Kecelakaan tragis menimpanya, dianggap sudah mati. Rinda kembali ke rumah setelah beberapa bulan.
Namun ketika kembali, bukan sebuah sambutan selamat datang, melainkan sebuah pesta pernikahan megah antara suami dan kakaknya.
"Jasad ku tak kau cari, Gani! Dan kalian malah menikah lalu menggelar pesta megah? Ingat, aku masih istrimu, dan aku masih pimpinan TBBA!"
Semua mata menatap Rinda dengan tubuh yang bergetar takut. Seolah dirinya bangkit dari kematian. Tak terkecuali dengan Gani dan Teani
Namun diantara ketakutan semua orang, ada satu orang yang tersenyum atas kembalinya dirinya. Sang asisten pribadi, Jexen. Pria muda itu terus saja tersenyum ke arahnya.
Lalu, apakah Rinda akan bertahan dalam pernikahannya lalu menerima Teani sebagai madunya, atau melepaskannya?
Dan bagaimana reaksi Rinda ketika Jexen mengungkapkan perasaannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Hidup 31
"A-apa yang kau katakan? Rinda, dia mengancam ku. Rinda, assisten mu ini gila."
Gani bergetar ketakutan melihat mata Jexen yang menyala. Ia merasakan semua bulu kuduknya berdiri.
Setiap kali bertatap muka dan beradu pandang dengan Jexen dengan jarak dekat sepert ini. Gani merasa bahwa dirinya ditelan mentah-mentah oleh orang itu.
"Jangan mengarang cerita, Gan. Jexen adalah orang yang baik. Dan tentu saja jauh lebih baik dari kamu. Jangan suka fitnah dan mengarang cerita. Ah ya, aku lupa. Kamu kan memang hobi sekali mengarang cerita. Sepertinya kamu lebih cocok jadi penulis dari pada pegawai BUMD. Sekarang pergi dari kantor ku. Jangan pernah lagi datang kemari. Dan tunggu saja surat gugatan dari pengadilan."
Rinda mendekat ke arah Jexen lalu menggamit lengan Jexen dan membawanya masuk ke ruangan. Rinda melewati Gani begitu saja. Mengabaikan semua yang Gani katakan.
"Rinda, dia itu serigala berbulu domba. Dia tidak sepolos yang kamu lihat!"
Rinda hanya menaikkan tangannya ke udara, tanda dia enggan dan bahkan muak menghadapi Gani.
Sedangkan Jexen, ia menoleh sejenak ke belakang untuk menerbitkan sebuah seringai ke arah calon mantan suami Rinda itu.
"Rinda, dia sudah ditipu sama bocah sialan itu," gumam Gani lirih.
Tak berhasil membujuk Rinda, pria itu membuang semua yang dibawanya ke tong sampah yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Kepalanya berdenyut, membuat Gani bersandar ke dinding.
Tak tahu apa yang musti dilakukannya sekarang. Rinda tak mempan dengan apa yang dibawanya. Kata-kata Rinda soal pengadilan, berarti istrinya itu sudah yakin akan berpisah.
Gani menjadi gelisah. Jika benar berpisah dengan Rinda, hidupnya menjadi tak sama lagi. Bahkan baru beberapa hari ia keluar dari kediaman Nadisyah, Gani sudah merasa menjadi orang yang berbeda.
Hembusan nafas panjang keluar dari mulutnya. Ia mencoba berpikir, mencari celah apa yang bisa digunakan untuk kembali merebut hati Rinda. Namun tak ada jawaban apapun.
Agaknya Gani sama sekali tak mengenali wanita yang dinikahinya selama 3 tahun itu. Semua yang ada pada Rinda jelas sudah berubah. Mulai dari tatapannya dan cara bicaranya, Rinda yang sekarang sangat jauh berbeda dari Rinda yang dulu.
"Kenapa semuanya haru menjadi rumit seperti ini?"
Drtzzz
Ponsel Gani berdering. Keningnya berkerut saat melihat nomor yang tak dikenal ada pada layarnya.
"Siapa?"
"Jangan berlagak lupa."
Degh!
Degup jantung Gani berpacu dengan sangat cepat saat mendengar suara orang yang sangat familiar di telinganya. Ia menelan saliva nya dengan susah payah sekarang. Melihat ke sekeliling lalu menepi menuju ke tempat yang tak ada siapapun di sana.
"Mau apa kamu?"
"haaah, tidak usah ketakutan begitu. Tenang saja, aku menghubungi kamu ya cuma mau bertanya kabar. Bukan kah kita harus menjaga tali silaturahmi?"
