'Hati manusia seluas samudra.'
Di dalamnya terdapat banyak hal baik dan buruk.
》Kadang bahagia, sedih, cemburu, emosi, marah, benci, kecewa, datang silih berganti.
》Kadang merasa ragu-ragu dan sulit membuat keputusan, karena isi kepala dan perasaan saling bertentangan.
》Kadang harus berjuang untuk memulihkan rasa sakit, kecewa akan masa lalu yang penuh luka. Oleh sebab itu :
~••°°••~
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."
~••°°••~
》Ikuti kisah perjuangan dan pemulihan hati orang-orang berintegritas mempertahankan kredibilitasnya di Novel : "LIKA LIKU HATI"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Nelson - Alena
...~•Happy Reading•~...
Sontak Nelson berdiri dan melepaskan tangan Alena dari lehernya. "Alena, berhenti selagi aku masih menghargaimu." Nelson membentak dengan wajah kaku.
Nelson mengangkat tinggi tangan Alena agar tidak memeluknya. Tetapi justru Alena menjadi liar. Dia memajukan bibir untuk men^cium dada Nelson tanpa berhenti, walau jaketnya masih tertutup.
Sehingga Nelson mendorongnya ke belakang, hingga jatuh ke atas tempat tidur. Dengan nafas memburu dia mengambil ransel lalu meninggalkan kamar Alena. Dia berusaha menjaga kewarasan pikirannya, agar tidak melewati batas.
"Ternyata yang dibilang para mahasiswa itu benar. Kau penyuka sesama. Pantas menolak wanita dan menempel sama Angga." Alena berkata sambil menyeringai, mengejek.
Tidak ada lagi sopan santun dan etika. Dia tidak menyangka Nelson akan menolaknya. Sehingga dia pergunakan cara untuk memancing Nelson dengan cara yang makin nekad dan tidak bermoral.
Nelson yang hendak keluar jadi berbalik. Kemarahannya naik ke ubun-ubun dan emosinya tidak terkendali mendengar tuduhan Alena terhadap hubungan persahabatannya dengan Angga.
Sehingga dia tidak menyadari Alena sudah melepaskan celana legging dan hanya mengenakan atasan yang sudah tersingkap melewati dengkul dalam pose menantang menunggunya berbalik.
Nelson melangkah dengan langkah panjang mendekati ranjang dimana Alena masih berbaring dengan hati berbunga. Tidak berkata apa pun, Nelson memegang leher Alena seperti jepitan baja.
Sehingga Alena hampir kehabisan nafas. Dia terus meronta dan berusaha melepaskan tangan Nelson dengan memukul dan menendang. Hingga segitiga pengaman berwarna hitam terlihat jelas. Tapi semuanya tidak diperhatikan Nelson yang sedang emosi.
"Kau bilang apa? Kami penyuka sesama?" Kemarahan Nelson memuncak, tapi dia segera melepaskan cengkraman saat melihat Alena tersengal dan wajahnya memutih. Nelson memukul udara, untuk menyalurkan amaranya, karena hampir membunuh Alena.
"Kalau tidak penyuka sesama, apa ini?" Ucap Alena saat melihat Nelson berbalik, mau meninggalkan dia. "Dasar pengecut !" Ucap Alena yang sudah bisa bernafas baik dan tidak mau melepaskan Nelson. Dia menyadari, tidak akan ada lagi kesempatan, jika sekarang tidak berhasil menjerat Nelson.
Melihat Nelson berdiri diam sambil mengepalkan tangan, Alena melakukan rencana terakhir. Dia melepaskan segitiga pengaman untuk menanti dan siap menggodanya.
Ketika Nelson berbalik, Alena menyeringai senang melihat wajah Nelson yang memerah dan kembali mendekatinya.
Nelson yang tidak bisa berpikir jernih, tidak menyadari sedang berada di daerah terlarang yang selalu dijaga dan dihindari.
"Aku akan menunjukan padamu." Tangan Nelson melepaskan ikat pinggang dan langsung membuka resleting celana dan menunjukan kelaki-lakiannya.
Nelson tidak perlu bekerja keras untuk membuktikan, sebab Alena sudah siap menyambutnya. Seiring amarah dan nafsu yang meningkat, Nelson membela durian tak duri di puncak gunung asmara. Hingga Alena merintih kenikmatan, tanpa rasa malu.
Setelah menuntaskan amarah dan nafsunya, Nelson merapikan celana, mengambil ikat pinggang dan ransel lalu keluar meninggalkan Alena tanpa berkata apa pun.
Setelah Nelson pergi, Alena tertawa girang tanpa suara sambil memukul kasur. Dia menggerakan tangannya seperti orang berenang senang. 'Kau tidak akan lari lagi dariku.' Bisik hati Alena penuh kemenangan. Dia yakin telah menaklukan Nelson.
Bayangan kelancaran karier dan kenyamanan hidup terbentang luas di depannya. Hal itu membuat dia terus tertawa sambil memukul kasur, tanpa menghiraukan Nelson yang sudah pergi. Dia yakin, Nelson akan kembali lagi, setelah ber^cinta dengannya.
