Indonesia
NovelToon NovelToon
PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

PERMAISURIKU DARI ABAD KE-21

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Ve Love

Aku masuk ke dalam tubuh calon permaisuri sial dan terdampar di Kerajaan Langit. Di kepalaku, Sistem yang jatuh dari langit aktif!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ve Love, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31 — ARANG HITAM YANG TIDAK CUKUP

Pukul lima pagi, aku terbangun karena bau asap.

Bukan bau asap tungku jamu Tabib Marno yang kemarin akhirnya dinyalakan kembali. Bukan pula aroma tempe goreng yang biasanya membuatku teringat pada dapur Mbok di Paviliun Mawar.

Bau ini lebih tajam. Ada aroma bambu terbakar yang bercampur dengan tanah basah, membuat hidungku terasa geli bahkan sebelum aku benar-benar membuka mata.

Aku bangkit dari tikar pandan dan menoleh ke tempat Segara tidur.

Kosong.

Selimut tipisnya terlipat seadanya. Baju petani yang biasa dikenakannya pun tidak terlihat di dekat dinding.

Aku menghela napas.

Entah sejak kapan kaisar yang dahulu sulit dibayangkan bangun tanpa bantuan pelayan itu mulai terbiasa meninggalkan tikar sebelum matahari terbit. Sejak kami tiba di perbatasan, ada banyak hal tentang Segara yang baru kuketahui. Sayangnya, sebagian besar pengetahuan itu kudapatkan ketika kami sama-sama kotor, kelelahan, dan tidak punya pilihan selain mengerjakan semuanya sendiri.

Aku merapikan bando mawar yang masih miring di kepalaku, lalu keluar dari gubuk.

Udara pagi terasa dingin. Tanah di belakang bangunan masih lembap akibat hujan semalam. Dari sana, asap putih tipis naik perlahan, berembus ke arah rumpun bambu.

Segara berjongkok di dekat sebuah lubang tanah.

Baju petaninya telah berubah kelabu karena asap dan debu. Kedua tangannya memegang anyaman bambu yang digunakan untuk mengatur aliran udara di sekitar lubang. Di sampingnya terdapat beberapa potongan bambu yang belum dimasukkan.

Aku berdiri beberapa langkah darinya, berusaha memahami apa yang sedang ia kerjakan.

“Gusti?”

Segara menoleh.

“Kau sudah bangun?”

“Sepertinya hidungku dibangunkan lebih dahulu daripada tubuhku.” Aku menunjuk lubang di depannya. “Sedang apa, Gusti?”

“Membuat arang.”

Aku memandang lubang itu, kemudian menatap tumpukan bambu di dekatnya.

“Sekarang?”

“Kalau menunggu sampai siang, pekerjaan kita akan semakin tertunda.”

Aku mendekat dan berjongkok di sampingnya. Baru setelah melihat sisa arang yang menempel di tangan Segara, aku mengerti mengapa ia memulai pekerjaan sepagi ini.

Persediaan arang yang kami buat pada Bab 26 memang sudah tidak banyak. Sebagian telah digunakan untuk menangani petak pertama sawah, dan sisanya tidak akan cukup jika kami hendak menangani petak kedua yang jauh lebih luas dan masih dipenuhi benih mencurigakan.

Selama beberapa hari terakhir, kami memang lebih banyak menghabiskan waktu untuk menyelidiki lumbung, mengikuti jejak sepatu, dan menemui Tabib Marno. Sementara itu, sawah yang belum sempat dibersihkan tetap terbengkalai.

Lebih buruk lagi, seseorang telah menaburkan benih baru di petak kedua.

Aku mengamati tumpukan bambu itu sekali lagi.

“Jadi, kita membuat persediaan baru?”

Segara mengangguk.

“Dua karung arang yang cukup baik akan lebih berguna daripada memaksakan diri membersihkan sawah dengan persediaan yang tidak memadai.”

Aku menyentuh tanah di sekitar lubang. Permukaannya masih hangat.

“Sudah berapa lama Gusti bekerja?”

“Tidak terlalu lama.”

Aku menyipitkan mata.

“Sejak kapan?”

