Indonesia
NovelToon NovelToon
BUTTERFLY

BUTTERFLY

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Angst
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu malam gila di Los Angeles mengubah takdir dua jiwa yang terluka. Terpukul oleh pengkhianatan kekasih dan sahabatnya, Jameson Baxter Ashford—dosen muda jenius sekaligus pahlawan kota yang disegani—meluapkan amarahnya pada Hazel Rosemary Brooks, wanita asing bertato kupu-kupu yang berani meremehkan kesombongannya.

Namun saat fajar menyingsing, Hazel menghilang tanpa jejak—hanya meninggalkan segepok uang tunai dan sepucuk surat "ganti rugi" yang menghantam telak harga diri Jameson.

Diperlakukan bagai pria bayaran, amarah sang pewaris klan Ashford meledak. Dengan kekuasaan dan obsesi yang membara, Jameson bersumpah memburu wanita misterius itu ke seluruh sudut kota.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Hazel menyadari bahwa melarikan diri dari Jameson adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
•
•
🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#31

Langkah kaki Hazel bergema halus di sepanjang koridor sepi Gedung Akademik bagian barat—sebuah area yang jarang dilalui mahasiswa pada jam-jam pergantian perkuliahan.

Dinding bata merah yang dipadu dengan pilar marmer tinggi menciptakan bayangan-bayangan panjang yang dingin, mengisolasi Hazel dari hiruk-pikuk penyelidikan polisi di area Gedung Seni.

Namun, baru beberapa meter Hazel melangkah melintasi belokan koridor...

Srett!

Sebuah cengkeraman tangan yang lebar, kuat, dan hangat mendadak menyambar pergelangan tangan Hazel dari samping.

Sebelum Hazel sempat melayangkan serangan balik refleksnya, tubuh rampingnya sudah ditarik secara paksa masuk ke dalam cekungan dinding di balik pilar besar.

Jameson Baxter Ashford berdiri menghimpitnya.

Pria itu dengan cepat menyapu pandangan mata hazel-nya ke sekeliling koridor yang sepi, memastikan tidak ada satu pun mahasiswa, staf kampus, atau petugas kepolisian yang mengekor di belakang mereka.

Raut wajah tegap Jameson tampak teramat sangat tegang—sebuah kombinasi antara kepanikan yang tersembunyi dan kecemasan murni atas keselamatan wanita di hadapannya.

"Kapan kau melakukan hal ini, Hazel?" bisik Jameson dengan nada suara serak yang begitu rendah, hampir menempel di celah telinga Hazel agar tak ada gema yang lolos ke luar pilar.

Hazel tidak menyentak tangannya kali ini.

Ia hanya berdiri tegap, menatap lurus ke dalam manik mata sang dosen dengan pendar mata yang teramat sangat tenang, seolah-olah tuduhan berat yang menggantung di udara hanyalah hembusan angin lalu.

"Kapan aku melakukan apa, Mr. Ashford?" balas Hazel datar.

"Jangan berlagak bodoh di hadapanku!" desis Jameson dengan gigi merapat, jemarinya di pergelangan tangan Hazel makin erat menahan keputusasaan.

Jameson kembali melirik cepat ke sudut koridor, mengkhawatirkan ada pasang telinga yang mendengar obrolan berbahaya ini.

"Ayo... ikut ke ruanganku sekarang. Kita bicara di dalam tempat yang benar-benar aman."

"Tidak perlu," tolak Hazel dingin dan lugas, menyentakkan pergelangan tangannya hingga cengkeraman Jameson terlepas.

Hazel memperbaiki posisi tali tasnya di bahu, menyunggingkan senyum miring yang sarat akan penegasan mutlak.

"Dan kau bukan siapa-siapa bagiku, Jameson. Tidak ada satu pun alasan atau keharusan bagiku untuk melaporkan semua aktivitas pribadi atau apa yang kulakukan di luar jam kuliah padamu."

Jameson menghembuskan napas panjang lewat hidungnya, memijat pelipisnya yang berdenyut hebat.

Pria penguasa Ashford itu menatap Hazel dengan pandangan campur aduk—perpaduan antara frustrasi, obsesi, dan ketakutan nyata akan masa depan gadis ini.

"Kau berhadapan dengan detektif dari Divisi Khusus, Hazel!" bisik Jameson menekan suaranya habis-habisan.

