Indonesia
NovelToon NovelToon
ASMARA DI HATIKU

ASMARA DI HATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

"Minggu depan, kamu pindah sekolah ke Jogja! Kamu harus dididik lebih keras supaya tingkah begajulanmu itu hilang!"

Mendengar ucapan Bapaknya itu, Wira langsung kaget bukan main. Dia merasa keputusan Bapaknya itu bagaikan keputusan hakim sidang yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup.

Wira memang murid salah satu SMA di Bogor. Dirinya yang terkenal begajulan, suka mencari keributan, susah diatur, dan keras kepala, akhirnya akan mengarungi sisa masa sekolahnya di kota Jogja.

Namun, keputusan Bapaknya itu sangat tepat. Karena di Kota Jogja itulah sebuah perubahan besar dalam diri Wira akan didapatkan.

PLUS WIRA AKAN MENDAPATKAN CINTANYA DI SANA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 CINTA MATAHARI DAN BULAN DI BUKIT BINTANG

Hamparan lautan cahaya kota Yogyakarta di bawah sana seolah berkedip seirama dengan detak jantung dua remaja yang sedang berdiri bersisian di tepi pagar pembatas kayu.

Angin malam Gunung Kidul yang bertiup cukup kencang tidak mampu mendinginkan suhu tubuh mereka yang mendadak menghangat oleh presensi satu sama lain.

Setelah beberapa menit terhanyut dalam pesona lautan lampu kota, Wira akhirnya menoleh. Pemuda itu menggeser posisinya, menepuk pelan bahu Asmara untuk menarik perhatian gadis tersebut.

"Udah puas belum berdiri di sini meratapi lampu kota?" goda Wira, memecah keheningan syahdu di antara mereka.

"Anginnya makin kencang nih. Kalau lo berdiri terus di sini, nanti lo bisa terbang kebawa angin. Badan lo kan ringan banget kayak kapas. Ahahahaha..."

Asmara menoleh, bibirnya mengerucut membentuk senyum pura-pura kesal. "Enak aja. Berat badan gue ideal tahu. Lo kira gue layangan?!"

Wira tertawa renyah. Ia menunjuk ke arah deretan warung berbentuk panggung kayu di belakang mereka, tempat di mana beberapa pengunjung sedang duduk lesehan beralaskan karpet karpet tebal.

"Kita duduk di sana aja yuk. Daripada masuk angin berdiri di pinggir tebing," ajak Wira. "Gue cium bau jagung bakar dari tadi, perut gue langsung demo lagi padahal belum lama makan nasi Bude Ning."

"Dasar perut karet!" cibir Asmara, namun ia mengikuti langkah Wira dengan patuh.

Wira memilih sebuah spot lesehan yang posisinya paling strategis—berada di sudut, tidak terlalu ramai, namun pemandangannya langsung menghadap ke arah hamparan lampu kota tanpa terhalang pengunjung lain.

Setelah memastikan karpetnya bersih, Wira mempersilakan Asmara duduk, sementara ia sendiri memanggil salah satu pelayan warung.

"Pak, pesen jagung bakarnya dua ya. Bumbunya pedas manis, tapi yang satu pedasnya dikit aja, yang satu lagi pedasnya brutal!" pesan Wira dengan cekatan. Ia lalu menoleh ke arah Asmara.

"Lo minumnya mau apa, Ra? Yang anget-anget aja biar perut lo nggak kaget kena angin gunung."

"Gue teh jahe anget aja deh, Wir. Gula batu ya kalau ada," jawab Asmara.

"Siap! Teh jahe anget gula batu dua ya, Pak!" ulang Wira kepada pelayan tersebut, yang langsung dibalas dengan anggukan dan senyuman ramah.

Sepeninggal pelayan itu, Wira duduk bersila tepat berhadapan dengan Asmara. Hanya sebuah meja kayu pendek dan kecil yang memisahkan lutut mereka.