Ia diam sebentar.

“Sekitar satu jam.”

Aku mendesah.

“Berarti sejak pukul empat?”

Segara kembali memusatkan perhatian pada lubang.

“Kau terlalu banyak bertanya untuk seseorang yang baru bangun.”

Aku hampir tertawa.

“Kalau begitu, lain kali bangunkan aku. Setidaknya aku bisa membantu sejak awal.”

Ia melirikku, seolah sedang mempertimbangkan apakah perkataanku layak ditanggapi.

“Kalau begitu, ambil anyaman bambu yang di sebelahmu.”

Aku segera meraihnya.

Pagi itu, tanpa upacara, tanpa pengawal, dan tanpa seorang pun yang memanggilnya dengan gelar panjang, Kaisar Segara El-Bhumi mengajariku bagaimana menjaga bara tetap terkendali.

Dan aku, yang dahulu menghabiskan waktu di ruang baca kampus, kembali belajar bahwa pengetahuan dari buku baru berguna ketika seseorang mampu menyesuaikannya dengan keadaan nyata.

---

Aku duduk bersila di samping lubang tanah sambil menggerakkan anyaman bambu perlahan.

Asap putih keluar dari sela-sela tanah. Sesekali, Segara memeriksa bagian yang masih terbuka, memastikan proses pembakaran tidak berubah menjadi api besar yang menghabiskan seluruh bahan.

“Jangan terlalu kuat,” katanya ketika melihatku mengipasi dengan gerakan berlebihan.

Aku menghentikan tangan.

“Kalau apinya kekurangan udara, bukankah akan padam?”

“Benar. Tetapi kalau kau terus memasukkan udara, bambunya bisa terbakar habis menjadi abu.”

Aku mengangguk.

Pembuatan arang membutuhkan pembakaran dengan oksigen terbatas. Bahan harus dipanaskan cukup lama agar berubah menjadi arang, tetapi tidak dibiarkan terbakar bebas sampai habis.

Aku pernah mempelajari prinsip serupa dalam pembahasan tentang teknologi masyarakat masa lalu. Di kampus, hal seperti ini biasanya hadir dalam catatan penelitian, gambar artefak, atau penjelasan dosen.

Di sini, aku harus memahaminya sambil duduk di tanah, dengan asap yang membuat mataku perih.

“Kalau berhasil, kita bisa membuat arang sebanyak yang dibutuhkan untuk petak kedua,” kataku.

“Kalau hasilnya baik,” koreksi Segara.

Aku menoleh kepadanya.

“Gusti mulai terdengar seperti dosen pembimbingku.”

“Aku tidak tahu apakah itu pujian.”

“Anggap saja pujian.”

Segara mengembuskan napas kecil, lalu kembali memeriksa lubang.

Aku tidak yakin apakah itu tawa atau hanya napas orang yang lelah.

Namun, entah mengapa, aku merasa suasana pagi itu sedikit lebih ringan.

Kami bekerja bergantian. Ketika tanganku mulai pegal, Segara mengambil alih. Ketika ia harus memeriksa susunan bambu di sisi lain, aku menjaga bara agar tidak membesar.

Sesekali, asap mengarah langsung ke wajah kami.

Aku terbatuk dan menutup hidung dengan ujung kain.

“Gusti, asapnya masuk ke mata.”

“Bergeserlah sedikit.”

“Kalau aku bergeser, siapa yang mengipasi?”

“Aku.”

“Kalau Gusti yang mengipasi, siapa yang memeriksa bambunya?”

Segara terdiam.

Aku menahan senyum.

Akhirnya, ia menggeser posisi duduk agar kami tidak berada tepat di jalur asap.

“Puas?”

“Lumayan.”

“Kalau begitu, lanjutkan pekerjaanmu.”

Aku kembali menggerakkan anyaman bambu.

Untuk beberapa saat, hanya suara angin, gesekan daun, dan bunyi kecil dari bara yang terdengar di belakang gubuk.

Aku menyadari sesuatu ketika memandang tangan Segara yang hitam oleh arang.

