Indonesia
NovelToon NovelToon
Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Tukang Ojek Online Bisa Melihat Masa Depan

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Dirga, seorang office boy dan pengemudi ojek online, rela berutang belasan juta rupiah demi membahagiakan kekasihnya, Eri. Namun, ketulusannya dibalas pengkhianatan kejam. Eri membuangnya demi Leon, putra konglomerat kaya. Harga diri Dirga diinjak-injak, diusir calon mertuanya, dan dipecat secara tidak hormat dari PT Nusa Investama.

Dalam kondisi terpuruk dan kelaparan, Dirga ditabrak sedan mewah milik Lisa. Di ambang kematian, leluhurnya hadir membuka Mata Batin yang memberinya kemampuan melihat penglihatan masa depan. Bersama Lisa dan kekuatan barunya, Dirga siap bangkit dari penderitaan demi membalas setiap hinaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Penjual yang Tak Disangka

Matahari pagi belum terlalu tinggi, namun hawa panas sudah mulai menguar dari permukaan tanah berbatuan di Desa Sukamaju. Angin bertiup membawa debu tipis, menerpa wajah Dirga yang baru saja mematikan mesin sepeda motor matik barunya. Ia sengaja memarkirkan kendaraannya di bawah rindangnya pohon jati meranggas, tepat di tepi jalan tanah yang menjadi akses utama menuju lahan luas di hadapannya.

Dirga merapikan kerah jaket ojek daring yang masih melekat di tubuhnya. Meski kini ia memiliki portofolio saham senilai setengah miliar rupiah, jaket kusam itu adalah lambang penjelajahannya dari titik terendah. Ia melangkah tenang menelusuri pematang tanah gersang tersebut. Pandangan matanya menyapu hamparan belukar seluas tiga koma lima hektar yang oleh para investor dianggap sebagai lahan mati tanpa prospek. Namun, dalam ingatan batinnya, wilayah inilah yang tiga bulan mendatang akan dihantam deru alat berat Proyek Strategis Nasional.

Dari kejauhan, tampak dua sosok wanita berdiri di tepi batas lahan, membelakangi jalur kedatangan Dirga. Seorang dari mereka berjas rapi memegang papan jalan berisikan berkas-berkas, sementara di sampingnya berdiri seorang wanita bergaun formal abu-abu dengan rambut terikat rapi ke belakang. Langkah Dirga terhenti sejenak ketika postur wanita itu terasa tidak asing baginya.

Saat langkah kaki Dirga mematahkan ranting kering di tanah, kedua wanita itu memutar badannya. Seketika itu pula, wanita bergaun formal membulatkan kedua bola matanya, seakan tidak percaya.

"Dirga?" suara Lisa Larasati terdengar bergetar kecil, bercampur antara rasa tidak percaya dan bingung yang mendalam.

Dirga menghentikan langkahnya tepat tiga meter di hadapan Lisa. Wajahnya tetap tenang, tanpa ekspresi berlebihan. "Selamat pagi, Bu Lisa."

Lisa menatap Dirga dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jaket ojol yang mulai memudar warnanya, celana kain sederhana, serta helm yang baru saja dilepas Dirga membuat kepala Divisi Strategi Larasati Group itu kehilangan kata-kata selama beberapa detik.

"Apa... apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Lisa, suaranya sedikit melunak setelah berhasil menguasai terkejutnya. "Jangan bilang kamu yang menghubungi agen properti kemarin malam?"

"Benar," jawab Dirga singkat. Suaranya terdengar berat dan mantap. "Saya pembeli yang berjanji bertemu pukul delapan pagi ini untuk memantau lahan Desa Sukamaju."

Asisten yang berdiri di samping Lisa, yaitu seorang staf muda bernama Maya yang ditugaskan mengurus aset minor, segera memajukan langkahnya dengan dahi berkerut. Ia menatap jaket ojol Dirga dengan pandangan menyipit penuh keraguan.