~••
Nelson yang rencananya akan melewati jalan memutar untuk bertemu Monce, membelokan motor ke arah dermaga fery. Dia khawatir alami kecelakaan karena emosi masih menguasai hati dan perasaan, hingga tidak bisa berkonsentrasi.
Setelah fery tiba di seberang, Nelson hanya menurunkan motor dari fery dan parkir di dermaga. Dia menarik nafas panjang dan memegang rambutnya dengan kedua tangan. Dia menarik nafas berulang kali mengingat yang baru terjadi.
'Aku telah gagal mengamalkan yang telah dipelajari dari Papa Mama, agar waspada pada keinginan daging.' Nelson ingat kedua orang tuanya.
'Aku telah membuat kesalahan yang menghancurkan hidup dan karierku.' Nelson ingat rencana dengan kedua sahabatnya.
Tiba-tiba dia merasa sedih, harus melepaskan kariernya sebagai asisten dan dosen. Dia menyadari apa yang dilakukan terhadap Alena tidak pantas sebagai seorang pengajar. 'Sangat memalukan.' Nelson membentak dirinya. Lalu meninggalkan dermaga.
Menjelang malam dia tiba di rumah. "Pa, Ma, Nel pulang." Ucap Nelson datar tanpa melihat orang tuanya yang sedang menunggu untuk makan malam.
Bu Weny memandang Pak Esra dengan wajah heran dan bertanya-tanya. "Jangan bertanya, Ma. Biarkan Nel mandi dan makan." Bu Weny mengangguk mengerti, walau penasaran dengan sikap Nelson yang tidak seperti biasanya.
"Kalau dia tidak mengatakan apa pun setelah makan, biarkan dia sendiri yang memutuskan untuk bicara dengan kita." Pak Esra kembali mengingatkan, melihat ketidakbahagiaan di wajah putra kesayangannya.
"Iya, Pa. Aku baru pernah melihat raut wajahnya seperti itu. Bukan saja kecewa, tapi sangat sedih. Hatiku rasanya hancur melihat dia seperti itu." Bu Weny berkata dengan mata berkaca-kaca.
Pak Esra jadi melihat ke arah pintu kamar Nelson. "Apa sebenarnya yang dia alami hari ini, Ma? Mengapa dia bisa seperti itu?" Pak Esra bertanya dengan nada sedih melihat istrinya hanya diam sambil air mata mengalir di pipi.
Ketika Nelson keluar untuk makan malam, hanya Bu Weny yang menemani. Karena Pak Esra tidak tahan duduk menemani Nelson makan dalam diam.
Nelson pun tidak bercakap-cakap dengan Mamanya yang menyibukan diri di dapur. Karena kegundahan hati yang ditahan, dia tidak menyadari perubahan sikap kedua orang tuanya.
Padahal Mamanya sedang menghindar, agar kesedihannya tidak terlihat oleh Nelson dan membuatnya tidak bisa makan.
~••
Setelah peristiwa itu, beberapa waktu kemudian, Nelson tidak lagi ke kampus untuk mengunjungi perpustakaan atau laboratorium. Dia hanya datang mengajar untuk menyelesaikan tugasnya sebagai asisten dosen.
Setiap kali melihat Alena dari jauh, dia akan memutar jalan. Agar tidak bertemu dengan Alena atau teman-temannya. Kampus tidak lagi menjadi tempat kebanggaan untuk menghabiskan waktu selain rumahnya. Setelah mengajar, dia langsung pulang ke rumah.
~••
Namun tindakan dan sikap Nelson membuat Alena terkejut. 'Mengapa Nelson tidak berusaha menghubungiku? Mengapa aku gak melihat dia di kampus?' Pertanyaan itu mengganggu Alena. Dia bertanya kepada beberapa asisten dosen untuk mengetahui Nelson.
Ketika mengetahui Nelson masih datang mengajar, Alena terkejut. Dia jadi emosi, mengetahui Nelson sengaja menghindari dia.
Rasa percaya dirinya menguap seketika, mengetahui sikap Nelson tidak seperti bayangannya. Dia mengira, Nelson akan mencari dan mengejarnya untuk ber^cinta gratis.
Ternyata Nelson memperlakukan dia seperti kuman yang harus dihindari. Hal itu menghancurkan harga diri dan merusak reputasinya sebagai wanita yang selalu diinginkan dan dielu-elukan.
~••
Nelson yang sedang berbaring di atas tempat tidur merenungi nasib kariernya yang kelam, melihat notifikasi pesan masuk dari nomor Hantu. Dia segera buka untuk mengetahui isinya.
'Ternyata dia yang telpon waktu itu.' Nelson membatin saat membaca pesan ancaman dari Alena. Nelson tetap memberikan nama Hantu bagi nomor Alena, karena setiap kali mengingat namanya, tengkuknya merinding.
...~•••~...
...~•○♡○•~...