Alvierra Zea Khanza atau biasa dipanggil Zea rela menjadi gubernur demi mewujudkan impian sang nenek. Tapi sejak menjabat, berbagai teror dan ancaman mulai mengincarnya.
Demi keselamatan Zea, sang kakek mengirim seorang pengawal pribadi bernama Sagara Arya, kapten dingin yang ternyata menyimpan misi rahasia yaitu membunuh Zea.
Sayangnya, menghadapi gubernur yang bar-bar, keras kepala, tetapi begitu tulus mencintai rakyatnya membuat Kapten Sagara perlahan melupakan misinya.
Di antara ancaman, rahasia, dan perasaan yang tak seharusnya tumbuh, sang kapten justru jatuh cinta kepada perempuan yang seharusnya menjadi targetnya.
Ketika tugas dan cinta berada di dua sisi yang berlawanan, akankah Sagara memilih perintah atau melindungi perempuan yang telah mencuri hatinya?
Yuk stay tune ya. Yang gak suka silakan skip.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yulianti Azis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Soraya
Sore itu, sebuah mobil hitam memasuki halaman rumah keluarga Mayor Jenderal Agus. Pria paruh baya yang baru saja pulang dari markas tersebut turun dari mobil dengan wajah lelah, berharap bisa beristirahat sejenak setelah seharian disibukkan oleh berbagai urusan militer.
Belum sempat ia melangkah masuk ke rumah, seorang gadis berambut pendek langsung menghampirinya dengan wajah penuh kekesalan.
Gadis itu tidak lain adalah Soraya, putri kesayangannya yang sejak tadi sudah menunggu kepulangannya.
“Ayah!” seru Soraya sambil menghampiri sang ayah. “Ayah harus membantuku!”
Agus mengerutkan kening, lalu menatap putrinya yang terlihat seperti baru saja bertengkar dengan seseorang. “Ada apa lagi, Soraya? Ayah baru pulang, belum juga duduk kamu sudah berteriak seperti itu.”
Soraya langsung meraih lengan ayahnya. “Ayah, tidak bisakah Ayah menyuruh Kapten Sagara berhenti menjadi pengawal pribadi gubernur wanita itu?”
Langkah Agus seketika terhenti. Ia menatap putrinya dengan sorot mata tajam, seolah-olah ingin memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar permintaan tersebut.
“Apa katamu?”
Soraya mengerucutkan bibir, kemudian mulai mengadu dengan nada kesal. “Kapten Sagara sekarang selalu bersama Gubernur Zea! Bahkan tadi aku dipermalukan di depan para prajurit gara-gara wanita itu.”
Agus melepaskan tangan putrinya dari lengannya. “Dipermalukan bagaimana?”
Soraya langsung menceritakan pertandingan menembak yang berlangsung di barak pagi tadi. Ia mengeluh karena Zea berhasil memperoleh nilai sempurna, sementara dirinya hanya mendapatkan 93 poin, belum lagi sindiran yang membuat para tentara menahan tawa.
“Semua orang menertawakanku, Ayah!” seru Soraya dengan mata berkaca-kaca. “Aku ini putri seorang mayor jenderal, tetapi dia memperlakukanku seperti orang yang tidak punya kemampuan!”
Agus menatap putrinya tanpa menunjukkan rasa iba sedikit pun. Setelah mendengar seluruh cerita itu, ia justru mengembuskan napas panjang, kemudian menggelengkan kepala dengan kecewa.
“Jadi, hanya karena kalah menembak, kamu pulang dan meminta Ayah mencabut tugas Kapten Sagara sebagai pengawal gubernur?”
Soraya terdiam sesaat. “Bukan hanya itu, Ayah! Dia juga—”
“Cukup!” potong Agus dengan suara tegas.
Soraya tersentak mendengar bentakan tersebut. Ia menatap ayahnya dengan mata membulat, tidak menyangka bahwa pria yang biasanya memanjakannya justru membentaknya sebelum ia selesai berbicara.
