Li hua gadis yang bertrasmigrasi ke tubuh gadis desa yang hidup sendiri, dengan wajah yang sama dan nama yang sama.
awalnya dia kira dirinya hidup dengan sederhana didesa, tapi semuanya berubah saat pengurus keluarga Zhang datang menemuinya dan mengatakan kalau dirinya adalah nona kedua keluarga zhang yang harus kembali.
didalam rumah keluarga zhang dirinya menemui Li yun pangeran tawanan dari negeri tang liang.
seketika itu dia menyadari dirinya berada dalam buku yang menceritakan Raja iblis menghancurkan negeri Ye lu, setelah itu membunuh semua keluarga zhang termasuk dirinya.
apa yang akan dilakukan Li hua untuk mencegah itu terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31.Rencana pagi.
Matahari pagi menyingsing perlahan di ufuk timur, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh penjuru kediaman besar Keluarga Zhang. Udara pagi terasa segar dan sejuk, membawa aroma tanah lembap dan bunga-bunga yang baru mekar. Hari ini adalah hari pertama Li Hua menempati kediaman barunya — setelah tinggal di keluarga Zhang sudah hampir dua bulan, akhirnya dia mendapatkan kediaman yang layak seperti anak-anak keluarga Zhang.
"Akhirnya kita punya tempat tinggal yang layak Qiao'er, " Ucap Li hua.
"Benar nona, kediaman ini lebih besar dan luas dari nona pertama, ucap Qiao'er sambil tersenyum menatap seluruh kediaman baru mereka.
Mereka berdua berjalan masuk memperhatikan setiap sudut kediaman baru mereka.
Dinding-dindingnya dicat dengan warna krem yang hangat, jendela-jendelanya besar dan terbuat dari kayu cendana yang halus ukirannya, membiarkan cahaya matahari masuk dengan bebas namun tetap terasa teduh. Di halaman depannya tumbuh berbagai jenis bunga yang harum, dan di sudut halaman terdapat bangku batu yang nyaman untuk duduk bersantai. Tidak hanya itu, dulu ia hanya ditemani oleh satu pelayan saja, Qiao'er. Kini, beberapa pelayan berdiri tertib di serambi rumahnya, siap melayani keperluannya kapan pun dengan senyum hormat di wajah mereka.
Tidak hanya itu kejutan untuk Li hua pagi itu, Nyonya Zhang sendiri datang berkunjung. Ia berjalan masuk diiringi oleh beberapa pelayan yang membawa kotak-kotak berisi pakaian-pakaian indah. Ada gaun sutra berwarna lembut, jubah yang kainnya terasa sejuk dan halus di kulit, hingga aksesori sederhana namun elegan. Di tangan Nyonya Zhang juga terdapat sebuah amplop tebal berisi uang bulanan yang jumlahnya sama persis dengan yang diterima Shi Yin setiap bulan.
"Silakan, Nak. Semua ini milikmu sekarang," ucap ibunya dengan lembut, meletakkan tumpukan pakaian itu di atas meja. "Ibu ingin kau mendapatkan hal yang sama seperti saudaramu yang lain, maafkan kami terlambat memperhatikan mu. Kau juga putriku yang berharga. Kalau ada yang kurang, cukup katakan pada Ibu. Jangan sungkan sedikit pun."
Li Hua menyentuh kain sutra yang berkilau lembut di bawah cahaya pagi, hatinya terasa hangat dan sedikit terharu. "Terima kasih, Ibu. Sungguh, terima kasih banyak. Ini lebih dari cukup, tapi... rasanya senang sekali diperhatikan seperti ini."
"Kau pantas mendapatkan semuanya, Hua'er," jawab ibunya sambil mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang. "Selama ini Ibu terlalu buta karena takut pada ramalan bodoh itu. Biarlah waktu yang terbuang itu menjadi pelajaran bagi kita semua."
Sementara kebahagiaan mulai menyapa Li Hua, nasib kedua saudaranya berubah drastis ke arah yang sebaliknya.
Mo Chen, kakak laki-laki tertua keluarga itu, kini dikurung di kediamannya. Tidak boleh keluar, tidak boleh menerima tamu, dan setiap hari ia diberi tumpukan kitab sutra kuno yang harus disalin dengan tangannya sendiri. Itu adalah hukuman sekaligus pelajaran agar ia lebih bijaksana, lebih tenang, dan berhenti menghabiskan waktunya dengan hal-hal yang tidak berguna. Setiap hari pelayan hanya datang mengantarkan makanan dan tumpukan kitab baru, lalu pergi tanpa banyak bicara. Mo Chen hanya bisa mendesah panjang, mengambil puas, dan mulai menulis baris demi baris dengan hati yang berat.
