Vania hanya ingin hidup tenang. Sayangnya, ia malah terbangun di tubuh antagonis "Sinetron tahun 90an" yang ditakdirkan mati tragis di episode final. Demi selamat, ia menghindari Male Lead dan menjauh dari Kevin, sang Villain bermasalah.
Namun saat Kevin mulai merusak plot, Vania panik. Satu-satunya cara menghentikan kekacauan? Melamar pria itu!
"Daripada merebut kekasih orang lain, nikahi saya saja."
Masalahnya, Vania lupa Kevin bukan Villain biasa. Dia pria posesif yang rela membakar dunia demi istrinya. Alih-alih tenang, Vania malah terjebak drama keluarga sultan dan suami yang bucin brutal. Bagaimana caranya hidup damai, kalau suaminya adalah sumber kekacauan terbesar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lady Airen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERSIAPAN PESTA DAN SABOTASE KATERING
Aula utama mansion keluarga besar hari ini telah disulap menjadi lokasi pesta pertunangan yang sangat berlebihan. Rangkaian bunga mawar merah dan baby's breath putih menjulang tinggi di setiap sudut, membentuk lengkungan-lengkungan yang jika dilihat sekilas tampak seperti gerbang menuju alam baka. Karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke pelaminan yang dihiasi kain beludru emas dan lampu-lampu kelap-kelip yang menyilaukan mata.
Vania berdiri di tengah aula, memegang sebuah papan jalan (clipboard) dan pulpen, dengan tatapan seorang jenderal yang sedang mengawasi medan perang.
"Kursi nomor empat belas geser ke kiri dua senti. Jangan sampai Tante Ratna duduk di sebelah Om Reza, nanti mereka berantem soal warisan sebelum hidangan utama keluar," perintah Vania pada dua pelayan yang langsung bergerak sigap. "Dan tolong, matikan satu lampu sorot di sebelah kiri. Terlalu terang, nanti foto-fotonya overexposed dan muka Tante Ratna kelihatan keriput. Dia akan menyalahkan aku."
Vania menatap "kamera" imajinernya yang melayang di atas rangkaian bunga. Di tahun 2026, aku bisa sewa Wedding Organizer profesional dengan harga lima puluh juta rupiah yang akan mengurus semua ini sambil minum matcha latte. Di sini? Aku harus jadi WO dadakan, mengatur bunga, mengecek kursi, dan memastikan tidak ada tamu yang pingsan karena kebanyakan makan. Semua ini demi satu tujuan: pesta ini harus sukses. Raka dan Larasati harus bahagia. Dan aku harus selamat.
Setelah memastikan tata ruang sempurna, Vania berjalan menuju dapur utama. Dia perlu memastikan katering berjalan lancar. Ini adalah fase paling krusial. Dalam sinetron 90-an, sabotase makanan adalah cara paling umum untuk mempermalukan keluarga di depan umum.
Begitu Vania mendorong pintu ayun dapur, hidungnya langsung menangkap aroma yang aneh. Bukan aroma bumbu rempah opor ayam dan rendang yang seharusnya gurih, melainkan bau asam yang menyengat, dicampur dengan bau amis yang tidak wajar.
Vania menyipitkan mata. Dia berjalan cepat menuju kompor besar di mana tiga kuali raksasa sedang dipanaskan. Chef Bambang, kepala katering yang biasanya berkeringat dan ramah, kini berdiri dengan punggung tegang, matanya gelisah menatap ke arah pintu.
"Chef Bambang," sapa Vania datar. "Kenapa rendang-nya baunya seperti sampah organik yang difermentasi di bawah sinar matahari?"
Chef Bambang tersentak, sendok kayu di tangannya hampir jatuh. "N-Nona Vania! Ini... ini bumbu baru, Nona. Sedang diuji coba..."
Vania tidak menjawab. Dia mengambil sendok besar, menciduk sedikit kuah opor dari kuali sebelahnya, dan menciumnya. Wajahnya langsung masam.
