Keira Maharani kehilangan rumah setelah konflik besar membuat keluarganya mengusirnya. Di tengah hidup yang serba terbatas, hanya Davin Pratama yang tetap berada di sisinya. Davin memberinya tempat tinggal, makanan, dan rasa aman yang membuat Keira percaya bahwa cintanya adalah satu-satunya hal yang masih ia miliki. Namun perlahan, perhatian Davin berubah menjadi batasan. Keira mulai kehilangan kebebasan, kesempatan bekerja, bahkan keberanian untuk menyuarakan perasaannya. Saat hubungan mereka semakin dipenuhi rahasia dan luka, Keira mulai bertanya: apakah ia masih bertahan karena cinta, atau karena takut hidup sendirian? Sebab ketika cinta yang selama ini ia perjuangkan mulai menghancurkan dirinya, Keira harus memilih—tetap bertahan, atau akhirnya menyelamatkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon My Chubby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Antara Dua Bayangan
Pintu kayu kamar kos itu tertutup rapat kembali, menyisakan keheningan yang pekat. Keira berdiri terpaku di hadapan meja plastik kecilnya, menatap kosong pada lembaran kertas gambar yang baru saja ia mulai.
Garis-garis arsir siluet kafe berlampu temaram di malam hari itu tampak buram, tertutup oleh gemuruh batin yang menderu di dalam dadanya.
Peringatan dari Nadia pagi itu membuka mata Keira terhadap kenyataan yang selama ini coba ia tepis. Davin tidak sedang sekadar menghadapi tekanan pekerjaan biasa; lelaki itu berada di ambang keputusasaan yang bisa membahayakan siapa saja yang menghalangi jalannya.
Namun di tengah ketakutan yang merayap dingin itu, Keira tahu ia tidak bisa terus-menerus berdiam diri di dalam sangkar sempit ini sebagai korban yang pasif.
Amplop coklat berisi honor pertama dari proyek zine dan pesan-pesan dukungan dari Rian adalah bukti nyata bahwa di luar relasi yang mulai retak bersama Davin, masih ada dirinya seorang perempuan yang memiliki tangan, pikiran, dan hak untuk menentukan arah hidupnya sendiri.
Pukul dua siang, ketika matahari Kota Bimantara bersinar terik menembus kaca jendela buram kos-kosan, ponsel retak milik Keira bergetar di atas meja. Sebuah pesan singkat masuk dari Amara, sahabat lamanya yang beberapa waktu lalu sempat melewatkan sore bersama di kafe dekat stasiun.
“Kei, luang nggak besok Sabtu? Kalau bisa, ketemuan yuk di tempat biasa. Ada hal seru yang pengen gua ceritain, plus gua mau ngasih sesuatu buat lu.”
Membaca pesan tersebut, ada kehangatan yang mendadak menyusup di dada Keira. Di saat dunia luar dan masalah kantor Davin mengancam untuk meruntuhkan seluruh dunianya, Amara hadir sebagai jangkar yang mengingatkannya bahwa ia memiliki dunia sosial di luar sana sahabat yang tulus menerima dan merindukannya tanpa syarat.
Dengan jemari yang sedikit bergetar, Keira mengetik balasannya, menetapkan rencana pertemuan mereka untuk hari Sabtu lusa pukul dua siang: “Bisa, Mar. Hari Sabtu jam dua siang ya di tempat biasa.”
Sementara itu, di lantai dua puluh gedung perkantoran Jalan Sudirman, suasana di ruang kerja Davin jauh dari kata tenang.
Davin duduk di balik meja kerjanya dengan tatapan kosong menatap layar komputer yang menampilkan berkas audit investigasi internal. Rapat darurat bersama bagian kepatuhan pagi tadi baru saja usai, dan hasilnya sama sekali tidak berpihak padanya. Meskipun belum ada keputusan resmi dari direksi pusat, tekanan terhadap divisi keuangan untuk membuka kembali peninjauan pos pengeluaran lapangan proyek Bandung semakin tidak terelakkan.
Yang membuat Davin kehilangan keseimbangan bukan lagi soal ancaman audit itu sendiri, melainkan keberadaan Nadia. Staf keuangannya itu terbukti menjadi duri dalam daging yang tidak bisa disingkirkan begitu saja. Bahkan, setelah Davin mencoba mencari cara untuk mencoret nama perempuan itu dari tim verifikasi lanjutan, pihak kepatuhan pusat justru meminta Nadia untuk memimpin presentasi data pembanding karena dinilai memegang catatan historis yang paling lengkap.
Davin meremas penanya hingga patah menjadi dua di dalam genggamannya.
Amarah yang membara di dadanya berpadu dengan ketakutan yang teramat sangat akan kehilangan segalanya karier, jabatan, prestise, dan rasa hormat yang selama ini ia yakini diberikan sepenuhnya oleh Keira di rumah.
Jika perempuan itu tidak bisa diajak kompromi, aku harus mencari cara lain untuk melemahkan kredibilitasnya sebelum presentasi itu benar-benar terlaksana, batin Davin penuh kecemasan, merencanakan langkah pembelaan diri di hadapan atasan.
Pukul lima sore, dengan sisa-sisa tenaga dan topeng ketenangan yang dipaksakan, Davin mematikan komputernya, membereskan meja kerjanya, dan melangkah keluar gedung menuju tempat parkir motor. Ia menaiki kendaraan matic-nya, membelah kemacetan jalanan sore Kota Bimantara, dan meluncur langsung menuju Jalan Melati.
