Dua puluh lima tahun Ryu Jin mengurung jiwanya di dasar jurang terlarang demi menahan kebangkitan Pedang Tulang Hitam. Namun, Aliansi Tiga Sekte membantai seluruh warga desanya demi menguras darah jiwa murni. Tetesan darah warga merobek segelnya. Sang Iblis Purba terbangun dengan mata membara. Mereka tidak tahu bahwa desa itu bukanlah pemukiman biasa, melainkan penjara tempat dikurungnya bencana abadi. Kini, pintunya telah terbuka, dan Ryu Jin siap menagih jiwa para penguasa benua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LanzT0k3, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG UTUSAN SUCI
KRAK... DUAARR!
Langit di atas Lembah Angin Kelabu—wilayah tak tersentuh yang menjadi benteng perbatasan alami menuju Central Sacred Realm—mendadak berguncang hebat. Awan hitam yang menggantung pekat terbelah dua oleh sambaran kilat berwarna keemasan yang membakar atmosfer.
Ryu Jin menghentikan langkah kakinya di atas hamparan karang gersang.
Jubah cokelat pudarnya terkibas keras oleh terpaan angin badai yang membawa aroma ombak petir. Wajah kusam sang pendekar tetap dingin, datar, dan hampa. Tangan kirinya mencengkeram aura kematian yang mengikat bahu Lian Xue, sementara di dalam dadanya, Pedang Tulang Hitam dengan Sembilan Mata Merah berdenyut penuh kehausan darah yang tajam.
Di bahu Ryu Jin, Lian Xue yang fisiknya telah pulih akibat sisa energi Pil Pemurni Darah Suci perlahan mendongak.
Sepasang mata sucinya yang biasanya dipenuhi keputusasaan dan air mata, kini terpaku menatap gumpalan awan keemasan yang membumbung di langit barat. Di balik kelemahan fisiknya yang masih terkunci oleh segel Ryu Jin, sensasi Energi Murni Darah Suci di dalam pembuluh darahnya bergetar hebat—merespons pancaran aura raksasa yang teramat familiar.
Aura keagungan yang teramat murni, menekan, dan berada di tingkat yang jauh melampaui seluruh tetua sekte di Wilayah Pusat!
WUUUUUSH!
Dari balik robekan awan keemasan, meluncur turun sesosok pria bergaun zirah putih berukirkan benang emas purba. Pria itu berdiri anggun di atas punggung seekor Burung Elang Suci Berkepala Tiga yang memancarkan pendar petir keemasan dari setiap helai bulunya!
Pria itu memegang sebuah tombak bercabang tiga bertatahkan permata merah darah—Tombak Hukuman Langit. Aura tekanan spiritual yang dipancarkannya begitu masif, membakar udara dan membuat tanah karang di sekeliling Lembah Angin Kelabu retak memanjang sepanjang beberapa mil!
Dialah Sang Utusan Suci dari Central Sacred Realm—seorang pemburu tingkat tinggi yang telah menyentuh batas ranah Pseudo-Heavenly Tribulation!
"Bocah cacat," suara Sang Utusan Suci bergaung menggelegar dari atas langit, memantul kencang bagaikan petir yang merobek gendang telinga. "Leluhur Agung telah memantau jejak pembantaianmu. Kau adalah Kelinci Percobaan Nomor Nol yang seharusnya hancur belasan tahun lalu. Berlututlah dan biarkan aku menguliti pusat energimu untuk dibawa ke hadapan Leluhur!"
Mendengar suara menggelegar dan merasakan pendar aura dari ranah Pseudo-Heavenly Tribulation tersebut, Lian Xue yang terkulai di bahu Ryu Jin gemetaran kaku.
Namun, kali ini gemetarnya bukan lahir dari ketakutan.