"Pria bernama Alistair Reed itu bukan polisi bodoh yang bisa kau kelabuhi dengan senyuman manis atau jawaban singkatmu tadi! Dia mengawasimu sejak kau melangkah keluar dari koridor!"

"Lalu kenapa?" sahut Hazel santai, melipat kedua tangannya di depan dada.

"Bukankah kau yang akan membantuku untuk menutup semuanya? Kau seorang Ashford, kan?"

Kalimat tajam itu meluncur begitu mudah dari bibir porselen Hazel, bagaikan sebuah tuntutan yang dingin tanpa cela penyesalan.

Jameson membeku sejenak, menatap Hazel dengan pendar mata yang mendadak terluka tipis.

"Hazel..."

"Dua jasad dalam waktu dekat di area kampus ini jelas akan membuat publik dan media curiga bahwa ada seorang psikopat berdarah dingin yang berkeliaran di lingkungan universitas," sambungnya dengan nada suara yang begitu halus, tenang, dan terstruktur rapi.

"Entah apa alasanmu atas kematian yang pertama—"

"Kau bingung bagaimana caramu membersihkan namaku dari laporan tim intelijen keluarga? Tapi bukankah itu memang tugasmu sekarang?" Potong Hazel.

Hazel melangkah satu pukulan dekat, memajukan tubuh rampingnya hingga napas halusnya berhembus di dada kemeja hitam Jameson.

Tatapan matanya yang pekat merogoh langsung ke dalam jiwa sang dosen.

"Apa masalahnya kalau aku membuang jasadnya di kampus?" sambung Hazel dengan nada bicara yang seolah-olah ia sedang membahas sampah tempat makanan, bukannya nyawa seorang manusia.

"Tempat ini terlalu ramai dan membuat pekerjaanmu jadi lebih merepotkan, Begitu?"

"Hazel!" potong Jameson dengan nada yang menegang keras, suaranya naik satu oktav karena emosi yang tertahan.

"Hentikan ucapan gila ini!"

"Gila?" Hazel terkekeh rendah—sebuah kekehan dingin yang bernada mencemooh.

"Bukankah ini harga yang kau pikirkan untuk malam-malam kita, Jameson? Bukankah kau sendiri yang menawarkan kesepakatan besar ini padaku?"

Jameson mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh, menatap Hazel dengan pendar mata yang memerah oleh amarah dan keputusasaan yang meluap.

"Tiga malam tidur bersamamu..." lanjut Hazel dengan bisikan beracun yang begitu memikat, "...dan sebagai gantinya, kau memegang rahasiaku, melindungiku dengan kekuasaan keluarga Ashford, dan melakukan hal-hal gila yang tidak akan pernah bisa dilakukan oleh orang biasa di kota ini. Kau yang menginginkan permainan ini, Mr. Ashford. Kau yang memulainya dengan paksaan di penthouse-mu."

"Bukan seperti itu kesepakatannya, Hazel!" tegas Jameson dengan nada suara yang bergetar emosi, menunjuk dada bidangnya sendiri.

"Bukan seperti ini!"

"Lalu seperti apa?!" tembak Hazel cepat, matanya membelalak tajam menantang dominasi Jameson.

"Kau ingin aku berlutut memohon padamu? Kau ingin aku menangis ketakutan seperti gadis-gadis bodoh di luar sana dan meminta belas kasihan dari dinasti kaya rayamu?!"

Hazel menyunggingkan senyum paling berdarah dingin yang pernah dipamerkannya di hadapan Jameson.

"Kau menginginkan taringku, kan?" desis Hazel menirukan pengakuan Jameson beberapa hari lalu.

"Kau mengagumi bagaimana aku membunuh, bagaimana aku tidak takut pada nama besar Ashford, dan bagaimana aku menguasai permainan ini. Dan sekarang, ketika kau menyadari bahwa taringku benar-benar sanggup merobek leher siapa pun—termasuk ketenangan hidupmu sendiri—kau mendadak panik dan berpura-pura menjadi pahlawan yang suci?"

"Hazel, aku melakukan ini karena aku ingin melindungimu!" sela Jameson dengan suara serak yang memohon, menyambar kedua bahu Hazel dan menatapnya dengan kejujuran yang telanjang.

"Aku tidak peduli berapa banyak orang yang tewas di tanganmu! Aku tidak peduli seberapa gelap jiwamu! Yang kupedulikan hanyalah keselamatanmu! Jika polisi menemukan satu saja jejakmu pada jasad pria itu, kekuasaan Ashford sekali pun akan kesulitan menarikmu dari sel eksekusi!"