Cahaya dari lampu warung yang temaram menciptakan siluet lembut di wajah Asmara, membuat Wira lagi-lagi tanpa sadar menatap gadis itu sedikit terlalu lama.

Asmara yang merasa sedang diperhatikan, balas menatap Wira. Gadis itu menaikkan sebelah alisnya.

"Kenapa lo ngelihatin gue terus dari tadi? Beneran ada yang aneh ya sama muka gue? Make up gue ketebalan atau rambut gue berantakan kena angin?"

Wira tersenyum miring, menopang dagunya dengan sebelah tangan yang bertumpu di atas lutut.

"Nggak ada yang aneh," jawab Wira dengan nada suaranya yang berat dan mengalun santai.

"Gue cuma lagi mikir aja." tambah Wira.

"Mikirin apa?"

"Mikirin betapa anehnya takdir," Wira membuang pandangannya sekilas ke arah lampu kota, lalu kembali menatap mata Asmara.

"Coba lo bayangin, Ra... Sebulan yang lalu, di hari pertama gue masuk ke kelas lo... kita berdua itu udah kayak musuh bebuyutan. Lo natap gue kayak natap buronan, dan gue natap lo kayak natap sipir penjara yang paling nyebelin sedunia."

Mendengar kilas balik itu, Asmara tertawa pelan. Tawanya terdengar begitu merdu mengalahkan suara petikan gitar akustik dari warung sebelah.

"Itu karena kelakuan lo emang kayak buronan lepas, Wir," balas Asmara blak-blakan.

"Hari pertama masuk udah berani naikin kaki ke meja, bajunya dikeluarin, terus mukul kakak kelas pula. Siapa coba yang nggak ilfeel ngelihat cowok begajulan kayak lo waktu itu?"

"Ya kan gue waktu itu lagi mode survival," Wira membela diri, meski ujung bibirnya terus melengkung membentuk senyuman.

"Gue pikir orang Jogja itu kaku-kaku semua, makanya gue harus pasang tameng garang biar nggak diremehin. Eh, nggak tahunya gue malah ketemu sama Ratu Abdi Dalem yang ternyata jauh lebih garang dari gue."

"Gue nggak garang ya! Gue cuma tegas," koreksi Asmara cepat, pipinya sedikit memerah.

"Iya, tegas," Wira mengangguk-angguk setuju, sengaja mengalah.

"Tegas banget sampai bikin gue rela ngepel lantai paviliun sebulan penuh tanpa berani bolos sehari pun."

Keduanya kembali tertawa.

Tawa yang menguapkan seluruh sisa kecanggungan.

Malam itu...

Di atas Bukit Bintang...

Batas antara 'teman sebangku' dan 'dua orang yang sedang pendekatan' telah sepenuhnya kabur.

Mereka menertawakan masa lalu mereka yang penuh konflik.

Mengingat bagaimana Wira menumpahkan es teh, mengingat bagaimana Asmara mendiamkan Wira, hingga mengingat momen di mana Asmara marah besar menggunakan bahasa Bogor-Jawa yang belepotan.

Saat pesanan mereka datang—dua piring jagung bakar yang mengepulkan asap wangi dan dua gelas teh jahe hangat—obrolan mereka justru semakin dalam dan intens.

Asmara meniup teh jahenya perlahan, lalu menyesapnya.

Rasa hangat seketika menjalar dari kerongkongan hingga ke perutnya, mengusir sedikit hawa dingin yang mulai menusuk pori-pori kulit. Ia meletakkan gelas kaca itu, lalu menatap Wira yang sedang sibuk menggigit jagung bakarnya yang berwarna kemerahan karena bumbu pedas.

"Wir," panggil Asmara pelan, nadanya berubah sedikit lebih serius.

Wira menghentikan kunyahannya. Ia menelan jagungnya, lalu mengambil tisu untuk mengelap ujung bibirnya.

"Ya? Kenapa, Ra? Jagung lo kurang pedes?"

Asmara menggeleng. Tangannya memainkan ujung gelas tehnya yang berembun.