Dahulu, tangan itu lebih sering memegang stempel kerajaan, gulungan perintah, atau cawan minuman yang disiapkan pelayan. Kini, tangan yang sama memegang potongan bambu dan mengatur bara agar kami bisa kembali bekerja di sawah.

Aku tidak tahu apakah perubahan ini akan bertahan setelah kami kembali ke istana.

Namun, aku mulai memahami bahwa seseorang tidak selalu menunjukkan dirinya melalui kata-kata. Terkadang, wataknya terlihat dari pekerjaan yang bersedia ia lakukan ketika tidak ada seorang pun yang menyaksikan.

---

Sekitar pukul delapan, kepala desa datang membawa dua cangkir teh.

Ia berhenti beberapa langkah dari kami, lalu memandangi lubang tanah dengan ekspresi bingung.

“Gusti Kaisar? Gusti Permaisuri? Sejak pagi membuat arang?”

Segara menerima salah satu cangkir.

“Persediaan sebelumnya tidak cukup.”

Kepala desa mengangguk, meski masih terlihat heran.

“Kalau begitu, semoga berhasil, Gusti. Saya membawa teh dari daun yang biasa dipetik warga di perbatasan. Rasanya memang pahit.”

Ia menyerahkan cangkir lainnya kepadaku.

Aku menghirup aromanya. Tidak ada wangi teh istana, tidak ada gula, dan tentu saja tidak ada cangkir porselen yang halus. Teh itu disajikan dalam wadah bambu sederhana.

Aku menyesap sedikit.

Pahitnya langsung terasa di lidah.

Aku meringis tanpa sadar.

“Pahit sekali.”

Kepala desa tertawa kecil.

“Begitulah teh di sini, Gusti Permaisuri. Daunnya tumbuh liar. Warga biasanya meminumnya begitu saja.”

Aku memandang Segara. Ia telah menghabiskan sebagian minumannya tanpa mengeluh.

“Gusti tidak merasa pahit?”

“Pahit.”

“Lalu mengapa diminum sampai habis?”

“Karena aku haus.”

Aku terdiam, kemudian tertawa.

Jawaban itu begitu sederhana hingga aku tidak bisa membantahnya.

Dahulu, di istana, hal kecil seperti rasa minuman bisa menjadi alasan seseorang dipanggil untuk menerima teguran. Segara sendiri pernah menolak teh yang kubuat karena rasanya tidak sesuai dengan kebiasaannya.

Sekarang, ia duduk di tanah dengan wajah penuh debu, meminum teh pahit yang disajikan dalam cangkir bambu tanpa mempersoalkan apa pun.

Aku menyesap minumanku sekali lagi.

Rasanya tetap pahit.

Namun, setelah menelan beberapa teguk, aku mulai terbiasa.

“Tidak buruk juga,” kataku akhirnya.

Kepala desa tersenyum puas.

“Kalau sudah terbiasa, biasanya orang malah mencarinya, Gusti.”

“Jangan terlalu cepat menyimpulkan. Aku baru minum setengah cangkir.”

Segara melirikku.

“Kalau begitu, jangan dihabiskan.”

Aku memeluk cangkirku.

“Sekarang justru ingin kuhabiskan.”

Ia menggeleng kecil, lalu kembali memusatkan perhatian pada pekerjaan.

Aku menyembunyikan senyum di balik cangkir bambu.

Barangkali inilah yang dimaksud orang ketika mengatakan bahwa kebiasaan bisa berubah karena keadaan. Bukan karena seseorang dipaksa menyukainya, melainkan karena ia mulai menemukan alasan untuk menerimanya.

Setelah kepala desa pergi, kami kembali bekerja.

---

Menjelang pukul sebelas, proses pembakaran mencapai tahap yang mengharuskan lubang ditutup dengan lebih rapat.

Segara memeriksa susunan bambu dan bara untuk terakhir kalinya sebelum kami menutup bagian yang terbuka menggunakan tanah lembap. Tujuannya agar udara tidak masuk terlalu banyak dan membuat arang terbakar habis.

Kami bekerja perlahan, memastikan tidak ada celah besar yang tersisa.

Setelah selesai, Segara menepuk tanah dari telapak tangannya.

“Sekarang kita menunggu.”

