Setelah kehilangan istrinya dalam sebuah kecelakaan tragis, Areksa Dirgantara harus membesarkan putrinya, Aretha, seorang diri.
Hingga seorang perempuan bernama Adira datang ke dalam hidupnya.
Adira hanya berniat merawat Aretha, tetapi kedekatan mereka perlahan membawa keduanya pada sebuah pernikahan yang tidak pernah direncanakan.
Bagi Adira, pernikahan itu hanya sementara. Ia masih membawa luka dari masa lalu dan takut kembali mencintai.
Sementara Areksa perlahan menyadari bahwa perasaannya kepada Adira bukan sekadar tanggung jawab.
Namun, kehadiran Adira ternyata menyimpan lebih banyak rahasia.
Ada alasan mengapa Aruna begitu mempercayainya.
Ada masa lalu yang perlahan kembali.
Dan mungkin, pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan.
Ketika takdir membawa Adira ke dalam hidup Areksa, mampukah mereka menemukan cinta di antara luka, rahasia, dan masa lalu yang belum selesai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bentakan Areksa
Waktu dua jam yang diberikan Soraya ternyata tidak sampai mereka gunakan sepenuhnya.
Belum genap dua jam sejak berangkat, Areksa dan Adira sudah kembali ke rumah.
Begitu melihat keduanya masuk ke ruang keluarga, Soraya langsung mengangkat alis.
“Loh, loh... sebentar banget?”
Areksa menghela napas. “Nanti kalau lama, Mama yang kelimpungan lagi karena Aretha nangis minta nyus.”
“Iya sih...” Soraya mengangguk. Namun, matanya kemudian memperhatikan pakaian mereka. “Tapi kok baju kalian basah? Celana kalian juga kotor. Kalian itu habis dari mana?”
“Pantai, Ma.”
“Pantai?”
“Adira yang mau ke sana. Terus hujan, jadi kami pulang.”
Soraya langsung tersenyum lebar. “Romantis dong hujan-hujanan.”
Areksa memejamkan mata sebentar. “Ya ampun, Ma...”
“Kenapa? Mama cuma bilang romantis.”
Soraya melirik pakaian mereka sekali lagi, lalu terkekeh. “Kirain habis hujan-hujanan kalian mampir dulu ke hotel.”
“Ma!” Areksa langsung protes.
Adira yang sejak tadi berdiri di sampingnya memilih mengalihkan pandangan. Wajahnya kembali memanas.
Soraya semakin geli melihat reaksi keduanya.
Padahal mereka sama-sama pernah menikah, tetapi kalau dilihat sekarang, tingkah mereka justru seperti dua orang yang baru pertama kali belajar dekat dengan pasangan masing-masing.
“Non Aretha di mana, Ma?” Tanya Adira memecah kecanggungan.
“Di kamar Reksa. Masih tidur.”
Soraya tersenyum. “Tadi tidurnya lama banget, lewat dari jam tidurnya. Baru sekitar setengah jam yang lalu dia tidur."
“Oh, begitu.” Adira mengangguk kecil. “Kalau begitu saya ke atas dulu, Ma.”
“Ya, sana.”
Adira baru hendak melangkah ketika Areksa ikut berdiri.
“Aku juga, Ma. Mau ganti baju.”
Soraya memandang keduanya bergantian. “Ya sudah. Sana.”
Keduanya pun berjalan menuju tangga.
Baru beberapa langkah, Soraya berseru dari belakang. “Reksa!”
Areksa berhenti dan menoleh. “Kenapa, Ma?”
“Besok jalan-jalan lagi ya. Jangan cuma sekali.”
Areksa menghela napas. “Lihat nanti, Ma.”
Soraya tertawa. “Dasar!”
Adira yang berjalan di samping Areksa hanya menundukkan wajah, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang muncul di bibirnya.
***
“Sebaiknya kamu dulu yang ganti baju, Adira.”
“Iya, Tuan.”
Adira segera mengambil pakaian gantinya dari dalam lemari. Setelah mendapatkan pakaian yang ia butuhkan, ia berbalik hendak menuju kamar mandi.
Namun, ia sama sekali tidak menyadari bahwa Areksa berdiri tepat di belakangnya.
Bruk!