"Maaf, Pak," potong Maya tegas. "Kami di sini untuk bertransaksi mengenai aset lahan seluas tiga setengah hektar. Nilai transaksi ini mencakup angka ratusan juta rupiah. Jika Anda hanya sekadar melintas atau ingin berkonsultasi mengenai jalur pengantaran—"

"Maya, cukup," tegur Lisa dengan nada dingin dan penuh wibawa, langsung memotong ucapan asistennya.

Maya terperanjat, menatap atasannya dengan bingung. "Tapi, Bu Lisa, agen mengatakan pembelinya adalah investor perorangan yang siap menyiapkan dana tunai. Tidak mungkin orang ini—"

"Saya bilang cukup, Maya," ulang Lisa, kali ini dengan intonasi yang tidak bisa dibantah. Ia lalu kembali menatap Dirga secara intens. Ada riak emosi yang rumit di mata wanita muda itu. "Dirga, tanah ini... ini adalah aset milik anak perusahaan Larasati Group."

Dirga hanya menaikkan satu alisnya tipis. "Larasati Group?"

"Lebih tepatnya PT Larasati Sarana Mandiri," jelas Lisa dengan helaan napas panjang. Ia melangkah satu tindak mendekati Dirga, mengabaikan debu tanah yang mengotori sepatu hak tingginya. "Perusahaan anak ini bergerak di bidang logistik pinggiran. Setelah insiden pembersihan internal yang kamu bantu bongkar kemarin, kasus penggelapan Pak Surya, beberapa alokasi kas kami di anak perusahaan mengalami kemacetan likuiditas."

Dirga mendengarkan dengan saksama, kedua tangannya bersedekap secara alami di dada. "Jadi perusahaan Anda membutuhkan dana segar secara mendadak?"

"Tepat," jawab Lisa tanpa berusaha menutup-nutupi kondisi finansial proyek tersebut di hadapan Dirga. "Kami harus menutupi utang vendor operasional sebelum audit kuartal selesai akhir minggu ini. Direksi anak perusahaan mengambil keputusan cepat untuk memotong beban aset pasif. Lahan gersang ini dianggap sebagai aset mati yang tidak memiliki nilai komersial dalam sepuluh tahun ke depan."

"Aset mati?" gumam Dirga dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat di sudut bibirnya.

"Bagi dewan direksi, ya," lanjut Lisa, matanya menatap hamparan belukar di sekeliling mereka. "Tanah ini berbatuan, jauh dari pusat kota, dan tidak memiliki akses air bersih. Kami mematok harga pelepasan cepat di angka tiga ratus juta rupiah untuk seluruh area ini, jauh di bawah harga penilaian pasar, asal pembayaran dilakukan secara tunai hari ini juga."

Maya menyela dengan nada tergesa-gesa, berusaha menunjukkan efisiensi kerjanya. "Benar, Bu. Agen lokal bilang ada pembeli perorangan yang bersedia mentransfer dana tersebut pagi ini. Makanya saya meminta Ibu Lisa ikut meninjau penandatanganan berkas pemindahan hak." Maya lalu menatap Dirga kembali dengan nada tidak sabar. "Jadi, Pak, kalau Anda hanya rekanan atau perantara dari pembeli sebenarnya, bisakah Anda memanggil atasan atau investor Anda ke sini sekarang?"

Dirga menatap Maya secara lurus. Tatapan matanya yang tajam dan dingin membuat staf muda itu mendadak menghentikan ucapannya dan menelan ludah.

"Saya tidak mewakili siapa pun," ucap Dirga dingin. "Investor perorangan yang dimaksud oleh agen properti Anda adalah saya sendiri."

Suasana di tengah lahan gersang itu mendadak hening. Hanya deru angin kering yang terdengar menyapu dedaunan jati.

Maya tertawa kecil, bernada ejekan yang tak mampu ia sembunyikan. "Pak, tolong jangan bercanda. Tiga ratus juta rupiah bukan nominal kecil yang bisa dihasilkan dari—"

"Maya, diam!" bentak Lisa keras. Suaranya menggelegar di area terbuka itu, membuat asistennya melonjak kaget dan membisu seketika.

