Hidup Zheana berubah di saat harus menggantikan sang Kakak menikah. Niken kabur di saat hari pernikahan dengan Khadafi.
Ibunya mengamuk dan malah menyalahkan Zheana atas apa yang terjadi. Zheana bahkan di maki dan di siksa ibunya, Khadafi yang tak tega melihat Zheana membawa dia pergi dari sana.
Mereka tinggal di Apartemen milik Khadafi yang sudah di persiapkan sebelumnya. Rupanya kelembutan Zheana mengubah hati Khadafi dan mulai mencintai istrinya. seperti yang di katakan Umi dan Abinya, jika ini adalah jalan Allah SWT untuk menunjukkan jodoh Khadafi.
Selama pernikahan tak semulus itu, karena ibunya Zheana masih terus membencinya. saat Zheana hamil, rupanya Niken kembali. Apakah Khadafi akan kembali kepada Niken?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zheana 31
Khadafy meremas jemari Zheana lebih erat, mengikis sisa ragu di antara mereka.
"Mas menunggu kamu untuk bicara jujur pada suami kamu, Zheana..."
Zheana tertegun. Matanya menatap Khadafy dengan binar penuh keraguan dan kepasrahan. Genggaman tangan Khadafy yang hangat terasa begitu nyata, menjadi satu-satunya tempat bersandar yang ia miliki di tengah badai emosi yang mengaguknya.
"Zhea... Zhea bingung harus mulai dari mana, Mas..." bisik Zheana dengan suara parau. Air mata yang sempat mereda kembali menetes, menjejaki pipinya yang halus.
Khadafy menggeser duduknya hingga makin dekat, melingkarkan satu tangannya di bahu Zheana dan menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Pria itu membiarkan kepala Zheana bersandar di dada bidangnya, persis di atas detak jantungnya yang berhembus teratur.
"Mulai dari apa yang paling menyakitkan buat kamu hari ini, Zhea," bisik Khadafy lembut di samping telinga istrinya, jemarinya mengelus lembut lengan Zheana.
"Tumpahkan semuanya di sini. Jangan ada yang disimpan sendiri lagi."
Zheana meremas kain kemeja Khadafy dengan erat, seolah takut jika ia melepasnya, kehangatan itu akan sirna.
"Mama Irma... Mama bilang Zhea cuma anak pembawa masalah," adu Zheana, suaranya pecah terisak.
"Mama tuduh Zhea sengaja memanfaatkan keadaan saat Mbak Niken pergi... Mama bilang Zhea merayu Mas Khadafy dan orang tua Mas supaya Zhea bisa menguasai harta Mas..."
Khadafy menahan napas sejenak. Rahangnya mengeras mendengarkan tuduhan keji itu, namun ia tetap menjaga usapan tangannya di punggung Zheana tetap lembut dan menenangkan. Walau dia juga memang sudah mendengar semuanya dengan sangat jelas tadi.
"Lalu... apa lagi yang dikatakan Ibu Irma?" tanya Khadafy pelan, menahan amarah yang mulai membakar dadanya.
"Mama bilang... Mbak Niken tadi pagi sudah telepon Mama," lanjut Zheana sesenggukan.
"Mbak Niken menyesal dan mau kembali sama Mas. Mama minta Zhea tahu diri... Mama suruh Zhea minta cerai dari Mas Khadafy begitu Mbak Niken pulang..."
Zheana mendongak, menatap Khadafy dengan mata sembab dan hidung yang memerah.
"Mas... Mbak Niken itu cinta pertama Mas Khadafy, kan? Selama bertahun-tahun Mas nunggu Mbak Niken... Zhea cuma penambal malu... Apa bener... kalau Mbak Niken kembali, Zhea harus pergi?"
"Kalau memang Mas Khadafy berniat kembali pada Mbak Niken suatu hari nanti... tolong jangan bikin Zhea terlalu nyaman," bisik Zheana dengan nada bergetar hebat yang sanggup menyayat hati siapa pun yang mendengarnya.
"Jangan bersikap terlalu manis, jangan perhatian seperti ini, dan jangan buat Zhea makin takut kehilangan Mas..."
Ibu jari Zheana terangkat mengelus dada tegap Khadafy, merasakan detak jantung suaminya yang hangat.
"Zhea ini manusia biasa, Mas... Zhea punya hati. Zhea takut... Zhea takut kalau Zhea sudah telanjur jatuh cinta sama suami Zhea sendiri, tapi ternyata Zhea cuma persinggahan sementara..." air mata Zheana makin deras mengalir, terisak pelan di depan wajah Khadafy.