Tubuhnya menabrak dada bidang laki-laki itu.
Adira sontak mendongak. “M-maaf, Tuan. Saya nggak tau ada Tuan di sini.”
Ia buru-buru mundur sedikit. “Hm... bisa minggir sebentar?”
“Tidak.”
Adira mengerjap.
Areksa justru tetap berdiri di hadapannya, membuat Adira tidak bisa langsung melewatinya.
“Oh... Tuan mau ganti baju duluan?” tanya Adira polos. “Biar saya ambilkan bajunya.”
“Nggak juga.”
Adira semakin bingung. “Terus?”
Areksa menatapnya dengan senyum tipis. “Sepertinya ada konsekuensi yang harus kamu terima kalau masih memanggil saya Tuan.”
Adira langsung terdiam. Jantungnya mulai berdetak sedikit lebih cepat.
“M-maksudnya?”
“Masih mau panggil saya Tuan?”
Adira membuka mulut, tetapi belum sempat menjawab.
“M-maaf—”
Areksa lebih dulu mendekat dan mengecup bibirnya singkat.
Mata Adira langsung membelalak.
Untuk beberapa detik, pikirannya seolah berhenti bekerja.
Dia... menciumku?
Adira bahkan lupa bagaimana caranya bereaksi.
Pipi dan telinganya terasa panas. Ia spontan menundukkan wajah, sementara jantungnya berdetak semakin cepat.
Kenapa hanya kecupan singkat seperti itu bisa membuatku sekacau ini?
Areksa segera mundur dan memberinya ruang. “Itu konsekuensi karena kamu masih memanggil saya Tuan.”
Adira masih terpaku.
Ia tau Areksa sedang menggoda, tetapi tetap saja, dirinya tidak siap.
Terlebih setelah beberapa waktu terakhir mereka mulai semakin dekat.
Sentuhan sederhana saja sudah cukup membuat pikirannya berantakan.
“I-iya...”
Hanya itu yang mampu keluar dari bibirnya.
Adira kemudian buru-buru berbalik dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Begitu pintu tertutup, ia menyandarkan punggungnya di sana.
Tangannya perlahan menyentuh bibir sendiri. Wajahnya semakin memanas.
Ya ampun...
Adira memejamkan mata rapat-rapat.
Kenapa Mas Areksa semakin suka menggodaku?
Dan yang lebih membuatnya bingung...
Kenapa aku tidak benar-benar marah?
Adira menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya.
Namun semakin ia mencoba melupakan kejadian barusan, semakin jelas pula kecupan singkat itu terbayang di pikirannya.
“Ya ampun...” gumamnya pelan.
Sementara di luar kamar mandi, Areksa hanya terkekeh kecil melihat reaksi Adira.
Beberapa menit kemudian, Adira sudah selesai berganti pakaian.
Areksa yang juga sudah berganti baju segera melangkah menuju kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi tertutup, Adira mengembuskan napas lega.
Setidaknya sekarang ia bisa sedikit menenangkan diri.
Ia kemudian menoleh ke arah Aretha yang masih tertidur pulas di dalam box bayi.
“Untung belum bangun,” gumamnya pelan.
Pandangan Adira lalu beralih ke meja kerja Areksa.
Beberapa berkas dan barang kecil tampak tidak tertata rapi.
Adira sebenarnya tidak berniat menyentuh barang-barang pribadi Areksa. Namun, melihat meja itu cukup berantakan, ia berpikir mungkin lebih baik merapikannya sebelum Areksa kembali bekerja.
Ia mulai mengumpulkan beberapa berkas dan meletakkannya dengan rapi.
Saat hendak mengambil sebuah kotak kecil di ujung meja, tangannya tidak sengaja menyenggolnya.
Brang!
Kotak itu jatuh ke lantai.
Adira langsung membeku.
Ia menoleh cepat ke arah kamar mandi, lalu ke arah Aretha. Bayi kecil itu masih tertidur.
“Syukurlah...”
Adira mengembuskan napas lega sebelum berjongkok dan mulai memunguti barang-barang yang berserakan.
Sebuah foto terjatuh lebih dulu.
Adira mengambilnya.
Foto Areksa bersama Aruna. Keduanya terlihat dekat.
Adira menatap foto itu beberapa saat. Senyumnya perlahan menghilang.
