Mireya Ananta diceraikan suaminya karena tubuhnya yang gemuk.
Terusir tanpa harta, ia hanya memiliki uang dua puluh ribu rupiah dan terpaksa mencari pekerjaan.
Sebuah lowongan membawanya ke kediaman Arven Zarreti, tuan tanah bengis yang memiliki perkebunan luas di sebuah desa.
Arven membutuhkan seseorang untuk mengasuh Elden, putranya yang berusia lima tahun dan menolak sekolah karena takut bertemu orang lain.
Awalnya, Arven menguji Mireya terlebih dahulu, apakah benar di bisa membuat Elden makan tanpa harus dipaksa. Ternyata, berbekal pengalaman mengasuh anak kakak iparnya, Mireya dengan mudah membuat Elden menikmati makannya.
Keesokan hari, Penghulu datang ke rumah itu.
"Kita menikah!"
Jadi lah, beberapa hari usai cerai, Mireya langsung menjadi istri pria bernama Arven.
Mireya menjadi ibu sambung bagi Elden, dan mengurus lahan pertanian milik Arven. Bagaimana kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Jangan Terlalu Banyak Janji
Arven baru kembali ketika matahari mulai condong ke barat.
Mobilnya berhenti di depan rumah.
Begitu turun, Elden langsung berjalan menghampirinya memasang wajah manyun.
“Ayah! Ayah bohong, katanya pulang sebelum makan siang?" rajuk Elden.
Arven membungkuk dan menangkap tubuh kecil itu. “Kenapa?”
“Aku udah menunggu Ayah dari tadi. Tapi kenapa Ayah lama sekali?"
“Maaf.” Arven mengusap rambut Elden. "Tadi ada urusan yang harus Ayah selesaikan. Sebagai laki-laki, kita harus segera menuntaskan masalah dengan secepatnya. Agar, nanti malam kita bisa tidur dengan nyenyak. Kamu mengerti?"
Elden mengangguk dan memeluk lehernya. “Baik."
Dari teras, Mireya memperhatikan keduanya. Ia tersenyum kecil. Namun ketika Arven melepaskan pelukan Elden, tatapannya langsung tertuju kepada Mireya.
“Aku perlu bicara denganmu.”
Mireya mengerutkan kening. “Sekarang?”
“Sekarang.”
Elden langsung menyela. “Jangan lama-lama ya. Aku udah lapar."
Arven mengusap kepala anaknya. “Kami tidak akan lama.”
Mireya mengikuti Arven masuk ke rumah. Mereka berhenti di ruang tengah.
Arven duduk.
Mireya memilih duduk di seberangnya. “Apa yang terjadi? Apa boleh aku tahu?”
Arven diam sejenak. “Aku sudah menemukan orang yang menyebarkan rumor kepada para pekerja.”
Mireya langsung menatapnya. “Siapa?”
“Mantan suamimu.”
Mireya mengerutkan kening dan kepalanya sedikit meneleng. “Dia melakukan semua itu?”
“Dia menghasut beberapa pekerja dan menyebarkan informasi palsu tentang kondisiku.”
Mireya menghela napas. “Kenapa dia masih melakukan ini?”
Arven menatapnya. “Karena dia ingin membuat kita berpisah."
Mireya mengernyitkan wajah. “Apa yang diinginkannya?"
“Karena dia ingin kembali lagi denganmu.”
Mireya mengangkat wajah. “Untuk apa? Bukan kah dia sendiri yang membuangku?"
Arven memang tak tahu apa yang terjadi antara Mireya dan Syahzan di masa lalu. “Sudah selesai,” ucapnya.
Mireya mengangguk pelan. “Ooh ... bagus lah.”
Mireya kemudian tersenyum tipis. “Setidaknya satu urusan telah selesai.”
“Belum.”
Mireya mengerutkan kening. “Lalu?”
Arven bersandar. “Aku belum menemukan orang-orang di belakangnya."
Mireya menatap dengan heran. “Emangnya, ada orang lain juga?”
“Bisa jadi.” Arven kemudian menatapnya serius.
“Karena itu, mulai sekarang kalau ada sesuatu yang mencurigakan, kamu harus segera memberitahu aku.”
Mireya mengangguk. “Baik.”
“Jangan pergi sendirian ke luar area perkebunan.”
“Baik.”
“Kalau ada orang yang bertanya tentangmu, jangan jawab sembarangan.”
Mireya mulai mengangkat alis. “Mas.”
“Hm?”
“Bukankah ini terlalu berlebihan?”
Arven diam.
Mireya menatapnya. “Aku kan hanya berkebun. Aku juga tidak punya masalah dengan siapa pun di sekitar sini.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu begitu khawatir?”
Arven terdiam cukup lama. “Karena kau istriku.”
Mireya terdiam. Kalimat itu sesederhana itu, kali ini terdengar berbeda. “Mas…”
“Apa?”
“Bukankah itu juga karena kontrak?”
Arven menatapnya. “Bukan karena kontrak.”
Mireya membeku.
Arven berdiri. “Aku tidak memerlukan kontrak untuk bisa mengkhawatirkanmu.”
Beberapa detik kemudian, Mireya masih duduk di tempat. Tangannya perlahan menyentuh dadanya sendiri. Entah kenapa, ucapan Arven membuat jantungnya berdebar cepat.
.
.
.
Malamnya, mereka makan bersama.
Elden duduk di antara Arven dan Mireya. “Ayah.”
“Hm?”
“Besok ikut ke kebun ya?”
Arven melirik Mireya.
Mireya pura-pura sibuk mengambil sayuran. “Ayah ikut?”
Arven mengangguk. “Baik lah.”
Elden langsung tersenyum. “Yeay!”
Mireya menghela napas. Beberapa waktu terakhir, dia terlalu sering melihat Arven yang kebanyakan janji, tetapi ujung-ujungnya diingkari.
“Jangan terlalu banyak janji. Nanti dia akan belajar mencari alasan seperti kamu kalau janjimu tak bisa dilaksanakan.”
Arven menatapnya. “Aku sudah berusaha, hanya saja tiba-tiba ada kejadian tak terduga.”
Arven menatap istrinya. Lagi dan lagi dia dimarahi istrinya.
"Please ... Jangan marahi aku terus ..."
*bersambung*
Ditunggu cerita selanjutnya
ini cerita tee realistis yg pernah aku baca di sepanjang baca pernovelan si.
kenapa?
karena untuk bahagia itu sebenarnya sederhana.
kita ga perlu merubah orang lain atau memaksa keadaan yg penuh problematika biar lepas dr masa lalu.
cukup jadi diri sendiri dan merubah mindset kita sendiri si.
terimakasih atas cerita indah nya Thor.
mungkin Se savage aku mesti belajar jadi orang woles yaa🤣🤣
kalau aku udah bertanduk itu...
tapi ga bikin puas ya
kalau begini mereka yg malu sendiri
Sekarang kalau mereka tahu Mireya hamil....bakalan heboh.
kira² gmn reaksi keluarga mantan jika tau mireya hamil?
bahagia itu sederhana ya ven
gaya hidup lu yg dulu,yg bebas bisa ga ngasih kebahagiaan kyk gini?