"Chef," ucap Vania, suaranya dingin dan tajam. "Ayam ini sudah berjamur. Dan santannya sudah pecah karena terlalu lama didiamkan di suhu ruang. Ini basi. Jelas-jelas basi."
Chef Bambang menelan ludah, wajahnya pucat pasi. "N-Nona, saya... saya dipaksa. Tante Ratna memberi saya amplop tebal. Dia menyuruh saya menukar makanan segar dengan makanan yang sudah disimpan dua hari di luar kulkas. Katanya... katanya biar tamu-tamu penting sakit perut, dan pesta pertunangan ini jadi bencana. Dia bilang, biar Raka dan Larasati terlihat dikutuk..."
Vania menghela napas panjang, rasa muak bercampur dengan rasa lelah merayap di dadanya. Tante Ratna. Wanita ini benar-benar tidak punya imajinasi. Sabotase makanan basi? Di tahun 90-an? Minimal racun tikus atau beling di sup, Bi. Ini amatiran banget.
"Buang semua ini," perintah Vania tegas, menunjuk kuali-kuali itu. "Keluarkan cadangan makanan dari kulkas nomor dua. Masak ulang rendang dan opor dengan bumbu baru. Aku akan awasi kalian sampai pesta selesai. Jika ada satu tamu saja yang sakit perut, Chef, aku akan pastikan Tante Ratna yang membayar biaya rawat inap mereka, dan kau akan dipecat tanpa pesangon."
Chef Bambang mengangguk cepat, keringat dingin membasahi pelipisnya. "Siap, Nona! Segera saya ganti!"
Vania berbalik badan, berniat untuk kembali ke aula. Tapi tepat saat dia melangkah keluar, sebuah bayangan tinggi dan lebar menghalangi jalan.
Kevin berdiri di ambang pintu dapur. Dia mengenakan setelan jas tuxedo hitam yang sangat sempurna, dasi kupu-kupu terikat rapi, dan aroma cologne mahalnya langsung memenuhi ruangan yang berbau bumbu dapur itu. Wajahnya datar, tapi matanya menatap Vania dengan intensitas yang membuat Chef Bambang di belakang langsung pura-pura sibuk mengaduk kuali.
"Kau terlihat stres, Sayang," ucap Kevin, suaranya rendah. Dia melangkah maju, tangannya terulur untuk merapikan kerah gaun malam Vania yang sebenarnya sudah sempurna. "Siapa yang membuatmu khawatir? Aku akan hancurkan dia sekarang juga."
"Tidak perlu menghancurkan siapa pun, Kevin," balas Vania, menepis tangan Kevin pelan. "Tadi ada masalah kecil dengan katering. Makanan basi. Sudah beres. Aku suruh mereka masak ulang."
Kevin berkedip. Alisnya berkerut. "Makanan basi? Di pestaku? Di pesta yang akan mengumumkan pertunangan Raka dan Larasati, yang secara tidak langsung juga merayakan keberadaanmu di sisiku?"
Aura di sekitar Kevin berubah. Suhu dapur seolah anjlok. Matanya yang gelap menyipit, menatap Chef Bambang yang langsung gemetar ketakutan.
"Kevin, jangan," Vania memperingatkan. "Aku sudah urus. Mereka sudah masak ulang."
"Tidak," ucap Kevin pelan, suaranya bergema dengan otoritas mutlak. Dia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel batu bata dengan antena panjang, dan menekan beberapa tombol dengan cepat. "Halo, sekretaris. Beli perusahaan katering 'Citra Rasa' sekarang juga. Akuisisi 100% sahamnya. Pecat manajer operasionalnya, dan pecat kepala chefnya. Kirim Chef Pierre dari Paris. Pakai jet pribadi. Dia harus tiba di sini dalam satu jam."
Vania menatap Kevin dengan mata terbelalak. "Tunggu. Apa? Kevin, ini pesta pertunangan tradisional! Tamunya adalah ibu-ibu arisan dan bapak-bapak konglomerat tua! Mereka mau makan sate padang, gado-gado, dan opor ayam! Bukan Foie Gras!"