"Rasa sakit ditolak dan dipinggirkan di rumah Papa saja sudah cukup buat Zhea hancur, Mas... Zhea gak akan sanggup kalau harus hancur untuk kedua kalinya di tangan pria yang Zhea cintai... Jadi, kalau Mas mau kembali kepada Mbak NIken, tolong jangan bersikap manis kepada Zhea, insyaallah Zhea akan tetap melakukan kewajiban sebagai seorang istri untuk Mas Khadafy..."
Pertanyaan jujur dan polos yang keluar dari bibir Zheana membuat dada Khadafy terasa berdenyut nyeri. Pria itu menyadari betapa dalam luka insecurity yang tertanam di jiwa istrinya akibat bertahun-tahun dibeda-bedakan dan diabaikan.
Khadafy memegang kedua belah pipi Zheana dengan telapak tangannya, mengusap air mata yang membasahi wajah istrinya menggunakan ibu jarinya. Tatapan matanya begitu pekat, sarat akan ketegasan yang tak tertandingi.
"Dengar Mas baik-baik, Zheana," tegas Khadafy, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya tanpa ada keraguan sedikit pun.
"Mas tidak pernah menganggap kamu sebagai penambal malu. Tidak pernah sekalipun."
Zheana terdiam, menahan napasnya.
"Sebelum hari pernikahan itu, Mas memang berniat menikahi Niken karena komitmen kami berdua yang sebelumnya sudah sepakat. Tapi di detik Niken memilih melangkah pergi dan membuang kehormatan keluarganya serta keluargaku, semua rasa hormat dan komitmen itu runtuh tanpa sisa," ujar Khadafy dengan suara bariton yang berat dan mantap.
"Lalu... Mbak Niken?" cicit Zheana pelan.
"Niken adalah masa lalu yang sudah selesai," potong Khadafy cepat.
"Mau dia menelepon seribu kali, mau dia berlutut di depan Mas sambil menangis darah sekalipun, pintu hati Mas sudah tertutup rapat untuknya."
Khadafy mendekatkan wajahnya, mendaratkan kecupan hangat yang lama di dahi Zheana, menyalurkan seluruh keyakinan dan rasa cintanya.
"Wanita yang berdiri di samping Mas sekarang, wanita yang namanya tertulis di lembaran buku nikahku, wanita yang menyambut Mas setiap malam di penthouse kita... cuma kamu, Zheana. Cuma kamu istri sah Khadafy Mumtaz."
Airmata Zheana meluncur deras lagi, namun kali ini bukan karena rasa sakit, melainkan karena rasa lega yang amat sangat. Dinding ketakutan dan keraguan yang menghimpit dadanya sejak tadi siang mendadak hancur berkeping-keping.
"Tapi Mama Irma... Mama bilang bakal bikin Papa menderita kalau Zhea nggak mau lepasin Mas..." bisik Zheana lirih, mengutarakan ketakutan terakhirnya.
Khadafy tersenyum tipis, sebuah senyuman dingin yang memancarkan kekuasaan dan perlindungan mutlak. Pria itu merapikan helai rambut Zheana yang mencuat keluar dari kerudungnya.
"Kamu punya suami, Zhea. Mas bukan cuma CEO di atas kertas, Mas adalah pelindungmu," tutur Khadafy penuh percaya diri.
"Mulai hari ini, jangan pernah takut pada ancaman siapa pun. Mas yang akan mengurus Ibu Irma dan memastikan Papamu mendapatkan perawatan terbaik tanpa ada tekanan dari siapa pun."
Khadafy merengkuh tubuh Zheana kembali ke dalam dekapannya, mengusap punggung istrinya yang kini sudah tak lagi bergetar.
"Jangan pernah bersembunyi di balik senyum palsu lagi di depan Mas," bisik Khadafy lembut.
"Kalau kamu sedih, menangislah di dada Mas. Kalau kamu takut, pegang tangan Mas. Kamu tidak sendirian lagi, Humaira."
Zheana memejamkan matanya rapat-rapt, melingkarkan kedua tangannya di pinggang Khadafy dan bersandar sepenuhnya pada dada tegap suaminya. Di dalam ruangan privat bernuansa hangat itu, Zheana berharap jika Khadafy adalah rumah yang sesungguhnya, sebuah tempat aman di dalam dekapan Khadafy.