Lisa menatap Dirga tanpa berkedip. Ingatannya melayang pada penolakan tegas Dirga atas cek lima miliar rupiah beberapa yang hari lalu. Ia tahu persis bahwa pria di hadapannya ini bukanlah pemuda biasa, bukan pula penipu yang suka membual. Namun, fakta bahwa seorang pengemudi ojek online berdiri di tanah gersang ini untuk membeli lahan ratusan juta rupiah secara mandiri tetap menghantam logikanya.

"Kamu... kamu benar-benar ingin membeli lahan ini, Dirga?" tanya Lisa, nada suaranya berubah antara ragu dan terkesima.

"Apakah wajah saya terlihat seperti orang yang sedang berhalusinasi di tengah terik matahari, Bu Lisa?" balas Dirga datar. Ia merogoh saku dalam jaket ojolnya, mengeluarkan sebuah buku tabungan serta cetakan lembar portofolio akun rekening dana nasabah yang telah dilegalisir oleh pihak sekuritas.

Dirga menyodorkan lembaran berkas tersebut ke arah Lisa. "Seluruh dana saya tersimpan di sini. Tiga ratus juta rupiah yang Anda syaratkan untuk pelepasan aset pelepasan cepat ini bisa saya transfer ke rekening penampung Larasati Group dalam waktu kurang dari satu jam."

Lisa menerima lembaran itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Matanya membaca dengan teliti baris demi baris angka yang tertera di kertas korporasi sekuritas resmi tersebut. Di sana, tercantum nama lengkap Dirga dengan saldo aktif dan nilai portofolio likuid yang menembus angka lima ratus juta rupiah.

Asisten Maya, yang ikut mengintip dari balik bahu Lisa, mendadak pucat pasi. Matanya membelalak hampir melompat keluar melihat deretan angka nol di lembar kertas tersebut. Bibirnya bergetar tanpa sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.

"Bagaimana mungkin..." gumam Lisa lirih, menatap kertas itu lalu beralih menatap wajah Dirga yang begitu tenang. "Dari mana kamu mendapatkan modal sebesar ini dalam waktu singkat? Beberapa minggu lalu kamu..." Lisa menghentikan kalimatnya, merasa tidak sopan jika harus membahas masa-masa sulit Dirga waktu itu.

"Pasar modal tidak pernah menanyakan latar belakang pekerjaan seseorang, Bu Lisa," jawab Dirga tenang, suaranya mengandung wibawa yang tak tertandingi. "Pasar hanya membutuhkan analisis yang tepat, momentum yang pas, dan keberanian mengambil keputusan."

Lisa menarik napas panjang, mencoba menetralkan degupan jantungnya yang berpacu kencang. Rasa kagum yang amat sangat kembali menyergap dadanya. Pria yang dulu diremehkan, dihina, dan dipandang sebelah mata oleh banyak orang kini berdiri di hadapannya sebagai seorang investor mandiri yang siap mengeksekusi transaksi properti ratusan juta rupiah secara tunai.

"Tiga ratus juta rupiah," ucap Lisa pelan, mengulangi nominal angka yang tertera dalam berkas kesepakatan awal anak perusahaannya. "Harga itu sengaja kami tekan karena kami sangat terdesak oleh waktu. Sebenarnya, nilai wajar tanah ini di atas kertas adalah lima ratus juta rupiah. Tapi karena situasi internal—"

"Saya tahu situasi Anda," potong Dirga tegas. "Agen properti sudah menjelaskan bahwa pemilik lahan butuh eksekusi hari ini juga demi menutup lubang kas."

Lisa menatap mata Dirga dengan lekat. Ada keraguan emosional dalam diri Lisa. Dijual dengan harga tiga ratus juta rupiah memang akan menyelesaikan masalah jangka pendek anak perusahaannya, tetapi itu berarti Larasati Group harus menelan kerugian akumulasi aset sebesar dua ratus juta rupiah dari harga appraisal normal.

