Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Mafia Memilih Taubat

Istri Mafia Memilih Taubat

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir / Mafia
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Rara, seorang gadis yang gemar membaca kisah pria tampan, tiba-tiba terbangun di dalam novel yang baru saja dibacanya. Namun, bukan sebagai pemeran utama yang baik hati, ia justru menjadi Zelara Sabiru, istri arogan, sombong, dan kejam dari seorang bos mafia bernama Bashkar Deluca. Dalam cerita asli, Zelara selalu membenci Bashkar dan ikut keluarganya menuduh sang suami sebagai dalang di balik kematian kedua orang tuanya. Bahkan, Zelara berakhir dengan nasib tragis. Namun Rara mengetahui satu rahasia yang tidak diketahui siapa pun Bashkar tidak pernah membunuh orang tuanya. Semua tuduhan itu hanyalah fitnah. Berbekal pengetahuan tentang alur cerita, Rara memutuskan mengubah takdir Zelara. Ia meninggalkan sifat buruk sang istri, memilih untuk bertaubat, dan mulai membela Bashkar yang selama ini hidup dalam kesepian serta penuh kecurigaan. Tetapi semakin Rara berusaha mengubah akhir cerita, semakin banyak rahasia keluarga Deluca yang terbongkar. Dan yang paling membuatnya bingung… Mengapa sang mafia dingin yang seharusnya membencinya justru mulai melindunginya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31

Suster medis yang membawa baki stainless berisikan semangkuk bubur halus hangat dan segelas air putih melangkah pelan mendekati brankar. Asap tipis membumbung dari makanan itu, memancarkan aroma kaldu yang lembut.

"Nyonya Zelara, makan dulu ya..." ujar suster itu dengan nada suara sereceh dan semanis mungkin, mencoba membujuk. "Tubuh Nyonya masih sangat lemah. Isi perutnya sedikit demi sedikit supaya bisa minum obat."

Namun, begitu suster itu mengulurkan tangan membawa sendok mendekati bibirnya, tubuh Zela seketika membeku.

Ketakutan yang tak beralasan sesebuah dorongan trauma mendalam yang mengendap di alam bawah sadarnya mendadak meletup tajam. Bayangan samar tentang ancaman, jeritan, dan orang-orang asing yang menyakitinya berputar acak di kepalanya. Zela gelisah. Ia takut bicara, takut bersuara, bahkan takut hanya untuk menatap mata suster berseragam putih itu. Bagi Zela saat ini, siapa pun yang mendekatinya adalah ancaman berbahaya.

"J-jangan..." cicit Zela, suaranya bergetar hebat.

Dengan napas yang memburu ketakutan, Zela menepis pelan tangan suster tersebut hingga sendok besi jatuh berdenting di atas baki. Sebelum suster sempat menenangkan, Zela menggelengkan kepalanya panik. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menarik selang infusnya kasar—hampir saja terlepas—lalu menyeret tubuhnya turun dari brankar.

"Nyonya! Jangan turun! Nanti lukanya terbuka!" seru suster panik seraya mengulurkan tangan.

Tetapi Zela sudah tidak peduli. Rasa panik menguasai otaknya secara mutlak. Ia setengah berjalan, setengah merangkak menyusuri lantai marmer yang dingin, menjauh sejauh mungkin dari suster tersebut. Langkahnya terhuyung menuju sudut ruangan terbawah di dekat jendela yang tertutup tirai tebal.

Di sudut ruangan yang gelap itu, Zela menarik kedua lututnya naik ke dada. Ia berjongkok di atas lantai dingin, melingkarkan kedua tangannya yang kurus di sekitar kaki, lalu menyembunyikan seluruh wajah pucatnya di antara lipatan lutut. Tubuhnya berguncang pelan, bergetar ketakutan bagaikan anak kecil yang tersesat di tengah badai malam. Ia menolak makan, menolak disentuh, dan menolak berinteraksi dengan dunia luar.

Suster yang melihat respons ekstrem tersebut memegang dadanya yang berdebar cemas. Makanan di atas meja sama sekali tak tersentuh.

"Nyonya... tolong kembali ke tempat tidur..." bujuk suster itu dari jarak dua meter, takut membuat sang pasien makin histeris jika didekati.

Melihat Zela yang makin mengencangkan pelukan pada lututnya dan sama sekali tidak mau merespons, suster tersebut akhirnya memutuskan untuk berbalik. Ia harus segera melaporkan kondisi fobia dan trauma akut ini kepada dokter spesialis yang menangani.

Klek.