"Gue... gue beneran nggak nyangka kita bakal berakhir duduk berdua di sini, makan jagung bakar sambil ngobrol biasa kayak gini."

Wira tersenyum lembut.

Ia meletakkan jagungnya di atas piring, memberikan perhatian penuh pada gadis di depannya.

"Gue juga, Ra... Kalau sebulan yang lalu ada dukun yang ngeramal gue bakal ngajak lo kencan malam Minggu di Bukit Bintang, pasti dukun itu udah gue ketawain habis-habisan."

"Menurut lo, apa yang bikin kita bisa nyampe di titik ini?" tanya Asmara.

Matanya mencari jawaban di balik sepasang mata elang Wira yang kini menatapnya dengan penuh kelembutan.

Wira terdiam sejenak.

Ia membiarkan suara angin gunung mengisi jeda di antara mereka.

Di dalam kepalanya, ia menelusuri kembali setiap detak waktu yang ia habiskan bersama Asmara.

"Karena kita berdua sama-sama mau nurunin ego kita, Ra," jawab Wira akhirnya, suaranya sangat tenang, memancarkan kedewasaan yang jarang ia perlihatkan.

"Gue belajar nurunin ego gue buat ngertiin dunia lo, ngertiin aturan lo. Dan lo... lo juga rela nurunin tembok kesempurnaan lo buat ngertiin bahasa gue. Lo rela neriakin Bima pake cara gue, cuma buat ngelindungin harga diri gue di lapangan waktu itu."

Mendengar hal itu, Asmara merasa jantungnya seperti meloncat satu ketukan. Kata-kata Wira begitu jujur dan tepat sasaran.

"Gue beruntung bokap gue ngebuang gue ke Jogja, Ra," lanjut Wira, suaranya kini sedikit parau, membawa muatan emosi yang sangat tebal.

"Karena di kota yang katanya lambat ini, gue malah nemuin satu-satunya orang yang bisa bikin lari jantung gue sekencang ini."

Asmara menahan napas.

Pengakuan tersirat itu diucapkan Wira tanpa keraguan sedikit pun.

Tatapan pemuda itu mengunci Asmara, seolah menelanjangi seluruh perasaan yang selama ini mati-matian Asmara sembunyikan.

Di detik itu, di bawah keremangan cahaya lampu warung dan dinginnya udara malam, Asmara tak bisa lagi membohongi dirinya sendiri.

Rasa simpati dan utang budi sudah lama menguap.

Yang tersisa di dalam dadanya hanyalah sebuah kepastian yang terasa semakin kuat.

Ia telah jatuh cinta pada Wira Aji Pratama.

Sangat dalam, hingga rasanya menakutkan...

Sekaligus luar biasa membahagiakan.

Asmara tak mampu merangkai kata-kata balasan yang setara dengan pengakuan Wira.

Ia hanya bisa menundukkan wajahnya, membiarkan poni rambutnya menutupi pipinya yang kini sudah semerah tomat. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan senyum yang meronta ingin lepas.

"Kok malah nunduk?" goda Wira pelan, memecah ketegangan romantis itu dengan kembali menggunakan nada tengilnya.

"Jiaaahhh! Baper ya lo sama kata-kata gue barusan? Udah, ngaku aja... Cowok Bogor emang susah buat ditolak, kan?" goda Wira.

Asmara langsung mengangkat wajahnya, mendelik pura-pura kesal meski senyum lebar sudah menghiasi wajah cantiknya.

"Dih! Kepedean banget lo! Siapa juga yang baper. Gue nunduk karena kelilipan angin!"

"Oh, kelilipan angin. Emang ada ya angin masuk ke mata bikin pipi merah gitu?" Wira tertawa puas melihat Asmara salah tingkah.

"Makan tuh jagung, Ra. Keburu dingin nanti nggak enak. Bukannya bikin kenyang, malah numbuh dalem perut lo tuh jagung! Ahahaha..." tambah Wira.

.....

.....

Mereka kembali melanjutkan makan dengan diselingi tawa dan ledekan.

