Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31 : BAYANGAN DI DISTRIK BARAT
Shen Mo tidak langsung meletakkan ponsel satelitnya.
Sambungan sudah terputus, tetapi ia masih menatap layar yang menghitam. Di luar jendela lantai enam puluh, hujan turun semakin deras. Lampu-lampu Yucheng tampak kabur di balik kaca.
Chen memperhatikan perubahan wajah pria itu.
Sejak memasuki ruangan, Shen Mo beberapa kali menunjukkan kemarahan. Namun kali ini berbeda. Ia tidak membanting meja atau meninggikan suara.
Justru diamnya yang membuat Chen waspada.
“Black Dragon,” gumam Shen Mo.
Chen mengenali nama itu.
Tiga tahun lalu, distrik barat Yucheng pernah menjadi pusat perang antarkelompok bawah tanah. Gudang dibakar, jalur pengiriman ditutup, dan sejumlah orang menghilang tanpa pernah ditemukan.
Ibunya pernah menyebut distrik itu.
Bukan ketika menceritakan perang, melainkan saat memperingatkan Chen agar tidak mempercayai orang yang menawarkan uang terlalu mudah.
Shen Mo akhirnya meletakkan ponsel.
“Kami mengira urusan dengan mereka sudah selesai.”
“Karena ledakan di pelabuhan?” tanya Chen.
Shen Mo menatapnya.
“Kau tahu soal itu?”
“Aku membaca berita lamanya.”
“Itu bukan sesuatu yang biasanya dibaca anak seusiamu.”
Chen mengangkat bahu.
“Beritanya masih ada.”
Shen Mo tidak membalas.
Ledakan gudang pelabuhan tiga tahun lalu memang telah menghancurkan sebagian besar jaringan Black Dragon. Pemimpinnya diduga tewas, meskipun tidak pernah ada identifikasi jenazah yang benar-benar meyakinkan.
Shen Mo pernah menganggap ketidakpastian itu sebagai masalah kecil.
Sekarang ia tidak lagi yakin.
“Kalau Wang berhubungan dengan mereka,” kata Shen Mo, “berarti aku membiarkan seseorang membuka pintu rumahku sendiri.”
Chen melirik map laporan keuangan yang masih terbuka di meja.
“Belum tentu.”
Shen Mo mengerutkan kening.
“Apa?”
“Kita baru tahu ada dugaan hubungan Wang dengan Black Dragon. Belum tahu apakah dia bekerja untuk mereka, memakai nama mereka, atau justru sedang dijebak.”
Shen Mo memandang bocah itu beberapa saat.
“Kau sedang membela Wang?”
“Tidak. Aku cuma tidak mau kita mengejar orang yang salah.”
Chen mengambil satu lembar laporan dari meja. Ia menunjuk kolom pembayaran yang sebelumnya sudah mereka periksa.
“Transaksi ini dipecah menjadi beberapa pembayaran kecil. Nominalnya tidak cukup besar untuk langsung menarik perhatian, tapi dilakukan berulang kali.”
“Aku sudah melihatnya.”
“Yang belum kita tahu adalah siapa penerima akhirnya.”
Shen Mo mendekat.
Chen melanjutkan, “Kalau Wang cuma mencuri uang, dia bisa memindahkannya lewat banyak cara. Kenapa harus menggunakan jalur pembayaran perusahaan yang mudah diperiksa lagi?”
“Karena dia mengira tidak akan ketahuan.”
“Mungkin.”
Chen meletakkan kertas tersebut.
“Atau karena uang itu bukan tujuan akhirnya.”
Shen Mo diam.
Untuk pertama kalinya sejak menerima panggilan, ia menarik kursi dan duduk kembali.
“Teruskan.”
Chen menatap laporan itu sebentar.
“Aku belum punya bukti. Tapi kalau ada orang yang sengaja membuat transaksi palsu berulang kali, mereka bisa sedang menguji bagian mana dari sistem kita yang tidak diperiksa.”
“Lalu setelah menemukannya?”
“Mereka bisa menggunakannya untuk transaksi yang lebih besar. Atau memasukkan orang mereka ke bagian yang mengurus pembayaran.”
Shen Mo menyandarkan punggung.
Itu bukan kesimpulan yang menyenangkan.
Crown Tower memiliki terlalu banyak perusahaan cabang, pemasok, dan rekening operasional. Tidak semuanya berada di bawah pengawasan langsung Shen Mo.