Suster itu mendorong pintu kaca tebal ruang VVIP untuk keluar. Namun, baru saja ia melangkahkan kaki ke lorong steril, sosok tegap berbalut mantel hitam panjang sudah berdiri kaku di depan pintu.

Bashkar Deluca.

Pria itu baru saja kembali setelah menyelesaikan 'urusan' berdarahnya di markas bawah tanah. Wajahnya tampak lelah, namun sepasang mata kelabunya memancarkan fokus tajam yang menghujam. Di belakangnya, Rian berdiri setia mengawal.

Suster itu tersentak kaget, refleks membungkuk dalam-dalam dengan tubuh yang mendadak gemetar cemas.

"T-Tuan Deluca..." cicit suster itu dengan suara tertahan.

Bashkar melirik sekilas ke arah baki makanan yang masih utuh di tangan suster, lalu menatap pintu ruang perawatan. "Bagaimana kondisinya? Kenapa kau membawa kembali makanannya?"

Suster itu menelan ludah dengan susah payah sebelum memberanikan diri untuk melapor. "M-mohon maaf, Tuan... Nyonya Zelara baru saja siuman, tapi... beliau menolak untuk makan. Beliau tampak sangat trauma dan ketakutan setengah mati pada orang asing. Beliau menolak diajak bicara, turun dari brankar, dan sekarang... Nyonya mengurung diri berjongkok di sudut ruangan, menyembunyikan wajahnya dan tidak mau disentuh sama sekali. Saya baru saja mau memanggil Dokter Bedah Saraf untuk memeriksa kondisinya, Tuan."

Mendengar laporan tersebut, rahang Bashkar mengeras seketika.

Sebelum Bashkar sempat melangkah masuk ke dalam ruangan, derap langkah tergesa-gesa memecah keheningan koridor. Dokter spesialis bedah saraf yang memimpin tim operasi Zela bergegas mendekat, memegang berkas rekam medis dengan raut wajah yang sangat serius bercampur segan.

Dokter itu membungkuk hormat di hadapan Bashkar, menetralkan napasnya yang agak memburu sebelum mulai menjelaskan kondisi terbaru Nyonya muda keluarga Deluca.

"Tuan Deluca," panggil dokter itu dengan nada suara rendah dan penuh ketelitian. "Saya baru saja menyelesaikan serangkaian evaluasi refleks saraf dan respons kognitif awal pada Nyonya Zelara sewaktu beliau baru pertama kali membuka mata."

Bashkar menatap dokter itu lurus-lurus. Tatapan mata kelabunya yang tajam dan dingin menusuk, menuntut penjelasan tanpa cela. "Bagaimana keadaannya? Kenapa dia bertindak seperti itu?"

Dokter itu menghembuskan napas pelan, merapikan letak kacamata bingkai tipisnya.

"Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Nyonya Zelara mengalami amnesia pasca-trauma sementara (dissociative retrograde amnesia)," ungkap dokter tersebut dengan sangat hati-hati. "Benturan tumpul yang teramat keras di bagian belakang kepalanya, dikombinasikan dengan kondisi hipoksia atau kekurangan oksigen saat beliau terkubur, telah mengganggu fungsi pusat pemrosesan memori di otaknya."

Bashkar mematung. Garis rahang tegapnya makin mengeras. "Dia... tidak mengingat apa pun?"

"Sama sekali tidak, Tuan," tegas dokter itu. "Beliau tidak mengenali namanya sendiri, tidak tahu di mana dia berada, bahkan tidak mampu mengingat ingatan dasar tentang kehidupannya sebelum kejadian ini. Otaknya secara otomatis mengaktifkan mekanisme pertahanan psikologis sebuah benteng pertahanan alami untuk 'mengunci' dan memblokir seluruh trauma penyiksaan fisik luar biasa yang baru saja dialaminya."

Dokter itu jeda sejenak, melirik ke arah pintu kaca ruang VVIP yang tertutup rapat, menunjukkan rasa simpati yang mendalam.

"Kondisi amnesia ini juga memicu fenomena hyper-vigilance atau tingkat kecemasan ekstrem," lanjut sang dokter menjelaskan. "Karena seluruh ingatannya kosong, otak Nyonya Zelara mempersepsikan dunia luar dan setiap orang asing sebagai ancaman mematikan. Itu sebabnya beliau merasa teror yang luar biasa, takut diajak bicara, dan memilih menarik diri ke sudut ruangan untuk melindungi dirinya sendiri. Beliau berada dalam mode bertahan hidup yang sangat rapuh."

