Arthur terbangun di dunia novel dark fantasy yang baru saja ia tamatkan. Sialnya, ia tidak merasuki tubuh sang Pahlawan, melainkan Arthur Pendelton—tuan muda dari keluarga Duke yang terkenal sebagai "sampah", sombong, dan ditakdirkan mati mengenaskan di chapter awal oleh sang protagonis asli. Berbekal ingatannya tentang alur cerita masa depan dan rahasia-rahasia tersembunyi di dunia itu, Arthur harus menyusun strategi untuk menghindari kematiannya. Tapi anehnya... kenapa pahlawan asli dan tokoh-tokoh kuat lainnya malah mulai tunduk dan mengikutinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nappzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Perisai Gerhana
Jalur katakombe bawah tanah ini berbau seperti logam berkarat dan kebohongan yang dikubur rapat-rapat.
Sementara Pangeran Julian dan Leon mungkin sedang bertarung dengan gagah berani melawan patung-patung malaikat di lorong utama—diiringi musik dramatis dan ceramah tentang moralitas—aku sedang berjalan menyusuri terowongan pipa pembuangan sihir yang gelap gulita. Tidak ada sorak-sorai di sini. Hanya suara langkah kakiku yang menggema di antara dinding batu yang lembap.
"Kau tahu, untuk sebuah Makam Suci, sistem pembuangan limbah sihir mereka sangat buruk," Nox melayang di depanku, menutup hidungnya yang transparan dengan ekspresi jijik. "Ini adalah tempat di mana semua sihir kotor dan residu dari ujian di atas dibuang. Pantas saja tidak ada yang berani lewat sini."
"Itu karena pahlawan tidak suka mengotori tangannya, Nox," balasku santai.
Mata Kausalitas milikku terus menyala, memetakan lorong rumit ini. Berkat mata curang ini, aku bisa melihat setiap jebakan lantai, jarum beracun, dan lubang jebakan sebelum aku menginjaknya. Aku melangkah dengan gerakan zigzag yang terlihat aneh tapi 100% aman, melewati puluhan mekanisme maut yang tertidur.
Sekitar setengah jam menyusuri kegelapan, lorong sempit itu tiba-tiba terbuka menjadi sebuah ruangan melingkar yang cukup luas. Di ujung ruangan, terdapat sebuah pintu perak raksasa. Itulah pintu belakang menuju Ruang Harta.
Namun, tentu saja 'Sistem' tidak akan membiarkan pintu belakangnya tanpa penjaga.
Di depan pintu perak itu, berdiri sesosok ksatria yang sangat aneh. Zirahnya terbuat dari pelat emas suci, tapi emas itu telah ternoda oleh cairan hitam seperti aspal. Ksatria itu tidak memegang pedang, melainkan sebuah palu godam raksasa. Ia dirantai ke dinding, seolah ia dipenjara di tempat ini untuk menebus dosa.
"Wah, wah," Nox bersiul. "Seorang Penitent Templar (Templar Bertobat). Monster kelas A. Dulunya dia adalah ksatria suci yang melakukan dosa besar, jadi jiwanya dikutuk oleh Kuil Cahaya untuk menjaga saluran pembuangan makam ini selamanya."
Sang Templar perlahan mengangkat kepalanya. Matanya yang menyala redup dari balik helm menatapku.
"P-Penyusup... Kegelapan..." suaranya terdengar seperti besi berkarat yang digesekkan. "Mati..."
Mata Kausalitas langsung menganalisisnya.
[Nama: Penitent Templar (Varian Korupsi)]
[Kelemahan: Inti Cahaya di tengah dadanya yang sudah retak.]
[Status: Kebingungan, Agresif]
Sang Templar mengayunkan palu raksasanya ke arahku. Udara bergemuruh akibat kekuatan fisik monster itu.
Aku tidak bergeming.
BAM!
Palu raksasa itu menghantam tepat di atas kepalaku, tapi palu itu menabrak perisai ruang hampa yang diciptakan oleh Kain Kafan Malam Tak Bintang. Energi kinetik dan sisa sihir suci di palu itu seketika terserap oleh mantelku, diubah menjadi energi netral, lalu ditelan habis oleh pusaran Vespera di dadaku.
Templar itu membeku. Kecerdasan buatannya yang terbatas tidak bisa memahami mengapa palunya berhenti sebelum menyentuh kulitku.
"Kasian sekali," gumamku dingin. "Kau mengabdi pada cahaya, tapi mereka menguburmu di dalam kegelapan. Biar kubantu kau mengakhiri penderitaan ini."