Orang itu terdengar sangat santai sekali dalam berbicara namun malah membuat Gani merasa tidak tenang sama sekali.
Wajahnya nampak gusar, tangannya bergerak terus untuk menyalurkan rasa ketidaktenangannya.
"Jangan bertele-tele. Sebutkan apa keperluan mu."
Gani tidak bodoh. Orang itu menghubunginya tentu bukan hanya sekedar mau berbasa-basi. Dia pasti menginginkan sesuatu dari nya.
"Mari bertemu."
"Tidak, urusan kita sudah selesai. Untuk apa bertemu?"
Sebuah penolakan keras dari Gani. Tanpa pikir panjang, pria itu langsung membuat jarak.
"Kan sudah kesepakatan, bahwa semuanya sudah selesai. Kenapa juga harus bertemu. Aku sudah tidak ada urusan dengan mu lagi. Jadi jangan ganggu aku."
Tuuut
Gani memutuskan panggilan itu secara sepihak. Dia juga langsung memblokir nomornya.
"Sial," umpatnya lirih. Ia bergegas pergi dari sana dengan menggunakan tangga.
Selama menuruni tangga, Gani terus memikirkan orang yang baru saja menghubunginya itu. Sudah lama orang itu tidak muncul karena perjanjiannya memang demikian. Tapi sekarang dia tiba-tiba kembali menghubunginya.
"Mau apa dia sebenarnya? Huft."
***
"Dipecat? Kok bisa. Kenapa kamu tidak mencoba mempertahankan itu? Kamu tahu kan Teani, kalau sudah dipecat begitu, kamu akan sulit untuk masuk lagi. Kita ada hak juga di sana. Tapi kalau kamu tidak bekerja di sana, bagaimana bisa mengawasi tentang TBBA!"
Nania bereaksi dengan cerita putrinya tentang pemecatan yang diterimanya. Tadi pagi Teani berangkat dengan penuh semangat. Dia ingat ucapan ibunya untuk tetap bekerja. Tapi ternyata dia malah dapat pemecatan dari Rinda.
"Sudahlah Ma, aku pusing," ucap Teani. Wanita itu melenggang masuk ke kamar. Ia enggan berbicara lebih banyak lagi tentang pemecatan itu kepada ibunya.
"Teani, jangan santai begini. Kamu harus kembali ke kantor dan bilang ke Rinda. Minta dia untuk membatalkan pemecatan itu. Tea, kita tidak bisa begini. Kita tidak bisa hidup hanya mengandalkan keuntungan saham 5% itu. Kamu harus tetap jadi bagian dari TBBA. Cepat sana, minta Rinda kembali memperkerjakan mu."
Wajah Nania penuh harap. Dia bahkan menarik tangan Teani agar bangkit dari posisi tidurnya. Namun Teani tidak mau. Dia menepis tangan Nania.
"Ma, stop. Aku lelah. Semuanya sudah berakhir Ma. Rinda sudah mecat aku, aku tidak mungkin bisa kembali!" ujar Teani.
"Kenapa, kenapa tidak bisa kembali!" pekik Nania. Dia tidak mengerti kenapa Teani bisa sepasrah ini dengan keputusan Rinda. Teani seolah tak berani melawan.
"Dia memegang semua kartuku."
Tea duduk lurus di atas ranjangnya, matanya menatap ke arah bawah. Dia tak berani melihat ke arah sang ibu.
"Kartu apa?"
Nania yang sedari tadi berdiri, kini duduk di tepi ranjang sambil menatap wajah putrinya.
"Itu, dia tahu kalau selama ini aku masukin uang perusahaan ke rekening pribadi ku. Ku pikir dia tidak tahu. Tapi ternyata dia menyimpan semua bukti itu. Kalau aku tidak nurut soal pemecatan ini, dia bakal bawa kasus ini ke meja hijau."
Degh!
Nania menggenggam erat selimut milik Teani. Lehernya menegang, hingga terlihat sangat kaku dan bola matanya bergerak secara tidak beraturan.
"Sialan," umpatnya pelan.
Teani mengerutkan alisnya mendengar umpatan sang ibu.
"Ma?" panggilnya.
"Sudahlah."
Satu kata dan Nania meninggalkan kamar Teani. Teani merasa heran, wajah Nania tadi langsung berubah dingin. Atmosfir dalam kamar juga sejenak tidak menyenangkan. Teani belum pernah melihat sang ibu bersikap seperti itu sebelumnya.
"Mama kok aneh."
TBC
Ayo Jexen selidiki lagi