"Apakah ingatan itu bisa kembali?" desis Bashkar, suaranya rendah dan terdengar sangat berat.Ada gejolak kepedihan dan rasa bersalah yang tak terucapkan tersembunyi di balik nada bicaranya.

"Bisa, Tuan. Namun prosesnya tidak bisa dipaksa," jawab dokter bedah saraf itu mantap. "Memori beliau bisa pulih secara bertahap seiring berjalannya waktu dan penyembuhan jaringan saraf otaknya. Namun, pemicu utama untuk kesembuhannya adalah rasa aman. Sangat tidak disarankan untuk memaksa beliau mengingat hal-hal traumatis secara mendadak, karena itu bisa memicu serangan panik yang parah atau merusak saraf otaknya lebih jauh."

Dokter itu membungkuk sekali lagi. "Saat ini, yang paling dibutuhkan oleh Nyonya Zelara bukanlah obat-obatan berat, melainkan kehadiran seseorang yang bisa memberinya rasa perlindungan mutlak tanpa membuatnya merasa terancam."

Kata-kata dokter itu bergema nyaring di dalam kepala Bashkar. Rasa aman? Perlindungan mutlak? Pria yang sebelumnya menjadi alasan utama wanita itu merasa tersingkir dan terluka kini menjadi satu-satunya orang yang harus menjadi perisai bagi ingatan Zela yang rapuh.

Bashkar melirik ke arah Rian dan dokter tersebut, memberi isyarat tanpa suara agar mereka berdua tidak mengikutinya.

Dengan jemari tegap yang sedikit gemetar, sang penguasa underworld perlahan menggenggam gagang pintu kaca, lalu mendorongnya masuk untuk menghadapi istrinya yang kini tak lagi mengenali siapa dirinya.

1
Candi Ci
loh thor kok zela nya sama si bakar si thor kan gara gara di zela begitu ,,poko nya ya thor buat penderitaan penyesalan buat si bakar itu karna dia zela nya seperti itu,,
merry
gk saktin pret mu bas kmrin binimu samperin kmu buat ajkin plg nikmatin kue ultah mu kmu blg bukn urusan mu 😆😆😆😆
Icon Diamon
buat zela benci ma si baskar aja thor kan karna dia zela begitu ,,,
gaby
Wiih enak bgt hidup Baskhar, dia penyebab istrinya sakit, tp dia jg yg bisa sok jd pahlawan. Mudah2an ingatan Zela cepat pulih & berbalik memusuhi Suaminya. Bukankah benci & cinta cm beda tipis?? Bukankah dulu Zela bucin akut, harusnya setelah insiden ini dia berbalik membenci suaminya
gaby
Ga seru kalo amnesia, harusnya koma, mati, Atau hidup tapi penuh kebencian thd suami ga bergunanya. Kalo Amnesia brarti Suami laknatnya bisa menghapus smua bukti kejahatannya thd sang istri.
gaby
Ga seru kalo amnesia, harusnya koma, mati, Atau hidup tapi penuh kebencian thd suami ga bergunanya. Kalo Amnesia brarti Suami laknatnya bisa menghapus smua bukti kejahatannya thd sang istri.
gaby
Btw yg sarapan nasgor di kamar di makan ga thor sm paksu??
Candi Ci
baguslah rhoe sekalian buat lah sikap dingin dan menjauh dari suami buhlol nya 💪💪💪
merry
anemsia dech zela tdk ingt siapa pun
merry
sekarang br ngmgin zela istri mu,, kmrin kmrin ma bara
Candi Ci
buat zela pergi dan melupakan si bakar thor ,,
yusilham
buat koma aja thor zela nya biar bs meratap suami y semagattt💪💪
Icon Diamon
buat zela ngk selmat ajah thor biar gila suami nya
kitty ❤
bagus thor, kalau bisa kirim zelara balik ke dunia nyata aja thor, kasian dia daripada ke siksa terus 😭
Icon Diamon
bagus thor buatlah penyesalan terdalam atas kematian zelara karna sikapnya kepada clarissa membuat kemtian bagi zelara ,,aku setuju baget thor lw zelara tiada,,,
Candi Ci
ceritan bagus thor ,,semangat thor ,,lebih semangat lagi buat zelara meningal atau dia hidup kembali tapi dengan ilang ngatan dan pergi jauh dari si baskhar itu ,,💪💪👍
N. Siti 12mplb_ukk
lnjut💪
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 💪
Azura75
pisah aja lah.. toh kamu juga nggak hamil. pindah ke luar negri. mulai semua dr awal hidup baru & dgn identitas baru. drpd makan hati dgn suami kyk gitu.
anonim
double up please?🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!