Hayden menghentikan langkahnya tepat di tepi podium. Tatapannya menelusuri tiap lekuk tubuh Aluna. Pria itu mengulurkan tangannya, seolah-olah hendak membenarkan letak kain selendang yang tersingkap di atas paha Aluna.
Namun, gerakan jemari Hayden tidak berhenti di sana. Jemarinya yang dingin dan kasar bergeser perlahan, sengaja menyapu permukaan kulit halus Aluna, bergerak semakin naik menyentuh area yang tertutup selendang putih tipis itu.
Sentuhan asing dan lancang itu seketika meletupkan amarah Aluna.
"Jangan sentuh!"
Aluna menepis tangan Hayden dengan kibasan keras. Dalam sekejap, gadis itu menarik kain selendang untuk menutupi dadanya, merapatkan kedua kakinya, dan mundur ke sudut podium. Matanya yang sembab menatap Hayden dengan kilatan amarah yang membara.
"Jaga tanganmu, Hayden!" bentak Aluna dengan suara bergetar hebat, napasnya memburu cepat oleh kombinasi rasa takut dan murka. "Aku di sini cuma jadi model lukisanmu! Aku menjual posisiku sebagai model untuk melunasi _
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Dengan sisa-sisa tenaga dan keputusasaan yang melingkupi dadanya, Aluna membiarkan Dokter Siska dan Suster Maya kembali masuk. Hayden berdiri di sudut ruangan, hanya mengawasi proses pengambilan darah dan pemindaian USG perut itu dengan pandangan dingin yang mengunci. Aluna memejamkan mata rapat-rapat sepanjang proses tersebut, membiarkan air matanya mengalir tanpa henti hingga pemeriksaan selesai.
Begitu Dokter Siska pamit keluar membawa sampel darah, Hayden menerima sebuah panggilan telepon penting dan melangkah keluar kamar sebentar. Kesempatan singkat itu langsung dimanfaatkan oleh Aluna.
"Suster Maya... tolong," bisik Aluna parau. Tangannya yang bebas refleks mencengkeram ujung baju medis Suster Maya. "Tolong jangan pergi dulu... tetap di sini..."
Suster Maya menghentikan langkahnya. Melihat wajah Aluna yang pucat pasi dan tatapannya yang begitu hancur, hati wanita itu tersentuh. Ia memberi isyarat pada perawat lain untuk membawa keluar peralatan medis, lalu mengunci pintu dari dalam dan duduk di tepi ranjang Aluna.
Tanpa mampu membendungnya lagi, Aluna menghambur ke pelukan Suster Maya. Tangisnya pecah seketika, terisak-isak di bahu suster muda itu.
"Suster... aku mohon..." jerit Aluna tertahan, suaranya teredam di seragam Maya. "Jangan pernah... jangan pernah katakan apa pun pada Kak Romeo. Tolong jangan cerita kalau aku pernah mencoba bunuh diri... jangan bilang apa pun soal pemeriksaan ini..."
Suster Maya mengelus punggung Aluna yang bergetar hebat dengan penuh kehangatan. Rasa iba yang mendalam menguasai hatinya. Maya sudah lama merawat Romeo dan mengenal Aluna; ia tahu betul betapa berat beban yang dipikul gadis muda ini hingga nekat menyayat pergelangan tangannya sendiri semalam.
"Iya, Nona Aluna... saya mengerti," pangkas Suster Maya lembut, menganggukkan kepalanya kaku. "Saya janji tidak akan mengatakan apa pun pada Tuan Romeo. Tolong tenang dulu..."
Setelah beberapa menit Aluna tenggelam dalam tangisnya hingga isakannya perlahan mereda, Suster Maya merenggangkan pelukan mereka. Ia mengusap air mata di pipi tirus Aluna, menatap manik mata gadis itu dengan penuh simpati.
"Nona Aluna," panggil Suster Maya pelan dan hati-hati. "Jika Nona bersedia... ceritakan semuanya pada saya. Setidaknya, Nona bisa membagi sedikit beban itu. Apakah... apakah Tuan Hayden yang melakukan semua ini padamu?"
Aluna mendadak membeku. Bibirnya mengatup rapat, mengalihkan pandangannya ke bawah. Bayangan ancaman Hayden tentang keselamatan dan pengobatan Romeo langsung bergema menakutkan di kepalanya. Keheningan panjang merayapi mereka. Aluna memilih tetap bungkam, tidak berani melontarkan satu kata pun tentang kejahatan Hayden.
Suster Maya menghela napas halus, mengerti arti dari kebisuan itu. Ia tidak ingin memaksakan keadaan yang bisa membuat emosi Aluna kembali meluap.
"Baiklah, saya tidak akan memaksa Nona untuk cerita," tutur Suster Maya menenangkan. "Saya juga tidak akan memberitahu Tuan Romeo. Tapi percayalah, saya akan berusaha membantu Nona sebisanya."
Suster Maya mengusap tangan Aluna yang dingin, sebelum menambahkan dengan nada pelan dan serius. "Bagaimana kalau... bagaimana jika hasil tes darah itu nanti menunjukkan Nona positif hamil?"
Pertanyaan itu membuat tubuh Aluna gemetar hebat. Garis wajahnya kembali dipenuhi horor yang nyata.