Namun, semakin malam, angin di kawasan Bukit Bintang berhembus semakin kencang dan tidak bersahabat.

Udara yang tadinya hanya sejuk, kini berubah menjadi dingin yang menusuk tulang, khas udara perbukitan kapur di waktu malam.

Asmara, yang hanya mengenakan blus katun dan cardigan rajut tipis, mulai merasakan efek dari penurunan suhu tersebut.

Tanpa sadar, gadis itu menyilangkan kedua lengannya di depan dada, mengusap-usap telapak tangannya ke lengan atasnya sendiri untuk mencari kehangatan. Bibirnya sedikit bergetar menahan dingin.

Wira, yang memiliki insting protektif layaknya radar yang sangat peka, langsung menyadari perubahan gestur Asmara.

Pemuda itu menghentikan obrolannya.

Matanya memindai tubuh Asmara yang sedikit meringkuk.

"Lo kedinginan, Ra?" tanya Wira, nadanya seketika berubah menjadi penuh kekhawatiran.

Asmara memaksakan sebuah senyuman.

"Dikit, Wir... Anginnya ternyata kenceng banget ya kalau malam. Padahal tadi di bawah nggak sedingin ini."

"Bentar," ucap Wira singkat.

Tanpa berpikir dua kali, pemuda itu meletakkan sisa jagung bakarnya.

Ia menegakkan tubuhnya, lalu dengan gerakan cepat, Wira menarik ritsleting jaket denim vintage yang sedang ia kenakan.

Ia melepaskan jaket kebanggaannya itu dari tubuhnya, menyisakan dirinya yang kini hanya berbalut kaus oblong hitam lengan pendek di tengah terpaan angin malam.

Sebelum Asmara sempat memproses apa yang terjadi, Wira sudah mencondongkan tubuhnya melintasi meja kecil itu.

Dengan gerakan yang sangat lembut namun tegas, Wira menyampirkan jaket denim miliknya yang tebal itu menutupi kedua bahu Asmara.

Asmara tersentak kaget.

Matanya membelalak menatap Wira yang kini hanya berjarak beberapa jengkal dari wajahnya saat memakaikan jaket itu.

"Eh, Wir?! L-lo ngapain?!" Asmara buru-buru menahan tangan Wira yang sedang merapikan kerah jaket di bahunya.

"Gue nggak apa-apa kok! Nanti lo malah yang masuk angin kalau cuma pakai kaus doang!"

Wira menatap tangan Asmara yang memegang pergelangan tangannya.

Ia tersenyum sangat tipis, lalu perlahan melepaskan tangannya dari bahu Asmara, namun tidak menarik kembali jaketnya.

"Orang Bogor itu kebal sama angin dan hujan, Ra... Bogor kan Kota Hujan," jawab Wira santai, bersandar kembali ke posisinya semula.

"Udah, pakai aja. Baju lo itu tipis banget. Kalau sampai lo sakit gara-gara gue ajak ke sini, Romo lo bisa gantung gue di pohon beringin Alun-alun Kidul besok pagi." tambah Wira.

"T-tapi... L-lo beneran nggak kedinginan?" tanya Asmara lagi, matanya memancarkan rasa bersalah sekaligus haru yang luar biasa.

"Nggak, Tuan Putri... Tenang aja... Laki mah harus kuat," Wira menepuk dadanya dengan gaya sok jagoan.

"Lagian, kalau gue ngelihat cewek gue... Eh, M-maksudnya, cewek yang lagi jalan sama gue kedinginan, terus gue diem aja, m-mending gue balik jadi anak SD lagi." tambah Wira agak salah tingkah karena barusan keceplosan.

Mendengar ralat kata 'cewek gue' yang tak sengaja meluncur dari bibir Wira, detak jantung Asmara kembali berpacu gila-gilaan.

Asmara tak lagi membantah.

Ia menarik bagian depan jaket denim itu, merapatkan kain tebal tersebut ke tubuhnya.