"Kalau begitu, pastikan mereka tidak pernah menemukannya," balas Hazel datar, tanpa ada satu pun getaran takut di dalam matanya.

Hazel mengibaskan tangan Jameson dari bahunya dengan sekali sentakan penuh martabat.

Ia mundur satu langkah, menatap Jameson dari atas ke bawah dengan pandangan yang teramat sangat dingin.

"Kau yang mengikat dirimu sendiri padaku, Jameson Baxter Ashford," ujar Hazel pelan, suaranya mengalun bagai vonis mati yang tak bisa diubah.

"Kau yang memilih meniduri seorang pembunuh. Jadi jangan pernah mengeluh jika tanganmu harus ikut tercemar oleh darah yang kubawa."

Jameson membeku kaku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak terasa kelu, kerongkongannya menyempit rapat.

Pria penguasa yang biasanya selalu sanggup mematahkan argumen lawan bicaranya di meja rapat atau mimbar akademik itu kini benar-benar kehabisan kata-kata.

Seluruh pertahanan logis dan dominasi yang dibanggakan Jameson runtuh total di hadapan kegelapan murni dan ketenangan tanpa ampun milik Hazel Rosemary Brooks.

Pria Ashford itu hanya bisa berdiri membisu, menatap Hazel yang berbalik anggun dan berjalan meninggalkannya sendirian di lorong sepi yang dingin.

...----------------...

Happy reading 🦋

1
Lilla Ummaya
Ka please updatee
Rosdianah 🌷: Author Usahain ya kak🫶
total 1 replies
Dinda Putri
pasangan yg mengerikan semoga aja gk ada penghianatan 🤭semangat up thor🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: ma'aciww komentarnya kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪🤗
Rosdianah 🌷: huhu maafkan author beberapa hari ini author sibuk dunia nyata😭
total 1 replies
Yusry Ajay
lanjut Thor 🤗🤗
Asriani Rini
Suapakah nanti yg trrjebak dan sisp yg dijebak Lanjut Thor
Agunk Setyawan
seru
Rosdianah 🌷: happy reading kak 🌷
total 1 replies
Leo
Cerita yg selalu kutunggu upnya
Rosdianah 🌷: happy reading kak 🌷
total 1 replies
nayla tsaqif
Ngatain ocean bodoh,gk nyadar luu jg bodoh JB,,
Rosdianah 🌷: wkkwwk🤣
total 1 replies
Lusy Purnaningtyas
jadi beginilah dicintai laki-laki, Hazel...
Rosdianah 🌷: hazel nggak paham 🤣
total 1 replies
JR Rhna
Hazel akan bunuh Jameston sebab merayu rayu pd wanita😄
Rosdianah 🌷: hahah ngakak🤣
total 1 replies
JR Rhna
maka bunuhlah dia Hazel🤣
Rosdianah 🌷: hahahah No! itu bukan kata keramat 🤣🤣🤣
total 1 replies
Yusry Ajay
padahal JB sesayang itu ma kmu hazel 🥺🥺jgn jd pembunuh..
Rosdianah 🌷: huhu🥲
total 1 replies
Lilla Ummaya
Jb dah bucin akutt..lanjut thoor
Rosdianah 🌷: author up besok lagi kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
hazel sadis Thor 🥺🥺
Rosdianah 🌷: author minta maaf 🥲
total 1 replies
nayla tsaqif
Laki2 mana yg menyakitimu hazel,, 😅 hazel yg lemah lembut soft spoken di dpn ocean ternyata,, ahh sudahlah mungkin ada plotwistnya!
Rosdianah 🌷: huhu author Sudah jelaskan Di bab sebelumnya 😭
total 1 replies
Lusy Purnaningtyas
enaknya gimana ini... 😅
Rosdianah 🌷: wkwkwk🤣
total 1 replies
Nita Nita
motif hazel apa 🤔
Rosdianah 🌷: huhu author sudah jelaskan Dibab sebelumnya 😭
total 1 replies
Yusry Ajay
apa hazel yg membunuh Thor 🤔🤔
Lusy Purnaningtyas
apakah jadi saingan nya JB
Yusry Ajay
makin seru nih🤗🤗🤗panik ga hazel 😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!