Dan Shi Yin... di kediamannya yang kini terasa sepi dan dingin, ia berdiri di dekat jendela sambil mencengkeram ambang jendela erat-erat. Matanya menatap tajam ke arah gerbang kediaman Li Hua yang baru saja direnovasi dan diperindah. Semua pelayan pribadinya yang setia padanya telah dipanggil pergi pagi tadi. Digantikan oleh pelayan-pelayan baru yang dikirim langsung oleh Nyonya Zhang — orang-orang yang sopan dan tertib, namun tatapan mereka terasa asing dan jauh. Ia juga diberi perintah tegas: dikurung selama satu bulan penuh, tidak boleh melangkah keluar dari gerbang kediamannya tanpa izin dari orang tuanya.
"Semua ini salahnya..." geramnya pelan, giginya bergemeretak menahan amarah. "Sejak dia datang, semuanya berubah. Ayah berubah, Ibu berubah, bahkan pelayan-pelayan pun berubah. Ini belum selesai, Li Hua. Kau pikir kau sudah menang? Tunggu saja."
Di sisi lain kediaman, Li Yun juga menempati sebuah ruangan yang nyaman dan tenang — tidak terlalu jauh dari Li Hua, namun tetap terhormat dan terpisah. Ia masih diakui sebagai tamu istimewa sekaligus pelayan pribadi Li Hua, dan An Fu, pengawal setianya, selalu berada tidak jauh darinya, siap melaksanakan perintah apa pun dengan cepat dan tepat.
Pagi itu, udara masih terasa sejuk dan embun belum sepenuhnya menguap dari dedaunan. Li Yun dan An Fu berjalan menuju kediaman Li Hua seperti biasa, namun saat mereka baru sampai di dekat gerbang, langkah mereka terhenti. Di depan pintu, Li Hua dan Qiao'er berdiri berbisik-bisik dengan wajah serius, lalu berjalan cepat sambil mengendap-endap seakan tidak ingin ada yang mendengar langkah kaki mereka.
Li Yun menampilkan senyum tipis, lalu melangkah maju dan berseru pelan namun cukup jelas agar mereka mendengarnya.
"Mau ke mana, Nona Kedua? Berjalan diam-diam pagi-pagi begini... sepertinya ada rencana rahasia atau kamu mau menjahili lagi?"
Li Hua dan Qiao'er tersentak bersamaan, berbalik cepat dengan wajah yang sedikit pucat karena kaget. Qiao'er bahkan hampir menjatuhkan sesuatu yang disembunyikannya di belakang punggungnya.
Li hua langsung maju menutupi Qiao'er.
"Pangeran! Selamat pagi..." sapa Li Hua dengan senyum yang terasa agak canggung, tangannya tanpa sadar menyentuh dadanya yang berdebar. "Kau... kau datang tanpa suara, mengejutkanku saja."
Li Yun menatap mereka bergantian, alisnya terangkat sedikit dengan tatapan menyelidik.
"Memang aku berjalan tenang, tapi reaksi kalian yang berlebihan ini justru membuatku semakin penasaran. Apa yang sebenarnya kalian rencanakan pagi ini?"
"Kami tidak merencanakan apa-apa!" bantah Li Hua cepat, suaranya terdengar sedikit terlalu tinggi. "Kami hanya ingin berjalan-jalan sebentar di ke...ke kediaman dulu untuk mengambil sesuatu yang tertinggal sekalian mau menikmati udara pagi yang segar."
Li Yun tidak langsung menjawab. Matanya beralih perlahan ke arah tangan Qiao'er yang tersembunyi di belakang punggungnya.
"Lalu apa yang disembunyikan Qiao'er di belakangnya? Kantong kain itu terlihat cukup besar, dan sepertinya isinya bergerak-gerak. Boleh aku tahu apa isinya?"
Qiao'er tersentak dan segera memeluk kantong itu erat-erat ke dadanya, menggelengkan kepala berkali-kali dengan wajah cemas namun tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Matanya melirik ke arah Li Hua meminta petunjuk.
Li Hua melangkah maju, berdiri di depan Qiao'er seakan melindunginya. Tatapannya menegang, menatap lurus ke mata Li Yun.
"Itu urusan kami, Pangeran. Jadi sebaiknya kau tidak perlu tahu. Semakin sedikit yang kau ketahui, semakin tenang hidupmu. Biarkan saja hal kecil ini menjadi rahasia kami."
Li Yun tertawa pelan. "Hal kecil yang disembunyikan seketat ini? Jangan bilang... kau berniat menjahili Kakakmu, Shi Yin?"
Li Hua mendengus, matanya menatap tajam. "Kalau benar kenapa? Aku ingin meluapkan kekesalan ku, dia berani memukul Qiao'er dan merencanakan penculikan ku. Hal seperti ini tidak berlebihan dan berbahaya!"
Li Yun terdiam sejenak, namun dia mendengarkan lagi, suara batin Li Hua terdengar begitu jelas seakan gadis itu berbicara langsung kepadanya.
