan seragam penjaga keluarga Zhāng.”

Yuán Zhēn berjalan menuju meja.

“Berarti Paman Agung Zhāng memiliki orang lain yang bekerja untuknya.”

“Saya akan menyelidikinya.”

“Lakukan dengan hati-hati. Jangan sampai mereka mengetahui bahwa kita sedang mengawasi mereka.”

Lù Shān hendak pergi ketika Yuán Zhēn memanggilnya kembali.

“Lù Shān, apakah Paviliun Yún pernah menyebutkan alasan sebenarnya mengapa Liān Huā harus tetap hidup?”

Lù Shān terdiam cukup lama.

“Ada satu pesan yang pernah saya terima.”

“Apa isinya?”

“Orang yang saya lindungi bukan hanya seorang anak yang harus diselamatkan. Ia juga merupakan saksi terakhir dari sebuah perjanjian kerajaan.”

Yuán Zhēn mengerutkan kening.

“Perjanjian apa?”

“Saya tidak mengetahui isinya. Pesan itu hanya menyebutkan bahwa jika perjanjian tersebut ditemukan, seluruh pihak yang terlibat harus mempertanggungjawabkan tindakan mereka.”

Yuán Zhēn menatap dokumen di atas meja.

Perebutan takhta, hilangnya Putri Ning, perubahan identitas, dan penyimpangan bantuan bencana yang sedang ia selidiki mungkin tidak berdiri sendiri.

Semuanya bisa jadi merupakan bagian dari satu persoalan besar yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Temukan perjanjian itu,” perintahnya.

---

Di kediaman khusus, Liān Huā duduk bersama ibunya.

Putri Ning sedang memeriksa liontin yang dikenakan putrinya.

“Liontin ini masih utuh,” katanya pelan.

“Apakah Ibu yang memberikannya kepadaku?”

Putri Ning mengangguk.

“Aku memberikannya kepadamu pada malam kita harus berpisah.”

Liān Huā menunduk.

“Apakah Ibu benar-benar tidak memiliki pilihan lain?”

Pertanyaan itu membuat Putri Ning terdiam.

“Aku memiliki pilihan,” jawabnya akhirnya. “Tetapi tidak satu pun mudah.”

Ia menggenggam tangan Liān Huā.

“Ketika kau masih kecil, ada orang-orang yang ingin menggunakan kelahiranmu untuk memperkuat kedudukan mereka. Sebagian menginginkanmu menjadi lambang kekuasaan. Sebagian lain takut bahwa keberadaanmu akan mengungkap kesalahan yang pernah mereka lakukan.”

“Lalu Ibu memilih menyembunyikanku?”

“Aku memilih memberimu kesempatan untuk tumbuh tanpa harus menjadi alat siapa pun.”

Liān Huā memandang ibunya dengan mata berkaca-kaca.

“Namun, Ibu juga meninggalkanku tanpa jawaban.”

Putri Ning menundukkan kepala.

“Benar. Dan untuk itu, aku tidak akan meminta kau memaafkanku dengan mudah.”

Liān Huā tidak menjawab.

Ia membutuhkan waktu untuk menerima semua kenyataan ini.

Putri Ning tidak memaksanya. Ia hanya menggenggam tangan putrinya, membiarkan keheningan mengisi jarak di antara mereka.

Setelah beberapa saat, Liān Huā bertanya, “Siapa orang yang mengetahui rahasia gelang itu?”

Wajah Putri Ning berubah serius.

“Seorang pejabat istana bernama Guān Shí.”

“Apakah dia masih hidup?”

“Aku tidak tahu. Setelah aku meninggalkan ibu kota, Guān Shí menghilang. Namun, sebelum kami berpisah, ia mengatakan bahwa jika suatu hari gelang itu ditemukan, aku harus mencari separuhnya yang lain.”

“Di mana separuh gelang itu?”

Putri Ning menggeleng.

“Itulah yang belum kuketahui.”

---

Jauh dari kediaman khusus, seorang pelayan tua memasuki ruang penyimpanan yang jarang digunakan.

Ia membawa sebuah lentera kecil dan berjalan menuju lemari paling belakang.

Setelah memastikan tidak ada orang lain, ia membuka sebuah kotak besi.

Di dalamnya terdapat potongan gelang giok yang selama bertahun-tahun disembunyikan.

Ukirannya menunjukkan lambang yang sama dengan gelang yang ditemukan di Paviliun Han Mei.

Pelayan itu mengeluarkan sebuah surat lama dari balik kain.

Pada surat tersebut tertulis:

Jika kedua anak itu kembali dipertemukan, serahkan gelang ini kepada mereka. Jangan biarkan siapa pun mengubah catatan kelahiran untuk kedua kalinya.

Pelayan tua itu menghela napas.

“Sudah terlalu lama,” gumamnya.

Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.

“Sudah waktunya kau menyerahkan benda itu.”

Pelayan tua itu berbalik dengan terkejut.

Seorang pria berjubah gelap berdiri di ambang pintu.

Wajahnya tidak terlihat jelas, tetapi pada pinggangnya tergantung lambang keluarga Zhāng.

“Siapa kau?” tanya pelayan tua itu.

Pria tersebut melangkah maju.

“Orang yang dikirim untuk memastikan bahwa rahasia itu tidak pernah sampai kepada Kaisar.”

Pelayan tua itu segera menggenggam gelang giok.

“Kalau begitu, kau datang terlambat.”

Ia menyembunyikan gelang itu di balik pakaiannya.

Pria berjubah gelap mengulurkan tangan.

“Serahkan.”

Pelayan tua itu menggeleng.

“Tidak. Kali ini, kebenaran harus diketahui.”

Pria tersebut terdiam sejenak.

Kemudian ia berkata dengan suara dingin,

“Kalau begitu, kau tidak memberiku pilihan.”

Di luar ruangan, angin malam menggoyangkan lentera hingga cahayanya bergetar.

Dan sebelum fajar tiba, satu lagi rahasia kerajaan akan berpindah tangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!