Indonesia
NovelToon NovelToon
Bunga Terakhir

Bunga Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / Rumah Tangga
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Idents

Arhan Hamid harus belajar kehilangan, padahal ia belum pernah siap.

Satu kalimat dari dokter meruntuhkan seluruh dunianya — usia Anya, istrinya, tinggal 30 hari. Karena kanker.

Sejak hari itu, Arhan memilih memikul semuanya sendirian. Di depan Anya, ia tetap menjadi suami yang utuh. Yang tertawa paling keras, yang membuatkan teh paling hangat, yang mencintai lebih dari separuh jiwanya sendiri.

Padahal di dalam dadanya, ia hancur pelan-pelan.

Ia menutupi air mata dengan tawa. Menutupi takut dengan doa-doa yang ia bisikkan diam-diam setiap malam.

Mampukah Arhan tetap kuat ketika waktu terus menghitung mundur?

Dan di antara 30 hari yang tersisa, mungkinkah semesta masih menyisakan satu keajaiban untuk mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idents, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31

Tidak selang lama Ronald pun menjawab. Suaranya di seberang telepon tetap tenang, tidak terburu-buru, seperti orang yang sudah memutuskan sejak awal, tanpa ragu, tanpa menimbang lama lagi.

"Baik Tuan. Saya akan segera kirimkan ke rekening anda. Tunggu sebentar," kata Ronald.

Lalu Arhan menjawab, suaranya pelan, hampir tenggelam oleh dengung AC di koridor rumah sakit yang dingin dan panjang.

"Baik Pak Ronald," jawab Arhan.

Tanpa mematikan ponselnya, Arhan bersandar ke dinding rumah sakit itu. Dinding yang dingin dan putih, memantulkan cahaya pagi yang masuk dari jendela besar di ujung lorong. Cahaya itu jatuh miring di lantai keramik. Punggungnya menempel di sana, kepalanya sedikit menengadah, matanya menatap langit-langit yang terang. Di tangannya masih ada lipatan resep obat yang sudah lemas karena digenggam terlalu lama.

Sesekali melihat ke ruangan Anya dirawat. Pintu ruangan itu tertutup rapat, tidak ada suara dari dalam. Sesekali ia melirik ke sana, memastikan tidak ada perawat yang keluar memanggil namanya, memastikan Anya masih duduk menunggu.

Tidak ada siapapun. Lorong itu sepi. Lorong di ujung dekat jendela memang jarang dilewati pagi itu, hanya ada beberapa kursi tunggu kosong dan cahaya matahari pagi yang jatuh miring di lantai.

Tidak lama, sebuah notifikasi masuk di ponselnya. Getarannya terasa di telinga karena ponsel masih menempel di sana. Arhan menurunkan ponsel, melihat layar.

Saat dilihat, itu adalah tanda bukti uang telah masuk. Pesan masuk dari bank, menampilkan angka dua puluh lima juta, dengan nama pengirim Ronald, tertulis jelas.

Dari ponselnya Ronald mengatakan, "Hallo Tuan, uangnya sudah saya kirim."

Arhan segera menjawab, ada lega yang akhirnya keluar bersama napasnya, "Sudah masuk Pak. Terimakasih banyak."

Ronald pun menjawab, "Tidak usah dibayar Tuan. Itu tidak sebanding dengan kebaikan keluarga anda kepada orang tua seperti saya ini."

Arhan menjawab dengan sedikit tegas, "Maaf Pak Ronald. Aku tidak bermaksud meminta. Pasti aku bayar."

Ronald menjawab, "Tidak Tuan Arhan. Tidak usah..."

Sebelum ucapannya selesai, Arhan memotong, "Terimakasih Pak Ronald. Nanti aku kabari. Sekarang, aku harus membawa istriku pulang."

Lalu Arhan menutup teleponnya.

Langkahnya menuju ruangan Anya dirawat. Langkahnya kali ini lebih pasti, tidak ragu seperti tadi.

"An, semua sudah beres. Kita bisa pulang sekarang," kata Arhan sambil membuka pintu pelan.

Anya menatapnya dengan mata yang sayu, wajahnya pucat, "Iya Han. Aku ingin di rumah saja. Berdua sama kamu."

Arhan mengangguk pelan, "Tunggu ya, aku panggilkan perawat untuk meminjam kursi roda."

Ia keluar sebentar, memanggil perawat jaga yang lewat di koridor. Perawat masuk, membantu Anya duduk di kursi roda, merapikan selimut tipis di pangkuannya. Perawat mendorong kursi roda itu sampai lobi depan. Di lobi yang terang, Arhan membantu Anya berdiri pelan, memapahnya dengan hati-hati.

Arhan dan Anya sudah di luar, di depan lobi rumah sakit. Udara pagi menyentuh wajah mereka. Tidak menunggu lama taksi online pun tiba. Mobil putih berhenti tepat di depan mereka, pengemudi turun membukakan pintu.

