Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.
Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.
"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Hari itu Arkan bangun kesiangan, setelah ia pergi dari unit Apartment di kawasan elit kini Arkan tinggal bersama Rachel di kos-kosannya. Sungguh perubahan yang sangat drastis di alami oleh Arkan, dimana sebelumnya ia tinggal di kawasan elit yang serba lengkap fasilitasnya dengan biaya sewa ratusan juta perbulan, mendadak harus tinggal di kos-kosan kecil yang hanya terdapat satu kamar dengan fasilitas yang minim.
Arkan menggerutu kesal karena uang di rekeningnya hanya tinggal 50 juta dan itu sangat tidak cukup untuk biaya hidupnya sendiri, apalagi untuk menyewa sebuah Apartment sehingga pilihan terakhir hanyalah tinggal bersama Rachel.
Pagi itu karena semalam ia tidak bisa tidur ketika mendengar suara tokek yang bersahutan, membuat ia bangun kesiangan. Ditambah lagi jarak antara kos-kosan dan juga kantornya cukup jauh dan yang jelas macet. Membuat Arkan pontang-panting sambil terus menggerutu karena kesal.
"Ar kamu tidak mau sarapan dulu, aku membuat kan mu mie instan.... Pagi ini aku belum belanja, jadi hanya ada mie instan di sini." ucap Rachel yang melihat Arkan hendak buru-buru berlalu pergi.
Mendengar kata mie intan membuat nafsu makan Arkan langsung hilang, bukan karena ia tidak pernah memakannya hanya saja selama ia bersama dengan Luna, Arkan sudah tidak pernah menyentuh lagi yang namanya mie instan atau sejenisnya. Luna yang bodoh atau terlalu bucin selalu mengiriminya makanan Resto terbaik untuk sarapan, makan siang, ataupun makan malamnya. Dan kini ketika semuanya berubah yang bisa Arkan lakukan hanya menggerutu dan membandingkan, sayangnya tanpa Arkan sadar dan juga introspeksi diri akan kesalahannya.
"Aku makan di kantor saja karena aku sudah terlambat..." jawabnya kemudian sambil berlalu pergi meninggalkan Rachel dengan terburu-buru.
"Tapi Ar... Pagi ini pasti macet kalau tidak sarapan kamu akan kelaparan..." teriak Rachel namun sama sekali tak di gubris oleh Arkan.
"..."
.
.
.
Pagi itu seperti dugaannya Ibukota macet parah di jam-jam seperti ini. Hal tersebut mau tidak mau membuat Arkan memilih antara tetap berjibaku dengan kemacetan, atau memilih jalanan pintas namun dengan rute yang memutar cukup jauh. Dan pada akhirnya pilihan Arkan jatuh kepada yang kedua.
Arkan mengambil belokan tepat di depan jalan, membuatnya lantas mendengus dengan kesal karenanya.
"Setidaknya aku tidak perlu berdiam diri dalam kemacetan, jika aku mengatur laju ku dengan benar, aku rasa aku tidak akan terlambat." ucap Arkan berusaha meyakinkan dirinya sendiri dengan pilihannya.
Arkan menyusuri area jalanan dengan kecepatan sedang, suasana area jalan saat itu sedang longgar karena memang ia memilih jalan pintas daripada jalan utama.
Sampai beberapa kilometer kemudian, pandangannya tertuju pada sosok seorang gadis yang sangat-sangat ia kenali, membuatnya lantas menghentikan laju mobilnya dan menepikan mobilnya tepat di bahu jalan.
Setelah insiden kepergiannya dari unit Apartment yang disewa oleh Luna setiap bulannya, Arkan sangat sulit untuk menghubungi Luna bahkan nomornya saja diblokir, membuatnya frustrasi dan putus asa. Hanya saja tepat hari ini tanpa di sengaja ia malah menemukan sosok Luna, membuat Arkan tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan langsung turun mengejarnya.
"Luna! Lun....." teriak Arkan sambil terus mengejarnya.
"...."
"Luna berhenti!" teriak Arkan lagi karena Luna tak kunjung menghentikan langkah kakinya.
Luna ya hafal betul dengan suara yang terus memanggilnya dari tadi, lantas tentu saja menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah belakang dengan raut wajah yang cemas.