Selama ini, ia mempercayakan sebagian pekerjaan tersebut kepada orang-orang yang telah lama mengikutinya.
Termasuk Wang.
“Kalau benar begitu,” katanya, “mereka bukan sekadar mencuri.”
Chen mengangguk.
“Mereka sedang mencari jalan masuk.”
Hujan menghantam kaca lebih keras.
Shen Mo mengaktifkan alat komunikasi di telinganya.
“Tiga.”
“Siap, Tuan.”
“Hubungi tim intelijen tingkat satu. Aku mau pemeriksaan terhadap transaksi Wang selama enam bulan terakhir. Prioritaskan pembayaran yang berhubungan dengan perusahaan di distrik barat.”
“Baik.”
“Jangan membekukan seluruh rekening dulu. Amankan salinan catatan transaksi dan batasi akses yang berisiko diubah. Aku tidak mau orang-orang yang terlibat tahu bagian mana yang sedang kita periksa.”
“Dimengerti, Tuan.”
“Dan satu lagi. Cari tahu apakah nama Black Dragon benar-benar muncul dalam jaringan penerima dana itu.”
Shen Mo memutus sambungan.
Chen menatapnya.
“Kau tidak langsung menangkap Wang?”
“Kalau dia memang bekerja dengan seseorang, aku ingin tahu siapa yang akan dia hubungi ketika mulai merasa terancam.”
“Itu berisiko.”
“Memang.”
Shen Mo mengambil cangkir kopinya, baru menyadari minuman itu sudah dingin.
Ia meletakkannya kembali tanpa meneguk.
“Besok kau mulai bekerja di lantai keuangan.”
Chen mengangguk.
“Sebagai penasihat khusus?”
“Secara resmi, ya. Tapi ada batasnya.”
Chen menunggu.
“Kau boleh memeriksa laporan yang sudah disiapkan tim audit dan menyampaikan analisismu kepadaku. Kau tidak akan mendapat akses bebas ke rekening, otorisasi pembayaran, atau dokumen pribadi pegawai.”
“Aku tidak memintanya.”
“Bagus. Karena kau baru sepuluh tahun.”
Chen mendengus pelan.
“Aku tahu umurku.”
“Kadang aku meragukannya.”
Untuk sesaat, sudut bibir Shen Mo bergerak.
Namun senyum itu segera hilang.
“Besok akan ada orang yang tidak senang melihatmu duduk di lantai keuangan. Sebagian mungkin menganggapmu hanya anak kecil yang kubawa untuk bersenang-senang.”
“Biar saja.”
“Sebagian lagi mungkin sengaja memberimu informasi yang salah.”
Chen menatap map di meja.
“Kalau begitu, aku harus memeriksa dari mana informasi itu berasal.”
Shen Mo mengangguk.
Jawaban tersebut lebih masuk akal daripada janji untuk mengalahkan semua orang.
“Aku juga akan menempatkan pengawal di dekatmu.”
“Aku tidak mau ada orang berdiri tepat di belakang kursiku.”
“Chen.”
“Mereka boleh berjaga di luar ruangan.”
Shen Mo menatapnya cukup lama.
“Kau selalu punya syarat?”
“Tidak selalu.”
“Sepertinya selalu.”
Chen tidak menjawab.
Ia justru menatap pemandangan kota di balik jendela.
Distrik barat berada jauh dari Crown Tower. Dari lantai setinggi ini, daerah tersebut hanya terlihat sebagai kumpulan lampu kecil di ujung kota.
Namun Chen tahu, ibunya pernah bekerja keras agar mereka bisa meninggalkan tempat-tempat seperti itu.
Ia masih ingat suatu malam ketika ibunya pulang dengan sepatu basah dan tangan gemetar. Perempuan itu duduk di lantai dapur, menghitung uang yang tersisa, lalu tersenyum begitu menyadari Chen memperhatikannya.
Senyum yang dipaksakan.
Saat itu Chen terlalu kecil untuk memahami alasannya.
Sekarang ia mulai mengerti bahwa ada banyak hal yang disembunyikan ibunya agar ia bisa tidur dengan tenang.
“Chen?”
Suara Shen Mo membuyarkan ingatannya.
“Apa?”
“Kau melamun.”
“Sedikit.”
Shen Mo mengikuti arah pandangannya.
“Memikirkan ibumu?”
Chen tidak langsung menjawab.
“Dia pernah bilang, orang yang paling berbahaya bukan selalu orang yang membawa pisau.”
Shen Mo menunggu.
