Mia menikah muda di usia dua puluh satu tahun dengan Edo, pria yang tiga tahun lebih muda darinya. Awalnya, perbedaan usia bukanlah masalah. Satu tahun pertama pernikahan mereka dipenuhi cinta, tawa, dan mimpi sederhana sebagai pasangan muda.
Namun, setelah tiga tahun, semuanya berubah.
Edo yang pemalas mulai menggantungkan seluruh kebutuhan hidup kepada Mia. Sementara Edo menghabiskan uangnya untuk bersenang-senang.
Yang lebih menyakitkan, Edo merasa dirinya lebih berharga hanya karena lebih muda. Ia tak segan menghina Mia, menyebutnya tua, membandingkannya dengan perempuan lain, bahkan berkali-kali melakukan kekerasan. Keluarga Edo juga selalu membela Edo, menyebut Mia beruntung bersuamikan lelaki yang jauh lebih muda.
Mia terpuruk.
Hingga akhirnya ia sadar dan tak lagi menjadi wanita lemah.
"Aku pernah mencintaimu sampai lupa mencintai diriku sendiri. Tapi sekarang, aku memilih mencintai diriku sendiri!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ama Apr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Mia berjalan bersama keluarganya menuju musala kecil yang berada di pinggir rumah. Sudah sekian lama ia tidak merasakan suasana seperti ini.
Mia berdiri di dalam saf bersama Titin dan Malik, sementara Ayep berada di depan menjadi imam. Ketika takbir dikandangkan, Mia mengangkat kedua tangannya dan melaksanakan salat Magrib dengan khusyuk. Setiap bacaan terasa begitu menenangkan. Malam itu hatinya terasa jauh lebih ringan.
Setelah salam, Mia menengadahkan kedua tangannya. Ia berdoa dalam diam, mengucapkan rasa syukur kepada Allah atas satu hal yang selama ini begitu ia rindukan... kembali berkumpul dan beribadah bersama keluarganya. Rasa syukur memenuhi dadanya.
Selama beberapa tahun terakhir, waktunya seolah habis untuk mengurus rumah tangga, memenuhi kebutuhan Edo, dan memikirkan berbagai persoalan yang tidak pernah ada habisnya.
Kini, ia kembali duduk di samping ibunya setelah salat. Tidak ada lagi perasaan takut. Tidak ada lagi kecemasan tentang bagaimana memenuhi kebutuhan seseorang yang bahkan tidak menghargai pengorbanannya.
Mia menundukkan wajah. "Alhamdulillah..." bisiknya lirih. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar pulang.
Bukan hanya pulang ke rumah orang tuanya, tetapi juga pulang kepada ketenangan yang selama ini sempat hilang dari hidupnya.
Ia mengusap wajah dengan kedua telapak tangannya. "Ya Allah, terima kasih karena Engkau sudah menyelamatkanku." Mia menarik napas panjang. Ia tahu masalahnya dengan Edo belum sepenuhnya selesai. Masih ada surat pernyataan talak yang harus ia dapatkan dan beberapa hal yang perlu diselesaikan.
Namun, setidaknya satu hal sudah pasti.
Ia tidak sendirian lagi. Ada Ayah, Ibu, dan Malik yang berdiri di sisinya. Dan ada Allah yang selama ini tidak pernah meninggalkannya.
______
Edo duduk di hadapan Erma, Nurhan, Dedah, dan Iman, suami Erma yang baru saja pulang kerja. Tatapan keempat orang itu tertuju kepadanya. Tidak ada lagi ruang bagi Edo untuk menghindar.
"Ngaku!" suara Erma terdengar tegas. "Ceritakan semuanya yang kamu lakukan kepada Mia."
Edo menghela napas panjang. Ia tahu kali ini tidak mungkin berbohong sepenuhnya. Akhirnya, Edo mulai mengakui berbagai perlakuan buruknya kepada Mia. Ia mengaku sering mengabaikan istrinya, membentaknya, membebankan banyak kebutuhan kepadanya, bahkan mengakui bahwa dirinya memang memiliki hubungan dengan perempuan lain.