Sepanjang perjalanan di atas motor, pikirannya terus berputar antara strategi untuk mencari celah prosedural guna mementahkan dokumen Nadia keesokan harinya di kantor dan kerinduan yang mendesak untuk segera tiba di pelukan Keira. Bagi Davin, kamar kos berukuran tiga kali tiga meter itu adalah satu-satunya benteng pertahanan terakhir di mana ia masih bisa merasa sebagai seorang pria yang dihormati dan dicintai tanpa syarat.
Ketika motornya berhenti di halaman kos dan ia mengetuk tiga kali daun pintu kayu tersebut, Davin menarik napas dalam-dalam, menyingkirkan sejenak seluruh intrik korporat dari wajahnya, lalu memasang senyuman hangat terbaiknya.
Pintu terbuka perlahan.
Keira berdiri di ambang pintu dengan balutan kerudung abu-abu sederhana dan senyuman tipis di bibirnya senyuman yang tampak tenang di permukaan, namun menyimpan badai rahasia di balik tatapan matanya.
"Sore, Sayang," sapa Davin lembut, langsung melangkah masuk dan merengkuh tubuh Keira ke dalam pelukan.
Keira membalas pelukan itu dengan kaku, menyandarkan kepalanya di dada bidang kekasihnya. Ia merasakan detak jantung Davin yang berdegup kencang, mencium aroma parfum bercampur peluh kelelahan lelaki itu. Di dalam dekapan tersebut, Keira tahu betul bahwa pria yang sedang mendekapnya erat-erat ini sedang berjuang mempertahankan kebohongannya.
Dan di bawah tumpukan diktat kuliah di sudut meja sana, map salinan dokumen audit Nadia tetap tersembunyi rapat menjadi batas tipis yang memisahkan dunia kepalsuan mereka dari kenyataan yang siap meledak kapan saja
Keesokan paginya, hari Jumat, suasana di ruang divisi keuangan lantai dua puluh gedung Jalan Sudirman terasa begitu mencekam. Davin duduk di balik meja kerjanya, menatap lurus ke arah layar monitor yang menyala terang. Meskipun semalam ia berusaha menyembunyikan kecemasannya di balik pelukan hangat Keira, hari ini beban itu kembali menghimpit dadanya tanpa ampun.
Pukul sepuluh pagi, presentasi tinjauan data pembanding proyek cabang Bandung dijadwalkan mulai berlangsung di ruang rapat utama lantai sepuluh. Nadia, sebagai staf keuangan yang memegang catatan historis paling lengkap, ditunjuk langsung oleh bagian kepatuhan pusat untuk memimpin pemaparan data tersebut di hadapan tim verifikasi dan perwakilan auditor internal.
Davin merapikan letak jas kantornya, menarik napas dalam-dalam, lalu bangkit dari kursi. Ia tidak boleh tinggal diam dan membiarkan Nadia memonopoli kebenaran di ruang rapat. Langkah kakinya membawa lelaki itu keluar dari kubikel menuju lift, bergabung dengan deretan pegawai lain yang berjalan menuju lantai sepuluh.
Di dalam ruang rapat yang berpendingin udara dingin, suasana sudah terasa kaku.
Jajaran pimpinan divisi dan perwakilan auditor internal telah duduk melingkar di sekeliling meja kaca panjang. Di ujung meja, Nadia berdiri tegak di samping layar proyektor, mengenakan blazer formal abu-abu dengan map biru tebal di sisinya.
Begitu Davin melangkah masuk dan mengambil tempat duduk di kursi peserta, pandangan matanya langsung beradu dengan Nadia. Tidak ada sapaan, tidak ada senyuman. Hanya ada ketegangan profesional yang siap meledak.
"Selamat pagi, Bapak dan Ibu sekalian," suara Nadia terdengar tenang, jernih, dan berwibawa menggema di dalam ruangan. "Hari ini kita akan meninjau ulang catatan rekapitulasi pos pengeluaran lapangan proyek cabang Bandung berdasarkan dokumen pembanding yang sah."
Davin mengetukkan jemarinya di atas meja, rahangnya mengeras. Begitu layar proyektor menampilkan tabel selisih angka pos pengeluaran lapangan, Davin langsung mengangkat tangannya untuk memotong pemaparan awal.
"Sebentar, Nadia," sela Davin dengan suara tegas yang langsung menarik perhatian seluruh peserta di ruangan. "Sebelum kita masuk ke rincian angka, saya ingin mempertanyakan dasar metodologi pencatatan yang kamu gunakan dalam menyusun dokumen pembanding itu. Apakah data tersebut sudah melalui verifikasi lini operasional di lapangan secara menyeluruh, atau hanya merujuk pada catatan administratif sepihak?"
Nadia menoleh menatap Davin tanpa gentar sedikit pun. "Data ini disusun berdasarkan bukti transaksi fisik dan catatan logistik asli yang sah, Pak Davin. Seluruh perbandingan angka sudah diverifikasi sesuai dengan prosedur pencatatan keuangan yang berlaku."
Ketegangan di ruang rapat langsung terasa kaku. Perwakilan auditor internal yang memimpin sidang bergeser duduknya, lalu menatap kedua belah pihak dengan serius.
"Baik, jika memang merujuk pada bukti transaksi fisik, kami minta tim keuangan menyerahkan salinan dokumen pendukung lengkap beserta catatan logistik aslinya untuk ditinjau lebih lanjut," putus perwakilan auditor tersebut.
Davin mengatupkan rahangnya rapat-rapat. Pertempuran kecil itu berhasil ia tunda, tetapi ia tahu tekanan yang sesungguhnya baru saja dimulai.