Aku hanya mau menghukumnya saja,menurutku hukuman kurungan itu masih kurang. Perbuatannya tidak sebanding dengan penderitaan ku dan Qiao'er, jadi sekadar kaget melihat tikus bukan balas dendam yang berlebihan, kan? Aku sudah menangkap beberapa tikus besar di kebun belakang dan memasukkannya ke dalam kantong ini. Aku ingin seharian kediamannya menjadi heboh karena tikus yang berukuran besar, aku juga ingin mendengar suara teriakan merdu dari saudara kembarku itu,hehe...
Sudut bibir Li Yun terangkat. Dia berdeham pelan, suaranya tenang namun penuh saran yang masuk akal.
"Pergi saja memang tidak masalah, tapi kau pikir kamu bisa menyelinap masuk ke kamarnya tanpa terlihat pelayan baru yang dijaga ketat itu? Lebih baik biarkan An Fu yang melakukannya. Dia pandai menyelinap tanpa suara, tidak akan ada yang melihatnya. Kalau kau yang tertangkap, Ayahmu pasti akan marah besar lagi. Apakah risikonya sepadan? Serahkan saja pada orang yang tepat."
Li Hua tertegun, menatap An Fu yang berdiri tegap dengan wajah tenang dan siap membantu. Dia benar, pikir Li Hua sambil menurunkan bahunya yang tegang. Kalau aku ketahuan, aku yang akan dicurigai dan dimarahi. An Fu pasti bisa melakukannya dengan rapi tanpa meninggalkan jejak apa pun.
Li Hua menoleh ke Qiao'er. "Berikan kantong itu pada An Fu. Dia yang akan membantu menyelesaikannya."
Qiao'er ragu sejenak, lalu perlahan menyerahkan kantong kain itu kepada An Fu dengan cermat. "Tolong jaga baik-baik ya, Tuan An Fu. Masukan ke dalam sudut kamr di kediaman nona pertama,kalau bisa dibawah selimutnya."
"Siap, Nona. Aku akan memastikan semuanya berjalan lancar dan tidak ada jejak yang tertinggal," jawab An Fu singkat dan tegas. Dengan gerakan yang begitu halus, ia menyelipkan kantong itu di balik jubahnya, lalu membungkuk hormat dan berjalan pergi menghilang di antara pepohonan dengan langkah yang nyaris tak bersuara.
Li Hua menghela napas lega, lalu tersenyum membayangkan reaksi Shi Yin nanti malam. Bayangan kakaknya yang berteriak ketakutan saat melihat tikus-tikus itu berlarian membuatnya menahan tawa. Qiao'er juga ikut tersenyum lega, lalu membungkuk pamit.
"Kalau begitu, Nona, aku pergi ke dapur dulu ya untuk menyiapkan sarapan pagi ini."
"Terima kasih, Qiao'er. Hati-hati," ucap Li Hua lembut.
Qiao'er berlalu pergi, menyisakan Li Hua dan Li Yun berdua saja di depan gerbang kediaman. Angin pagi berhembus lembut, menerbangkan kelopak bunga yang jatuh dari pohon di dekat mereka. Li Hua masih tersenyum-senyum sendiri membayangkan kejadian esok pagi, sampai suara lembut Li Yun terdengar begitu dekat di telinganya.
"Nona Kedua ternyata gadis kecil yang cukup nakal ya..."
Li Hua menoleh seketika, dan karena jarak mereka ternyata jauh lebih dekat dari yang ia kira, saat ia memutar wajah ke arahnya, bibir mereka bersentuhan secara tak terduga.
Dunia seakan berhenti berputar saat itu juga.
Li Hua membeku di tempat, matanya terbuka lebar menatap manik mata Li Yun yang juga terkejut sama besar. Wajah mereka hanya berjarak beberapa sentimeter, napas mereka menyatu di udara pagi yang sejuk dan harum. Pipi Li Hua perlahan memerah, merambat naik hingga ke telinganya yang terasa panas. Ia ingin mundur, tapi kakinya terasa berat seakan tertanam di tanah. Li Yun juga tidak bergerak mundur, hanya menatapnya dengan mata yang dalam, penuh sesuatu yang hangat dan belum bisa ia namakan. Jantung Li Hua berpacu begitu kencang hingga ia takut suara detaknya terdengar jelas oleh pria di hadapannya.
Angin kembali berhembus pelan, menjatuhkan beberapa kelopak bunga tepat di antara mereka, melayang turun perlahan seakan ikut terhenti dalam keheningan yang manis dan menegangkan itu. Waktu seakan membeku, dan di detik yang panjang itu, tidak ada kata-kata yang terucap — hanya detak jantung yang saling menjawab, dan pandangan mata yang baru saja menyadari ada sesuatu yang berubah di antara mereka.