Di dalam mobil, Anya bersandar di pundak Arhan. Kepalanya miring, rambutnya menyentuh leher Arhan. Mereka tidak saling berbicara. Terkadang saling menatap satu sama lain, tatapan yang saling mengerti.

Setibanya di rumah, rumah kecil dengan halaman yang tidak luas dan pagar kayu yang catnya sudah mulai pudar, mobil berhenti. Arhan turun lebih dulu, membantu memapah Anya ke dalam rumah. Pintu kayu ia buka, engselnya berbunyi pelan.

Arhan membawa Anya ke ruang tamu, duduk di sofa yang empuk. Anya menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang.

"Akhirnya, kembali ke rumah lagi An," Arhan menghela nafas, suaranya lega.

"Han. Aku boleh bilang sesuatu sama kamu?" ucap Anya pelan, suaranya hampir tenggelam.

Arhan mengangguk, menatapnya lembut, "Tentu saja. Katakan saja sayang."

Anya menggenggam jemari tangan Arhan, jemarinya dingin tapi genggamannya erat, "Apapun yang terjadi sama aku. Aku tidak mau kembali ke rumah sakit, aku hanya ingin di sini. Di rumah sederhana kita."

Arhan tertegun. Menatap Anya sebentar, lalu berkata, "Kenapa An? Aku... Aku cuman ingin mengusahakan semua yang terbaik buat kamu."

Anya menggeleng pelan, "Semua sudah kamu lakukan dengan baik Han."

Anya menarik nafas lalu kembali berkata, dengan suara pelan, "Uang kamu tidak akan cukup jika terus menerus dipakai untuk kebutuhan penyakit aku."

Arhan terdiam sejenak. Kesedihan terpancar dari sorot matanya, matanya berkaca-kaca. Lalu dia menatap Anya dalam-dalam, menggenggam kedua tangannya.

"Kamu gak usah mikirin itu An. Itu urusan aku. Tugas kamu hanya harus sembuh, itu saja," kata Arhan. Suaranya tegas tapi lembut.

Anya menundukkan kepala, rambutnya jatuh menutupi wajahnya, "Aku... Aku pasti sembuh kok. Biar nggak ngerepotin kamu terus," jawab Anya. Suaranya pecah, menahan tangis.

Arhan tidak menjawab, dia memeluk Anya. Pelukannya erat, hangat, lama. Anya membenamkan wajahnya di dada Arhan.

"Han, aku takut jadi beban," bisik Anya.

"Enggak, An. Kamu bukan beban. Kamu alasan aku kerja," jawab Arhan.

"Aku takut kamu ninggalin aku, Han," kata Anya lagi, suaranya gemetar.

"Enggak akan, An. Aku di sini terus," kata Arhan, mengusap punggungnya pelan.

---

Di sebuah rumah bagai istana, jauh dari rumah kecil itu, seorang pria berusia setengah abad lebih, memakai kacamata, berpakaian rapi, tengah berdiri di depan pria yang tidak jauh dari usianya. Ruangannya luas, dingin, lantai marmer.

"Maaf jika saya mengganggu Tuan Veron. Ada sesuatu hal yang ingin saya bicarakan," ucap pria tua berkacamata itu. Badannya sedikit menunduk dengan hormat.

"Kau terlihat serius seperti itu, memangnya ada apa Ronald?" jawab Veron. Pria berjas hitam, terlihat mewah dan elegan. Dia berdiri mendekati Ronald.

"Putra Anda, Tuan Arhan, tadi pagi dia menghubungi saya, beliau membutuhkan sejumlah uang," jawab Ronald.

Veron mengernyit, dahinya berkerut dalam, " Arhan? Butuh uang? Bocah itu! Apa kau memberinya Ronald?"

Ronald mengangguk kepalanya sedikit menunduk, "Maaf Tuan, saya memberikannya. Tuan Arhan adalah anak yang baik. Saya tidak tega mendengar beliau kesulitan seperti itu."

Veron mendengus keras, suaranya menggema, "Aku harus segera memisahkan bocah itu dengan istrinya!"

Ronald menatap Veron, dia terkejut ayahnya Arhan itu berkata dengan nada marah, "Maaf Tuan, saya tidak bermaksud seperti ini. Maksud saya... Saya hanya ingin membantu."

Veron memotong dengan tajam, "Maksud kamu, kamu ingin saya supaya membantu bocah itu!?"

Ronald kembali menunduk, tubuhnya sedikit gemetar, "Be... Betul Tuan," ucapnya gugup.

Veron tersenyum sinis, senyum yang dingin, "Membantunya? Pasti, tapi setelah saya memisahkan dia dengan wanita tidak berguna itu!"

Ronald terdiam, tidak berani menjawab. Veron berjalan ke jendela besar rumah istana itu, menatap keluar dengan tangan di belakang punggung, amarahnya masih terlihat jelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!