"Jadi benar kamu selingkuh?" tanya Iman.
Edo mengangguk pelan. "Iya. Tapi aku melakukan itu karena Mia sudah tak menarik lagi. Dia jarang dandan dan-aduh!" Ucapan itu terputus karena jambakan dari sang kakak.
"Jangan mencari alasan, kehed!" Erma membentak Edo kencang. "Suami yang baik tidak akan menduakan istrinya hanya karena istri jarang dandan! Dasar kamunya saja yang otak selangkangan!" cerocosnya sambil menarik rambut Edo ke kanan dan kiri.
Dedah dan Nurhan hanya tertunduk.
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini keduanya tidak mampu lagi membela Edo. Terlebih ada Iman, sang menantu. Rasa malu membuat mereka bungkam.
Erma mengembuskan napas kasar dan melepaskan jambakan. "Pokoknya, kamu harus segera membuat surat talak!"
"Iya, Teh. Sekarang juga aku akan membuatnya," ucap Edo sambil meringis, mengusap kulit kepalanya yang serasa mau lepas.
"Bagus!" Erma mengangguk tegas. "Dan besok kamu harus mengantarnya ke Mia. Sekalian minta maaf kepada Mia dan orang tuanya."
Edo hanya mengangguk.
"Jangan lupa juga berikan uang kepada Mia."
"Iya." Jawaban Edo terdengar patuh. Namun, di dalam hati, ia mengumpat. "Banyak aturan banget, sih. Gue nggak sudi ngasih uang ke si Mia. Surat talak aja sudah lebih dari cukup," batinnya.
Iman kembali ikut angkat bicara. "Do, kamu harus sadar. Apa yang kamu lakukan bukan perkara kecil. Mia sudah bertahun-tahun hidup sama kamu dan banyak berkorban buat kamu. Sekarang setelah semuanya berakhir, setidaknya kamu punya tanggung jawab untuk menyelesaikan perceraian ini dengan baik."
Edo menunduk.
"Bertanggung jawablah. Kamu bukan anak kecil lagi," lanjut Iman.
Edo tidak menjawab.
Setelah Iman selesai memberikan nasihat, Erma bangkit dari tempat duduknya. Ia mengambil sebuah buku tulis dari lemari, lalu meletakkannya di atas meja bersama sebuah pulpen. "Nih."
Edo menatap buku itu. "Teh, diketik aja lah pake komputer di rumah Teteh. Jangan pakai tulisan tangan."
Erma langsung mengetukkan pulpen ke kepala Edo. "Nggak usah banyak protes!"
"Aduh, Teh!"
"Buruan tulis!" Erma menunjuk buku tersebut.
"Atau kamu mau Teteh cekik leher kamu seperti yang kamu lakukan ke Mia?!"
Edo langsung bungkam. Ia menatap kakaknya beberapa detik, lalu mengambil pulpen yang tadi digunakan untuk mengetuk kepalanya."Iya, iya..." Edo membuka halaman kosong. Tangannya mulai bergerak menulis surat talak.
Erma berdiri di sampingnya sambil mengawasi setiap kalimat yang ditulis adiknya. "Buruan! Jangan banyak berpikir!" sentaknya.
"Er, jangan bentak-bentak adikmu terus." Setelah sejak tadi diam, Dedah akhirnya buka suara.
"Iya, Er. Adikmu sudah sadar." Nurhan ikut bersuara.
"Sudah lah, Ma, Pak. Jangan membela si kunyuk ini lagi. Dia itu salah! Salah!" Erma menepis semua pembelaan kedua orang tuanya. "Biar dia mikir! Kalau kelakuannya itu salah dan memalukan!" tukasnya geram.
Dedah dan Nurhan kembali bungkam.