Agus melangkah mendekat, lalu menatap putrinya dengan tajam. “Kamu pikir Ayah tidak tahu apa yang kamu lakukan kepadanya? Gara-gara kecemburuanmu sendiri, kamu berani menantang seorang gubernur di hadapan para prajurit!”
Soraya langsung menunduk, tetapi hanya sesaat. Ia masih merasa dirinya adalah pihak yang paling dirugikan dalam masalah tersebut.
“Ayah juga harus mengerti perasaanku!” bantahnya. “Aku sudah lama menyukai Kapten Sagara. Aku yang selama ini berusaha mendekatinya, tetapi sekarang wanita itu malah datang dan mengambil semua perhatiannya!”
Agus mengusap wajahnya dengan satu tangan, berusaha menahan kesabaran. “Soraya, dengarkan Ayah baik-baik. Sagara adalah seorang perwira yang berhak menentukan sendiri kepada siapa dia ingin dekat, dan kamu tidak bisa memaksanya menyukaimu.”
“Tapi, Ayah—”
“Tidak ada tapi!” bentak Agus lagi. “Kamu seorang perwira dengan pangkat letnan satu. Seharusnya kamu bisa bersikap dewasa, bukan malah bertindak seperti anak kecil hanya karena cemburu kepada wanita lain.”
Wajah Soraya memerah karena malu sekaligus marah. Ia tidak pernah menyangka ayahnya akan membela Zea, seorang wanita yang menurutnya telah merebut perhatian pria yang selama ini ia sukai.
Agus kemudian melanjutkan dengan nada lebih serius. “Dan satu hal lagi, jangan pernah menganggap jabatan gubernur itu rendah hanya karena orang yang mendudukinya adalah seorang wanita muda. Seorang gubernur memiliki kedudukan tinggi dalam pemerintahan sipil, dan kamu harus menghormati jabatan itu.”
Soraya terdiam. Ia memang tahu Zea adalah gubernur termuda yang sedang menjadi sorotan publik, tetapi ia tidak pernah menyangka ayahnya akan menegurnya sedemikian keras hanya karena menantang perempuan itu.
“Kalau Ayah tahu dia gubernur, kenapa Ayah tidak menyuruh Kapten Sagara menjauh darinya?” tanya Soraya dengan suara bergetar. “Ayah kan punya jabatan tinggi juga!”
Agus menatap putrinya dengan ekspresi tidak percaya. “Kamu benar-benar tidak mengerti, ya? Tugas Sagara adalah melindungi gubernur yang menjadi tanggung jawabnya. Ayah tidak bisa seenaknya mencampuri penugasan orang lain hanya karena putri Ayah sedang cemburu.”
Soraya mengepalkan kedua tangannya. Ia merasa semua orang seolah-olah berada di pihak Zea, mulai dari para prajurit yang menyaksikan pertandingan tadi hingga ayahnya sendiri yang sekarang memarahinya.
“Itu karena dia kecentilan!” seru Soraya akhirnya. “Dia sengaja mendekati Sagara dan merebutnya dariku! Aku sudah lama menyukai Kapten Sagara, tetapi kenapa justru wanita itu yang mendapatkannya?”
Agus mengerutkan kening semakin dalam. “Jaga ucapanmu, Soraya!”
“Kenapa aku harus menjaga ucapan? Memang kenyataannya begitu!”
“Cukup!”
Bentakan Agus menggema di ruang depan rumah. Beberapa pelayan yang sedang bekerja di dekat sana langsung terdiam, tidak berani ikut campur dalam pertengkaran antara ayah dan anak tersebut.
Soraya menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca. “Ayah benar-benar tidak menyayangiku!”
Agus tertegun sesaat, tetapi kemarahannya belum mereda. “Jangan gunakan kalimat itu untuk membenarkan kesalahanmu! Ayah menyayangimu, tetapi bukan berarti Ayah akan selalu membenarkan semua tindakanmu!”
Tepat saat suasana semakin memanas, istri Agus yang sejak tadi berada di ruang tengah segera menghampiri mereka.
Wanita itu terkejut melihat putrinya menangis dan suaminya berdiri dengan wajah merah menahan amarah.