Aku mencabut Taring Abyss dari pinggangku. Dengan satu gerakan kilat yang membelah udara, aku menusukkan pedang hitam itu tepat ke celah zirah di tengah dadanya—tepat di mana Mata Kausalitas menunjukkan titik inti cahayanya yang retak.
KRAK!
Api hitam Vespera meledak dari bilah pedangku, melahap sisa-sisa energi suci di dalam dada sang Templar. Monster itu bahkan tidak sempat berteriak. Tubuhnya hancur menjadi abu bercahaya, meninggalkan palu raksasanya yang jatuh berdebum ke lantai.
"Terlalu mudah," keluh Nox, mengayunkan kakinya di udara. "Mata dan mantelmu itu benar-benar kombinasi cheat yang merusak keseimbangan permainan."
"Ini bukan permainan, Nox. Ini adalah operasi peretasan," aku melangkah maju dan mendorong pintu perak raksasa di depanku.
Pintu itu terbuka tanpa suara.
Cahaya keemasan yang begitu terang dan hangat langsung menyambut mataku. Aku melangkah masuk ke dalam Ruang Harta. Ruangan itu berbentuk kubah, dilapisi seluruhnya oleh kristal putih murni. Tidak ada peti harta karun atau tumpukan emas murahan di sini. Hanya ada sebuah altar bundar di tengah ruangan.
Mengambang di atas altar itu, terbungkus oleh bola energi cahaya suci, adalah Aegis of the Sun. Perisai Matahari.
Ukurannya sebesar dada manusia dewasa, terbuat dari paduan logam ilahi dengan ukiran matahari bersinar di tengahnya. Benda ini bukan hanya perisai fisik; ia adalah lambang absolut dari perlindungan Dewa Cahaya. Jika Leon mendapatkan ini, ia akan kebal dari segala jenis racun dan sihir kutukanku.
"Cantik sekali," bisik Nox, takjub melihat artefak legendaris itu. "Tapi ada segel penolakan iblis di sekitarnya. Kalau kau menyentuhnya dengan tangan kosong, tanganmu akan meleleh sampai ke tulang."
Aku tersenyum miring. Aku melepas mantel Kain Kafan Malam dari pundakku, lalu membungkus tangan kananku dengan kain kutukan tersebut layaknya sarung tangan tebal.
Aku melangkah menaiki altar.
Sistem dunia ini mulai menyadari ada anomali. Bola energi di sekitar perisai itu berkedip merah. Teks peringatan dari Makam Suci bermunculan di pandanganku.
[PERINGATAN! ELEMEN KEGELAPAN TERDETEKSI!]
[MENGAKTIFKAN PROTOKOL PEMBAKARAN...]
"Terlambat," bisikku.
Aku menembuskan tangan kananku yang terbungkus Kain Kafan Malam langsung ke dalam bola cahaya pelindung tersebut.
ZRAAAASH!
Cahaya suci itu meledak, mencoba membakar tanganku. Tapi Kain Kafan Malam bekerja dengan sempurna. Kain itu mengisap seluruh sihir pembakaran tersebut, sementara pusaran Vespera di jantungku berputar dengan kecepatan maksimum, menelan energi netral yang dihasilkan oleh kain itu dan mengubahnya menjadi mana milikku.
Aku mencengkeram gagang Aegis of the Sun.
Sistem menjerit.
[OTORISASI GAGAL! PENOLAKAN ARTEFAK!]
Aku mengaktifkan Mata Kausalitas. Kucari titik krisis di dalam struktur perisai itu. Ada satu sirkuit rune di inti perisai yang menghubungkannya dengan energi Pahlawan Cahaya. Aku menyalurkan sihir hitamku melalui pedang Taring Abyss yang kupegang di tangan kiri, lalu menekankan ujung pedangku ke permukaan perisai tersebut.
"Kau bukan lagi milik sang Matahari," ucapku dengan otoritas mutlak. "Override. Rewrite Code."
Aku membanjiri inti perisai suci itu dengan mana kegelapan absolut. Terjadi tarik-menarik energi yang luar biasa di dalam ruang harta itu. Perisai emas tersebut bergetar hebat, meronta seperti binatang buas yang sedang dijinakkan paksa. Emas yang menyilaukan perlahan mulai ternoda oleh tinta hitam dari sihirku.
KRAK!
Sistem perlindungan aslinya hancur.
Teks peringatan di mataku berubah bentuk.
[HACKING BERHASIL.]
[Aegis of the Sun (Suci) telah bermutasi karena anomali energi.]