"Iya, Ma, Pak... aku izin memberikan pendapat," kata Iman. "Kalau ada anak yang melakukan kesalahan, baik itu A Damin, Erma dan Edo... sebaiknya Mama dan Bapak menegur. Jangan karena merasa ke anak... kalian malah membiarkan dan membela. Nantinya tidak akan ada kata takut dan jera. Bapak dan Mama nanti yang rugi sendiri."
Tak satu kata pun keluar dari mulut Dedah dan Nurhan. Mereka seolah kehilangan muka.
Edo akhirnya menyelesaikan surat talak itu. Ia meletakkan pulpen, lalu menyerahkan buku tersebut kepada Erma. "Ini, Teh."
Erma menerima surat itu dan membacanya dengan teliti dari awal sampai akhir. Sesekali matanya menyipit, memastikan tidak ada bagian yang sengaja Edo lewatkan.
Setelah merasa cukup, Erma melipat surat tersebut, memasukkannya ke dalam amplop, lalu menyimpannya di dalam saku gamisnya. "Surat ini Teteh bawa pulang ke rumah. Besok Teteh kasihkan ke kamu."
"Iya."
Erma kemudian berdiri dan menghampiri suaminya. "Ayah, kita pulang, yuk."
"Iya." Iman masuk ke kamar tamu. Di sana, putri mereka, Najwa, yang baru berusia empat tahun, sudah tertidur sejak tadi. Dengan hati-hati, Iman menggendong putrinya yang masih terlelap.
"Nyenyak sekali tidurnya?" bisik Erma.
Iman mengangguk.
Erma berpamitan kepada kedua orang tuanya dan Edo. Mereka pun meninggalkan rumah tersebut dan berjalan menuju rumah mereka yang berada tepat di samping rumah Nurhan dan Dedah.
Setelah Erma, Iman, dan Najwa pergi, suasana ruang tengah kembali sunyi.
Edo mengembuskan napas lega. "Haah..."
Nurhan dan Dedah pun terlihat sama leganya.
Setidaknya, persoalan rumah tangga Edo dengan Mia sudah menemukan jalan keluar.
Edo menatap kedua orang tuanya. "Mama sama Bapak marah sama aku?"
Nurhan menggeleng. "Nggak, Do."
Edo tampak lega.
Nurhan kemudian berkata, "Bagaimana pun juga, Mia juga salah."
Edo hanya diam mendengarkan.
"Iya, Nak," sambung Dedah. "Tapi sudahlah. Yang penting masalah ini sudah selesai."
Edo mengangguk. Ada rasa bahagia yang memenuhi hatinya.
Sesalah apa pun dirinya, Mama dan Bapaknya selalu membela. Tidak pernah sekalipun mereka benar-benar menyudutkannya. Berbeda dengan Erma yang terus menuntutnya bertanggung jawab.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba Edo teringat sesuatu. Ia berdeham pelan. "Ma..."
Dedah yang sedang duduk di sofa menoleh. "Apa, Nak? Kamu lapar?"
"Bukan." Edo menggeleng. "Aku mau minta tolong."
Nurhan ikut menatapnya. "Minta tolong apa?"
Edo menggaruk tengkuk. Ia terlihat ragu untuk mengatakannya, tetapi dirinya memang sedang membutuhkan uang. "Mama sama Bapak punya uang, nggak?"
Nurhan mengernyit. "Uang buat apa?"
Edo menarik napas. "Untuk bayar cicilan motor."
Dedah langsung menatap putranya. "Berapa?"
Edo menundukkan kepala sebentar sebelum menjawab, "Delapan ratus lima puluh ribu."
"Hah?!" Dedah dan Nurhan spontan memekik hampir bersamaan.
cemen nya amit amit.
nag kya itu ja g da nyali tp menganiaya bisa ae tu..
dasar banci cocok nya pakai rok aja
untung udah cere ...klo blm bisa hbis rontok tulang gigi dan rambut mu mia😅😅😅