“Sudah, Mas, sudah!” katanya sambil berdiri di antara keduanya. “Jangan membentak Soraya terus. Dia anak kita, bicaralah baik-baik.”
Agus menggelengkan kepala. “Kamu dengar sendiri apa yang dia katakan? Dia meminta Ayah mencampuri tugas seorang kapten hanya karena dia tidak suka melihat gubernur itu dekat dengan Sagara!”
Sang istri menoleh kepada Soraya. “Sayang, memangnya kamu melakukan apa sampai Ayah semarah ini?”
Soraya menggeleng keras. “Pokoknya semua salahku di mata Ayah!”
Belum sempat ibunya menjawab, seorang pria muda yang merupakan kakak laki-laki Soraya keluar dari ruang keluarga. Ia rupanya mendengar keributan itu sejak tadi dan segera menghampiri mereka.
“Ada apa ini? Suara kalian sampai terdengar dari dalam,” tanyanya.
Ibu mereka segera menjelaskan dengan singkat, berharap putranya bisa membantu menenangkan suasana. Namun, setelah mendengar bahwa Soraya menantang Gubernur Zea dalam pertandingan menembak karena cemburu kepada Sagara, kakaknya justru menghela napas panjang.
“Adik, kamu ini sebenarnya sedang memikirkan apa?” tanyanya sambil menggelengkan kepala. “Kamu seorang perwira, bukan anak sekolah yang bisa marah hanya karena orang yang kamu sukai dekat dengan perempuan lain.”
Soraya menoleh tajam kepada kakaknya. “Kakak juga mau menyalahkanku?”
“Aku bukan menyalahkanmu. Aku hanya menyuruhmu berpikir dengan kepala dingin.”
“Sudahlah! Kalian semua sama saja!” seru Soraya dengan suara serak.
Ia menyeka air matanya dengan kasar, kemudian berbalik dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Suara langkah kakinya terdengar semakin menjauh sebelum akhirnya sebuah pintu tertutup keras dari lantai atas.
Ibu mereka menghela napas sedih. “Aduh, anak itu. Kenapa jadi seperti ini hanya karena seorang pria?”
Kakak Soraya menggeleng pelan. “Dia terlalu terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekarang, ketika Kapten Sagara tidak membalas perasaannya, dia malah menyalahkan orang lain.”
Agus tidak menjawab. Ia hanya berjalan menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya dengan wajah kusut sebelum memijat pelipisnya menggunakan kedua jari.
Hari itu benar-benar membuat kepalanya pening. Bukan hanya karena ulah putrinya yang menantang seorang gubernur di hadapan para prajurit, tetapi juga karena dirinya baru saja mendapat teguran dari atasannya setelah kabar tentang kejadian tersebut sampai ke telinga sejumlah petinggi.
Atasannya telah mengingatkan agar ia memastikan putrinya menjaga sikap sebagai seorang perwira dan tidak membawa urusan pribadi ke lingkungan kedinasan.
Agus bahkan diminta mengingatkan Soraya supaya tidak menyalahgunakan kedudukan keluarganya untuk mencampuri penugasan Kapten Sagara.
“Ya Tuhan, apa yang harus kulakukan dengan anak itu?” gumam Agus sambil terus memijat pelipisnya.
Istrinya duduk di sampingnya dan mengusap bahunya perlahan. “Beri dia waktu untuk menenangkan diri, Mas. Mungkin setelah emosinya reda, dia bisa berpikir lebih jernih.”
Agus menghela napas panjang, lalu menyandarkan kepalanya ke sofa. Ia hanya berharap Soraya segera menyadari kesalahannya sebelum kecemburuannya menimbulkan masalah yang jauh lebih besar.
wehhh piye iki jal
sat set tnpa drama keren
KLO kek gini rasanya negara ini akan damai2 saja
tp kbnykan pada komen dlu sblm tau faktanya
alahhh mboh lah mumet AQ
AQ ora tau melu2 komen ini itu JD tak tau lah
mempan 🤣🤣🤣🤣🤣
kiro2 piye yoooo