Lian Xue mengenal identitas Utusan Suci itu dari catatan rahasia yang pernah dibacanya di perpustakaan ibunya, Dewi Lian Ji. Utusan dari Central Sacred Realm bukanlah sembarang musuh. Mereka adalah eksekutor puncak yang dibekali Senjata Suci Tingkat Wilayah dan teknik tempur purba. Ranah Pseudo-Heavenly Tribulation adalah tingkatan di mana seorang praktisi mampu memanipulasi hukum alam secara langsung—suatu tingkatan yang jauh di atas ranah Soul Formation milik Ryu Jin!
Perbedaan kekuatan yang teramat jauh, bagaikan jurang antara bumi dan langit.
Untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan berdarah ini, seulas senyuman licik dan penuh kemenangan terukir perlahan di bibir pucat Lian Xue!
"Hahaha..." rintih Lian Xue dengan tawa tipis yang teramat dingin dan tajam di dekat telinga Ryu Jin. "Selesai sudah... Akhirnya waktumu tiba, Iblis..."
Lian Xue menatap profil samping wajah kusam Ryu Jin dengan mata yang berkilat gila oleh dendam kesumat.
"Kau pikir kau tak tertandingi?!" cicit Lian Xue dengan suara bergetar dipenuhi kebahagiaan yang meluap-luap. "Dia adalah Utusan Suci dari Central Sacred Realm! Dia memegang Hukum Petir Purba! Pedang berkarat di dadamu itu tak ada artinya di hadapan kekuatan langit sejati! Hari ini... aku akan melihat tubuhmu dicincang dan jiwamu dibakar sampai tak tersisa!"
Lian Xue merasa yakin seratus persen. Ryu Jin—pemuda iblis yang membantai ibunya dan menyiksanya bagaikan barang bernyawa—akhirnya menemui ajalnya di tangan sosok yang jauh lebih kuat dan lebih mengerikan!
"Mati!"
Sang Utusan Suci dari langit tidak memberikan waktu satu kedipan mata pun.
Tombak Hukuman Langit di tangannya diayunkan mendatar ke arah bawah.
DUAAAAARRR!
Satu pilar petir keemasan seukuran batang pohon raksasa meluncur turun dari langit dengan kecepatan yang melampaui suara! Udara di sekitar lembah seketika hampa, dan tanah karang tempat Ryu Jin berdiri meledak hancur menjadi kawah raksasa dalam sekejap!
Tekanan aura Pseudo-Heavenly Tribulation menindih tubuh Ryu Jin secara mutlak, mengunci pergerakan udara di sekelilingnya agar sang pendekar tak mampu melangkah mundur!
Lian Xue yang berada di bahu Ryu Jin tertawa semakin gila saat melihat pilar petir keemasan itu membakar pandangan mereka. Bahkan, untuk mempercepat kehancuran Ryu Jin, Lian Xue secara diam-diam membakar sedikit Energi Murni Darah Suci di dalam dadanya, menciptakan resonansi cahaya yang bertindak sebagai "petunjuk arah" agar petir suci musuh menghantam lurus tepat di titik pusat energi Ryu Jin!
Sebuah tindakan kelicikan yang teramat cermat: memanfaatkan momen benturan untuk memastikan kematian sang pembunuh ibunya!
Namun...
Tepat saat pilar petir keemasan itu meluncur tinggal beberapa sentimeter dari kepala Ryu Jin...
Wajah kusam Ryu Jin sama sekali tidak menunjukkan raut panik, keraguan, ataupun ketakutan.
Bibir kusamnya justru tertarik dingin—mengukir sebuah senyuman tipis yang teramat gila, gelap, dan menyayat aura di sekelilingnya.
SSSTTT!
Ryu Jin tidak menangkis petir suci itu dengan pedang besinya. Ia juga tidak menghindari lesatan Hukum Petir Purba tersebut.
Ryu Jin memutar bahu kirinya secara mendadak, menggunakan tubuh Lian Xue—yang sedang meluap oleh resonansi Energi Murni Darah Suci—sebagai Perisai Bencana untuk menyerap benturan pertama pilar petir tersebut!