“Berapa lama?”

“Beberapa jam. Setelah itu, kita periksa hasilnya.”

Aku menatap lubang yang kini tertutup tanah.

Rasanya aneh meninggalkan sesuatu yang sedang diproses tanpa bisa memastikan hasilnya. Namun, aku tahu membuka lubang terlalu cepat justru dapat merusak arang yang belum selesai atau membuat bahan yang masih panas terbakar ketika terkena udara.

Kami pun kembali ke gubuk.

Di dalam, barang-barang bukti dari penyelidikan masih tersusun di dekat dinding. Aku memeriksa buku catatan kulit kambing dan membaca kembali keterangan tentang cincin batu merah yang diberikan Tabib Marno.

Aku tidak ingin penyelidikan itu terlupakan hanya karena kami harus kembali mengurus sawah.

“Gusti,” panggilku.

Segara sedang membersihkan debu dari lengannya.

“Apa?”

“Kita belum tahu siapa pemilik cincin batu merah itu.”

“Aku tidak melupakannya.”

“Dan petak kedua belum aman.”

“Aku juga tidak melupakan itu.”

Aku menatapnya.

“Gusti selalu menjawab seolah aku sedang menguji ingatan Gusti.”

“Karena kau mengulang pertanyaan yang sama.”

Aku mendengus kecil.

“Baiklah. Aku hanya tidak ingin kita kehilangan arah.”

Segara berhenti mengusap tangannya.

“Kita tidak kehilangan arah, Kahiyang. Kita hanya tidak bisa mengerjakan semua hal sekaligus.”

Aku terdiam.

Ia melanjutkan dengan suara yang lebih tenang.

“Kalau kita terus mengejar petunjuk tanpa menyelamatkan sawah, penduduk akan tetap menanggung akibatnya. Kalau kita hanya membersihkan sawah tanpa mencari tahu siapa yang merusaknya, hal yang sama bisa terjadi lagi. Kita harus membagi waktu dan memilih pekerjaan yang paling mendesak.”

Aku memandang catatan di tanganku.

Itulah masalah yang selama ini terus menggangguku. Setiap kali kami menemukan satu petunjuk, muncul pertanyaan baru yang membuatku ingin segera mengejarnya. Sementara itu, kehidupan penduduk desa tidak bisa menunggu sampai seluruh misteri terpecahkan.

Aku akhirnya mengangguk.

“Besok kita fokus pada petak kedua.”

“Ya. Setelah itu, kita evaluasi hasilnya.”

Aku meletakkan buku catatan di dalam kotak cendana.

Untuk sementara, cincin batu merah harus menunggu.

---

Mbok datang menjelang tengah hari dengan rantang makanan di tangan.

Begitu memasuki gubuk, ia berhenti dan memandang wajah kami bergantian.

“Ya ampun, Gusti!”

Aku mengangkat kepala.

“Ada apa, Mbok?”

“Lihat wajah Gusti berdua!”

Aku menyentuh pipiku. Ujung jariku kembali berwarna hitam.

Mbok meletakkan rantang, kemudian mendekat sambil menggeleng-gelengkan kepala.

“Seperti habis masuk ke dalam tungku. Kalau orang istana melihat, mereka mungkin tidak akan mengenali Gusti Kaisar.”

Segara mengangkat alis.

“Apakah itu masalah?”

Mbok terdiam sebentar.

“Bukan masalah, Gusti. Tapi kalau wajah seperti itu dibiarkan, nanti bantal dan selimut ikut hitam.”

Aku tidak bisa menahan tawa.

“Mbok, kami sedang membuat arang untuk sawah.”

“Ya, saya tahu. Kepala desa tadi juga bercerita. Tetapi tetap saja, makan dulu. Jangan sampai sudah bersusah payah membuat arang, malah pingsan karena lapar.”

Mbok membuka rantang dan menyajikan nasi, tempe, serta sambal terasi. Aroma makanan sederhana itu memenuhi gubuk, membuat perutku yang sejak pagi hanya diisi teh pahit kembali berbunyi.

Kami duduk untuk makan.