"Sial! Mengapa harus hari ini sih? Air mata ku bahkan belum surut malah harus di tambah dengan rasa muak menghadapinya!" ucap Luna pada diri sendiri dengan tatapan yang malas menatap ke arah Arkan yang terlihat semakin melangkah mendekatinya.
.
.
"Kamu kemana saja sebenarnya? Mengapa sulit sekali mencari mu ha? Nomer ku juga kamu blokir, ada apa sih?" ucap Arkan yang ngos-ngosan sambil mencengkram tangan Luna dengan kuat.
Luna meringis ketika tangannya di cengkram cukup kuat, membuat Luna mencoba untuk melepaskan cengkraman tersebut dengan perlahan.
"Bukankah kamu tidak percaya denganku? Aku juga males menghadapi mu jika seperti itu, ya udah aku blokir aja nomormu." ucap Luna sambil berusaha melepas cengkraman tangan Arkan.
"Kau berani sekali melakukan hal itu ha? Kau tahu berapa uang yang aku keluarkan untuk membayar uang sewa unit Apartment tersebut? Berani sekali kamu tiba-tiba memblokir nomorku dan menghilang begitu saja." ucap Arkan dengan raut wajah yang mulai kesal begitu mendengar penjelasan dari Luna barusan.
"Lepaskan tangan ku Ar sakit...." ucap Luna begitu mendapati cengkraman tangan Arkan yang kian menguat.
"Lepaskan tanganmu? Enak aja, aku yakin kamu akan kabur kan jika aku melepaskan mu sekarang, tidak... tidak bisa kamu harus ikut denganku." ucap Arkan dengan nada penuh penekanan.
"Ikut kemana sih? Lagi pula kan kamu tahu aku lagi gak ada uang, jadi untuk apa lagi sih? Lepaskan tangan ku Ar, sakit..." ucap Luna berusaha melepaskan cengkraman tangan Arkan.
"Aku tidak perduli, kamu harus cari solusi untuk hal ini. Aku muak tinggal di kos-kosan sempit milik Rachel.... Jadi kamu harus membantu ku!" ucap Arkan sambil menarik tangan Luna berusaha membawa Luna ke mobilnya.
Dari nada bicaranya Arkan terdengar begitu kesal dan juga menuntut Luna untuk mencari solusi atas apa yang telah terjadi. Hal tersebut membuat Lu a tak bisa lagi mengelak. Entah bagaimana caranya agar lolos dari pria ini, yang jelas apapun itu Luna harus melakukannya, sebelum semuanya terlambat.
"Aku harus berpikir bagaimana caranya untuk kabur... Jika aku tertangkap basah dan Arkan tahu Papa tidak memblokir kartu atm ku, aku pasti bakal ketahuan dan itu adalah hal buruk." ucap Luna dalam hati sambil berusaha menarik tangannya agar bisa lepas dari cengkraman tanga Arkan saat ini.
Arkan terus menarik tangan Luna dengan kuat, meski Luna terus-terusan merintih kesakitan dan beralasan agar bisa lepas darinya, namun sayangnya Arkan sama sekali tak mengindahkannya dan terus mengambil langkah kaki besar menyeret Luna agar mau ikut bersamanya.
"Ar lepaskan sakit ku bilang... aku bisa jalan sendiri... lepaskan.... lepaskan tangan ku..." ucap Luna berulang kali namun sama sekali tak di dengarkan oleh Arkan.
"Aku tahu kamu Lun, ini hanya tipu muslihat mu... kamu mau kabur kan? Jangan harap aku akan membiarkan itu terjadi, kamu sudah berulang kali menipu ku dan hari ini aku menuntut penjelasan atas semuanya!" ucap Arkan sambil terus menarik tangan Luna.
Sepertinya Luna kali ini tidak akan bisa kabur dari Arkan, entah penjelasan seperti apa yang akan Arkan minta, namun yang jelas semuanya bukanlah hal yang baik.
Sampai kemudian di tengah rasa putus asa yang menyelimuti Luna, sebuah suara bariton lantas terdengar dan menghentikan gerakan Arkan.
"Lepaskan tangan mu sekarang juga!"
Bersambung