[Item Baru Diterima: Aegis of the Eclipse (Perisai Gerhana - Kelas: SSS)]
Aku menarik perisai itu dari altar.
Bentuknya telah berubah total. Emas sucinya kini berubah menjadi warna obsidian gelap dengan pendaran ungu keunguan. Ukiran matahari di tengahnya kini berubah menjadi lambang gerhana matahari total—cincin cahaya terang yang ditelan oleh kegelapan absolut.
Perisai ini tidak lagi membakarku. Benda ini kini beresonansi dengan detak jantungku.
"Gila..." gumam Nox, matanya terbelalak maksimal. "Kau baru saja mengorupsi artefak suci paling murni di dunia ini menjadi senjata iblis tingkat SSS. Penulis dunia ini pasti sedang menangis berdarah di suatu tempat."
"Biarkan dia menangis," aku menyarungkan Perisai Gerhana ke punggungku, merasakan lonjakan kekuatan baru yang mengalir di pembuluh darahku. Aku kini kebal terhadap sihir cahaya tingkat apa pun.
Aku menoleh ke arah pintu utama ruang harta ini—pintu emas raksasa yang seharusnya menjadi jalur masuk Julian dan Leon. Terdengar suara dentuman samar dari balik pintu itu. Mereka sedang melawan bos terakhir di lorong utama untuk bisa masuk ke sini.
"Mereka hampir sampai," lapor Nox sambil terkikik jahat. "Apa kita langsung pergi dari pintu belakang?"
"Tentu saja," jawabku. "Tapi rasanya kurang sopan kalau kita tidak meninggalkan pesan untuk mereka."
Aku berjalan mendekati altar bundar yang kini kosong melompong. Aku merogoh sakuku dan mengeluarkan selembar perkamen kosong. Menggunakan sepotong arang dari sisa tubuh Templar tadi, aku menulis beberapa kalimat pendek dengan tulisan tangan kaligrafi bangsawan yang sangat rapi.
Kutaruh kertas itu tepat di tengah altar, lalu menindihnya dengan sekeping koin tembaga murahan—sebuah penghinaan absolut bagi nilai sebuah artefak suci.
"Ayo pergi, Nox."
Aku melangkah kembali ke lorong gelap tempatku datang, dan pintu perak itu menutup kembali tanpa suara.
BLAAAAM!
Dua puluh menit kemudian, Pintu Emas Utama Makam Suci hancur berantakan akibat ledakan sihir api keemasan.
Leon, dengan napas tersengal-sengal dan zirah yang penyok di sana-sini, melangkah masuk. Di belakangnya, Pangeran Julian berjalan dengan raut wajah kelelahan namun dipenuhi kemenangan yang meluap-luap. Beberapa ksatria elit yang tersisa ikut masuk dengan wajah berbinar.
Mereka baru saja mengalahkan Archangel of Judgment, bos terberat di lantai ini.
"Kita berhasil, Leon!" seru Julian, menepuk bahu sang pahlawan. "Altar itu! Perisai Matahari ada di sana! Ambillah, itu adalah takdir—"
Ucapan Julian terputus seketika.
Saat mereka memandang ke tengah ruangan, tidak ada cahaya keemasan. Tidak ada perisai melayang. Altar batu itu benar-benar kosong.
Leon terdiam. Matanya membelalak lebar, otaknya menolak memproses apa yang ia lihat. "B-Bagaimana mungkin? Di mana perisainya? Apakah ini ilusi?"
Julian berlari kalap menuju altar. Ia mengelilingi meja batu itu, mencari-cari tombol rahasia atau ruang tersembunyi. Namun tangannya menyentuh sesuatu. Selembar perkamen yang ditindih oleh koin tembaga yang sudah berkarat.
Dengan tangan gemetar, Julian mengangkat kertas itu dan membacanya keras-keras.
"Terima kasih telah membukakan pintu depan dan membunuh para penjaga untukku. Pelayanan yang sangat memuaskan, meski kalian sedikit lambat.
Sebagai gantinya, aku tinggalkan koin tembaga ini. Anggap saja sebagai uang tip untuk para pahlawan yang bekerja keras.
Salam hangat dari Kegelapan.
— A.P."
Udara di Ruang Harta itu seketika membeku.
"A.P..." gumam Leon, wajahnya memucat sebelum berubah menjadi semerah tomat. "Arthur... PENDELTON!!!"
Raungan amarah Leon menggetarkan seluruh Makam Suci. Pangeran Julian meremas kertas itu hingga hancur, wajahnya terdistorsi oleh kemarahan dan rasa terhina yang begitu parah hingga ia memuntahkan seteguk darah segar ke atas altar.