GZZZZZZ! DUAARR!
"AAAGHHHHH!"
Jeritan histeris Lian Xue pecah menggelegar saat pilar petir keemasan menghantam energi suci di tubuhnya! Senyuman licik di wajah gadis itu seketika hancur berkeping-keping, berganti dengan horor penderitaan yang luar biasa saat aliran petir suci membalas membakar seluruh sistem sarafnya sendiri!
Niat licik Lian Xue yang ingin membocorkan titik pusat energi Ryu Jin... justru dimanfaatkan oleh Ryu Jin untuk menyalurkan seluruh daya hantam sengatan petir musuh menembus tubuh Lian Xue terlebih dahulu sebagai penetral racun Hukum Langit!
DEGG!
Petir keemasan yang telah disaring dan dinetralkan oleh energi darah suci Lian Xue kemudian ditarik secara serakah masuk ke dalam rongga dada kiri Ryu Jin—lurus menyatu dengan Pedang Tulang Hitam dengan Sembilan Mata Merah!
DUAAAAARRR!
Sembilan Mata Merah pada sarung pedang di dalam dada Ryu Jin membara hebat, melahap pasokan petir Pseudo-Heavenly Tribulation itu bagaikan bahan bakar peledak paling sempurna!
Aura kematian berwarna hitam pekat yang menyelimuti tubuh Ryu Jin tidak padam, melainkan bertransformasi menyatu dengan kilatan petir keemasan—menciptakan pendar Aura Petir Kematian yang puluhan kali lebih mematikan dan liar!
Pemanfaatan musuh dan umpan yang teramat dingin, sadis, dan sempurna.
"A-Apa?!" Sang Utusan Suci di atas langit membelalakkan matanya dalam guncangan yang luar biasa! "Bagaimana bisa manusia biasa menyerap Hukum Petir Suci milikku?!"
Asap pembakaran dan pendar petir hitam keemasan perlahan-lahan mengendap.
Ryu Jin berdiri tegak di tengah kawah raksasa yang hancur. Jubah cokelat pudarnya terkibas pelan. Tangan kanannya mencengkeram erat gagang pedang besi berkarat yang kini dialiri oleh petir hitam membara.
Di bahu kirinya, Lian Xue terkulai kaku dengan tubuh yang terbakar asap tipis. Matanya memutih, napasnya tersengal-sengal di ujung maut.
Senyuman licik yang sebelumnya menghiasi wajah Lian Xue kini telah hilang total, berganti dengan ketakutan dan keputusasaan yang sepuluh kali lipat lebih pekat dari sebelumnya. Gadis itu menyadari kenyataan pahit yang teramat mengerikan: Utusan Suci dari Central Sacred Realm yang begitu diagungkannya... tak lebih dari sekadar "pasokan energi baru" yang telah dihitung dan dimanfaatkan secara dingin oleh iblis di hadapannya!
TAP.
Ryu Jin melangkah satu kali di atas tanah kawah yang hancur.
Ia mendongak, menatap lurus ke arah Sang Utusan Suci yang berada di atas punggung Burung Elang Berkepala Tiga. Mata merah darah Ryu Jin memancarkan pendar kehausan membunuh yang sanggup membekukan seluruh isi Lembah Angin Kelabu.
Ryu Jin melirik sedikit ke arah Lian Xue dari sudut matanya, lalu bersuara sangat rendah:
"Terima kasih atas bantuan petirmu."
Suara datar tanpa emosi itu bagaikan belati yang menusuk langsung ke dasar jiwa Lian Xue.
Ryu Jin memutar pergelangan tangannya, mengayunkan pedang besinya ke atas langit. Petir hitam keemasan meledak membelah awan, siap memulakan pembantaian terhadap sang pemburu dari Central Sacred Realm!