Begitu jaket itu membungkusnya, kehangatan seketika mengusir rasa dingin yang menyiksa.

Namun, bukan hanya kehangatan fisik yang membuat Asmara merasa melayang saat ini.

Aroma maskulin yang sangat khas menyerbak dari kain jaket tersebut.

Wangi citrus yang segar, berpadu dengan aroma musk, dan wangi matahari—aroma tubuh Wira Aji Pratama.

Aroma itu mengepung indra penciuman Asmara, memberikannya sensasi perlindungan yang luar biasa nyaman. Seolah-olah, Wira sedang memeluknya dari belakang untuk melindunginya dari angin malam.

Momen sesederhana itu—dipakaikan jaket oleh seorang laki-laki yang merelakan dirinya kedinginan—telah berhasil mengunci hati Asmara seutuhnya.

Gadis itu menundukkan wajahnya, menyembunyikan air mata haru yang nyaris menetes saking bahagianya.

Perasaannya benar-benar sudah tak karuan.

Ia menyadari bahwa...

IA TIDAK INGIN KEHILANGAN PEMUDA INI SAMPAI KAPAN PUN!

.....

.....

Waktu berlalu tanpa terasa di bawah naungan langit bertabur bintang itu.

Wira melirik jam tangan kulit di pergelangan tangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 21.15 WIB.

"Ra," panggil Wira pelan. Ia menatap Asmara yang terlihat sangat nyaman bergelung di dalam jaket denim kebesarannya.

"Udah jam sembilan lewat seperempat. Kita harus siap-siap balik sekarang."

Asmara mengangkat wajahnya, sedikit terkejut.

"Udah jam segini ya? Kok cepet banget."

"Iya, waktu emang kerasa cepet kalau lagi seneng," Wira mengerdipkan sebelah matanya, membuat Asmara kembali memutar bola mata meski pipinya bersemu merah.

"Gue janji sama Bude Ning nggak bakal pulang lewat jam sepuluh malam. Dan gue juga yakin, jam malam di rumah keraton lo pasti nggak jauh beda, kan? Gue nggak mau ngerusak kepercayaan orang rumah lo di kencan pertama kita."

Asmara mengangguk setuju. Perhitungan Wira sangat tepat dan penuh tanggung jawab.

"Iya, bener. Biasanya jam setengah sepuluh gue udah disuruh masuk kamar sama Ibu. Yuk, kita balik sekarang."

Wira berdiri, membayar tagihan makanan mereka kepada pemilik warung, lalu menuntun Asmara kembali menuju pelataran parkir tempat motor Honda CB merahnya terparkir.

Angin malam terasa semakin garang saat mereka berjalan.

Wira yang hanya mengenakan kaus pendek terlihat sedikit menggigil, meski ia berusaha keras menyembunyikannya dengan berjalan tegap. Asmara memperhatikannya dengan rasa bersalah yang kembali muncul.

Sesampainya di dekat motor, Wira mengambil helm bogo retro dan memakaikannya ke kepala Asmara.

Tangannya dengan telaten mengaitkan tali pengaman di bawah dagu gadis itu, sebuah gestur kecil yang lagi-lagi membuat dada Asmara serasa dipenuhi kupu-kupu.

"Siap nerjang angin malam Gunung Kidul?" tanya Wira sambil menaiki sadel motor dan menyalakan mesinnya. Suara blar-blar yang bising kembali terdengar.

Asmara naik ke boncengan, merapatkan jaket denim Wira di tubuhnya.

"Siap. Tapi lo beneran nggak mau gantian pakai jaketnya, Wir? Tangan lo sampai merinding gitu."

Wira menoleh ke belakang, tertawa pelan.

"Gue mendingan merinding kedinginan daripada ngelihat lo sakit besok pagi, Ra... Udah, lo tenang aja... Duduk yang manis, pegangan yang kuat... Perjalanan turun bukit anginnya bakal lebih kencang dari yang tadi."