Segara membersihkan tangannya sebisanya sebelum mengambil makanan. Aku melakukan hal yang sama, meski noda hitam masih tersisa di sela-sela kuku.

“Bagaimana hasilnya nanti?” tanya Mbok.

“Kami belum tahu sampai lubangnya dibuka,” jawabku. “Kalau arangnya berhasil, persediaan kita akan bertambah.”

“Kalau tidak berhasil?”

Aku menoleh kepada Segara.

Ia menjawab tanpa ragu, “Kita cari tahu kesalahannya dan memperbaikinya.”

Mbok mendesah.

“Gusti berdua ini kalau sudah punya urusan, sepertinya tidak akan berhenti sebelum selesai.”

Aku tersenyum kecil.

“Bukankah itu lebih baik daripada menyerah?”

“Lebih baik, Gusti. Tetapi orang yang bekerja juga perlu makan dan tidur.”

Kali ini, Segara tidak membantah.

Kami menyelesaikan makan siang dengan lebih tenang. Setelah itu, Mbok membantu membereskan rantang dan kembali ke tempatnya, sementara kami menunggu waktu untuk memeriksa lubang pembakaran.

Di luar, matahari bergerak perlahan melewati puncak pepohonan.

Aku sempat beristirahat, tetapi beberapa kali terbangun untuk memeriksa waktu. Aku tidak ingin terlalu cepat membuka lubang hanya karena penasaran.

Akhirnya, ketika sore mulai mendekat, Segara bangkit.

“Sudah waktunya kita periksa.”

Aku segera menyusulnya.

---

Pukul lima sore, kami kembali ke belakang gubuk.

Tanah yang menutupi lubang telah mengering di bagian atas, sementara udara di sekitarnya masih menyimpan sisa panas. Segara tidak langsung membukanya. Ia terlebih dahulu memeriksa permukaan dan memastikan kami bisa bekerja tanpa membuat tanah runtuh ke dalam lubang.

Kami mulai menyingkirkan tanah penutup secara bertahap.

Asap tipis keluar dari sela-sela tanah.

Aku mundur sedikit, menunggu hingga udara di sekitar lubang tidak terlalu pekat. Segara menggunakan alat sederhana untuk mengangkat potongan bambu yang telah berubah warna.

Di dalamnya tampak bahan hitam yang bentuknya masih menyerupai bambu, tetapi lebih rapuh dan ringan daripada sebelumnya.

Arang.

Aku berjongkok untuk melihat lebih dekat.

“Berhasil?”

“Sebagian besar tampaknya sudah menjadi arang,” jawab Segara. “Kita perlu membiarkannya cukup dingin sebelum memasukkannya ke dalam karung.”

Aku mengangguk.

Aku ingin segera menyentuhnya, tetapi masih ada bagian yang panas. Karena itu, kami menggunakan alat untuk memindahkan arang sedikit demi sedikit ke tempat yang aman.

Setelah pemeriksaan awal, hasilnya tampak cukup baik untuk disimpan. Namun, kami tetap harus memilah bagian yang benar-benar menjadi arang dari bagian yang masih setengah terbakar atau berubah menjadi abu.

Pekerjaan itu memakan waktu lebih lama daripada yang kubayangkan.

Ketika akhirnya selesai, kami memperoleh dua karung arang baru.

Aku memandangi kedua karung itu dengan perasaan lega.

“Dua karung,” gumamku. “Ditambah sisa persediaan sebelumnya, kita punya cukup banyak untuk melanjutkan pekerjaan.”

“Cukup untuk mencoba menangani petak kedua,” kata Segara. “Tetapi kita tetap harus mengukur penggunaannya. Jangan sampai seluruh persediaan habis sebelum kita mengetahui seberapa efektif cara ini.”

Aku mengangguk.

Ia benar. Arang yang kami buat bukan jaminan bahwa tanah akan kembali aman. Kami harus menggunakannya secara terukur, mengamati perubahan pada tanah, dan memastikan benih yang masih layak tidak ikut rusak.

Aku memandang kedua tanganku yang hitam.

“Setidaknya, sekarang kita bisa mulai lagi.”

Segara mengambil satu karung, lalu meletakkannya di dekat gerobak kayu.