"Jangan..." bisik Aluna, suaranya bergetar hebat seraya menggenggam jemari Suster Maya kencang-kencang. "Suster... aku mohon, buat hasilnya jadi negatif. Bagaimana pun caranya... aku minta tolong hapuskan saja jika hasilnya positif! Aku tidak siap... aku tidak akan pernah siap mengandungkan anaknya!"
Mata Suster Maya berkilat cemas melihat ketakutan yang begitu masif di mata Aluna. Ia tahu betul apa yang paling ditakutkan oleh gadis di hadapannya ini: terikat selamanya dalam neraka yang diciptakan oleh pria berkuasa seperti Hayden Mahendra.
Suster Maya mengangguk pelan, memberikan genggaman menenangkan pada tangan Aluna. "Saya paham, Nona Aluna... Saya tahu apa yang Nona takutkan. Biarkan saya yang mengurus dokumen laboratoriumnya nanti."
*
Pintu kamar VIP bergeser terbuka kembali sebelum Suster Maya sempat membocorkan lebih banyak detail. Langkah tegap Hayden bergema pelan di atas lantai granit. Pria itu masuk dengan ponsel yang baru saja ia masukkan kembali ke saku celana, matanya yang tajam langsung menangkap posisi Suster Maya yang duduk terlalu dekat di sisi tempat tidur Aluna.
"Pemeriksaannya sudah selesai?" suara Hayden terdengar datar, namun menuntut penjelasan.
Suster Maya refleks berdiri, dengan cepat menarik tangannya dari genggaman Aluna dan merapikan seragam medisnya. Ia membungkuk sopan, berusaha menyembunyikan getaran cemas di wajahnya.
"Sudah, Tuan Hayden. Sampel darah Nona Aluna sedang diproses di laboratorium utama. Hasilnya akan keluar dalam beberapa jam," jawab Suster Maya dengan nada profesional yang terkontrol.
Hayden melirik Aluna yang kini kembali memalingkan wajahnya rapat-rapat ke arah dinding, menyembunyikan sisa-sisa air mata dan napasnya yang masih sesak.
"Bagus," pangkas Hayden dingin. "Kamu bisa keluar sekarang. Dan pastikan laporan medis itu langsung diserahkan padaku terlebih dahulu sebelum ada orang lain yang melihatnya."
"Baik, Tuan. Saya permisi dulu," sahut Suster Maya singkat. Sebelum melangkah keluar, ia menyempatkan diri melirik Aluna sekilas, memberikan tatapan penuh rasa iba dan janji terselubung yang hanya dimengerti oleh mereka berdua.
Setelah pintu mengunci kembali dari luar, hening kembali mencengkeram kamar itu.
Hayden tidak melangkah mendekat ke ranjang. Pria itu justru berjalan menuju sofa kulit di dekat jendela besar, mendudukkan dirinya di sana. Ia melipat sebelah kakinya, menatap punggung Aluna dengan tatapan yang begitu pekat dan sulit diartikan.
"Kamu tidak perlu berharap pada siapa pun di rumah sakit ini, Aluna," ujar Hayden rendah, memecah kesunyian yang dingin. "Suster itu, dokter, bahkan seluruh staf di sini... semuanya bekerja di bawah pengawasanku. Tidak ada yang bisa membantumu melarikan diri."
Aluna meremas selimutnya rapat-rapat. Suara Hayden terasa bagai jarum yang menusuk-nusuk gendang telinganya. "Aku tidak sedang mencoba melarikan diri," bisik Aluna parau tanpa menoleh. "Aku cuma berharap kamu sadar betapa menjijikkannya dirimu."
Hayden terkekeh tipis—sebuah tawa tanpa rasa humor. "Menjijikkan? Mungkin. Tapi aku tidak peduli opini orang lain, termasuk opinimu. Yang terpenting, kamu tetap di sini, di jangkauanku."
*
Beberapa jam berlalu dalam siksaan keheningan yang membekukan.
Sekitar pukul tiga sore, ketukan pelan terdengar di pintu. Dokter Siska melangkah masuk membawa sebuah amplop cokelat tebal yang tergelak rapi di tangannya. Di belakangnya, Suster Maya mengekor dengan wajah yang agak pucat.
Hayden seketika berdiri dari sofa. Aura dominannya menguar kuat saat ia melangkah mendekati Dokter Siska.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Hayden tanpa basa-basi, langsung mengarahkan pandangannya pada amplop di tangan sang dokter.
Aluna yang mendengar percakapan itu seketika menegang di atas ranjang. Jantungnya berdegup sangat kencang, menghantam dadanya begitu keras hingga kepalanya terasa pusing. Ketakutan terbesar dalam hidupnya kini dipertaruhkan di dalam amplop cokelat tersebut. Ia melirik kaku ke arah Suster Maya, mencari sekilas kepastian dari mata wanita itu.
Dokter Siska menyerahkan amplop itu kepada Hayden. "Ini hasil pemeriksaan laboratorium lengkap Nona Aluna, Tuan. Termasuk kadar hormon HCG dalam darahnya."
Hayden merobek amplop itu tanpa ragu, menarik lembaran kertas resmi berstempel laboratorium rumah sakit. Mata kelamnya bergerak cepat meneliti baris demi baris tulisan medis di sana.
Aluna menahan napasnya, memejamkan mata rapat-rapat seraya berdoa dalam keputusasaan yang teramat sangat. Tolong... jangan... Tuhan, tolong jangan...
*
*
*