"Jika kamu menyetujui syarat pelepasan cepat ini," kata Lisa, suaranya terdengar makin serak, "kami bisa menandatangani akta jual beli sementara sekarang juga di hadapan notaris rekanan agen. Kamu akan mendapatkan seluruh tiga koma lima hektar ini hanya dengan tiga ratus juta rupiah."

Dirga memandangi hamparan tanah gersang di sekelilingnya. Mata batinnya secara kilat kembali memproyeksikan gambaran tiga bulan ke depan, tiang-tiang pancang, patok kuning bertuliskan batas negara, serta baliho besar bertuliskan Proyek Pembangunan Jalan Tol Lingkar Luar dan Rest Area Terpadu Tipe A. Nilai tanah ini kelak tidak lagi dihitung dalam angka ratusan juta, melainkan puluhan miliar rupiah.

Dirga memutar tubuhnya kembali menghadap Lisa. Wajahnya mengeras, memperlihatkan keteguhan prinsip yang tidak bisa digoyahkan oleh keuntungan sempit.

"Saya datang ke sini untuk melakukan transaksi bisnis yang sah dan bermartabat, Bu Lisa," ujar Dirga, setiap kata yang diucapkannya terdengar begitu berat dan penuh penekanan.

Lisa terhenyak mendengarnya. "Apa maksudmu?"

"Tiga ratus juta rupiah adalah harga eksploitasi atas posisi terdesak perusahaan Anda," lanjut Dirga dengan nada dingin namun lurus. "Saya memang membutuhkan tanah ini. Tapi saya tidak akan pernah memanfaatkan kesulitan orang lain, terlebih lagi perusahaan Anda yang sedang dalam masa pemulihan, hanya untuk mengeruk keuntungan dengan cara menekan harga hingga batas ketidakwajaran."

Lisa terpaku di tempatnya berdiri. Lidahnya mendadak kelu. Sepanjang kariernya di dunia bisnis korporat yang kejam dan penuh intrik, ia hanya mengenal satu hukum utama, memeras keuntungan maksimal dari pihak yang lemah dan terdesak. Namun kini, seorang pemuda berjaket ojek online kusam berdiri di tengah ladang gersang, menolak tawaran harga murah yang justru akan menguntungkan dirinya sendiri.

Maya di sebelah Lisa terperangah dengan mulut terbuka lebar, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

"Dirga..." suara Lisa tercekat di tenggorokan. "Kamu tahu persis jika kamu menerima harga tiga ratus juta ini, kamu bisa menghemat uangmu dalam jumlah yang sangat besar?"

"Harga diri dan cara saya berdiri di dunia bisnis jauh lebih mahal daripada penghematan dua ratus juta rupiah, Bu Lisa," jawab Dirga tanpa ragu. Matanya menatap Lisa secara lurus dan tajam. "Saya tidak akan membeli tanah ini dengan harga rugi tiga ratus juta rupiah."

Lisa terhenyak, dadanya bergemuruh hebat menyaksikan keteguhan moral pemuda di hadapannya. "Lalu... apa yang ingin kamu lakukan?"

Dirga merapikan lembaran berkas di tangannya, menatap Lisa dengan pandangan yang tak tergoyahkan. "Saya akan membayar tanah ini sesuai dengan harga normal pasarnya saat ini, lima ratus juta rupiah secara utuh."

Kata-kata itu bergema di tengah kesunyian ladang Sukamaju, meninggalkan Lisa Larasati dalam tumpukan rasa haru, terkejut, dan utang budi yang teramat besar pada sosok Dirga.

1
Adelina Lin
thor, balaskan kehancuran Dirga pada dua orang manusia yang sudah menginjak injak harga dirinya, kasihan Dirga
Rizky Fadillah: Kalo sampai naif mc nya ini author nya yg sebagai pembuat karakter dan jalan pikiran mc nya bodoh tolol
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!