“Besok kita mulai dari bagian yang paling parah.”

Aku membantunya memindahkan karung kedua.

Ketika kami selesai, wajah Segara kembali dipenuhi noda hitam. Aku menyentuh pipiku sendiri dan merasakan debu arang menempel di sana.

Kami saling pandang.

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara.

Lalu aku tertawa lebih dahulu.

“Kalau begini, kita benar-benar terlihat seperti dua orang yang tinggal di dalam tungku.”

Segara memandangku datar.

“Setidaknya tungkunya menghasilkan sesuatu.”

Aku tertawa semakin keras.

Dan kali ini, aku yakin ia juga sedang menahan senyum.

---

Menjelang malam, kami kembali masuk ke gubuk.

Dua karung arang baru diletakkan dekat gerobak, sementara sisa arang dari pekerjaan sebelumnya disimpan terpisah. Aku mencatat jumlahnya dalam buku kecil agar kami tidak salah memperkirakan persediaan esok hari.

Di dekat dinding, benih palsu, botol kaca, surat perintah, dan catatan tentang cincin batu merah masih tersimpan dengan aman.

Aku menatap semuanya sebentar sebelum menutup kotak cendana.

Hari ini, kami tidak menemukan pelaku baru. Tidak ada jejak sepatu tambahan, tidak ada saksi yang datang membawa kabar, dan tidak ada jawaban tentang siapa pemilik cincin batu merah itu.

Namun, bukan berarti hari ini sia-sia.

Kami telah menambah persediaan arang dan menyiapkan diri untuk kembali menangani petak kedua.

Sistem berbunyi pelan di kepalaku.

[DING!]

[MISI BAB 31 SELESAI: ARANG HITAM YANG TIDAK CUKUP]

[HASIL: DUA KARUNG ARANG BARU BERHASIL DIPEROLEH.]

[CATATAN: KEBERHASILAN PEMBUATAN ARANG TIDAK MENJAMIN TANAH TELAH BEBAS DARI BAHAN BERBAHAYA. AMATI PERUBAHAN DAN HINDARI PENGGUNAAN PADA TANAH YANG MASIH AKAN DITANAMI TANPA PEMERIKSAAN.]

Aku mengernyit membaca pesan itu.

Untuk sekali ini, sistem terdengar lebih masuk akal daripada biasanya.

Aku mengembuskan napas dan berbaring di tikar pandan. Segara menyusul beberapa saat kemudian, masih mengenakan pakaian petani yang belum sempat dibersihkan.

Di luar, bau arang baru masih tercium samar. Angin malam membawa suara jangkrik dari arah sawah.

“Gusti,” panggilku.

“Hm?”

“Besok kita benar-benar mulai membersihkan petak kedua?”

“Ya.”

“Kalau hasilnya tidak sesuai harapan?”

“Kita evaluasi dan mencari cara lain.”

Aku tersenyum kecil.

“Gusti mulai terbiasa menjawab pertanyaanku dengan cara seperti itu.”

“Karena pertanyaanmu selalu sama.”

Aku memutar mata, meskipun ia mungkin tidak melihatnya dalam gelap.

“Selamat malam, Gusti.”

“Tidurlah, Kahiyang.”

Aku menarik selimut sampai ke bahu.

Besok, kami akan kembali ke sawah. Dua karung arang baru telah menunggu untuk digunakan, tetapi aku tidak ingin menganggapnya sebagai jawaban atas semua masalah yang kami hadapi.

Tanah yang tercemar tidak akan pulih hanya karena kami berharap demikian. Penduduk yang jatuh sakit tetap membutuhkan pertolongan, dan orang yang menaburkan benih palsu masih berkeliaran di luar sana.

Kami harus mengerjakan semuanya satu per satu.

Aku memejamkan mata, membiarkan suara jangkrik menemani malam.

Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang dipenuhi penyelidikan, aku merasa kami memiliki cukup persediaan untuk melanjutkan pekerjaan.

Belum cukup untuk menyelesaikan semuanya.

Tetapi setidaknya, kali ini, kami tidak harus memulai dari tangan kosong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!