“Maafin aku, Aruna.”
Ia menurunkan pandangan. Kemudian perhatiannya tertuju pada dua benda kecil yang ikut keluar dari dalam kotak.
Sebuah jepitan rambut berbentuk bunga mawar dan sebuah liontin mawar kecil.
Adira membelalakkan mata. Ia mengenali keduanya.
Tangannya perlahan mengambil jepitan tersebut.
“Aruna masih menyimpan ini setelah sekian lama?”
Ada rasa haru yang memenuhi dadanya.
Dulu, ia tidak pernah menyangka barang-barang sederhana yang pernah ia berikan kepada Aruna akan tetap disimpan selama bertahun-tahun.
Adira tersenyum kecil.
Tanpa berpikir panjang, ia mencoba memasang jepitan bunga mawar itu pada rambutnya.
“Hanya sebentar,” gumamnya.
Namun, tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka.
Areksa keluar sambil mengusap rambutnya dengan handuk.
“Kamu ngapain?”
Adira mendongak.
Belum sempat menjawab, tatapan Areksa lebih dulu jatuh pada benda yang terpasang di rambut Adira.
Langkahnya terhenti. Wajahnya seketika berubah.
Itu jepitan milik Aruna.
Benda yang selama ini ia simpan dengan begitu hati-hati.
Benda yang pernah ia berikan kepada Aruna ketika mereka masih kecil.
“Kenapa kamu pakai punya Aruna?” Suara Areksa meninggi.
Adira langsung terkejut. “Maaf, Mas. S-saya... tadi ini jatuh waktu saya merapikan meja Mas.”
“Kalau mau merapikan, ya rapikan.” Areksa mengambil napas berat. “Tapi jangan pakai barang milik Aruna!”
Adira langsung terdiam. nTangannya langsung terangkat ke rambut. Ia melepaskan jepitan itu dengan hati-hati, kemudian menyerahkannya kepada Areksa.
“Maaf.”
Areksa mengambilnya. Namun emosinya masih belum mereda. “Kamu tau, hah?! Barang itu milik Aruna.”
Areksa menggenggam jepitan tersebut erat.
“Dia menyimpannya dengan sangat rapi karena benda ini saya yang kasih waktu kami masih kecil.”
Suaranya terdengar penuh emosi. “Jadi jangan sembarangan menyentuh barang-barangnya.”
Adira menundukkan kepala. “Iya.”
“Kamu cuma orang baru, Adira.”
Kalimat itu membuat dada Adira terasa sesak.
Areksa masih melanjutkan, tanpa menyadari betapa dalam kata-katanya melukai perempuan di hadapannya.
“Jadi jangan karena hubungan kita mulai membaik, kamu merasa bisa seenaknya seperti itu.”
Adira menggigit bibirnya. Air matanya mulai menggenang.
Ia tidak membantah.
Tidak menjelaskan bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud mengambil barang tersebut.
Tidak mengatakan bahwa ia hanya merasa terharu karena Aruna masih menyimpan sesuatu yang pernah ia berikan.
Ia hanya mengangguk kecil. “Maaf sekali lagi, Mas.” Suaranya bergetar.
Adira kemudian bangkit dan berjalan keluar dari kamar.
Areksa masih berdiri di tempatnya.
Beberapa detik kemudian, suara pintu yang tertutup pelan terdengar.
Barulah kemarahan di wajah Areksa perlahan menghilang.
Ia menunduk. Tatapannya jatuh pada jepitan bunga mawar di tangannya.
Kemudian ia teringat wajah Adira sebelum keluar tadi.
Mata berkaca-kaca. Suara bergetar. Dan cara perempuan itu langsung melepaskan benda tersebut tanpa membela diri.
Areksa mengembuskan napas kasar. “Adira...”
Ia mengusap wajahnya.
Baru sekarang ia menyadari bahwa Adira tidak pernah bermaksud mengambil atau merusak barang itu.
Ia bahkan sudah meminta maaf sejak awal.
Areksa menatap kembali jepitan kecil tersebut.
“Apa tadi aku keterlaluan?”
Tidak ada jawaban.
Hanya suara napas Aretha yang masih teratur dari dalam box bayi.
Dan setelah kemarahannya reda, Areksa mulai merasa bersalah.