Motor klasik itu pun melaju perlahan meninggalkan pelataran Bukit Bintang, membelah kegelapan jalan raya Wonosari yang menurun dan berkelok-kelok tajam.

Benar apa kata Wira.

Perjalanan turun gunung di malam hari menyajikan tantangan suhu yang jauh lebih ekstrem. Angin malam menerpa tubuh mereka tanpa ampun.

Asmara merasa kakinya yang hanya dibalut celana kulot cukup kedinginan, namun tubuh bagian atasnya terasa sangat hangat karena terlindungi oleh jaket tebal Wira.

Sementara itu, di depannya, punggung Wira yang lebar menjadi tameng utama yang memecah hembusan angin agar tidak langsung mengenai Asmara. Punggung itu hanya berlapiskan kaus tipis.

Tepat saat jam di ponsel Asmara yang ia pegang di saku jaket menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, motor yang mereka naiki memasuki sebuah tikungan tajam yang cukup panjang dan sepi.

Tidak ada lampu jalan di bagian itu, hanya ada cahaya dari lampu depan motor klasik Wira yang menerangi aspal.

Di tengah kesunyian perjalanan dan dinginnya udara malam yang menggigit, Asmara menatap punggung Wira. Ia melihat bahu pemuda itu sedikit menegang menahan dingin.

Sebuah gelombang rasa sayang...

Keberanian...

Dan dorongan naluriah yang tak bisa dibendung...

Tiba-tiba mengambil alih kesadaran sang gadis keraton.

Asmara membuang jauh-jauh semua ajaran tentang menjaga jarak fisik yang selalu ditanamkan ibunya.

Malam ini, di atas motor yang membelah dinginnya angin malam Jogja, Asmara hanya ingin mendengarkan suara hatinya.

Ia ingin memberikan sedikit kehangatan untuk pemuda yang telah merelakan kehangatannya sendiri.

Dengan gerakan yang sangat perlahan, pelan, dan sedikit gemetar, Asmara melepaskan pegangannya dari besi belakang sadel motor.

Gadis itu memajukan tubuhnya...

Jarak di antara mereka terkikis habis...

Lalu...

Dari arah belakang...

Kedua tangan Asmara perlahan terulur ke depan.

Lengan mungilnya melingkari pinggang Wira.

Asmara merapatkan tubuhnya...

Menyandarkan sisi wajahnya yang tertutup helm ke punggung bidang pemuda itu...

Dan...

Asmara mempererat pelukannya di perut Wira.

Merasakan sentuhan yang tiba-tiba melingkari pinggangnya, tubuh Wira mendadak menegang kaku layaknya disambar petir bertegangan sejuta volt.

Tarikan gas di tangan kanannya refleks mengendur, membuat motor Honda CB itu sedikit melambat.

Jantung Wira yang sedari tadi berdetak normal...

Kini meledak dalam rentetan detakan yang sangat gila...

Memompa darah ke seluruh tubuhnya dengan kecepatan motor sport.

Wira terkesiap. Matanya membelalak di balik kaca helmnya.

Ia melirik ke bawah, menatap sepasang tangan kecil yang kini bertaut erat di perutnya.

Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Asmara yang menempel rapat di punggungnya.

Ia bisa merasakan hembusan napas gadis itu yang pelan menembus kaus tipisnya.

Wira menelan ludah dengan susah payah. Suhu udara malam yang dingin sedetik yang lalu terasa membekukan tulang, kini menguap tak bersisa. Tubuhnya terasa seperti baru saja disiram oleh air hangat yang menenangkan.

Sensasi dari pelukan Asmara menyengat seluruh saraf-saraf di tubuhnya, menciptakan euforia yang nyaris membuatnya lupa cara bernapas.

"Ra?" panggil Wira dengan suara yang sangat serak dan bergetar hebat, mencoba memastikan bahwa ia tidak sedang berhalusinasi akibat hipotermia.

"Dingin, Wir," balas Asmara dari belakang. Suara gadis itu teredam oleh helm dan tiupan angin, namun cukup jelas tertangkap oleh telinga Wira.