"Tapi Foie Gras itu mahal, Vania," balas Kevin datar, seolah itu adalah argumen paling logis di dunia. "Dan Truffle dari Italia lebih bergengsi. Aku tidak ingin tamu-tamumu makan makanan murahan. Kau pantas mendapatkan yang terbaik."
"Kevin, mereka akan bingung! Mereka tidak tahu cara makan siput escargot!" Vania hampir berteriak, memijat pelipisnya yang mulai berdenyut. Tuhan, tolong. Pria ini pikir setiap masalah bisa diselesaikan dengan uang dan jet pribadi. Dia tidak paham budaya lokal!
"Biarkan mereka bingung," Kevin menyeringai tipis, merangkul pinggang Vania dan menariknya keluar dari dapur. "Biarkan mereka tahu bahwa keluarga kita tidak main-main."
***
Satu jam kemudian, pesta dimulai.
Aula utama dipenuhi oleh ratusan tamu. Tante Ratna, Om Reza, dan Bibi Marni duduk di meja depan dengan senyum palsu yang sudah siap tempur. Raka dan Larasati duduk di pelaminan, terlihat sangat gugup dan bahagia.
Pelayan mulai menghidangkan hidangan utama.
Tapi alih-alih piring besar berisi nasi, rendang, dan opor, piring-piring kecil berwarna putih dengan hiasan daun selada disajikan di depan para tamu. Di atasnya, terdapat sepotong hati angsa (Foie Gras) yang dilapisi saus hitam, disertai beberapa siput (Escargot) di dalam cangkangnya.
Hening melanda aula.
Tante Ratna menatap piring di depannya dengan tatapan horor. "Ini... ini apa? Kenapa ada cangkang keong di piringku? Apakah ini makanan untuk orang miskin?"
Om Reza mengaduk-aduk Foie Gras-nya dengan garpu, wajahnya bingung. "Ini daging apa? Kenapa lembek sekali? Dan baunya seperti tanah basah."
Di meja VIP, seorang ibu-ibu arisan mengangkat tangan, memanggil pelayan dengan wajah panik. "Nak, ini kuahnya mana? Kenapa supnya cuma busa putih di atas cairan hitam? Apakah ini racun?!"
Vania, yang duduk di sebelah Kevin, menutupi wajahnya dengan tangan. Aku sudah bilang. Aku sudah bilang dia akan bikin keributan. Sekarang aku harus jadi penerjemah kuliner Prancis untuk ibu-ibu yang biasa makan bakso.
"Bu," ucap Vania pada ibu-ibu itu dengan suara lelah. "Itu bukan racun. Itu cappuccino dari jamur truffle. Silakan diminum. Rasanya seperti tanah, tapi tanah yang mahal."
Kevin di sebelahnya menatap Vania dengan tatapan bangga, merangkul pinggangnya erat. "Lihat, Sayang? Mereka menikmatinya. Lihat betapa kagumnya mereka."
Vania menatap Kevin dengan tatapan mati rasa. Kagum karena jijik, Kevin. Mereka jijik.
Tepat saat Vania hendak mengambil garpu untuk mencoba Foie Gras itu, tiba-tiba...
ZAP!
Suara listrik yang padam terdengar keras dari panel utama.
Lampu-lampu kristal di langit-langit mati total. Lampu sorot di pelaminan padam. Seluruh aula utama tenggelam dalam kegelapan yang pekat dan tiba-tiba.
Hening selama satu detik.
Lalu, teriakan histeris pecah di seluruh ruangan.
"Aaa! Gelap! Gelap!"
"Ini pasti ulah Vania!" teriak suara Tante Ratna dari kegelapan, suaranya melengking penuh kemenangan. "Dia menyabotase pesta ini!"
Vania duduk di kursinya dalam gelap, tidak bergerak. Dia menatap "kamera" imajinernya yang entah bagaimana masih bisa dia lihat dalam kegelapan ini.
Oh, ayolah, batin Vania, rasa frustrasi memuncak. Sabotase lampu? Di puncak pesta? Tante Ratna, kau benar-benar tidak pernah kehabisan ide klise, ya?
BERSAMBUNG...