Adira berjalan keluar dari kamar dengan langkah pelan.
Begitu berada di lorong, ia berhenti.
Tangannya mengepal kecil di sisi tubuh.
Ia sendiri tidak mengerti kenapa dadanya terasa sesak hanya karena bentakan Areksa tadi.
Bukankah ia hanya melakukan kesalahan kecil?
Ia tidak sengaja menjatuhkan kotak itu. Ia bahkan tidak tau bahwa benda-benda tersebut begitu berarti bagi Areksa.
Dan ketika menyadari jepitan itu milik Aruna, ia langsung melepaskannya.
Lalu kenapa perkataan Areksa terasa begitu menyakitkan?
“Jangan karena hubungan kita mulai membaik, kamu merasa bisa seenaknya.”
Adira menunduk.
Hubungan mereka memang membaik.
Ia menyadarinya.
Beberapa hari terakhir, ia mulai merasa lebih nyaman berada di dekat Areksa. Bahkan hari ini, ia bisa tertawa dan bermain bersamanya di pantai tanpa terus-menerus merasa takut atau canggung.
Namun ternyata, bagi Areksa... Ia masih hanya orang baru.
“Kamu cuma orang baru, Adira.”
Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya.
Adira menarik napas dalam-dalam, tetapi rasa sesak itu justru semakin terasa. Kenapa aku sakit hati?
Bukankah sejak awal ia memang tau posisi dirinya?
Areksa pernah memiliki Aruna.
Ia hanya datang setelah perempuan itu tiada.
Seharusnya Adira tidak berharap terlalu banyak.
Namun, ada satu hal lain yang membuat pikirannya semakin kacau.
Jepitan bunga mawar dan liontin itu.
Adira memejamkan mata sejenak. Ia masih mengingatnya. Bahkan sangat jelas.
Bukan Areksa yang memberikan benda itu kepada Aruna. Akulah yang memberikannya.
Dulu, ketika mereka masih kecil...
Adira ingat betul bagaimana ia memberikan benda-benda kecil itu kepada Aruna dengan tangan mungilnya.
Lalu mengapa Areksa mengatakan bahwa dialah yang memberikannya?
Adira membuka mata perlahan.
“Jadi... selama ini Mas Areksa mengira...” Ucapannya terhenti.
Ia sendiri tidak tau harus berpikir apa.
Belum sempat ia menyusun kembali ingatannya, terdengar suara tangisan dari dalam kamar.
Adira langsung menoleh.
Aretha. Tangisan bayi itu semakin jelas.
Adira segera kembali ke kamar. Ia mendapati Areksa sudah menggendong Aretha yang baru terbangun.
“Dia bangun.”
Adira langsung mendekat. “Oh, iya.”
Tangisan Aretha mulai terdengar lebih kuat.
Adira mengulurkan kedua tangannya. “Biar saya susuin dulu, Tuan.”
Areksa terdiam sesaat mendengar panggilan itu.
Namun kali ini ia tidak menegur. Ia hanya menyerahkan Aretha ke dalam pelukan Adira.
Begitu berada di gendongan Adira, tangisan Aretha perlahan mereda.
Adira menepuk punggung kecil putrinya dengan lembut.
“Sudah, sayang. Jangan menangis.”
Kemudian ia berbalik.
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Adira membawa Aretha masuk ke kamar yang selama ini ia tempati sebelum menikah dengan Areksa.
Areksa hanya berdiri di tempat. Tatapannya mengikuti langkah Adira sampai perempuan itu menghilang di balik pintu.
Entah kenapa, pemandangan sederhana itu terasa asing baginya.
Beberapa waktu lalu, Adira masih menjadi perempuan yang hanya tinggal di rumah ini sebagai pengasuh Aretha.
Sekarang, perempuan itu adalah istrinya.
Namun barusan, karena satu ledakan emosi, Areksa kembali membuatnya merasa seperti orang asing.
Areksa menundukkan pandangan.
Tangannya mengepal pelan.
Ia kembali teringat wajah Adira yang berkaca-kaca.
Dan ia berharap bisa menarik kembali kata-kata yang sudah terlanjur keluar dari mulutnya.
🤣🤣🤣
🥰🥰🥰🥰🥰🥰