"Gue cuma... mau bagi kehangatan dari jaket lo... Boleh, kan?"

Mendengar alasan yang sangat polos namun berani itu...

Sebuah senyum paling lebar...

Paling bodoh...

Dan paling bahagia yang pernah dimiliki oleh seorang laki-laki...

Terlukis sempurna di wajah Wira.

Matanya bahkan sedikit berkaca-kaca karena luapan emosi yang tak bisa ia bendung.

"Sang Bulan" yang selalu menjaga jaraknya dengan anggun, kini telah meruntuhkan pertahanan terakhirnya dan memilih untuk merengkuh "Sang Matahari".

Wira tidak membalas ucapan gadis itu dengan kata-kata. Pemuda itu melepaskan tangan kirinya dari stang motor sejenak, lalu menggenggam lembut punggung tangan Asmara yang melingkar di perutnya. Ia menepuknya pelan, memberikan sebuah jawaban bisu bahwa Asmara boleh berlindung di sana selama apa pun yang gadis itu mau.

Wira menarik kembali gas motornya, mempertahankan kecepatan yang stabil agar momen ini tidak cepat berlalu.

.....

.....

Sisa perjalanan pulang menuju Jeron Beteng malam itu tak lagi diisi oleh percakapan konyol atau godaan tengil.

Hanya ada suara deru mesin motor tua dan hembusan angin malam.

Namun, di dalam keheningan itu, kedua remaja tersebut akhirnya menyadari sebuah kebenaran yang tak lagi bisa disangkal.

MEREKA TELAH JATUH CINTA.

JATUH CINTA SEDALAM-DALAMNYA.

Bagi Asmara...

Pelukan di pinggang Wira adalah bentuk penyerahan dirinya yang paling jujur pada kebebasan dan cinta pertamanya.

Dan bagi Wira...

Genggaman tangannya di atas tangan Asmara adalah janji tak terucap, bahwa ia akan melakukan apa pun di dunia ini untuk selalu menjaga kehangatan gadis itu.

Melindungi sang Tuan Putri dari "badai kehidupan" sedingin apa pun yang mungkin akan menerpa hidup mereka kelak.

1
Yurmanitya Fadilah
Terharu aku 🥹
Wanoja
sedih
Wanoja
jadi inget adegan Cinta nyusul rangga di bandara di film aadc
Wanoja
eldeer itu berat
Wanoja
definisi ada senyum ada tangis ada bahagia ada luka
Wanoja
typo dikit nihh
Yurmanitya Fadilah
Sudah kuduga
Yurmanitya Fadilah
Akhirnya ada yang bisa menaklukan dia
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mwehehehe... 😍😍😍
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Gereget banget gue sama ini anak
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Emang badjingan si Wira... 🗿🗿🗿
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Ya Allah Wira Badung nya tuh ngebadung amat ini anak bikin emosi yang baca
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ciri khas bocah nggak mau diatur, Kak... 💪💪💪
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hahahaaa ngakak🤣
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Yurmanitya Fadilah
Hayo Lo Wira, good luck ya menghadapi Bude mu, semoga cepet tobat GK bandel lagi
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Aamiin... 🤭🤭🤭
total 1 replies
Wanoja
ngiri sama kebahagiaan mereka
Yurmanitya Fadilah
Wira Badung banget, bagus lah bapak ibunya bijak, aku setuju dia dipindahin ke Jogja aja 😄🤣
Wanoja
ya kali raka cs juga berubah kayak kmu wira setelah ke jogja terus ketemu dek asmara
Wanoja
seperti lagi dibawa keliling malioboro sama wira dan dek asmara
Wanoja
Bedanya apa ronde sama sekoteng?
Wanoja
😂 raka belum tau jogja sepertinya cuma candi sama naik becak katanya
Wanoja
baca nya esem esem ndewe
Wanoja: bayangin mereka lah
total 2 replies
@ ~arworld author(。・ω・。)
satu bunga untuk kakak nya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Terima kasih, Kak...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!