“Kadang justru orang yang datang membawa kuitansi dan bilang semuanya sudah dibayar.”
Shen Mo menatapnya.
“Dia mengatakan itu?”
Chen mengangguk.
“Aku dulu tidak mengerti.”
“Dan sekarang?”
“Aku mulai mengerti.”
Shen Mo tidak bertanya lebih jauh.
Ia berdiri, mengambil jas yang tersampir di kursi, lalu memanggil pengawal untuk mengantar Chen beristirahat.
Namun sebelum mereka mencapai pintu, alat komunikasi Shen Mo kembali berbunyi.
“Tuan.”
Suara Tiga terdengar lebih rendah daripada sebelumnya.
“Ada perkembangan.”
Shen Mo berhenti.
“Katakan.”
“Kami menemukan satu perusahaan penerima pembayaran dari rekening yang terkait dengan Wang. Perusahaan itu terdaftar di distrik barat.”
“Namanya?”
“Yucheng Western Freight.”
Chen menoleh.
Nama tersebut terdengar biasa. Perusahaan pengiriman barang tidak akan terlihat mencurigakan di kota sebesar Yucheng.
Shen Mo bertanya, “Siapa pemiliknya?”
“Masih kami periksa. Identitas pemegang sahamnya menggunakan beberapa lapis perusahaan lain.”
“Alamat kantornya?”
Tiga menyebutkan sebuah jalan di kawasan pergudangan lama.
Chen mendadak menegakkan tubuh.
Ia mengenal nama jalan itu.
Dahulu, ibunya pernah melarangnya mendekati daerah tersebut. Bahkan ketika mereka harus berjalan memutar cukup jauh untuk pulang, perempuan itu tetap menolak melewatinya.
“Ulangi alamatnya,” kata Chen.
Shen Mo menoleh.
Tiga mengulangi nama jalan dan nomor bangunan.
Chen merasakan ujung jarinya mendingin.
“Nomor tujuh belas?”
“Benar,” jawab Tiga.
Shen Mo memperhatikan perubahan wajahnya.
“Kau tahu tempat itu?”
Chen tidak segera menjawab.
Ia mengingat sebuah amplop cokelat yang pernah disembunyikan ibunya di bawah tumpukan pakaian. Di bagian belakang amplop tersebut tertulis alamat yang sama.
Dulu ia mengira itu hanya alamat pelanggan.
Sekarang ia tidak yakin.
“Chen,” panggil Shen Mo lagi.
Bocah itu menelan ludah.
“Ibuku pernah menerima surat dari alamat tersebut.”
Ruangan mendadak hening.
Shen Mo menurunkan tangannya dari alat komunikasi.
“Kapan?”
“Beberapa tahun lalu. Aku tidak ingat tanggalnya.”
“Apa isi suratnya?”
“Aku tidak pernah membacanya.”
“Di mana surat itu sekarang?”
Chen menggeleng.
“Aku tidak tahu. Setelah kami pindah, aku tidak pernah melihatnya lagi.”
Shen Mo kembali mengaktifkan komunikasi.
“Tiga, jangan kirim orang masuk ke gedung itu dulu. Periksa kepemilikan dan riwayat penggunaannya. Aku ingin tahu siapa saja yang pernah berkantor di sana.”
“Baik, Tuan.”
Sambungan belum sempat diputus ketika Tiga berbicara lagi.
“Tunggu. Ada satu hal.”
“Apa?”
“Kami baru menemukan foto lama bangunan tersebut dalam arsip perusahaan pengiriman. Di depan pintu masuk ada papan nama usaha sebelumnya.”
Shen Mo mengerutkan kening.
“Usaha apa?”
Tiga terdiam beberapa detik.
“Bukan perusahaan pengiriman, Tuan.”
“Lalu?”
“Biro penagihan utang.”
Chen memejamkan mata sebentar.
Ia teringat ibunya duduk di lantai dapur, menghitung uang sambil menyembunyikan tangan yang gemetar.
Shen Mo menatapnya.
“Chen, kau pernah mendengar nama biro itu?”
Tiga menyebutkan namanya melalui sambungan.
Chen membuka mata.
Wajahnya perlahan kehilangan warna.
Ia pernah melihat nama itu.
Bukan pada surat.
Melainkan pada selembar kuitansi yang ditemukan di saku mantel ibunya.
Dan di bawah nama biro tersebut, ada satu kalimat yang sampai sekarang masih diingatnya.
Pembayaran diterima. Kewajiban belum dinyatakan lunas.